Setelah cukup lama, dirga berpamitan pulang. Tak selang berapa lama Arga pulang. Dia terlihat begitu bahagia. Ya, Arga baru pulang kencan dengan sang kekasih. Arga duduk disebelah Kanaya yang asik nonton tv. Dia mengusik rambut sang adik. Membuat kegaduhan tercipta.
"Kak Arga apaan sih??!! Lagi nonton aku. Mau me time aja susah bener." kesal Kanaya.
"Tolongin ambilin minum." pinta Arga.
"Manja bener dah." gerutu Kanaya.
Tapi Kanaya tetap saja mengambilkan minum untuk sang kakak. Kabarnya malam ini kedua orang tua mereka pulang dari luar kota. Mumpung masih berdua, Kanaya ingin mencari tahu tentang Dirga.
"Kak, aku mau tanya boleh?" tanya Kanaya sungkan.
"Pasti Dirga kan?" tebak Arga.
"Hehehe,,, iya. Beberapa hari ini dia deketin aku. Dia loh kak yang deketin. Bukan aku, jadi kalau mau marah sama kak Dirga aja. Jangan sama aku." pinta Kanaya.
"Nggak marah kok, Dirga itu baik dek orangnya. Sayang aja, ditekan terus sama Selia. Dirga bukan seperti kita, yang apa-apa tinggal minta. Dia usaha sendiri, kerja paruh waktu terus bikin-bikin desain. Kaya kamu, bedanya desain Dirga lebih oke." jelas Arga.
"Bisa nggak sih, nggak usah pakai ejek aku?!" kesal Kanaya.
"Hahaha,, lah emang iya desain Dirga itu keren-keren. Dan itu salah satu penghasilannya. Dia jualin tu desainnya, hasilnya untuk kebutuhannya sehari-hari. Dia sudah tidak memiliki orang tua. Hidup sebatang kara. Dia udah punya rumah sendiri. Keren nggak tuh?" bangga Arga.
"Emang iya?" tanya Kanaya penasaran.
"Iya non, udah ah... Kakak mau mandi."
"Ih... Ceritanya setengah-setengah, nyebelin."
"Kamu akan tahu sendiri dari Dirga. Kalau mau tanya kakak setuju atau enggak. Kakak setuju aja, asal jangan lewatin batas." wejang Arga.
Arga berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dan lanjut untuk mandi karena hari sudah sore. Kanaya memikirkan apa yang diceritakan kakaknya tadi. Dan jika sang kakak percaya dan memberi ijin untuk bersama Dirga. Berarti memang benar Dirga orangnya baik. Obrolan dari hati ke hati yang setengah-setengah. Gerutu Kanaya dalam hatinya. Tiba-tiba dering ponselnya tanda ada panggilan masuk.
"Iya, halo Dinda. Ada apa tumben bener?" tanya Kanaya.
"Aku ke situ boleh? Ada soal yang nggak aku tahu nih." kata Dinda diseberang.
"Silahkan, aku siap-siap dulu. Belum mandi soalnya." jawab Kanaya.
"Ih jorok banget, perawan jam segini masih kefeeett." ejek Dinda dan langsung mematikan teleponnya.
"Dasar kamprettt..." gerutu Kanaya.
kanaya pun pergi untuk mandi dan bersiap-siap. Lima belas menit kemudian Dinda sudah sampai dirumah Kanaya. Dinda menyapa Arga yang duduk santai diteras depan rumah.
"Sore kak Arga." sapa Dinda.
"Eh Dinda sore Din, masuk. Kanaya masih mandi." jawab Arga.
Dinda pun masuk dan menunggu Kanaya. Dinda mengeluarkan laptopnya dan menyalakan. Ponsel Kanaya berbunyi tapi Dinda tidak berani mengangkatnya. Nomornya tidak tersimpan. Dua puluh lima menit kemudian Kanaya sudah wangi dan cantik. Dia turun menemui Dinda yang sudah menunggunya.
"Nay tadi ponsel mu bunyi. Nomornya nggak kesimpen. Sampek sepuluh kali Nay." kata Dinda.
"Coba sini, siapa ya Din?" tanya Kanaya balik.
"Ada pesannya juga coba cek."
...085********* : Hai Nay, ini aku Dirga. Lagi apa?...
"Siapa Nay?" tanya Dinda.
"Kak Dirga.." jawab Kanaya pelan.
Dinda tersenyum dan dia mulai mengerjakan tugasnya. Kanaya sesekali menjelaskan. Dia belum membalas pesan Dirga. Kanaya baru menyimpan nomornya. Pasti kak Arga nih. Gerutu Kanaya dalam hati.
"Nay... PJnya mana?" goda Dinda.
"Pajak Jadian dari mane Din? Aku belum jadian. Masih PDKT kali Din."
"Ya aku tetep seneng sahabatku bahagia. Tinggal aku deh jomblo." keluh Dinda.
"Sama Bagas aja Din, wkwkwkwk."
"Asal ya lo Nay..."
Mereka pun kembali mengerjakan tugasnya. Hingga pukul delapan Dinda baru berpamitan pulang. Dinda ke rumah Kanaya menggunakan sepeda karena masih satu komplek. Kanaya membereskan buku dan laptopnya. Ia pun pergi ke dalam kamarnya.
^^^^^^Kak Dirga : sibuk ya Nay? Sampai aku dicuekin.^^^^^^
^^^Kanaya : Maaf kak, tadi masih belajar sama Dinda. Ini baru selesai.^^^
Dan Dirga menelepon Kanaya. Kanaya loncat dari tempat tidur saking bingungnya. Sampai kaki Kanaya keseleo karena salah tumpuan.
"Hallo kak..." jawab Kanaya.
"Kamu lagi apa Nay? Kelihatan lagi nahan sakit." balas Dirga.
"Enggak kok, ada apa ya kak?" tanya Kanaya masih kaku.
"Pengen denger suara kamu aja sih. Eh besok aku jemput ya ke kampusnya. Boleh Nay?" tanya Dirga.
"Emb boleh kak, tapi nanti malam papi, mami udah pulang."
"Emang kenapa? Sekalian aku minta ijin dong."
"Minta ijin untuk apa kak?"
"Ajak jalan kamu, kamu besok free kan?" tanya Dirga.
"Kak Arga sakiiiiitt..." teriak Kanaya tiba-tiba.
Dirga yang mendengar teriakan Kanaya. Dia tanpa berpikir panjang langsung pergi ke rumah Kanaya. Sedangkan Kanaya meringis kesakitan karena Arga memijit kaki Kanaya yang keseleo.
"Diem nggak?" perintah Arga.
"Tapi pelan-pelan sakit tahu." pinta Kanaya.
"Emang ya, cinta bisa buat orang ceroboh." ejek Arga.
"Mau ngobatin nggak? Udah sih, mau ke kamar."
Kanaya berjalan kekamarnya dengan tertatih. Dia kesal kepada Arga yang malah mengejeknya terus. Bel rumah Arga berbunyi, Arga pun membukakan pintu. Dan yang datang adalah Dirga.
"Ada apa bro?" tanya Arga.
"Mau main aja, kawatir sama Naya. Tadi teriak sakit pas aku telepon." jelas Dirga.
"Nah ini nih biang keroknya. Dikamar dia, abis kejeng klok. Kaget kali lo telpon dia." goda Arga.
"Udah diobatin belum?"
"Ya kali Dir, seusilnya gue. Gua masih punya perasaan iba kali. Udah tadi udah aku pijit. Mau liat dia? Ada di kamar tu."
"Yakin boleh? Nggak kamu antar gitu?" tanya Dirga.
"Silahkan aku percaya lo kok."
Dirga pun segera naik ke lantai dua. Dimana kamar Kanaya berada. Dia mengetuk pintu kamar Kanaya yang ada disebelah kamar Arga. Kanaya lagsung saja membukakan pintu. Dia berpikir kalau Arga yang mengetuk. Dan dia kaget ketika Dirga yang datang.
"Loh kak Dirga kok disini?" tanya Kanaya kaget.
"Keluar dulu gih, kita duduk disofa sana." ajak Dirga.
Dirga mengajak Kanaya keluar kamarnya. Karena Dirga tahu batasannya. Ada sofa didepan kamar Kanaya dan Arga. Mereka duduk disana. Dirga melihat kaki Kanaya yang sedikit membengkak.
"Masih sakit?" tanya Dirga.
"Hmmm, oh... Enggak udah mendingan kok." jawab Kanaya kikuk.
"Kenapa sampai bisa gini? Hati-hati dong kalau jalan." Dirga memberikan perhatian.
dia mengecek kaki Kanaya yang terlihat bengkak. Dia urut kembali sampai Kanaya berteriak kesakitan. Tapi setelahnya dia merasa enakan.
"Makasi kak." ucap Kanaya
Dirga hanya mengangguk dan berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah larut malam. Pukul sebelas tepat, orang tua Kanaya pulang dari luar kota. Keadaan rumah sudah sepi. Karena Kanaya dan Arga sudah terlelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments