Didalam lift, Kanaya berada didepan Dirga mereka yang hanya berdua. Membuat Dirga keluar tingkah jailnya. Dia merasa gemas melihat Kanaya yang cemberut. Dirga menarik Kanaya kebelakang. Hingga mereka saat ini berdiri sejajar. Sedangkan tangannya melingkar dipinggang Kanaya. Dan menyandarkan kepalanya di bahu Kanaya.
"Jangan marah sayang." mohon Dirga.
"Kak Dirga sama nyebelinnya sama kak Arga. Ngeselin..." gerutu Kanaya.
"Emang Arga sering ya nyium kaya gitu. Wah... Kurang ajar si Arga ya..." Dirga masih menggoda kekasihnya itu.
"Iiiihhhh.... Ya nggak gitu, terserah kamu. Jauh-jauh dari aku." kesal Kanaya.
"Atutu marahnya sayang ku ngeriiiii... Aku nggak akan bisa jauh dari kamu." rengek Dirga.
Dirga belum pindah dari posisinya. Sampai mereka sudah ada diparkiran. Membuat Kanaya berjalan mendahului Dirga kembali. Tapi kali ini Dirga sigap langsung menggandeng Kanaya. Membukakan pintu untuk Kanaya. Dan mereka perjalanan pulang.
"Sayang udah ih marahnya...." bujuk Dirga.
"Mau beli es boba? Milkshake? Ice cream? Atau..."
Kanaya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. Dia masih kesal dengan sikap Dirga. Kanaya tidak apa-apa hanya takut kalau Dirga kelepasan. Jadi kelewat batas sama Kanaya. Baru juga pacaran seminggu, sudah tiga kali Dirga memberi syok terapi lewat sentuhannya. Terutama ciuman tiba-tiba ala Dirga.
"Oke... Maaf ya, aku nggak bakal ulangi lagi apa yang nggak kamu suka." janji Dirga.
"Kak Dirga janji?"
"Iya sayang.... Eh atau aku ijin dulu deh kalau mau cium hehehe." Dirga masih saja menggoda.
Dirga suka sekali melihat Kanaya marah. Cemberutnya itu bikin gemes, pengen cubit pipinya. Dan melumat kasar bibirnya yang mengerucut. Terlihat begitu menggoda dan sexy. Tenang saja Kanaya Putri Adinata, aku janji kamu yang pertama dan terakhir. Ucap Dirga dalam hatinya.
"Aku nggak mampir ya sayang, mau menyelesaikan revisi skripsi ku." kata dirga.
"Oke...."
"Ya ampun iritnya, udah dong marahnya. Jangan harap bisa keluar kalau masih marah." bujuk Dirga.
"Aku nggak marah, udah ya.... Bye."
"Nggak ada ya kaya gitu. Nggak boleh dong marah gini sayang." bujuk Dirga lagi.
"Aku nggak marah kak Dirga. Udah ya, aku capek mau istirahat." pamit Kanaya.
Dirga membiarkan Kanaya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Kanaya melihat kepergian Dirga dari balik jendela. Dia lanjut masuk kedalam kamar dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Eh... Eh... Kenapa anak mami nih?" tanya mami.
"Lagi sebel aja mi sama kak Dirga. Udah ah, mau istirahat capek."
Bu Anita hanya menggeleng melihat tingkah anak gadisnya itu. Arga yang tahu Kanaya lagi marahan sama Dirga. Malah asik usilin sang adik.
"Doooooorrrr...." teriak Arga dibalik pintu kamar Kanaya.
"Aaaaaaaaaaaaa.... Kak Argaaaa.... Nyebelin ya. Kelua nggak?! Udah sana keluar!" kesal Kanaya.
Yang disabut gelak tawa Arga. Dia merasa puas sudah menjaili sang adik. Dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan Kanaya tidur tengkurap diatas ranjangnya. Tas kuliahnya pun ia lempar ke sembarang arah. Sampai Kanaya tidak sadar sudah ada pesan dan telepon dari Dirga berpuluh-puluh kali. Kanaya menggeliat dan meraba kasurnya. Dia mendapati ponselnya dan menyalakannya. Mata kanaya terbelalak melihat spam pesan dan lima puluh panggilan masuk.
"Halo sayang kemana aja?" tanya Dirga terlihat kesal.
"Hmmm... Baru bangun." jawab Kanaya yang masih malas.
"Oh...udah ya cantik marahnya. Mandi gih udah sore, aku mau lanjut kerjain skripsi dulu."
"Hmm oke..."
"Tunggu, aku on the way...."
Tut...tut...
Dirga langsung memutus sambungan teleponnya. Kanaya langsung meloncat dari ranjang dan mengambil handuk untuk mandi. Dia takut kalau Dirga kerumahnya dan dia belum mandi. Usai mandi, dia memakai setelan santainya. Atasan sabrina berwarna pink dan rok cargo hitam selutut. Dia pun turun kedapur sekedar mengambil minum. Bel rumahnya berbunyi dan dia langsung berlari membukakan pintu. Benar saja yang datang adalah Dirga.
"Mana senyumnya?" tanya Dirga dengan menggamit pipi Kanaya dengan tangannya.
Hinggak bibir Kanaya mengerucut. Dirga tak melepaskan hal itu. Tangan yang satunya membawa kantong kresek berisi camilan. Penuh untuk mengembalikan mood pacarnya.
"Kak.... Sakit tahu." kesal Kanaya.
"Maaf dong sayangku...." mohon Dirga.
"Udah aku maafin, ini apa?" tanya Kanaya.
"Cemilan buat kita, aku mau ngerjain skripsi disini ya..." ijin Dirga.
"Iya boleh, mau dimana?"
"Di samping kolam aja biar adem..."
Kanaya pun masuk dan berjalan ke samping kolam. Sedang Dirga mengekor dibelakang Kanaya. Dirga meletakkan tas dan juga kantung kresek yang penuh berisi camilan. Kanaya berjalan menuju dapur dan mengambilkan Dirga segelas minum.
"Minumnya kak..." ucapnya.
"Makasi sayang, udah ya jangan marah lagi..." lagi-lagi Dirga membujuk.
"Iya sayang, udah buruan dikerjain aku mau ambil buku tugas dan laptop ku juga. Bentar ya..."
Dirga membalasnya dengan senyuman. Turunlah Arga yang juga lengkap dengan laptopnya. Dia tahu kalau Dirga ada dirumahnya. Melihat dari jendela kamar ada mobil Dirga terparkir. Dia langsung duduk disamping Dirga yang juga sibuk revisi.
"Gimana punya lo Dir?" tanya Arga.
"Tinggal dikit aja revisinya. Punya lo udah kelar?" tanya Dirga balik.
"Udah sih, tapi belum yakin aja aku."
Kanaya datang dengan setumpuk buku dan laptopnya. Dirga langsung berdiri membantu sang kekasih. Membawakan buku dan laptop Kanaya. Arga menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Nay, jangan disia-siakan orang kaya Dirga tu langka. Jangan sering ambekan, jangan sering nyusahin dia. Kakak bilang gini juga untuk kebaikan kamu." wejang Arga.
Dirga hanya tersenyum dan mengelus lembut rambut Kanaya. Kanaya mengrenyitkan dahinya. Merasakan begitu pehatiannya sang kakak kepadanya. Kalau Arga sudah bilang seperti itu. Berarti Dirga memang orang yang baik untuknya. Jarang-jarang Arga berkata serius seperti ini.
"Udah kalian lanjut aja. Takut ganggu gua, kalau dia nyebelin, ngeselin dan sesukanya sendiri jitak aja kepalanya Dir. Biar dia cepet sadar." goda Arga sambil berlari.
"Yeeeeeee... Dasar kompor." oyak Kanaya.
Tanpa sadar Dirga sedari tadi memandanginya. Melihat Kanaya yang fokus sekali dengan tugasnya. Dia merasa sangat tepat memilih Kanaya. Anak orang berada tapi tetap gigih untuk masa depannya. Dia juga tidak pernah memandang status sosial seseorang. Dia semakin yakin dengan calon istrinya itu.
"Kak Dirga kenapa?" tanya Kanaya.
"Enggak papa, ada yang sulit sini aku bantuin." alih Dirga.
Kanaya menunjukkan nomor mana saja yang ia rasa susah. Dirga menjelaskan dan membantu Kanaya menyelesaikan tugasnya. Sudah malam, Dirga berpamitan untuk pulang. Dan Kanaya membereskan buku-bukunya. Dia pun pergi tidur karena besok pagi dia ada kuliah pagi. Dan jadwalnya pun full seharian penuh. Dan tentunya Dirga yang menjemput.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments