Tuan Muda Orlando

Mendengar seruan itu, semua orang menoleh. Dari dalam karavan, keluar seorang pemuda yang dua tahun lebih tua daripada Saka. Dengan jubah mewah berhias emas, langkah kaki pemuda itu begitu angkuh mendekat.

"Apa maksudmu, Ansel?" Sofia tak mampu menyembunyikan nada tak suka di suaranya.

"Sofia, sangat berbahaya mengajak sembarang orang untuk pergi bersama, bagaimana kalau ternyata dia adalah bandit yang lain?" Pemuda yang bernama Ansel itu mencoba membujuk Sofia.

Saka mengernyit tak suka. Bagaimana mungkin orang setampan dirinya menjadi bandit? Bahkan dengan segunung batu roh dan koin emas di inventory miliknya?

"Ansel, jaga bicaramu!" hardik Sofia.

"Sofia, kamu terlalu berhati lembut. Aku hanya ingin melindungimu dari bahaya. Lihatlah pakaian yang digunakan anak kecil ini saja sangat kumal. Dia juga hanya berada di ranah prajurit tahap menengah. Apa yang bisa ia lakukan selain menjadi beban?" Ansel memandang Saka dengan remeh.

"Oh, Apakah Tuan Muda ini sangat kuat?" cibir Saka yang sudah tidak tahan direndahkan. "Bahkan kamu hanya berada di ranah Jenderal menengah," lanjutnya dengan nada meremehkan. Sama seperti nada ucapan Ansel sebelumnya.

Ansel merah padam. Ia tak pernah diremehkan seperti itu. Sebagai seorang Tuan Muda di keluarga Orlando, Ansel Orlando adalah yang tergenius daripada yang lain.

"Bocah kecil! Kamu berani meremehkanku? Apa kau tidak tahu berita tentang kegeniusan Tuan Muda keluarga Orlando?"

"Oh, benarkah?" tanya Saka dengan santai. Kelingking kirinya mengorek hidung untuk mencungkil kotoran. "Lalu kenapa kamu hanya bersembunyi seperti pengecut saat rombonganmu disergap bandit?"

Ucapan Saka membuat Ansel tertegun dengan wajah memerah menahan malu. Kepala pengawal menyeringai puas. Ia memang sangat tidak suka dengan Tuan Muda sombong dari keluarga Orlando ini. Tingkahnya benar-benar membuatnya muak.

"Tahu apa kamu? Aku harus melindungi Sofia agar tetap aman," elaknya sedikit terbata. Kentara sekali jika ia tengah mencari-cari alasan agar tidak malu.

"Oh, sekalian bersembunyi bukan?" Saka tersenyum mengejek.

"K-kau ...."

"Ansel, hentikan! Kamu bisa bertingkah semaunya jika berada di kota Baya, tapi kita sekarang sedang ke kota Tanica. Bahkan Paviliun Bunga Mekar tidak akan melindungimu jika kamu terus membuat masalah!"

Mendengar ucapan Sofia yang sangat tegas, Ansel hanya mampu mengepalkan tangan dengan geram. Ia menatap Saka yang mengangkat sebelah alisnya, menatapnya remeh dengan lidah menjulur keluar.

Wleekk!

Sialaan! Pertama kali sejak Ansel lahir, baru kali ini ia mengalami penghinaan seperti ini. Namun, ia juga tak berani berbuat macam-macam. Ayahnya sudah mewanti-wanti dengan sangat agar ia tidak membuat masalah dan berharap agar dirinya bisa menjalin hubungan dengan Sofia, sehingga keluarga Orlando akan memiliki dukungan kuat dari Paviliun Bunga Mekar.

Meskipun keluarga Orlando termasuk keluarga kelas atas di kota Baya, itu masih belum terlalu kuat seperti Paviliun Bunga Mekar yang mendapat dukungan dari pihak kerajaan.

"Bagaimana dengan penawaran kami, Tuan Muda?" Sofia mengalihkan pandang ke arah Saka.

"Tidak masalah! Lagi pula aku juga sedang dalam perjalanan kembali ke kota."

"Kembali ke kota? Apakah Tuan Muda berasal dari kota Tanica?" tanya Sofia tertarik.

"Bisa dibilang begitu."

"Lalu, Tuan Muda dari mana?" Sofia tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan yang membuat Ansel tersenyum masam. Api amarah semakin membakar hatinya.

"Nona, panggil saja aku Dirga," pinta Saka yang tidak nyaman jika terus dipanggil Tuan Muda.

"Kalau begitu, kamu juga harus memanggilku Sofia."

Saka tersenyum masam. Yah, memang tidak bisa dihindari bukan? Salah siapa dirinya terlalu tampan.

"Kalau begitu, Paman! Bagaimana dengan mayat mereka semua?" Saka mengalihkan pembicaraan.

Kepala Pengawal Bahar tampak menghela napas panjang. Mereka telah menderita kerugian besar akibat para bandit pembudidaya racun itu.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita hanya bisa mengumpulkan mereka dan menguburnya."

Saka menatap ke sekeliling. Rombongan tersisa 20 orang.  10 wanita termasuk Nona Sofia, 8 laki-laki yang berada di ranah Prajurit akhir, Tuan Muda Orlando dan Paman Bahar. Ranah tertinggi hanya dimiliki Paman Bahar.

"Bukankah menguburkan mereka semua akan memakan waktu? Kita pasti akan sampai di kota saat menjelang malam," ucap Saka setelah menganalisis keadaan.

"Mereka teman seperjuanganku, aku akan merasa bersalah jika hanya meninggalkan mereka begitu saja dan dimakan binatang buas." Sorot mata Paman Bahar tampak layu. Bagaimana pun, ia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Saka. Apalagi tidak ada jaminan jika mereka tidak akan dihadang oleh bandit yang lain.

"Kalau begitu serahkan saja padaku, Paman! Sebaiknya Paman dan lainnya segera melanjutkan perjalanan, aku akan menyusul nanti!"

"Heh! Jangan sok jadi pahlawan? Bagaimana bisa kamu mengatasi semua ini sendirian?" Ansel menatap Saka dengan geram. Jika Saka bersikap seperti itu, bukankah akan meningkatkan citra Saka di depan Sofia? Bukan tidak mungkin jika setelah ini ia tak akan memiliki kesempatan sama sekali untuk mendekati Sofia.

"Lalu, apakah Tuan Muda yang gemar bersembunyi itu akan membereskan semuanya? Tentu saja aku akan menyerahkan tanggung jawab itu jika Tuan Muda Gemar Sembunyi berkenan." Saka menyahut dengan tenang.

Sudut bibir Paman Bahar berkedut. 'Mulut Saudara Muda satu ini sangat berbisa, sekali bicara, harga diri binasa' batinnya kala mengingat perdebatan Saka dan Bagbi.

Wajah Ansel merah padam, ia benar-benar merasa terhina dan ingin sekali mencabik-cabik mulut Saka hingga tak tersisa.

"Bagaimana?" desak Saka yang sudah tak sabar karena matahari semakin tinggi dan udara menjadi sangat panas.

"Huh, kali ini kamu selamat, Bocah! Tapi lain kali jangan harap kamu bisa lepas dari keluarga Orlando," ancam Ansel dan berlalu pergi ke karavan.

"Buka, Bodoh!" bentaknya kepada salah satu pelayan yang hanya berdiri mematung.

Saka menggelengkan kepala dan terkekeh kecil. Orang-orang seperti Tuan Muda Orlando ini memang sangat lucu. Seperti harimau ompong yang berani di kandang dan menjadi kucing lumpuh jika di luar kandang.

"Saudara Muda, apakah tidak apa-apa meninggalkan tanggung jawab ini sendirian kepada Saudara Muda?" tanya Paman Bahar yang merasa tidak enak.

"Paman Bahar benar, Dirga! Jika bersama-sama saja memakan banyak waktu, apalagi hanya sendirian," timpal Sofia.

"Aku mempunyai caraku sendiri, Sofia," ucap Saka, tersenyum tanpa keraguan.

Sofia tampak ragu sejenak, melihat Saka yang tetap berdiri dengan tenang seolah ia memang memiliki caranya sendiri, sementara Paman Bahar menatap Saka dengan penuh arti. Baru kali ini ia menjumpai seseorang yang sangat misterius. Bukan hanya memiliki alat aneh, tetapi ketenangannya di saat ia hanya berada di ranah prajurit, belum lagi usianya yang masih belia.

'Saudara Muda ini tidak sederhana'

Mendapati keyakinan yang besar dari sorot mata Saka, Paman Bahar beralih menatap Sofia.

"Nona Sofia, lebih baik kita percayakan semuanya kepada Saudara Muda Dirga. Kita harus melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbenam, karena malam hari akan lebih berbahaya. Apalagi, kini hanya tersisa saya sebagai pengawal."

Sofia ragu sejenak sebelum kemudian mengangguk. "Selesaikan dengan cepat dam segera susul kami!" pesannya kepada Saka.

Saka hanya mengangguk saja dan melihat rombongan itu pergi. Setelah rombongan itu tak terlihat, Saka bergerak. Mengumpulkan semua mayat menjadi satu, lalu membakarnya dengan api naga ilahi hingga menjadi abu dalam hitungan detik.

Wusshhh!

Terpopuler

Comments

K4k3k 8¤d¤

K4k3k 8¤d¤

💝✍🏼💝✍🏼💝✍🏼💝✍🏼💝

2024-04-19

1

K4k3k 8¤d¤

K4k3k 8¤d¤

mantab thor lanjut terus update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali

2024-04-19

1

AiraL

AiraL

pengecut dari para pengecut

2024-02-11

4

lihat semua
Episodes
1 Transmigrasi
2 Awal Yang Baru
3 Pegunungan Berkabut
4 Harta Karun
5 Markas Baru
6 Pertempuran
7 Paviliun Bunga Mekar
8 Tuan Muda Orlando
9 Pertunangan Raden Hirawan
10 Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11 Pergi
12 Perseteruan
13 Tetua Rama
14 Bertemu Para Petinggi
15 Pelelangan
16 Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17 Klan Darah
18 Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19 Fisik Dewi Es
20 Jackpot
21 Merampok Sistem 1
22 Merampok Sistem 2
23 Elemen Cahaya
24 Ternyata Warisan Dewi
25 Hirawan vs Caraka
26 Hirawan vs Caraka 2
27 Musnahnya Keluarga Caraka
28 Memulai Petualangan
29 Vampire
30 Membebaskan Tawanan
31 Perketat Keamanan
32 Kedatangan Prajurit Kota
33 Siaga
34 Pulang
35 Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36 Pasangan Yang Cocok
37 Raja Naga
38 Pamit
39 Hutan Jurang
40 Inti Es Semesta
41 Tigra, Harimau Suci
42 Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43 Membantu Desa Paju
44 Upgrade Sistem Selesai
45 Berlatih 1
46 Berlatih 2
47 Kebangkitan Fisik Dewi Es
48 Naik Ranah
49 Melatih Arunika
50 Kota Rogo
51 Tuan Muda Rajasa
52 Telur Dalam Batu
53 Keluarga Rajasa Musnah
54 Undangan Tuan Kota
55 Masalah Kecil
56 Sampai di Kota Ngiwa
57 Banteng atau Sapi?
58 Misi
59 Pasukan Garuda
60 Perkembangan Pasukan Garuda
61 Memulai Penyerangan 1
62 Memulai Penyerangan 2
63 Gejolak Kota Ngiwa
64 Kotak Semesta
65 Genting
66 Biar Nggak Lupa
67 Ke Istana
68 Strategi
69 Perang dengan Vampire
70 Akhir Perang
71 Tindakan Spontan Sofia
72 Dua
73 Kebersamaan
74 Hari Pernikahan
75 Benua Tengah
76 Pembebasan
77 Sekte Pedang Langit
78 Sekte Pedang Langit 2
79 Pertempuran di Hutan Kematian
80 Masalah Selesai
81 Alam Kultivator (end)
82 Disambut Jutaan Monster
83 Insiden Kecil
84 Kerajaan Angin
85 Masalah Selalu Datang
86 20 Tahun yang Lalu
87 Identitas Asli
88 Kembali ke Kerajaan Api
89 Sambutan Hangat
90 Mengobati Kakek dan Paman
91 Meningkatkan Kekuatan
92 Jurang Kegelapan
93 Ular Kepala Sembilan
94 Kondisi Kerajaan Api Terkini
95 Pesta Rakyat
96 Dunia Kecil
97 Gunung Dewa
98 Qian
99 Rubah Surgawi, Foxy
100 Kota Aneh
101 Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102 Keluarga Narendra yang Lain
103 Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104 Dunia Canopus Kacau
105 Kembali ke Kerajaan Api
106 Gelombang Monster
107 Di Balik Gelombang Monster
108 Rencana Selanjutnya
109 Dunia Kecil Kerajaan Naga
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Transmigrasi
2
Awal Yang Baru
3
Pegunungan Berkabut
4
Harta Karun
5
Markas Baru
6
Pertempuran
7
Paviliun Bunga Mekar
8
Tuan Muda Orlando
9
Pertunangan Raden Hirawan
10
Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11
Pergi
12
Perseteruan
13
Tetua Rama
14
Bertemu Para Petinggi
15
Pelelangan
16
Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17
Klan Darah
18
Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19
Fisik Dewi Es
20
Jackpot
21
Merampok Sistem 1
22
Merampok Sistem 2
23
Elemen Cahaya
24
Ternyata Warisan Dewi
25
Hirawan vs Caraka
26
Hirawan vs Caraka 2
27
Musnahnya Keluarga Caraka
28
Memulai Petualangan
29
Vampire
30
Membebaskan Tawanan
31
Perketat Keamanan
32
Kedatangan Prajurit Kota
33
Siaga
34
Pulang
35
Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36
Pasangan Yang Cocok
37
Raja Naga
38
Pamit
39
Hutan Jurang
40
Inti Es Semesta
41
Tigra, Harimau Suci
42
Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43
Membantu Desa Paju
44
Upgrade Sistem Selesai
45
Berlatih 1
46
Berlatih 2
47
Kebangkitan Fisik Dewi Es
48
Naik Ranah
49
Melatih Arunika
50
Kota Rogo
51
Tuan Muda Rajasa
52
Telur Dalam Batu
53
Keluarga Rajasa Musnah
54
Undangan Tuan Kota
55
Masalah Kecil
56
Sampai di Kota Ngiwa
57
Banteng atau Sapi?
58
Misi
59
Pasukan Garuda
60
Perkembangan Pasukan Garuda
61
Memulai Penyerangan 1
62
Memulai Penyerangan 2
63
Gejolak Kota Ngiwa
64
Kotak Semesta
65
Genting
66
Biar Nggak Lupa
67
Ke Istana
68
Strategi
69
Perang dengan Vampire
70
Akhir Perang
71
Tindakan Spontan Sofia
72
Dua
73
Kebersamaan
74
Hari Pernikahan
75
Benua Tengah
76
Pembebasan
77
Sekte Pedang Langit
78
Sekte Pedang Langit 2
79
Pertempuran di Hutan Kematian
80
Masalah Selesai
81
Alam Kultivator (end)
82
Disambut Jutaan Monster
83
Insiden Kecil
84
Kerajaan Angin
85
Masalah Selalu Datang
86
20 Tahun yang Lalu
87
Identitas Asli
88
Kembali ke Kerajaan Api
89
Sambutan Hangat
90
Mengobati Kakek dan Paman
91
Meningkatkan Kekuatan
92
Jurang Kegelapan
93
Ular Kepala Sembilan
94
Kondisi Kerajaan Api Terkini
95
Pesta Rakyat
96
Dunia Kecil
97
Gunung Dewa
98
Qian
99
Rubah Surgawi, Foxy
100
Kota Aneh
101
Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102
Keluarga Narendra yang Lain
103
Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104
Dunia Canopus Kacau
105
Kembali ke Kerajaan Api
106
Gelombang Monster
107
Di Balik Gelombang Monster
108
Rencana Selanjutnya
109
Dunia Kecil Kerajaan Naga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!