Alice menatap Saka yang tengah meminum es teh lemon miliknya dengan pandangan rumit. Pada dasarnya, alam kultivator tidak mengenal yang namanya es batu untuk minuman. Kerajaan Victoria hanya memiliki dua musim, dan tidak semua orang memiliki elemen es untuk membekukan air. Alice juga baru mengetahui jika air beku bisa digunakan untuk meracik air minum.
Alice menatap cangkir miliknya. Alih-alih es, Saka membuatnya dalam versi hangat. Dengan dalih mengurangi rasa mual, Alice hanya setuju saja. Namun kini, tenggorokannya terasa sangat kering melihat es yang mengembun di gelas. Kenapa terlihat sangat segar?
"Kak Saka, bolehkah aku meminta air beku itu? Aku mau minum yang dingin." Alice memberanikan diri meminta.
"Ini namanya es," jawab Saka sembari mengambil satu gelas besar dan mengisinya dengan es batu lalu menuangkan teh milik Alice.
"Minumlah pelan-pelan, gigimu bisa ngilu kalau tidak tahan."
Mata Alice berbinar, tak mengindahkan peringatan Saka, ia segera meminumnya dengan sekali tegukan.
Ugh!
Wajah Alice menjadi jelek. Jelas rasa dingin yang menyapa tiba-tiba langsung menghantam gigi depannya hingga terasa ngilu. Berbeda dengan es krim yang masih bisa memakai sendok, Saka sengaja tidak menggunakan sedotan untuk minumannya, sehingga gigi depan akan langsung bereaksi dengan rasa dingin.
Saka terkekeh. "Apa kubilang? Bandel, sih!" ejeknya penuh kemenangan.
Alice cemberut. "Tidak mau minum lagi."
"Yakin? Ini seger, loh!" Dengan sengaja, Saka membuat ekspresi penuh nikmat usai meminum es teh lemon miliknya.
Alice menatap cara Saka meminum es dan menirunya. Setelah tak merasakan ngilu di giginya, Alice bisa menikmati rasa segar es teh dipadu dengan asamnya lemon, dan manisnya gula.
"Kak, ini segar sekali!" Alice tak bisa berhenti minum hingga gelasnya kosong. Tersisa beberapa bongkah es batu saja.
"Bagaimana? Sudah tidak mual lagi?" tanya Saka saat melihat Alice yang tak lagi pucat
"Tidak, aku sudah baik-baik saja." Dengan tersenyum kecil, mata jernih Alice menatap Saka dengan penuh antusias. Sejak masuk ke dalam goa, ia sudah dikejutkan dengan berbagai barang aneh yang baru pertama kali ia lihat. Tanpa sadar, ia sudah menganggap Saka sebagai orang ajaib pencipta barang aneh. Ia penasaran barang apalagi yang akan ditunjukkan oleh Saka.
"Nak Alice, ayo kita makan dulu, kamu pasti sudah lapar." Sinta datang setelah menyelesaikan acara memasaknya.
Mereka kemudian berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam. Meski hanya bertiga, tapi suasana terasa hangat dan meriah. Saka terus mengatakan berbagai lelucon dan menggoda ibunya yang sudah naik ranah ke ranah Jenderal tingkat tujuh. Ya, dua ranah sekaligus hanya dalam satu hari. Karena ketebalan energi dan fondasi yang kuat setelah berkultivasi selama bertahun-tahun tanpa kenaikan ranah, Sinta tidak akan kesulitan untuk naik dua ranah sekaligus.
Alice melihat interaksi ibu dan anak di depannya dengan penuh syukur dan iri. Ia sendiri tak lagi mempunyai keluarga, tetapi ia akhirnya bersyukur karena bisa merasakan kehangatan seperti ini.
"Nak Alice, karena kamu sudah ada di sini, berarti kita semua keluarga. Kelak, panggil aku Ibu juga. Kalian berdua adalah anak-anak kesayanganku." Dengan penuh keibuan, Sinta berbicara kepada Alice yang terlihat masih sangat canggung.
Alice berhenti mengunyah, ia menatap Sinta dengan mata yang mengembun. Sejak rombongannya disergap oleh para bandit itu, Alice bahkan sudah memikirkan kondisi terburuk jika dirinya akan mati saat itu juga. Namun siapa sangka jika ia adalah satu-satunya penyitas dari kampung nelayan dan kini mendapat keluarga baru yang begitu hangat. Belum lagi goa yang menjadi rumah mereka adalah harta karun yang sebenarnya. Alice hanya bisa terus mengucap syukur dan berterima kasih kepada Saka yang sudi menolong dan membawanya.
"Baik, Ibu!" Seiring dengan mengatupnya mulut usai mengucap kata 'ibu', air mata Alice luruh. Menyaksikan sang ibu yang meregang nyawa di depan matanya, Alice sama sekali tidak pernah terpikirkan akan mendapatkan ibu ganti yang sangat menyayanginya.
Sinta mengerti perasaan Alice usai mendengar cerita Saka. Maka tanpa ragu ia bangkit dan memberikan pelukan yang lagi-lagi membuat tangis gadis itu pecah.
Saka menghela napas panjang. Kehilangan memang selalu menjadi momok menakutkan bagi semua orang, Saka pun tak terkecuali. Meski tak memiliki orang tua saat di bumi, tapi Saka tak kekurangan orang-orang yang peduli.
Saka yang tak ingin terlarut dengan suasana haru, mengalihkan perhatiannya dengan membuat formasi array dinding pemisah yang nantinya bisa berguna untuk privasi tiap kamar. Dengan bertambahnya Alice, otomatis Saka menambah satu ranjang baru. Membuat formasi array dinding pemisah cukup menguras tenaga lantaran Saka membuatnya secara penuh mengelilingi ranjang, menyisakan satu celah yang cukup untuk dimasuki satu manusia dewasa. Sekarang, terdapat tiga ruangan yang terdapat sekat. Sekat itu berwarna putih susu, tidak dapat ditembus baik dari dalam maupun dari luar.
[Ding! Selamat Tuan, teknik array kuno naik ke level 3]
Fiuhh!
Meski lelah, Saka sangat bahagia, apalagi tenaganya langsung pulih berkat energi yang melimpah. Melirik tumpukan batu roh surgawi dengan penuh minat. Karena teknik array miliknya sudah naik, maka Saka merasa tidak akan kesulitan lagi membuka formasi array yang melindunginya. Namun Saka tak terburu-buru, ia teringat dengan hadiah yang didapatnya dari sistem. Ia belum sempat membukanya.
"Bu, aku istirahat dulu ke kamar," pamit Saka yang langsung masuk ke kamar tanpa menunggu persetujuan dari ibunya.
Sinta hanya menggelengkan kepala tetapi membiarkan saja. Ia tahu, Saka sudah sangat lelah seharian, meski ia tak tahu apa saja yang dilakukan anak itu.
Sampai di kamar, Saka memasang array kedap suara. Berjaga-jaga saja karena ia takut berteriak histeris saat membuka hadiah dari sistem, maklum saja tingkatnya adalah berlian. Ia tak ingin diinterogasi oleh ibunya untuk saat ini.
Setelah selesai dengan persiapannya, Saka duduk bersila di atas ranjang. Matanya menatap layar sistem yang menampilkan kotak hadiah berwarna putih berkilauan.
Menekan perasaan gembiranya, Saka mengetuk kotak itu hingga terbuka.
[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan fisik Dewa Abadi]
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan 1 voucher pemanggilan bawahan setia tingkat Saint King]
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan 1 tiket voucher belanja gratis di toko sistem selama 24 jam]
YESSS!
Saka tak mampu menahan diri lagi dan langsung berjingkrak di atas kasur. Mulutnya tak henti berseru 'yes' dengan kepalan tangan ia acungkan ke atas.
Memang hadiah tingkat berlian tak pernah mengecewakan.
"Sistem, fisik Dewa Abadi itu gimana?"
[Ding! Fisik Dewa Abadi adalah tingkatan fisik tertinggi. Seseorang yang memiliki fisik Dewa Abadi tidak akan lagi bisa dilukai oleh senjata dibawah tingkat Dewa. Darah Tuan juga akan sangat berguna sebagai penyembuh dan meningkatkan kekuatan para kultivator hingga tiga kali lipat. Tetapi siapapun yang meminum darah Tuan akan tunduk tanpa syarat kepada Tuan, juga kekuatan Tuan anak naik 10 kali lipat saat perubahan fisik Dewa Abadi]
Saka terpana. Bukankah ini jackpot? Dengan begini, ia tak perlu bersembunyi lagi bukan? Ia akan dengan mudah menaklukkan seluruh alam seperti misi sistem ini. Meski tak ada keinginan untuk naik tahta, bukankah lebih enak berkuasa dibalik layar?
"Sistem, pasang fisik Dewa Abadi."
[Ding! Memulai pemasangan fisik Dewa Abadi. Harap Tuan menahan rasa sakitnya hingga proses selesai]
"Oh, AARRGGGHHH!" Saka bahkan tak sempat memprotes saat merasakan seluruh tubuhnya seperti digiling di dalam mesin. Seluruh tulang, kulit, daging dan organnya hancur lebur hingga menjadi daging cincang dan remahan tulang. Meski begitu, Saka masih tetap sadar dengan kedua mata yang terbuka di atas tumpukan daging. Ingin rasanya Saka pingsan, ini 100 kali lebih sakit saat pertama kali sistem mengubah tubuhnya ke fisik perak.
Dua hela napas kemudian, sinar putih keemasan membungkus tubuh Saka yang berubah menjadi daging cincang, dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang, tumpukan daging cincang itu kemudian mulai membentuk siluet tubuh dimulai dari organ dalam kemudian tulang, daging dan kulit.
Lima belas menit kemudian, sosok Saka terbentuk sempurna dalam wujud Dewa. Kini darah dan tulangnya berwarna emas, pupil matanya pun mengalami perubahan berwarna emas dengan rambut perak panjang sepinggang. Vitalitas yang luar biasa menyelimuti tubuh Saka yang masih telanjang dan mengambang di atas ranjang.
Duaarr!
Ranah Raja tingkat tiga.
Duaarr!
Duaarr!
Ledakan teredam terus terdengar dari dalam tubuh Saka, hingga setelah sepuluh kali ledakan baru berhenti.
Mata Saka terbuka kemudian. Persepsinya semakin tajam dan meski tidak memakai mata dewa, ia mampu melihat semut yang sedang berjalan di langit-langit goa.
"Sistem, buka status!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Arif Ismawan
makin ngasal makin ok buat hiburan
2024-02-29
1
Putra_Andalas
ini kpn berkenalannya...tau² sdh kyak akrab aja manggilnya...😵
2024-02-24
0
Sang M
,👍🌟👍🌟👍🌟lanjut DominasI
2024-02-08
1