Setelah beberapa minggu, Dirga terlihat begitu sibuk mengurus skripsinya. Seakan ia melupakan Kanaya sang kekasih. Setiap kali Kanaya ingin bertemu atau sekedar bareng ke kampus. Pasti Dirga memiliki alasan untuk tidak bisa. Padahal Kanaya melihat sang kakak yang masih bisa santai dan meratukan Zaskia. Seperti kali ini Kanaya berangkat bersama sang kakak dan pacarnya Zaskia.
"Kak Kia, emang skripsi itu sibuk banget ya?" tanya Kanaya saat mereka berjalan menyusuri koridor kampus.
"Kenapa Nay, Dirga cuekin kamu?" Zaskia langsung to the point.
"haaaaahhh... Ya gitulah kak. Nggak seperti biasa, yang apa-apa harus selalu bersama. Bahkan biasanya aku pergi nggak boleh kalau nggak dianter dia. Sekarang aku pamitan pun jarang dibalas. Dia mulai menjauh kak." curhat Kanaya.
"Jangan ambil prasangka mu sendiri Nay. Mungkin memang lagi sibuk banget, apalagi Dirga murid beasiswa loh dek. Kamu juga harus ngertiin dia. Bisa suport dia juga." wejangan Zaskia.
Tapi apa yang dikatakan Zaskia beda jauh dengan kenyataan yang ada. Dirga malah akhir-akhir ini terlihat sering berduaan dengan Selia. Kanaya pun enggan menanyakan hal itu. Zaskia sebenarnya tahu, kalau Dirga dekat dengan Selia. Tapi ia mencoba menguatkan Kanaya. Kanaya pun masuk ke dalam kelas. Disambut Dinda dan Bagas yang sudah duduk rapi dikelas.
"Hai Nay, mukanya lesu amat?" sapa dan tanya Bagas."
"Hai Naya... Semangat dong." semangat Dinda.
Mereka hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman kecil dibibirnya. Asik dengan wanita lain aja bisa. Gerutu Kanaya dalam hatinya. Ia mengikuti pelajaran, dengan perasaan yang entah. Bahkan ketika istirahat, Kanaya enggan kekantin. Arga yang tahu itu, menghampiri adiknya dikelas.
"Non, ade ape?" tanya Arga.
Kanaya langsung memeluk sang kakak dan menangis. Dia menangis dalam pelukannya. Seberat ini ya Nay, kalau jauh dari Dirga. Ucap Arga dalam hatinya. Arga sendiri tahu apa yang dilakukan Dirga hanya untuk menyenangkan Selia. Yang memiliki kekuasaan dikampus. Membuat Dirga tidak bisa berkutik. Dirga juga menceritakan semua apa yang dilakukan Selia kepada Arga.
Dirga menyuruh Arga untuk menjagakan adiknya untuk Dirga. Karena dia tidak mau Kanaya kenapa-kenapa oleh sikap Selia. Dirga dekat dengan Selia hanya semata ingin menjaga Kanaya. Karena Selia mengancam akan berbuat nekat. Jika Dirga tetap bersama Kanaya. Jadi Arga juga harus ekstra menjaga adiknya.
"Dirga?" tanya Arga.
kanaya hanya mengangguk pelan. Ia dengan cepat mengusap air matanya kasar tatkala. Dito dan Andre mendekati mereka berdua.
"Tuan putri, janganlah engkau bersedih tuan putri. Lo apain sih adik manis Ga?!" senggol Dito.
"Tau nih Arga sukanya bikin nona manis menangis. Ada apa nona a'ak Andre disini." goda Andre.
"Kalian nyebelin ya... Gua bogem mentah juga lo lo pade..." ancam Arga.
Dito dan Andre pun lari terbirit-birit mendengar ancaman Arga. Mereka berdua tingkahnya memang konyol. Kanaya tersenyum kecil melihat tingkah mereka berdua.
"Nah gitu dong, jangan nangis lagi. Nanti kalau udah waktunya Dirga jelasin sama kamu ya... Dia pasti sibuk dengan skripsinya yang dituntut harus sempurna." jelas Arga.
Selalu skripsi alasannya, kamu ada apa sih kak. Tanya Kanaya dalam hatinya. Pulang dari kampus Kanaya memutuskan untuk ke apartemen Dirga. Dia terbiasa langsung masuk saja kalau di apartemen Dirga. Kanaya merebahkan tubuhnya disofa ruang tv. Menaruh tasnya disampingnya duduk. Ia memainkan ponselnya menunggu Dirga pulang. Sampai Kanaya tertidur disofa.
Dirga yang pulang begitu larut pukul delapan malam. Langsung mengirim pesan kepada Arga kalau Kanaya menginap ditempatnya. Dirga perlahan mendekat merapikan rambut Kanaya yang menutupi wajahnya. Maaf sayang, kamu harus menderita seperti ini. Ucap Dirga dalam hatinya. Ia ingin mengangkat Kanaya dan memindahkannya ke kamar. Tapi Kanaya menggeliat, dia pun terbangun.
"Dari kapan disini? Kenapa nggak kasih kabar dulu?" tanya Dirga lembut sambil mengusik kepala Kanaya.
"Hmmm... Dari pulang kuliah tadi, aku sampai ketiduran. Ini jam berapa kak?" tanya Kanaya.
"Sayang, kenapa nggak telpon sih. Kan aku bisa langsung pulang. Ini udah malam tidur sini aja. Aku udah ijin ke Arga." jelas Dirga.
Kanaya menatap wajah Dirga sendu. Dan tiba-tiba air matanya jatuh tak terbendung. Dia membenamkan wajahnya dalam pelukan Dirga. Meluapkan rasa kesal, sedih, kawatir yang semua jadi satu.
"Hei... Kenapa sayang?" tanya Dirga.
"Aku ada salah ya sama kak Dirga? Kalau ada ma-maafin aku. Aku nggak kuat kalau di-cu-ekin te-rus...." kata Kanaya sesenggukan.
Dirga kembali memeluk Kanaya dengan erat. Dan mengelus punggungnya sampai Kanaya sedikit tenang. Dirga mengusap sisa air mata Kanaya.
"Maaf ya sayang, kakak memang lagi sibuk banget ngurus skripsinya. Dari kampus minta aku untuk fokus. Karena kamu tahukan aku jalur beasiswa sayang. Sekali lagi maaf ya..." ucap Dirga dan mengecup kening Kanaya.
"Yakin hanya skripsi alasannya? Kak Dirga nggak menutupi sesuatu dariku?" kanaya masih penasaran.
"Enggak sayangku.... Eh, kamu mau makan apa? Aku masakin ya... Atau mau makan diluar?" tawar Dirga.
Maaf ya sayang, aku masih belum bisa kasih penjelasan sama kamu. Ucap Dirga dalam hatinya. Sebenarnya Dirga saat ini penuh tekanan dari keluarga Selia. Dari awal masuk kampus sampai dengan pekerjaannya saat ini. Dia dibantu oleh papa Selia. Sehingga Selia menggunakan nama papanya untuk menekan Dirga. Dirga tidak mau Kanaya ikut memikirkan masalahnya. Dia ingin memecahkan masalahnya sendiri.
Terlihat Kanaya makan dengan lahap dikedai pinggir jalan. Dirga begitu rindu dengan Kanaya yang sangat sederhana. Mau menerimanya dengan keadaan yang masih merintis. Dirga ingin mendirikan perusahaannya sendiri. Hingga suatu saat nanti dia keluar dari tekanan Selia dan keluarganya. Dan dia berharap bisa hidup bahagia dengan Kanaya.
"Dirga.... !! Bisa-bisanya kamu makan enak disini. Sampai telepon aku nggak kamu angkat ya." bentak seseorang.
Kanaya dan Dirga menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Dirga ketika Selia yang berdiri dibelakangnya itu. Kanaya melihat raut wajah Dirga yang penuh tekanan. Membuat Kanaya semakin bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya.
"Ayo antar aku pulang!" sengit Selia.
"Oke, tapi aku antar Kanaya pulang dulu ya..." jawab Dirga.
"Oh, nggak perlu kak. Aku udah pesan taxi." ucap Kanaya.
Kanaya pergi tanpa meminta penjelasan. Dan dia menunggu taxi datang. Padahal, dia tidak memesan taxi sama sekali. Dirga mengirim pesan ke Arga untuk memastikan Kanaya pulang dengan selamat. Dirga menyuruh Arga untuk menjemput adiknya di gang dekat apartemennya. Kanaya yang saat ini sedang duduk menunduk dihalte. Entah apa tujuannya, bahkan dia tidak membawa tas dan ponselnya. Sampai pada akhirnya Arga menemukannya. Dan membawanya pulang ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments