Setiap pagi, Kanaya mendengar teriakan dari sang Mami. Harus bangun pagi, karena kebiasaan Kanaya sehabis sholat subuh tidur lagi. Maminya pasti ngomel. Anak perawan harus bangun pagi, bantu-bantu didapur. Ya meski ada bik Asih, ART dirumah kanaya. Orang tua Kanaya tak mengijinkan anak-anaknya untuk manja. Hari ini Kanaya ada try out, karena sebentar lagi ujian.
"Pagi semua..." sapa Kanaya.
"Pagi sayang..." jawab mami dan papi.
"Tuan putri... Sangat manja." ejek Arga.
"Papi kak Arga tu, sukanya bikin mood Naya ancur pagi-pagi." manja Kanaya.
"Kamu itu Ga, sukanya usilin adikmu. Buruan sarapan terus antar adik mu." celoteh pak Adinata.
"Biasanya juga naik angkot. Dasar gadis kecil..."
"Papi....."
Orang tua mereka pun menggelengkan kepala. Melihat tingkah kedua anaknya. Meski Arga sudah kuliah, baru masuk. Tapi tingkahnya masih seperti anak kecil. Kalau bertemu sang adik.
Hari-hari Kanaya hanya belajar dan belajar. Kali ini dia sedang belajar di ruang tamu. Inilah awal mula, Naya bertemu dengan Dirga. Naya masih sibuk dengan soal-soalnya. Ada Arga dan gengnya yang sekedar ngumpul bareng. Mereka baru pulang kuliah.
"Assalamualaikum..." salam Dirga.
"Walaikumsalam, mana kak?" jawab dan tanya Naya.
"Astagfirullah kakak lupa dek, nanti ya beli."
"Yah kak Arga mah gitu, orang pengen es buahnya sekarang."
"Hai gadis kecil..." sapa Dirga.
Kanaya hanya terbengong melihat kehadiran sosok laki-laki tampan. Pertama kalinya Naya, melihat Dirga. Dia sudah terpesona. Inilah awal, Kanaya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Jangan panggil dia gadis kecil. Kena amukan mampus lu Dir." celoteh Arga.
"Apaan sih, minggir..." ketus Naya.
"Tuh... Lu sih Dir, mau kemana?" tanya Arga.
Kanaya tidak menoleh sedikit pun. Dan tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Dia lanjut belajar dikamar. Teman kak Arga, siapa ya tadi. Tanya Kanaya dalam hatinya. Tapi Kanaya pun lanjut untuk belajar.
...****************...
Di sekolah, Kanaya dan sahabatnya Dinda sedang ada diperpustakaan. Mereka memutuskan belajar disana agar fokus. Datanglah Bagas yang sekedar basa-basi menyapa Kanaya.
"Hai kalian... Boleh gabung?" sapa Bagas.
"Eh Bagas, bol..." jawab Dinda.
"Silahkan Gas, aku permisi dulu ya. Aku mau ke kelas." jawab Naya.
"Eh Nay, tungguin... Bye Bagas."
Kanaya berjalan dengan kesal masuk ke dalam kelasnya. Diperjalanan menuju kelas datanglah si perundung Tania. Dia menghadang perjalanan Kanaya. Tania dan teman-temannya, Bela dan Luna. Selalu membuat Kanaya ilfil dengan mereka.
"Mau apa lagi lo deketin Bagas gue!!" sinis Tania.
"Eh, bukan Naya yang deketin. Tapi si Bagas tu deket-deket mulu." jawab Dinda.
"Lo diem, orang yang ditanya Naya !!" bentak Bela
"Lagian, lo mau aja sih temenan sama Naya." tambah Luna.
"Eh, udah... Tania jangan cari masalah deh. Aku sama Bagas nggak ada apa-apa. Kamu tanya sendiri sama dia. Kenapa selalu ngintilin aku. Bukan sombong, tapi aku udah muak dengan tuduhan-tuduhan mu itu. Silahkan ambil si Bagas itu."
Kanaya pun berlalu dan duduk dibangkunya. Hari ini try out terakhir. Membuat Kanaya sedikit bernafas lega. Tinggal menghitung hari mereka ujian. Seperti biasa Dinda dan Kanaya menunggu bus dihalte.
"Eh Nay, aku pulang duluan. Udah dijemput supir aku, mau ke rumah nenek ku soalnya." kata Dinda.
"Oke... Eh kok kak Arga juga jemput ya..." heran Kanaya.
Dinda pergi masuk mobilnya sedang Kanaya masih berdiri mematung. Memang benar itu mobil kakaknya. Tapi yang mengemudi bukan Arga. Melainkan Dirga yang menjemput Kanaya.
"Hai gadis kecil... Yuk naik..." sapa dan ajak Dirga.
"Kak Arga kemana kak?" tanya Kanaya terlihat canggung.
"Masuk dulu, nanti pasti ketemu Arga." ajak Dirga.
Kanaya pun masuk ke dalam mobil. Dirga melajukan mobil, di dalam mobil Kanaya hanya diam. Tidak cerewet seperti biasanya. Biasanya kalau yang jemput Arga, pasti minta mampir jajan dulu. Dan pastinya Arga yang membelikan. Dan herannya Kanaya, Dirga berhenti dipusat jajanan yang biasanya Kanaya berhenti.
"Loh, kok..."
"Ayo turun, pasti kamu pengen jajan dulukan. Arga yang bilang wajib mampir kesini." jelas Dirga.
Kanaya pun menurut saja, dia turun. Membeli somay, es buah, es krim dan masih banyak sekali. karena Kanaya tipikal anak yang apa adanya. Tapi dia bayar sendiri, sungkan kalau Dirga yang bayarin.
"Pakai uang ku saja, simpan uang jajan mu gadis kecil." ucap Dirga.
"Nggak papa, aku yang jajan ini." jawab Kanaya.
"Bolehkan jangan panggil aku gadis kecil? Aku sudah mau SMA, nama ku Kanaya." jelas Kanaya.
"Hehehehe... Udah gede ya..." goda Dirga.
"Sama nyebelinnya kaya kak Arga." gerutu Kanaya.
"Apa? Aku denger loh..."
"Enggak... Udah, aku mau pulang."
Dirga pun menuruti kemauan Kanaya. Tapi mereka tidak pulang, melainkan menjemput Arga terlebih dahulu. Diperjalanan Dirga curi-curi pandang ke Kanaya sambil senyum-senyum. Melihat Kanaya yang asik ngemil jajanan yang ia beli tadi. Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di kampus. Tapi Kanaya tidak mau turun, karena suasana kampus sangat ramai.
"Ayo turun Nay... Masih lama lo." ajak Dirga.
"Nggak papa Kak, aku d-disini aja."
"Kenapa? Udah ayo turun." paksa Dirga.
Dirga menarik tangan Kanaya untuk turun dari mobil. Jantung Kanaya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia menjadi kikuk dan mengeluarkan keringat dingin. Dengan cepat, Kanaya melepaskan tangannya dari genggaman Dirga. Dan berjalan dibelakang Dirga. Dirga malah memegang pundak Kanaya dan berjalan dibelakangnya.
"Hai anak cantik..." sapa Andre.
"Hai manis..." sapa Dito.
Kanaya hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka tidak tahu kalau Kanaya sedang gugup. Hanya dengan dipegang tangan diperlakukan dengan lembut oleh Dirga. Sudah membuat Kanaya melayang. Rasanya berbeda lebih membuat hatinya berbunga-bunga.
"Dasar buaya... Adik gue ini. Udah dek ayo pulang. Pada gila tu orang." kesal Arga yang adiknya digoda.
"Idih sok protektif lu Ga...." teriak Dito.
Mereka pun tertawa bersama. Arga menggandeng tangan Kanaya untuk pulang. Diikuti oleh, ketiga sahabatnya. Kanaya duduk di samping sang kakak yang mengemudi. Sedangkan ketiga sahabat kakaknya berada dibelakang. Seperti biasanya, banyak celotehan tidak jelas keluar dari mereka berempat. Sampai pada akhirnya Dirga mengeluarkan suaranya.
"Diantara mereka yang ganteng sendiri aku kan Nay?" tanya Dirga sedikit menggoda Kanaya.
Kanaya pun tersipu malu dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Arga menyadari kegugupan sang adik. Yang terlihat tidak seperti biasanya. Arga pun menyodorkan ponsel dan headset. Untuk dipakai Kanaya. Kanaya pun langsung menerima dan memakainya. Sedangkan Dirga masih sama suka curi-curi pandang kearah gadis kecil. Yaitu Kanaya, entah kenapa Dirga merasa ada yang berbeda dari Kanaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments