"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai saja acara lelang hari ini. Barang yang pertama yaitu, sebuah pedang fana tingkat tinggi yang ditemukan oleh salah satu kultivator di jurang yang dalam. Harga awal adalah sepuluh ribu koin emas dengan kelipatan seratus."
"Sepuluh ribu dua ratus."
"Sepuluh ribu lima ratus."
Berbagai penawaran mulai terdengar hingga harga akhir jatuh ke salah satu peserta lelang yang ada di bawah panggung. Memang tak banyak yang tertarik dengan barang-barang yang dilelang di awal, karena harta karun yang sebenarnya adalah yang dilelang di akhir.
Suasana lelang cukup kondusif hingga kemudian lelang beralih ke barang utama. Ada lima barang termasuk eliksir milik Saka yang tergolong barang utama. Dua diantaranya adalah teknik kuno dan tombak langit.
"Ini adalah barang utama kita minggu ini. Sebuah teknik kuno yang tidak lengkap, tetapi menurut para ahli jika sudah menguasai tahap awal, maka kita akan bisa melengkapi teknik itu sendiri. Harga awal satu juta koin emas dengan kelipatan seratus ribu."
Saka berdecak, teknik kuno yang tidak lengkap saja bernilai satu juta koin emas, sementara teknik kuno yang lengkap di toko sistem saja hanya bernilai ratusan ribu koin emas. Entah bagaimana hitungan dari sistem, harga yang seharusnya mahal justru murah, sementara harga yang seharusnya murah, mahalnya hampir membuat Saka muntah.
"Satu juta seratus ribu." Dari ruangan VIP 2 sudah terdengar suara.
"Satu juta tiga ratus ribu." Ruangan VIP 5 menyela.
"Dua juta!" Ruangan VIP 3 langsung melonjakkan harga.
Terdengar decakan kekaguman.
"Siapa yang ada di ruang VIP 3?" tanya Saka penasaran.
"Mereka dari sekte Mata Phoenix," sahut Sofia.
Saka hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Pantas saja berani menawar dengan begitu tinggi. Sekte Mata Phoenix adalah satu-satunya sekte besar di kota Tanica.
"Dua juta tiga ratus." Ruangan VIP 2 tidak mau kalah.
"Tiga juta!" Saka menawar. Suasana hening sesaat sebelum kemudian riuh oleh berbagai komentar.
Sofia memandang Saka dengan heran. "Kamu berminat dengan teknik tidak lengkap itu?"
Saka menggeleng. "Aku hanya ingin membantu Paviliun Bunga Mekar mendapatkan banyak untung."
Tetua Tama terkekeh. "Kamu benar-benar berani Anak Muda, apakah kamu tidak takut mereka akan balas dendam setelah kamu keluar dari sini?"
Saka mengangkat bahu. "Mungkin bisa dijadikan latihan," ucapnya dengan seringai tipis.
"Anak muda memang penuh gairah dan ceroboh," keluh Nawi. Meski begitu ia juga tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya tentang jati diri Saka. Ia merasa, Saka tidak sesederhana seperti yang terlihat. Meski ranah kultivasinya terlihat di ranah Prajurit akhir, entah kenapa Nawi merasa, itu bukan ranah Saka yang sebenarnya.
"Keluarga Hirawan akan memberi kehormatan yang tinggi bagi siapapun yang menyerah mendapatkan teknik kuno itu! Tiga juta dua ratus!"
"Sekte Mata Phoenix lebih membutuhkan teknik itu untuk murid-murid kami, tolong memberikan kami muka! Tiga juta lima ratus!"
"Keluarga Olsen memiliki penerus jenius yang sudah menjadi murid inti Sekte Naga Bumi, maka sudah seharusnya teknik itu menjadi milik keluarga Olsen! Empat juta!"
"Apakah nama keluarga Hirawan tidak lagi dipedulikan? Beri kami muka, maka kau akan baik-baik saja!" Pandu murka, sejak kabar hancurnya kultivasi Saka, memang banyak keluarga yang kini memandang remeh keluarga Hirawan. Hal itu juga membuat Pandu semakin tertekan. Tidak ada keturunan Hirawan yang seberbakat Saka.
"Hei, apakah mengancam seperti itu diperbolehkan dalam lelang? Bukankah penawar tertinggi adalah pemenang? Kalau kau tak punya uang, pulang saja!" celetuk Saka yang disambut dengan gelak tawa.
Tetua Tama sempat terkesiap mendengar celetuk Saka yang sangat tajam. Bukan hanya itu saja, yang membuatnya sangat kaget karena Saka berani berbicara seperti itu kepada keluarganya sendiri. Namun mengingat apa yang dikatakan oleh Tetua Rama, ia bisa menarik kesimpulan jika Saka bukanlah pribadi yang bisa disinggung. Ia bukan tokoh protagonis pemaaf, justru ia seperti iblis yang sedang menunggu waktu pembalasan. Saka bahkan tak ragu menjatuhkan nama keluarganya sendiri, dan ia masih tetap tenang seolah tak terganggu.
"Dirga, jika kamu memprovokasi keluarga Hirawan, aku takut kamu akan ditargetkan oleh mereka," bisik Sofia.
"Aku tidak takut," ucap Saka masih dengan ekspresi tenangnya. Tak ada yang menyadari jika matanya penuh kilatan dendam kecuali Tetua Tama yang memang tidak pernah mengalihkan pandang dari Saka.
Di pihak keluarga Hirawan dan Caraka, Pandu sudah sangat murka. Ingin sekali ia menerobos Ruangan VIP 1, tetapi ditahan oleh Indra Caraka.
"Tenanglah! Sebelum kita mengetahui siapa yang berada di VIP 1, jangan bertindak gegabah. Jangan sampai kita menyinggung seseorang yang tak mampu kita singgung."
Merasa bahwa ucapan Indra benar, Pandu pun kembali duduk meski amarah masih menguasai dirinya.
Setelah keributan kecil itu, pada akhirnya teknik kuno jatuh ke Keluarga Olsen, dan tombak langit jatuh ke Keluarga Hirawan.
"Baiklah, kita akhirnya sampai ke barang utama yang istimewa. Ini adalah tiga eliksir langka yang tentunya kalian mengetahui bagaimana sulitnya kami, Paviliun Bunga Mekar untuk mendapatkannya," ucap gadis pembawa acara sembari membuka kain yang menutupi tiga eliksir milik Saka.
"Mulai dari daun patah tulang, harganya seratus juta dengan kelipatan satu juta!"
Melihat tiga eliksir yang begitu langka ada di depan mereka, para peserta lelang tidak bisa lagi tenang.
"Seratus dua juta!"
"Seratus Sepuluh juta!"
"Seratus lima puluh juta!" Keluarga Hirawan mulai menawar.
"Seratus enam puluh juta!" Sekte Mata Phoenix tidak mau kalah.
Di saat semua peserta saling berebut menawar harga, Saka kini melongo bak orang bodoh. Ia sama sekali tak menyangka jika harga awal dari eliksir miliknya saja sudah bernilai ratusan juta. Jika ia menjual semua eliksir yang ada di goa, bukankah ia akan sangat kaya?
Saka menggeleng, membantah pemikirannya sendiri. Sebuah barang akan sangat berharga jika jumlahnya sedikit, dan Saka hanya akan menjualnya secara bertahap, tentu saja melalui lelang yang diselenggarakan oleh Paviliun.
"Sistem, jika aku membeli eliksir dari tokomu, terus aku ikutkan dalam lelang apakah boleh?"
[Ding! Tentu saja boleh, Tuan!"
Saka tersenyum lebar. Ia kini sama sekali tidak takut kekurangan koin emas untuk menambah poin sistem.
"Sistem, tunjukkan statusku!"
[Ding! Menunjukkan status]
Nama : Wisaka Hirawan
Status : Calon Penguasa Alam
Kultivasi : Ranah Raja²
Tingkat Tubuh : Perak 0/100.000
Ketrampilan Aktif :
- Tinju militer (max)
- Taekwondo (max)
- Snipper (max)
- Langkah angin (4/10)
- Harimau membelah gunung (3/10)
- Mata Dewa (1/10)
Pekerjaan : Master Array 2/10
Elemen : Api Naga Abadi
Energi mental : 70/100
Ketrampilan Pasif :
- Teknik Penyerapan Ilahi
Poin Pengalaman : 37.800/100.000.000
Poin Sistem : 0 ps
Inventory : Senapan Steyr SSG 69, revolver
Versi Sistem : 1.0
Saka tersenyum tipis, meski agak kurang puas, setidaknya ini sudah lebih dari cukup. Saat tiba di goa nanti, ia bisa membeli banyak teknik dan keterampilan dari sistem. Jadi meskipun ranahnya masih tahap rendah, ia memiliki banyak hal di balik bajunya. Hal itu akan membuatnya lebih percaya diri saat bertarung dengan seseorang yang ranahnya berada di atasnya.
"Dirga! Semua eliksirmu terjual dengan harga satu miliar koin emas, dipotong pajak, kamu menerima delapan ratus juta koin emas. Aku sudah menyuruh pelayan untuk membawanya ke sini!"
Suara Sofia membawa Saka kembali dari lamunan. Ia cukup terkejut mendengar jika eliksirnya terjual dengan sangat mahal.
"Terima kasih, jika aku ingin menjual eliksir yang lain, bolehkah aku ikutkan lagi dalam lelang?"
Sofia tersenyum lebar. "Tentu saja boleh! Lagipula, kamu harus bertanggung jawab!"
Ehh!
Saka menatap orang-orang di sekelilingnya yang memiliki ekspresi aneh. Seolah Saka baru saja melakukan tindak asusila.
Sial! Kenapa ucapan Sofia sangat ambigu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Gak komen gk makan
hhoh masih calon toh
2024-02-08
3
Nazrul
🤣🤣🤣
2024-01-03
0
Jimmy Avolution
Ayo
2023-12-03
1