Di depan gerbang, Jaila berkacak pinggang. Matanya yang sipit, melotot paksa seolah ingin keluar dari kelopaknya.
Pfftt!
Saka hampir saja menyemburkan ludah melihat penampakan wajah ibu tirinya itu. Ck! Sungguh pemandangan yang menggelikan.
"Kenapa kau tertawa, Bocah Tengik?" pekiknya.
"Memangnya kenapa? Mulut mulutku sendiri, aku tidak meminjam apalagi menyewa mulut orang lain." Saka berkata acuh tak acuh.
Mendengar itu, Jaila murka.
"Dasar sampah! Sudah baik kau menghilang kenapa harus pulang? Aku peringatkan sekali lagi, yang akan bertunangan dengan Alisha Caraka adalah anakku, RADEN HIRAWAN! Jangan sekali-kali berpikiran untuk merusak acara malam ini atau aku akan membunuhmu, Sampah!" Jaila berkata dengan penuh emosi. Urat-uratnya tampak menonjol di leher, sementara Saka menanggapi itu semua dengan santai, sama sekali tak ada emosi yang keluar membuat Jaila cukup heran.
"Kenapa kau tidak marah?" tanyanya kemudian dengan heran saat melihat Saka tetap diam dan tenang, bahkan sesekali mengorek telinganya dengan jari kelingking.
"Mengapa aku harus marah? Aku justru ikut bahagia dengan bersatunya para pengkhianat!" Saka berdecak dan meludah setelahnya. Secara terang-terangan menunjukkan sikap tak peduli.
"Kau ...." Jaila menuding Saka dengan tangan gemetar penuh amarah. Matanya memerah, mulutnya komat-kamit tanpa satu kata pun keluar.
"Ck, minggir! Aku mau tidur!" Tanpa menunggu jawaban dari Jaila, Saka berlalu pergi.
"SEBAIKNYA KAU TIDAK DATANG NANTI MALAM ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU, BAJINGAN!" teriak Jaila penuh emosi yang mampu didengar oleh banyak orang. Beberapa pekerja bahkan sampai menghentikan pekerjaannya demi melihat keributan apa yang tengah terjadi.
Sementara Saka hanya melenggang santai sembari melambaikan tangan tak peduli.
*
"Tuan Muda!" Memasuki pekarangan rumahnya, Saka disambut dengan pekikan bahagia dari Bi Sinta. Matanya yang kuyu berkaca-kaca. Lingkaran hitam, menandakan jika ia tak memiliki istirahat yang cukup.
"Bi Sinta, kenapa wajahmu sangat kuyu? Apa kau kurang istirahat?" tanya Saka dengan lembut, meraih kedua tangan wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu.
"Bagimana saya bisa istirahat kalau Tuan Muda tidak pulang bahkan sampai malam?"
Saka mengulum senyum. "Maaf ya, Bi! Saka sudah membuat Bi Sinta khawatir. Tapi Saka baik-baik saja, kok!"
"Bibi senang kalau Tuan Muda baik-baik saja," ucap Bi Sinta sembari menghapus air mata bahagianya karena melihat Saka yang tidak kurang suatu apa pun. "Malam ini sangat indah, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja, Tuan Muda?" lanjutnya.
Saka terkekeh memahami maksud ucapan dari Bi Sinta. "Malam ini terlalu dingin, Bi! Bagaimana kalau kita membuat api unggun di halaman belakang lalu memanggang daging? Saka memiliki daging monster yang sangat bagus."
Bi Sinta tampak memandang Saka dengan dalam, mencoba melihat perasaan tersembunyi dari Tuan Mudanya itu, tapi ia hanya melihat sorot antusias dan tak sabar dengan rencana memanggang daging. Sama sekali tidak ada sorot terluka atau marah mengingat malam ini adalah pertunangan dari seseorang yang pernah dicintainya.
"Baiklah, Bibi akan menyiapkan bahan-bahannya. Sebaiknya Tuan Muda segera membersihkan diri." Bi Sinta akhirnya pasrah. Apapun akan ia lakukan selama Tuan Mudanya tidak terpuruk terlalu lama.
Dalam waktu lima belas menit, Saka telah selesai membersihkan diri. Hanya menggunakan training hitam dan kaos putih dilapisi dengan jaket hitam, Saka tampak menawan. Meski baru berumur 17 tahun, usai mengalami perubahan tingkat tubuh, proporsi tubuh Saka tampak seperti pria dewasa, dengan tinggi 183 cm dan berat badan 73 kg, tak lupa enam kotak yang tercetak dibalik kaos putih tipisnya, Saka layaknya model yang akan melakukan catwalk.
Bi Sinta yang sudah ada di halaman belakang tampak tertegun melihat cara berpakaian Saka. Saka sendiri maklum, karena setelah mengamati, pakaian di sini dan di bumi sangat berbeda. Namun ia tak peduli, ini adalah setelan ternyaman di malam hari. Beruntung saja, harganya terhitung murah di sistem. Pakaian bermerk yang jika di bumi berharga ratusan juta bahkan milyaran, di sistem bahkan hanya berharga beberapa koin emas.
"Tuan Muda, darimana Tuan Muda mendapatkan pakaian seperti ini?" tanya Bi Sinta dengan heran.
"Aku menemukannya," jawab Saka singkat. Ia pun segera mendekat dan menumpuk kayu kering yang akan dibuat api unggun.
"Menemukannya?" Bi Sinta semakin heran. "Pakaian ini sangat aneh, Tuan Muda!"
Saka terkekeh. "Sudahlah, Bi! Yang penting aku semakin tampan, bukan?" Saka memainkan kedua alisnya dengan narsis.
Bi Sinta tertawa. Ia memutuskan untuk tidak mengorek lebih jauh tentang keanehan yang dia rasakan semenjak Tuan Mudanya ini siuman. Biarlah, bukankah semua orang punya rahasia? Bi Sinta sudah merasa bahagia melihat Saka baik-baik saja.
"Tuan Muda memang tampan, baik hati, tidak sombong, dan jenius," puji Bi Sinta yang membuat Saka salah tingkah.
"Jangan memujiku terlalu tinggi, Bi! Aku takut kalau jatuh akan sangat sakit."
Keduanya tertawa. Meski hanya dua orang, tetapi kehangatan itu seolah membuat Saka merasa cukup. Ia tak lagi membutuhkan orang lain yang hanya sekedar singgah.
Usai menumpuk semua kayu, mempersiapkan bumbu dan bilah bambu, Saka menghidupkan api dengan api naga ilahi miliknya agar tidak mati saat terkena angin. Ia sudah sangat mahir mengontrol tingkat panas api sehingga nyala api unggun akan terlihat biasa, hanya saja tidak bisa mati kecuali kehendak dari Saka sendiri.
Bi Sinta yang tengah membawa sisa kayu bakar, terpaku dengan mulut menganga dan kayu bakar yang terlepas dari tangan berserakan di bawahnya.
"Ba-ba-bagaimana bis-bisa?" tanyanya dengan tergagap. Sorot matanya menampilkan berbagai emosi yang campur aduk, antara bahagia, terkejut, terharu, dan aneh.
Saka tersenyum. Ia menghampiri Bi Sinta, mengambil kayu yang berserakan, mengapitnya di ketiak kiri, sembari menggandeng Bi Sinta untuk duduk di depan perapian.
"Tu-Tuan Muda!" Nada suara Bi Sinta bergetar. Mata tuanya tampak mengembun menatap Saka seolah meminta penjelasan, saat Saka mengangguk, tangis Bi Sinta pecah. Wanita penyayang itu meraih Saka ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan sayang yang membuat perasaan Saka menghangat. Menyandang predikat sebagai yatim piatu sejak lahir, Saka sudah lupa kapan terakhir kali ada yang memeluknya begitu hangat dan penuh kasih sayang.
"Ibu, bolehkah aku memanggilmu Ibu?" bisik Saka yang membuat tangis Bi Sinta semakin keras.
"Boleh, boleh, kamu anak ibu mulai dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah!"
Saka tersenyum, membalas pelukan dari pelayan yang selalu menjadi sosok seorang ibu baginya.
Cukup lama keduanya terlarut dalam kehangatan itu sebelum kemudian Bi Sinta mengurai pelukan. Wanita tua itu menatap Saka lekat, mengusap pipi Saka dengan sayang, mengelus rambutnya yang membuat Saka memejamkan mata.
"Tuan Mud--"
"Panggil aku Saka, bukankah aku anakmu?" potong Saka.
"Nak Saka, terima kasih sudah bertahan dan kembali untuk Ibu."
Mata Saka mengembun. Ia bersumpah akan selalu melindungi Bi Sinta dengan nyawanya.
"Ibu, terima kasih!" bisik Saka lirih. Hampir tak terdengar kecuali oleh dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
💓🤞🏽💓🤞🏽💓🤞🏽💓🤞🏽💓
2024-04-19
1
Arif Ismawan
semakin absurd semakin ok
2024-02-29
3
Nazrul
👍🏻👍🏻
2024-01-03
0