Pagi ini Kanaya tidak masuk kuliah. Dia tidak mau orang rumah melihat matanya yang bengkak. Karena semalaman ia menangis. Mami yang kawatir mencoba megetuk pintu dengan membawa nampan berisi sarapan.
"Sayangku Naya, bangun sayang sarapan nih mami bawain." ucap sang mami.
"Biar Arga aja mi..." tawar Arga.
"Yakin adik kamu mau buka pintu." mami terlihat sangat kawatir.
"Udah yakin dah, serahin sama Arga sini."
Mami pun memberikan nampan kepada Arga. Dia masuk tanpa mengetuk pintu. Dan pintu kamar Kanaya tidak terkunci. Tapi Arga tidak mendapati adiknya tidur. Tapi samar-samar terdengar gemericik air.
"Loh kak, kenapa dibawa kesini sarapannya? Aku nggak minta lo. Tapi makasi ya hehehe..." cengengesan Kanaya.
Arga tahu Kanaya menyembunyikan lukanya. Setelah kemarin bertemu dengan Dirga. Dan ada si pengrusak Selia. Arga benar-benar geram dengan tingkah laku Selia. Ingin sekali ia menjambak rambutnya. Meskipun dia perempuan, tapi dia sudah menyakiti hati sahabat dan adiknya. Kalau saja Dirga mau dibantu sudah kelar urusannya dengan Selia.
"Mana mungkin dengan mata kaya bola pingpong keluar kamar. Yang ada kamu seharian akan dikamar terus takut diintrogasi sama mami, papi." oceh Arga.
"Makasi ya kak Arga... eh iya kak, aku nggak ke kampus terus tas sama ponsel ku tertinggal di unit kak Dirga. Tolongin ya... Please..." mohon kanaya.
"Ini udah aku bawain Nay...." celoteh Dirga.
"Eh Dir, sini duduk. Aku mau siap-siap dulu."
Arga pun keluar meninggalkan Dirga dan Kanaya. Memberi ruang untuk mereka berdua. Dirga ingin menjelaskan, ada hubungan apa dia dan Selia. Karena Dirga tidak ingin berlarut-larut. Kanaya fokus dengan roti panggang bikinan sang mami.
"Yang banyak makannya, biar nggak kurusan. Kenapa hari ini nggak masuk sayang?" tanya Dirga lembut.
"Nggak papa, pengen istirahat aja. Kemaren malem agak anget badan ku." jawab Kanaya asal.
"Nggak mau nge-hindar dari aku kan?"
Kanaya menggeleng dengan kuat. Meskipun benar tebakan dari Dirga. Tapi Kanaya berusaha menutupinya. Dirga sebenarnya sudah tahu, pasti Kanaya ingin menghindarinya.
"Emb... Aku sama Selia tidak ada apa-apa. Namun ada satu hal yang belum bisa aku ceritain sama kamu." kata Dirga .
"Terserah kak Dirga aja, gimana enaknya. Tapi kalau aku minta udahan boleh?" tanya Kanaya.
Yang membuat Dirga terbelalak menatap Kanaya tajam. Dia langsung memeluk Kanaya dan tak melepaskannya. Dia tidak mau putus dengan Kanaya. Masalah Selia harus segera Dirga selesaikan.
"Kamu boleh minta apa pun itu sayang. Tapi jangan udahan atau apalah itu aku nggak mau. Setelah wisuda kita kan mau tunangan." jelas Dirga.
"Aku merasa hanya menjadi beban kak Dirga. kalau kakak bahagia dengan orang lain aku nggak papa yang pergi."
"Nggak boleh, pokoknya kamu yang harus menemani proses ku sampai akhir nanti."
"Kak...."
Dirga sudah mengunci mulut Kanaya. Dengan mencium bibir Kanaya sekilas. Membuatnya terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk kuliah hari ini. Dengan menggunakan kaca mata hitam. Sampai diparkiran kampus, dia melepas kaca matanya. Dan berjalan menunduk.
Selia melihat Kanaya dan Dirga bergandengan tangan. Seolah Dirga tidak takut akan ancamannya. Selia berjalan menghampiri Dirga dan Kanaya.
"Bagus ya... Kamu bisa ya Dir kaya gini?" sengak Selia.
"Kenapa? Orang dia pacar aku. Aku sama kamu nggak ada urusannya ya.... Urusan ku sama perusahaan tempat ku bekerja. Bukan dengan kamu atau pun orang tua mu Sel." tegas Dirga.
"Lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini!!" ancam Selia.
"Apa?! Akan terjadi apa? Tebusan uang untuk desain ku sudah lunas dan sekarang aku sudah resign dari perusahaan itu." tegas Dirga.
Dia mantap berjalan menggandeng Kanaya dan mengantarkannya masuk ke kelasnya. Meninggalkan Selia dengan penuh rasa kesalnya. Ya, Dirga sudah menyelesaikan urusan dengan perusahaan tempatnya bekerja. Yang dulu diperoleh dengan bantuan orang tua Selia. Dia resign, dengan alasan ingin berhenti dari ancaman dan bayang-bayang Selia.
Sampai didepan kelas Kanaya, Dirga menyuruh Kanaya untuk masuk kelas. Dirga melihat Bagas dengan tatapan sinis kearahnya. Dirga membalasnya dengan senyum kecil.
"Masuk gih, belajar yang pinter. Jangan nakal, jangan suka deket atau godain cowok lain." kata Dirga.
"Nggak ada ya... Yang ada kamu tu hati-hati. Selia itu kalau marah kaya singa yang kelaparan." ingat Kanaya.
"Kamu sayang yang harus hati-hati. Dan aku janji akan nge-lindungi kamu selamanya."
"Jangan kebanyakan janji, nanti sakit kalau nggak bisa ditepati. Dah, aku masuk kak,, bye."
Dirga melambaikan tangan dan pergi menuju kelasnya. Disambut dengan sohibnya. Yang sedari tadi pengen tahu Dirga dapat uang dari mana. Untuk melunasi tebusan desainnya. Sedangkan dia tidak mau dibantu oleh ketiga sohibnya itu. Ya dirga harus membayar denda karena desainnya. Desain milik Dirga dituduh menjiplak perusahaan pesaingnya. Dan itu Dirga tahu ulah siapa. Itu ulah Selia dan papanya. Agar Dirga bisa tunduk kepada mereka dan tergantung kepada papa Selia.
Memang Selia sangat licik. Demi keinginannya, dia menghalalkan berbagai cara. Saat ini, tabungan Dirga terkuras habis. Sisa beberapa untuk bertahan hidup. Untuk apartemennya sudah lunas. Jadi dia masih memiliki tempat tinggal. Tinggal mencari pekerjaan lagi.
"Lo yakin bisa sendiri Dir?" tanya Arga.
"Ga gue laki, ya harus bisa tanggung jawab dong. Anggap ini ujian ku untuk mendapat ganti yang lebih lagi." tukas Dirga.
"Ckckckckck... Orang kaya dimasa depan." celoteh Andre.
"lo liat Ga, adik lo beruntung dapat cowok sekeren Dirga." tambah Dito.
Arga tersenyum penuh bangga kearah Dirga. Dirga membalasnya dengan pelukan. Mereka berempat berpelukan dan kembali duduk ditempat masing-masing. Jam istirahat, dirga tidak melihat Kanaya ada dikantin. Dikelas pun tidak ada, dia merasa kawatir. Ponselnya tidak bisa dihubungi karena ada ditas. Dinda juga cemas, karena tadi pamitnya ke toilet. Dan Dirga pun mencari ke toilet dengan Dinda.
Ditoilet tidak ada, kemana kamu Nay. Ucap Dirga dalam hati. Dirga menghubungi Arga mengabarkan kalau Kanaya hilang.
Arga dan kawannya pun datang membantu mencari Kanaya.
"Gimana Dir?" cemas Arga.
"Belum nemu, kita mencar aja. Keliling, sampai dapat, lo hubungi gua kalau udah ada kabar."
"Oke, kita cari sekarang." sambung Dito dan Andre.
Mereka pun bergegas mencari keberadaan Kanaya. Dirga berpikir ada sangkut pautnya dengan Selia. Dia pun memutuskan untuk mencari Selia. Dan Selia ada sedang duduk santai dikantin.
"Dimana lo sembunyiin Kanaya?!" tanya Dirga sedikit emosi.
"Datang-datang langsung main tuduh aja. Ya mana aku tahu dimana anak bawang itu." jawab Selia.
"Aku bertanya bukan nuduh. Semakin aku yakin kalau kamu yang berbuat ini. Kalau aku ada bukti dan Kanaya kenapa-kenapa. Gua sendiri yang cari orang yang jahat sama pacarku." kata Dirga berapi-api.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments