Kanaya terbangun dari tidurnya. Dia merasa lapar, ia mengikat rambutnya asal dan pergi ke dapur. Didapur sudah ada Arga dan para sahabatnya. Mereka memasak mie instan bersama. Karena Arga menyuruh ARTnya istirahat. Dan mami papinya belum pulang masih diluar kota. Kanaya sudah berdiri mematung di meja makan. Dirga tersadar ada seseorang yang memperhatikan mereka. Dia pun tersenyum melihat Kanaya dengan kesederhanaannya. Rambut yang diikat asal, menambah kesan natural.
"Hai Naya..." sapa Dirga.
"Hai Kanaya...." sapa Andre dan Dito.
Kanaya hanya mengangguk dan memberikan seulas senyum. Dia kembali ke kamarnya, padahal perutnya keroncongan. Tapi dia menghindari Dirga. Masih malu saja kalau mengingat kejadian tadi sore. Belum percaya kalau Dirga memang sayang kepadanya.
"Kalian ini... Adik gua pasti malu tu. Udah Dir, bawa semangkuk sini. Aku antar ke kamarnya." kata Arga.
"Aku ikut..." celoteh Dirga.
"Lah.. Ngapain?? Udah biar Arga aja. Ntar malah nggak mau makan kalau lo ikut." kata Dito.
"Iya, nanti aja kalau masih mau usaha. Hahaha." ejek Arga.
Dirga pun mengalah, dia kembali menyantap mienya. Dito dan Andre berebut sisa mie yang masih ada. Membuat Dirga membawa mangkuk mienya ke pinggir kolam. Dia menikmati mienya disana. Sembari memikirkan usahanya untuk meyakinkan Kanaya. Memang hatinya sudah jatuh cinta kepada Kanaya adik sahabatnya itu.
...----------------...
"Tuan putri ini makan malamnya." teriak Arga dari luar kamar Kanaya.
"Hehehe makasi kak Arga. Lagian bawa temen ndak bilang-bilang. Akukan malu, mana cuma pakai hot pant. Kaos oblong." gerutu Kanaya.
"Jadilah dirimu sendiri Nay. Selama masih sopan kakak nggak akan larang. Lagian masih sebatas lutut ini. Belum begitu hooooottt nak...." ejek Arga.
"Udah keluar sana.... Laper."
"Ngusir, udah bener aku bawain lu ye... Yang buat Dirga pasti mantep." goda Arga.
"Teruuuusss... Kenapa kalau yang buat kak Dirga?" tanya Kanaya melihat gelagat aneh kakaknya.
"Barang kali luluh hati si eneng." goda Arga
Dia langsung berlari keluar kamar sang adik. Dan turun bergabung kembali dengan para sahabatnya. Mereka bermain gitar sampai larut malam. Kanaya yang haus turun kedapur ingin mengambil minum. Dia berjalan pelan dan membuka lemari es pelan-pelan. Agar kakanya dan para sahabatnya tidak terbangun. Namun Kanaya malah dikagetkan dengan Dirga yang berdiri dibelakang pintu lemari es.
"Astaga... Kak Dirga." kaget Kanaya.
"Maaf, ku kira maling ngendap-ngendap. Ternyata tuan putri... Hehehe." goda Dirga.
"Masih sempetnya godain." jawab Kanaya sembari pergi.
Tangannya ditarik oleh Dirga, dan jatuhlah mereka saling pandang. Sepersekian detik Kanaya dag dig dug, sport jantung. Dia bergegas melepaskan genggaman tangan Dirga.
"Bentar doang, aku nggak bisa tidur. Temenin ngobrol kek." pinta Dirga.
Memang cinta bisa membuat orang menjadi bodoh. Kanaya mau aja, nurut dituntun Dirga sampai duduk dipinggir kolam. Mereka masih kikuk diam tanpa berbicara sedikit pun. Dirga yang mulanya biasa saja juga mendadak menjadi blo'on. Kanaya melirik Dirga yang masih diam.
"Gimana hari ini Nay?" tanya Dirga.
"Ha.... Ya biasa aja kak, kuliah, pulang, istrirahat. Kan tadi kak Dirga yang jemput." jawab Kanaya.
"Gimana Nay?" tanya Dirga.
"Gimana apanya?" tanya Kanaya balik.
"Kalau aku sayang kamu boleh? Mau nggak jadi pacar ku?"
Dirga menunduk menunggu jawaban Kanaya. Sedang Kanaya masih bingung, belum percaya kalau cintanya disambut oleh Dirga. Cinta dari masa lalu, kini datang lagi. Tapi Kanaya, belum bisa menerima Dirga jika masih dibayangi oleh Selia.
"Nggak perlu jawab sekarang. Aku akan berusaha meyakinkan mu. Kalau aku benar-benar sendiri. Selia bukan apa-apa aku. Bolehkan Nay, aku yakinkan kamu?" tanya Dirga.
"Aku butuh bukti kak. Nggak hanya omongan, aku juga nggak mau dicap sebagai perebut atau perusak hubungan orang. Selesaikan dulu urusan mu dengan kak Selia. Baru kita obrolin ini." jawab Kanaya yang sebenarnya juga sayang sama Dirga.
"Aku akan berusaha terus untuk dapatin hati kamu Kanaya Putri Adinata. Kalau ingin mu aku beres sama Selia dulu oke. Aku turutin aku buktiin. Karena memang aku sama Selia nggak ada apa-apa."
Jelas Dirga dengan memegang tangan Kanaya. Disitu terlihat Dirga begitu sungguh-sungguh. Terdengar samar-samar obrolan mereka berdua oleh Arga. Arga tersenyum dan mendoakan semoga adiknya memilih hal yang tepat.
Kanaya pamit kepada Dirga untuk masuk kedalam kamarnya. Dirga mengangguk dan dia pun ikut tidur disofa yang ada diruang tv. Arga berpura-pura tidur pulas. Agar Dirga tidak curiga kalau dia dari tadi menguping pembicaraan mereka. Pagi hari, Kanaya sudah cantik tinggal berangkat ke kampus. Hari ini hanya ada satu mata kuliah saja.
Kanaya ingin sarapan, bibi sudah menyiapkan Nasi goreng dan ada juga roti panggang. Ketika ingin mengambil jus di lemari es. Terhalang oleh Dirga yang juga ada disana.
"Permisi kak." ucap Kanaya dengam sopan.
"Emang boleh ya Nay secantik ini?" goda Dirga.
"Heleh buaya..." tiba-tiba Arga menyambar dari belakang Kanaya.
"Jangan mulai patahkan usaha akulah Ga..." ucap Dirga memelas.
"Hahahaha... Pokoknya Nay, jangan gampang luluh sama Dirga. Kakak dukung kamu, kalau dia ngapa-ngapain kamu nih..."
Lagi-lagi Arga menunjukkan bogem mentahnya kepada Dirga. Kanaya bergegas mengambil jus dan duduk menyantap sarapannya. Dirga tersenyum melihat Kanaya yang semangat pagi ini. Telihat cantik dan modis dengan pakaian yang digunakan kali ini. Karena Arga and the geng, tidak ada kelas. Arga menyuruh Dirga mengantar adiknya.
Diperjalanan menuju kampus, Kanaya hanya diam. Dirga tak tahu saja, kalau jantung Kanaya rasanya seperti berlomba. Dag dig dug terus kalau sedang bersama Dirga. Sedangkan kanaya sok jual mahal dengan Dirga. Aslinya dia juga sayang banget. Seneng akhirnya cintanya disambut juga oleh Dirga.
"Jangan turun Nay !!" perintah Dirga.
"Kenapa kak?" tanya Kanaya heran.
Ternyata Dirga yang akan membukakan pintu untuk Kanaya. Banyak pasang mata yang melihat mereka. Karena Dirga termasuk mahasiswa populer, jadi banyak yang mengenalnya. Dinda ikut senang Kanaya diantar oleh Dirga. Cowok yang selama ini dikagumi sahabatnya itu.
"Mau aku antar sampai kelas?" tawar Dirga.
"Enggak kak, ini aja malu banget pada ngeliatin." jawab Kanaya.
"Nanti juga akan terbiasa sayang. Ups, sorry Nay." goda Dirga.
"Ih... Ngeselin banget. Nanti aku pulang sama Dinda. Tolong bilangin kak Arga nggak usah jemput ya kak." pinta Kanaya.
"Siap gadis kecil." goda Dirga kembali.
Kanaya kali ini tersenyum dengan panggilan Dirga. Dia berbunga-bunga semoga Dirga berusaha terus meyakinkan hatinya. Supaya Kanaya bisa menjawab iya dengan mantap. Dinda memeluk Kanaya dan mereka berjalan masuk kedalam kelas mereka. Mata kuliah pun dimulai. Dinda dan Kanaya memperhatikan penjelasan dosennya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments