Dirga pergi berlari sekuatnya. Dia sampai dibelakang kampus. Disana ada gudang, dia berjalan kearah sana. Perlahan dia berjalan sambil berteriak memanggil nama Kanaya. Tidak ada sautan atau jawaban.
"Kemana kamu Nay?" mulut Dirga tak berhenti berucap.
Dari kejauhan Dirga seperti melihat sepatu. Dia berlari mendekat dan benar sepatu itu milik Kanaya. Tapi hanya satu. Yang satunya tak tahu entah dimana. Dirga celingukan, naik keatas tumpukan kardus melihat kejendela kaca. Ada seorang yang tergeletak diruangan kosong itu. Dirga turun dan berusaha mendobrak pintu besi. Namun kekuatannya tidak cukup besar.
Dirga langsung menelepon Arga dan kawan-kawan. Untuk pergi ke gudang belakang kampus. Dua puluh menit kemudian mereka sampai.
"Dimana Dir?" tanya Arga nafasnya masih tersengal.
"Didalam..."
Mereka berempat berusaha membuka pintu dengan alat seadanya. Mereka mencari besi untuk membuka rantai dipintu. Akhirnya mereka berhasil, Dirga berlari. Dan benar, Kanaya tergeletak tak sadarkan diri. Dengan sekuat tenaga Dirga menggendong Kanaya menuju parkiran. Arga masuk ke kelas Kanaya untuk mengambil tas adiknya. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Sedikit kening Kanaya berdarah dan lengannya ada memar.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai dirumah sakit. Kanaya masih diruang IGD ditangani oleh dokter. Arga menghubungi kedua orang tuanya. Sedangkan Dirga terduduk lemas di kursi tunggu.
"Bukan salah lo Dir, ini musibah." kata Arga.
"Kalau saja, gue becus jagain Kanaya. Dia tidak akan seperti ini. Adik lo tidak sekarat seperti ini Ga...." teriak Dirga.
Dirga seperti kehilangan arah. Merasa sangat bersalah dengan hilangnya Kanaya. Dan ia menemukan Kanaya dengan keadaan yang tak sadarkan diri. Dinda dan Zaskia datang menjenguk setelah jam kuliah selesai. Sedangkan orang tua Kanaya juga baru datang.
"Bagaimana adik mu sayang?" cemas mami.
"Dia didalam masih ditangani dokter mi. Mami tenang dulu, Kanaya pasti kuat." tenang Arga.
Mami saat ini ada dipelukan papi. Mereka semua harap-harap cemas dengan keadaan Kanaya. Dikejauhan mereka tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan mereka. Hanya Dirga yang sedikit menaruh curiga kepada orang yang duduk tidak jauh dari mereka. Lengkap berpakaian hitam-hitam. Dirga berdiri, tapi seseorang yang berpakaian serba hitam itu langsung pergi.
"Ada apa Dir?" tanya papi yang sedari tadi memperhatikan Dirga.
"Enggak om, kaya ada orang yang mencurigakan. Tapi mungkin perasaan ku saja." jelas Dirga.
"Kamu urus dulu diri kamu. Bersihin tubuhmu, nanti pas Kanaya sadar malah sedih liat kamu yang kucel gini." kata pak Adi.
"Baik om."
Dirga diantar oleh Andre dan Dito. Mereka ke toilet, sedang Dito ke toko seberang rumah sakit. Untuk membeli kaos, karena jarak rumah sakit dan apartemen Dirga terlalu jauh. Setengah jam kemudian mereka kembali. Bersamaan dengan dokter yang keluar dari IGD.
"Pasien baik-baik saja. Sudah boleh dijenguk. Tapi tunggu dipindahkan ke ruang rawat inap dulu ya." jelas dokter.
Mereka semua mengikuti para perawat yang mendorong brangkar Kanaya. Dirga terus berada disamping Kanaya yang masih terbaring lemah. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Membuat Dirga kembali merasa bersalah dengan kejadian hilangnya Kanaya kali ini. Dia yakin ada campur tangan Selia. Sampai diruang rawat, yang masuk hanya orang tua Kanaya dan Dirga. Yang lainnya menunggu diluar. Karena tidak boleh banyak orang masuk.
"Sayang, mana yang sakit?" tanya mami.
"Aku nggak papa mi, jangan khawatirkan aku." jawab Kanaya sedikit lemah.
"Papi akan cari siapa yang udah nyakitin anak papi !" papi terlihat begitu marah.
"Saya akan mencarinya om, saya juga yang akan kasih pelajaran mereka !" tegas Dirga.
"Memang ya mantu papi ini, sangat bisa diandalin." jawab papi.
Membuat mami tersenyum dan Kanaya melototi sang papi. Papi tersenyum jail ke arah Kanaya. Mami juga ikut tersenyum kearah Kanaya. Dirga mendadak kikuk didalam ruangan. Papi mengajak mami keluar ruangan.
"Mi kita keluar dulu, biar mereka melepas rindu mi." ajak papi.
Mami mengangguk dan mengikuti papi keluar. Sepeninggalan orang tua Kanaya. Dirga langsung memeluk Kanaya erat. Hampir saja ia kehilangan orang yang disayangi. Membuat rasa traumanya kembali. Rasa kehilangannya, ketika kedua orang tuanya pergi dan tidak kembali.
"Kak, aku nggak papa. Cuma masih sedikit syok aja." tenang Kanaya.
"Aku nggak mau kamu hilang kaya tadi. Kakak kan udah bilang kamu hati-hati. Maaf ya kak Dirga telat tadi." Dirga terlihat kecewa.
"Sayang... Aku baik-baik aja hanya lecet sedikit. Dan masih syok, udah ya kawatirnya."
"Jangan hilang lagi, kemana-mana harus bawa ponselmu. Aku nggak mau kejadian ini terulang. Lagian kenapa bisa sampek kegini?" tanya Dirga.
"Selia... Aku ingat, ketika keluar dari Toilet dia yang menarik ku. Tapi setelah itu kaya dipukul benda keras. Tengkuk ku aja masih terasa sakit."
Jelas Kanaya yang hanya teringat Selia menariknya. Setelah itu dia tidak sadarkan diri. Dan ketika sadar dia sudah berada dirumah sakit. Dirga menempelkan keningnya ke kening Kanaya. Merasakan suhu tubuh Kanaya yang sedikit hangat.
"Pusing sayang?" tanya Dirga.
"Sedikit, aku lapar kak." ucap Kanaya kemudian.
"Baiklah, aku beli makan untuk kamu dulu ya. Biar dijagain mami sama papi dulu kamunya. Diluar juga ada Arga, Zaskia, Dinda, dito dan Andre."
Kanaya mengangguk dan Dirga pergi keluar. Orang tua Kanaya masuk, sedang yang lain masih diluar. Dirga membeli bubur ayam dan air mineral. Serta buah-buahan supaya tenaga Kanaya cepat pulih. Dia kembali dengan dua kantong kresek.
"Hmmm... Pasti cepet sembuh kalau seperti ini perawatnya." goda mami.
"Papi nggak salah pilih pokoknya Dir. Jagain anak gadis papi ya Dir." imbuh papi.
Kanaya melototi papi dan maminya. Yang mereka keburu pergi keluar. Dengan telaten Dirga menyuapi Kanaya. Mengupaskan buah dan menyuapkan kembali ke mulut manis gadis kecilnya itu.
"Udah kak, aku kenyang."
"Ya udah kamu istirahat. Kakak disini ya...." kata Dirga.
Kanaya pun memejamkan matanya. Semua sudah berpamitan pulang termasuk kedua orang tua kanaya. Tapi papi Kanaya sudah menyiapkan penjagaan ketat untuk putrinya itu. Dirga merapikan selimut Kanaya. Dan meninggalkan kecupan dikening kekasihnya itu.
"Good night sayang, mimpi indah ya."
Dirga terlihat begitu sayang kepada Kanaya. Dia tidak ingin kehilangan sosok orang yang dia sayangi. Begitu banyak penderitaan Dirga ketika harus melawan rasa sakit kehilangan. Dia tidak ingin mengulang rasa sakit yang sama. Kehilangan orang yang teramat ia sayangi. Walau pun mereka baru bersama baru genap sebulan. Tapi Dirga begitu yakin ingin menjadikan Kanaya hidupnya. Kanaya cinta pertama Dirga. Sama dengan Dirga juga cinta pertama Kanaya. Mereka memang ditakdirkan bertemu kembali dalam ikatan cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments