Usai mata kuliah, Dinda mengajak Kanaya untuk ke kantin terlebih dahulu. Karena Dinda merasa lapar. Seperti biasa mereka memesan bakso dan milk shake. Mereka duduk dibangku kosong yang masih ada. Menikmati makanan favorit mereka.
"Selamat ya Nay, udah bisa deket-deket doi." ucap Dinda nyengir.
"Belum Din, masih biasa aja. Aku mau dia selesai dulu sama si Selia itu." jelas Kanaya.
"Eh Nay... Kak Dirga itu nggak ada ya hubungan sama Selia itu. Aku udah cari info yang akurat. Kalau nggak percaya tanya deh sama kak Arga." jelas Dinda.
"Aku masih belum yakin aja Din. Lagian kak Arga juga belum kasih respon gimana-gimana." kata Kanaya.
"Lah yang jalanikan lo Nay, kenapa dengan kak Arga?" tanya Dinda semakin penasaran.
"Aku belum tahu dia ijinin atau enggak Dinda..."
"Pasti di ijinin lah Nay, aku tahu kak Dirga itu baik kok orangnya. Cari aja profilnya ada kok, orang dia mahasiswa berprestasi. Ada di sini juga beasiswa Nay."
Bahkan Kanaya sendiri baru tahu dari Dinda. Informasi detail Dirga, karena selama ini Kanaya sudah mencoba mengubur kisah cintanya itu. Karena dia pikir itu hanya cinta monyet di masa lalu. Perlahan dia pun ingin membuka hatinya lagi untuk Dirga. Karena memang Kanaya masih sangat sayang dan cinta kepada Dirga. Mereka pun menunggu bus dihalte.
Tin... Tin... Tin...
"Kakak mu jemput Nay..."
"Lah aku kan udah bilang jangan dijemput. Duh Din kak Dirga..." Raut wajah Kanaya menjadi memerah.
"Atutu... Pepet teroooosss..." goda Dinda.
"Ayo Nay, sekalian temen mu kita antar pulang.
Kanaya langsung menarik tangan Dinda. Dan mengajaknya pulang bersama. Mereka semua duduk di belakang. Tidak ada yang duduk didepan.
"Yakin ini aku dijadiin supir?" tanya Dirga memelas.
"Ya deh... Gak papa. Mau kemana kita?" tanya Dirga.
"Pulanglah kak, anterin Dinda dulu." jawab Kanaya.
Dirga pun melajukan mobilnya ke rumah Dinda terlebih dahulu. Setelah Dinda turun dan masuk ke dalam rumah. Dirga enggan melajukan mobilnya. Membuat Kanaya mengerutkan keningnya.
"Kamu pindah depan baru kita jalan." pinta Dirga.
Kanaya pun mau tidak mau pindah ke kursi sebelah Dirga. Lagi dan lagi Dirga tidak langsung mengantarkan Kanaya pulang. Kanaya kali ini hanya diam tidak mau bertanya. Dirga sendiri yang akhirnya menjelaskan kepada Kanaya.
"Kita jalan dulu ya Nay. Tenang aku udah minta ijin kok sama Arga." jelas Dirga.
"Mau kemana kak?" tanya Kanaya.
"Kamu maunya kemana?"
"Kok tanya aku? Yang mau jalan kan kak Dirga." jawab Kanaya
Dia tidak sadar membuat Dirga kecewa. Kanaya melirik ke arah Dirga yang putar balik. Kembali ke komplek, karena menurut Dirga, Kanaya tidak akan nyaman kalau dipaksa.
"Kok putar balik kak?" tanya Kanaya.
"Kelihatannya kamu nggak nyaman. Jadi kita pulang aja, aku juga baru inget kalau ada tugas yang harus aku kumpulkan besok." kata Dirga terlihat kecewa.
"Maaf, bukannya aku nggak nyaman. Emang bingung aja mau kemana kak. Nggak pernah diajakin keluar cowok." jelas Kanaya.
Dirga tersenyum."Nggak papa kita kencan dirumah aja kalau gitu." tawar Dirga.
Kanaya mengangguk, dan mereka pulang ke rumah Kanaya. Dirumah nampak sepi karena Andre dan Dito sudah pulang. Sedang Arga keluar dengan motor. Kanaya menyuruh Dirga masuk dan dia mengganti bajunya. Kanaya memakai kaos dan training panjang. Itu baju santai Kanaya kalau dirumah.
"Kak Dirga mau minum apa?" tanya Kanaya.
"Ikut kamu aja." jawab Dirga yang sudah fokus didepan laptopnya.
Kanaya mengambil dua gelas orange jus. Dan duduk dihadapan Dirga. Dia juga sibuk dengan laptopnya. Dia juga mengerjakan tugas kuliahnya. Ponsel Dirga berdering tanda ada panggilan masuk.
"Halo... Ya ada apa?" tanya Dirga terlihat malas menjawab.
"Sorry aku nggak bisa. Aku sibuk, tugasku banyak dan deadlinenya besok." kata Dirga mematikan ponselnya.
Melihat Kanaya yang serius didepan laptopnya. Yang sebenarnya penasaran dengan telepon masuk diponsel Dirga. Dirga tersenyum dan menjelaskan kepada Kanaya.
"Itu tadi Selia, ngajak ketemuan." ucap Dirga yang sekarang fokus ke Kanaya.
"Ya kenapa kak Dirga harus lapor aku? Aku nggak permasalahkan itu. Kalau mau keluar ya monggo, aku bukan siapa-siapa mu kak. Nggak berhak juga melarang." tegas Kanaya.
"Yakin Nay? Nggak mau buka hati sedikit saja buat aku? Jangan gantungin aku Nay. Kalau memang kamu nggak nyaman dengan hubungan yang belum ada statusnya ini ya bilang." kata Dirga memandang lekat-lekat ke arah Kanaya.
"Kenapa hanya diam... Aku memang bukan dari kalangan yang berada Nay. Tapi aku yakin bisa bahagiain kamu. Aku sudah menyukai mu dari kamu SMA." ungkap Dirga.
"Kakak yakin selama itu kak Dirga menyukaiku?" tanya Kanaya penasaran.
"Iya yakin sekali. Kamu inget waktu kamu minta bantuan mengerjakan tugas mu?" tanya Dirga.
Flash back on
Kanaya yang baru pulang sekolah pukul dua sore. Segera masuk kamar dan mengganti bajunya. Setelah itu dia langsung mengambil buku tugasnya. Dan mencari sang kakak, karena tugasnya begitu susah menurut Kanaya. Seperti biasa dia selalu masuk tanpa permisi ke kamar sang kakak.
"Kak Arga bantuin aku dong.... Ups, sorry." ucap Kanaya
Dia pun keluar dan menutup pintu kamar kakaknya kembali. Ternyata Arga tidak sendiri tetapi ada Dirga disana. Mereka entah sedang berdiskusi tentang apa. Kanaya pun memutuskan untuk ke kolam samping rumah. Dan mengerjakan tugasnya disana. Tapi Dirga malah menyusulnya dan membantunya mengerjakan tugas.
"Sini aku bantuin..." tawar Dirga.
"Eh, ndak usah kak. Aku nggak tahu kalau kak Arga sibuk." jelas Kanaya.
Dirga mengambil alih buku Kanaya dan menjelaskan secara terperinci. Kanaya terbengong melihat keuletan, ke telatenan dan kepintaran Dirga. Apa yang dijelaskan Dirga langsung bisa masuk ke otaknya. Mulai saat itu entah apa yang dirasakan Dirga. Tapi setiap kali ada kesempatan dia pasti ingin menemui Kanaya.
Flash back off
"Hanya dengan bertemu setiap hari kak?" tanya Kanaya belum percaya.
"Ya ada hal yang aku suka pada diri kamu. Banyak sekali Nay, dari cara kamu memperlakukan orang lain. Keberanian kamu. Kegigihan kamu untuk mendapatkan sesuatu. Itu sama kaya aku, bedanya kamu anak orang kaya. Aku hanya cukup, jadi aku nggak berani ungkapkan perasaan ini." jelas Dirga.
"Aku nggak pernah pandang orang dari status sosialnya kak. Orang tua ku juga ngajarin itu. Aku coba belajar membuka hati buat kak Dirga. Tapi tergantung usaha kak Dirga ya... Aku ingin liat kesungguhan kak Dirga." jawab Kanaya.
Kanaya akhirnya bisa perlahan membuka hatinya. Meski memang dari awal dia sudah suka dengan Dirga. Tapi, dia mau melihat kesungguhan Dirga. Seberapa besar usahanya ingin memiliki Kanaya. Dan Kanaya juga ingin bertanya kepada kakaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments