Tepat pukul dua, Dinda dan Kanaya keluar dari kelas. Arga dan Dirga memperhatikan Kanaya yang wajahnya tampak tak bersemangat. Dirga ingin menghampiri ditahan oleh Arga. Karena Selia terlihat berjalan mendekati Kanaya dan Dinda yang masih duduk santai dikoridor kampus.
"Hei anak semester satu..." sapa Selia dengan angkuh.
Kanaya dan Dinda tidak menjawab, mereka hanya diam. Selia sedikit mendorong pundah Kanaya. Kanaya masih diam tak menghiraukan. Dinda yang ingin membalas ditahan oleh Kanaya. Arga tetap diam, sedangkan Dirga ingin menghampiri mereka bertiga. Ditahan oleh Arga karena dia yakin adiknya bisa mengatasinya sendiri.
"Lo budek ya... aku peringatkan ya!!! Jangan deket-deket sama Dirga. Baru juga disini, belum tahu power keluarga ku dikampus ini." tegas Selia.
"Hahahaha... Ya kali mbak aku harus takut gitu? Setelah tahu power keluarga mu?" jawab Kanaya masih santai.
"Ngelunjak lo ya !!!" Selia masih dengan sombongnya ingin menampar Kanaya.
"Aku nggak selemah itu. Aku disini kuliah bukan mau cari gara-gara sama senior. Silahkan ambil Dirga mu itu, bilang sama dia jangan deketin aku. Kalau perlu kamu rantai dia biar sama kamu terus. Yuk Din pulang..." tegas Kanaya.
Kanaya begitu tegas, membuat Selia merasa kesal. Dia mengepalkan tangannya dan menghentak-hentakkan kakinya. Arga yang melihat keberanian Kanaya tersenyum dengan bangga.
"Lo liat sendiri Dir, adik gua nggak selemah yang lu pikir. Lo harus yakin-nin dia, kalau memang nggak ada apa-apa sama Selia. Dia itu batu, keras kepala banget. Dan nggak pernah mau ikut campur urusan orang. Lo selesain bener-bener deh sama Selia. Tegas-in sama dia." jelas Arga.
Dirga hanya tersenyum kecut menanggapi nasehat Arga. Aku akan meyakinkan hati kamu Kanaya Putri Adinata. Selalu menyebut nama penuh Kanaya. Karena itu menjadi semangat tersendiri untuk Dirga. Selia memang keterlaluan, setiap kali Dirga dekat dengan perempuan lain. Dia pasti akan mengancam dan lebih-lebih melabraknya. Seakan Dirga memang memiliki hubungan dengannya. Padahal tidak ada sama sekali.
Kanaya merasa kesal dengan Selia. Dinda tahu sahabatnya kesal sekali. Karena Kanaya tidak pernah mau ribut kalau soal cowok. Meskipun dia secinta dan sesayang apa pun. Dia tipikal orang yang tidak mau merusak atau masuk dalam hubungan orang lain. Dihalte Dinda dijemput mamanya. Karena harus menyusul papanya kebandara. Sedang Kanaya terpaksa harus menunggu bus lewat. Karena Arga masih ada latian basket.
Tin... Tin...
Kanaya tersenyum, ternyata ia dijemput oleh kakaknya. Dia bersemangat dan sedikit berlari menuju mobil. dia membuka pintu mobil. Dan langsung lesu tak bersemangat lagi. Dia kembali menutup pintu mobilnya dan kembali duduk dihalte. Karena yang ada dikemudi adalah Dirga. Yang sengaja disuruh oleh Arga untuk mengantar adiknya pulang. Dirga tahu Kanaya menghindarinya. Akhirnya Dirga memarkirkan mobilnya terlebih dulu.
Dirga turun dan ikut duduk disamping Kanaya. Kanaya sibuk dengan ponselnya. Dirga masih memperhatikan tanpa mengucap sepatah kata pun. Dan datanglah Bagas dengan mogenya. Dia ingin mengantarkan Kanaya.
"Hai Nay... Yuk aku antar pulang." ajak Bagas.
"Oh... Maaf Gas, udah dijemput kakak ku." jawab Kanaya.
"Mana? Kamu bohong ya Nay..." Bagas terlihat kecewa.
"Aku yang jemput, itu mobilnya." jawab Dirga sambil menunjukan tempat parkir.
"Oh... Ya udah, aku duluan Nay...." pamit Bagas.
Bagas tak menghiraukan Dirga yang ada disitu. Bagas merasa dia kalah cepat dengan Dirga. Tapi Bagas selalu saja berusaha mendekati Kanaya tanpa lelah.
"Ayuk pulang non..." ajak Dirga yang sudah mengambil ponsel dan tas Kanaya.
Dirga tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Kanaya terpaksa masuk kedalam mobil. Karena Dirga memaksanya. Tas dan ponselnya sudah dibawa masuk ke dalam mobil. Dirga memasangkan sabuk pengaman kepada Kanaya. Kanaya memundurkan tubuhnya. Agar sedikit menjauh dari Dirga. Sengaja Dirga melamakan memasang sabuk.
"Kak, udah belum?" jengkel Kanaya.
"Sudah tuan putri... Tuan putri sudah nyaman?" goda Dirga.
"Kanaya namaku Kanaya."
Dirga hanya tersenyum melihat wajah Kanaya yang kesal kepadanya. Merasa sangat lucu dan membuat Dirga semakin ingin mendapatkan hati Kanaya. Ya Ampun Naya, emang boleh sesalting ini. Ucap Kanaya dalam hatinya. Kanaya hanya diam dan memandang keluar jendela. Dan Dirga berhenti ditaman kota.
"Loh kenapa kesini?" tanya Kanaya.
"Santai dulu... Ayo turun dulu Nay." ajak Dirga.
Masih dengan love language Dirga yang semakin membuat Kanaya bertanya-tanya. Mereka berjalan-jalan mengelilingi taman. Dan bodohnya Kanaya hanya mengikuti Dirga. Dirga merasa lelah dan mengajak Kanaya duduk dibangku kosong.
"Duduk dulu Nay..." ajak Dirga.
"Bentar, mau beli minum dulu." jawab Kanaya.
Kanaya pergi membeli dua botol air mineral. Yang penjualnya tak jauh dari tempat mereka duduk. Dirga masih dengan tatapannya yang tak berpindah dari Kanaya. Yang berjalan menuju dirinya yang duduk.
"ini kak, pasti haus jugakan?" tawar Kanaya.
"Haus kasih sayang..." goda Dirga.
"Apaan sih, bercandanya nggak asik. Jangan mulai bikin aku badmood." jelas Kanaya tegas.
"Kalau bikin seneng boleh dong Nay?" tanya Dirga.
"Kayanya kita pulang aja deh kak, aku nggak nyaman seperti ini. Kak Dirga goda-goda aku terus, ya maaf kalau aku keGE'eran. Tapi memang aku nggak nyaman seperti ini." tegas Kanaya.
"Dengerin aku ya Nay, kali ini aja. Selebihnya kamu pikirkan sendiri. Mau jauh sama aku juga boleh. Aku sama Selia benar-benar nggak ada apa-apa. Sumpah, kalau masih nggak percaya tanya kakak mu dia tahu semuanya tentang aku." jelas Dirga.
"Lagian aku tu sukanya sama seseorang dari dulu yang nggak pernah berani ngungkapin sampai sekarang. Jadi tolong jangan percaya apa pun yang dibilang Selia. Dia itu pengacau dihidup ku dari dulu." jelas Dirga penuh penekanan.
"Terus sukanya sama siapa? Perempuan yang dari dulu kakak suka siapa?" tanya Kanaya penasaran.
"Kalau kamu boleh nggak?" tanya Dirga tiba-tiba.
Membuat Kanaya yang sedang minum tersedak karena kaget. Beneran kamu suka sama aku kak. Tanya Kanaya dalam hatinya. Tapi dia tidak mau keGe'ran yang jatuhnya bikin sakit hatinya. Sepulang dari taman Kanaya hanya diam. Tidak berani berkata apapun. Sampai dirumah sepeninggalan Dirga yang harus kembali kekampus pun. Kanaya seperti belum percaya kalau Dirga menyukainya. Dia memutuskan untuk tidur.
Kirim pesan
Kanaya : boleh aku curhat Din.
Belum ada balasan dari Dinda, Kanaya sudah memejamkan matanya. Hingga jam menunjukkan pukul enam, Kanaya belum bangun dari tidurnya. Dia bebas karena papi dan maminya ada diluar kota untuk urusan bisnis. Dia juga tidak tahu kalau para sahabat kakaknya menginap dirumahnya. Dirga yang ada dikamar Arga, lengkap dengan para sahabatnya. Sebenarnya celingukan mencari tahu keberadaan Kanaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments