Ketukan pintu bersamaan dengan keluarnya Sofia yang membawa baki minuman. Hal itu membuat perbincangan Saka dan Tetua Rama terhenti.
"Masuk!" teriak Sofia sembari meletakkan baki minuman di meja.
Seorang pelayan wanita yang pernah Saka jumpai di lantai pertama memasuki ruangan. Sempat tertegun sejenak melihat keberadaan Tetua Rama yang sangat jarang memperlihatkan diri dan juga Saka yang menurutnya asing.
"Nona, lelang siap dimulai. Semuanya sudah berkumpul di aula," ucap pelayan itu.
"Baiklah, aku akan keluar sebentar lagi, tapi panggilkan dulu Maria kemari!"
"Baik, Nona!"
Sofia kemudian beralih menatap Dirga. "Kau berminat ikut lelang?"
"Tentu saja. Aku penasaran akan mendapat berapa koin emas dari eliksirku ini," kata Saka dengan cengiran lebarnya.
"Entah kenapa ekspresimu sangat menyebalkan," sungut Sofia.
Tetua Rama yang sejak tadi hanya diam pun tersenyum simpul. Masa muda memang lebih berwarna.
"Baiklah, aku yang tua ini tidak akan mengganggu yang muda. Nak Dirga, jangan lupa dengan yang kau janjikan! Karena perbincangan kita belum selesai, mari lanjutkan besok saja. Akan aku pastikan kau tidak akan rugi menjalin kerjasama denganku," ucap Tetua Rama yang mengundang rasa penasaran Sofia. Namun, ia tak punya keberanian untuk bertanya.
"Saya akan menantikan itu, Tetua!" balas Saka ramah. Dalam dua hela napas, Tetua Rama sudah menghilang dari pandangan keduanya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sofia penasaran. Kini hanya Saka yang bisa ia ganggu demi menuntaskan rasa penasarannya.
"Kamu mau tahu?" tanya Saka dengan senyum jahil.
Sofia mengangguk antusias. Mata bulatnya berbinar seperti bintang di malam hari. Saka sempat terpana sebelum kemudian menenangkan dirinya.
"Ra-ha-si-a," ucapnya yang mengundang emosi.
"Arrghh! Kau menyebalkan!" Gadis anggun kini tidak lagi menjadi citra seorang Sofia. Dengan buas ia menyerang Saka hingga terjadi pertarungan kecil di ruangan itu. Sofia terus melancarkan serangan mencoba menuntaskan amarahnya meski tak bisa menyentuh Saka sama sekali. Saka sendiri meladeni serangan Sofia dengan santai. Hitung-hitung melatih keterampilan tempur Sofia.
"Sialaan! Kenapa kamu kuat sekali!" keluh Sofia sembari melancarkan sebuah pukulan yang dialiri energi.
Tap!
Pukulan itu ditangkap Saka dengan mudah. Saka menarik tangan Sofia hingga gadis itu kini menempel di dadanya. Saka menatap bola mata Sofia dengan dalam. Ia tetap saja terpesona dengan binar matanya yang seperti bintang. Apalagi jika dilihat dari dekat seperti ini. Sofia pun terjebak, pupil jelaga milik Saka seperti jurang tanpa dasar, membuat Sofia terperosok tanpa bisa kembali ke dunia nyata.
Cukup lama keduanya saling memandang dan mengagumi, sebelum pintu terbuka secara tiba-tiba.
"Ahh!"
Jeritan seorang gadis menyadarkan keduanya. Sofia dan Saka mengurai jarak dengan wajah merona.
"Maria! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu!" pekik Sofia mencoba menutupi rasa malu dengan memarahi temannya itu yang bertanggung jawab dengan acara lelang ini.
"Sofia, bukankah aku tidak pernah mengetuk pintu jika ingin menemuimu?" Maria tak ingin disalahkan.
"Tap-tapi ...."
"Sudahlah! Aku tahu dia pasti pemuda yang selalu kau ceritakan sejak semalam. Aku akan mengakhiri urusan kita dengan cepat dan tidak akan mengganggu kalian lagi." Maria memainkan alisnya menggoda Sofia. Saka yang melihat itu tersenyum kering sembari mengusap tengkuknya canggung.
"Maria, kau--"
"Aman! Semua rahasiamu akan aman bersamaku, Saudaraku," potong Maria dengan senyum misterius.
Sofia hanya menghela napas pasrah. Memang tak ada yang bisa ia sembunyikan dari sahabat karibnya ini.
"Ini, Dirga akan mengikutkan eliksir miliknya di lelang nanti, tolong kau atur saja bagaimana baiknya," ucap Sofia sembari memberikan tiga eliksir yang membuat Maria melongo. Ekspresinya tidak jauh berbeda dengan respon Sofia pertama kali.
"Ini--"
"Bawa saja! Dan siapkan ruang VIP satu nanti untuk Dirga!" Sofia tidak ingin menerima banyak pertanyaan lagi.
"Baiklah, aku akan pergi dulu untuk mengatur semuanya."
Maria pergi setelah mengambil tiga eliksir dari tangan Sofia, tetapi gadis itu berhenti sesaat setelah mencapai ambang pintu.
"Jangan lupa dikunci pintunya."
"MARIAA!"
Suara tawa terdengar dari luar.
Kini atmosfir begitu canggung. Keduanya tampak salah tingkah saat mata mereka bertemu.
"Dirga, lebih baik kita segera ke tempat lelang saja. Siapa tahu ada yang membuatmu tertarik!" ajak Sofia mencoba untuk mengakhiri kecanggungan.
"Baiklah, kita ke sana sekarang!"
*
Aula yang dijadikan tempat lelang sudah sangat ramai dengan para peserta. Kultivator individu atau pun dari keluarga menengah ke bawah sudah memenuhi kursi yang ada di bawah panggung, sementara dari keluarga terkemuka sudah berada di ruang VIP.
Saka kembali mengenakan tudung jubahnya memasuki ruang VIP 1. Ruang paling istimewa diantara yang lain.
"Tolong sajikan teh dan camilan!" pinta Sofia begitu mereka masuk ke ruangan. Di ruangan ini tak hanya ada Sofia dan Saka, tetapi juga tiga pria paruh baya dan satu wanita dewasa.
"Dirga, perkenalkan ini adalah alkemis dari Paviliun Bunga Mekar!"
Sofia mengambil inisiatif untuk memperkenalkan kedua belah pihak.
"Tuan Nawi, dan Tuan Cuwa adalah alkemis bintang empat, sementara beliau adalah Tetua Tama, saudara Tetua Rama. Ini Nona Ivory, alkemis bintang tiga."
"Salam Tetua, Tuan, dan Nona!" salam Saka dengan hormat.
"Tetua, Tuan, dan Nona, ini adalah Dirga, yang memiliki eliksir langka untuk diikutkan lelang."
Seorang lelaki paruh baya yang memakai jubah hitam menyeringai. "Menarik, sepertinya kamu sudah membuat kesepakatan dengan saudaraku, Anak Muda!"
"Benar Tetua!" sahut Saka dengan senyum tipisnya.
"Anak Muda, eliksir langka apa yang kau ikutkan untuk lelang?" tanya lelaki paruh baya yang berbau merah.
"Harap Tuan memeriksa sendiri nanti agar menjadi kejutan." Senyum misterius tersungging di bibir Saka.
"Anak Muda, senyummu membuatku kesal!" sungut lelaki paruh baya satunya yang memakai baju hijau.
"Mohon maaf, Tuan! Saya hanya ingin membuat semuanya menjadi lebih menarik."
"Sudahlah Ayah, kenapa kau harus berdebat dengan anak kecil?" Wanita dewasa itu membuka suara.
"Ah, terserahlah! Sebaiknya kita menyaksikan lelang saja, itu sudah dimulai!" lerai Tetua Tama yang membuat ruangan itu kemudian hening.
Di panggung, seorang gadis dengan tempramen menakjubkan mulai membuka acara. Sebuah pengumuman susulan jika ada tambahan barang yaitu eliksir langka, membuat suasana semakin riuh dan bersemangat.
"Aku tidak mau tahu, kita nanti harus bisa mendapatkan eliksir itu!" Ucapan penuh penekanan dari Patriak Pandu kepada anggotanya.
Mereka berada di ruangan VIP 2, bersama dengan keluarga Caraka. Meski suasana sangat ramai, Saka masih mampu mendengar percakapan mereka karena persepsi dan inderanya lebih kuat daripada orang lain.
"Ayah, masih ada teknik kuno yang perlu kita kuasai, bukankah teknik kuno itu lebih berharga?" Raden menyela.
"Dasar anak bodoh! Kalau mereka mengatakan eliksir ini sangat langka, berarti kemungkinan kita mendapatkannya akan sangat kecil, sementara untuk teknik itu sendiri, kita bisa mendapatkannya lain kali."
Saka mengulum senyum. Ia sudah sangat mantap untuk menguras habis koin emas keluarga Hirawan dan Caraka.
'Tunggu saja kalian para bedebah! Akan kurebut semua koin emas kalian' batin Saka dengan seringai penuh kemenangan. Tanpa sadar, semua tingkah Saka tak luput dari pengamatan Tetua Tama. Ia yang sudah mendapat penjelasan dari Tetua Rama tentu saja sangat tertarik dengan rahasia yang dimiliki oleh Tuan Muda jenius yang terbuang itu.
'Anak muda, akankah kau orangnya?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Nazrul
mantap
2024-01-03
2
Jimmy Avolution
josss
2023-12-03
1
Harman LokeST
sweet sweet sweet sweet sweet sweet sweet
2023-08-18
3