Suasana di aula keluarga Hirawan begitu menyesakkan. Semua wajah yang hadir tampak muram. Belum lagi menghadapi tekanan dari ranah sang Patriak yang tengah menahan semua emosi di dadanya.
Kedatangan Tetua Solu membawa kabar yang sama sekali tidak diharapkan oleh mereka. Siapa sangka, mereka telah membuang berlian yang sudah di depan mata karena sedikit kecacatan. Penyesalan demi penyesalan hanya mampu mereka gaungkan di dalam hati tanpa berani memecah sunyi.
"Apa kau mengatakan yang sebenarnya?" Pandu sekali lagi bertanya kepada Tetua Solu. Hatinya menolak percaya dengan semua yang didengarnya.
"Tidak ada keberanian untukku berbohong, Patriak! Tuan Muda Saka memang telah memutuskan hubungan dengan keluarga Hirawan. Beliau mempunyai nama sendiri, yaitu Arsaka Dirgantara, dan ke depannya urusan keluarga Hirawan tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan Muda lagi." Dengan sabar, Tetua Solu kembali menjelaskan.
"Bagaimana mungkin dia setega itu?" Jaila menyela. "Anak itu memang tidak tahu diri. Sudah dibesarkan dengan begitu baik tapi dengan teganya memutuskan hubungan kekeluargaan di saat seperti ini? Memang anak pelac–"
"DIAAAMM!"
Pandu menatap istrinya dengan tajam. Saking emosinya, urat di lehernya muncul meski tidak berteriak keras.
"Jika bukan karena kamu terus menghasutku untuk mengusir anakku sendiri dari kediaman utama hasilnya tidak akan begini. Kamu terus menyombongkan kemampuan Raden dan aku memberikan semua sumber daya yang seharusnya aku gunakan untuk menyembuhkan Saka. Tapi apa sekarang? Anakmu hanya berada di ranah Prajurit akhir tanpa bisa menerobos, dan sekarang Saka sudah berada di ranah Raja, padahal sebelum kultivasinya hancur ia hanya berada di ranah Jenderal, kau tahu apa maksudnya ini?"
Jika Saka mendengarkan rentetan kemarahan dari ayahnya, mungkin ia akan berseru takjub. Tingkat kecepatannya sudah bisa dibandingkan dengan rapper top saat di bumi.
Raden yang sejak tadi hanya diam pun tertunduk malu saat semua anggota keluarga Hirawan melihat ke arahnya. Saat ini kebenciannya kepada Saka tidak bisa lagi diukur. Ia benci melihat Saka yang selalu berada di atasnya. Ia benci saat selalu dibandingkan dengan kakak tirinya itu. Bahkan saat ia merasa sudah merebut posisi sang kakak tiri, tak disangka sebuah keberuntungan tetap datang untuk Saka. Bukan hanya ranah kultivasinya yang meningkat tajam, tetapi hubungan akrab dengan Paviliun Bunga Mekar menjadi poin lainnya.
Saat mendengar jika orang misterius yang pernah ia temui di Paviliun adalah Saka, tidak percaya adalah respon pertamanya. Ditambah semua deretan informasi yang sulit dicerna oleh akalnya, membuat Raden semakin tak berdaya. Ia merasa sudah menginjak Saka, tapi tidak menyangka jika yang ia injak hanya sekedar bayangannya. Saka sudah terbang jauh lebih tinggi darinya.
'Sialan, bebedah! Kenapa keberuntungan selalu berpihak kepadamu, bajingan!'
Raden hanya mampu mengumpat di dalam hati saat mendapati tatapan tajam dari ayahnya.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Patriak? Dengan sifat Tuan Muda Saka, ucapannya yang memutuskan hubungan dengan keluarga Hirawan bukan sekedar gertakan. Kita telah kehilangan kesempatan emas untuk meningkatkan keluarga Hirawan." Tetua Soko sebagai Tetua Kedua setelah Tetua Solu membuka suara.
Raut wajah Pandu semakin menggelap. Ia juga merasa tertekan. Ingatan masa kecil Saka saat istrinya masih hidup berkelebat di benaknya. Pesan dari sang istri yang memintanya untuk menjaga Saka apapun yang terjadi telah ia ingkari. Kini, tidak lagi dianggap sebagai seorang ayah oleh darah dagingnya sendiri memberi pukulan telak yang menenggelamkan hatinya dalam penyesalan.
"Apa yang kau bicarakan?"
Sebuah tekanan kuat dari ranah Langit tahap puncak membuat semua orang yang ada di aula pucat pasi. Beberapa yang ranahnya sangat rendah termasuk Raden sudah jatuh pingsan.
"Leluhur!"
Semua orang membungkuk memberi penghormatan kepada seorang lelaki tua berambut putih panjang dengan jenggot yang hampir menyentuh dada.
"Katakan sekali lagi. Siapa yang memutuskan hubungan dengan keluarga Hirawan?" Tak menghiraukan penghormatan dari yang lain, lelaki tua itu menatap Pandu dengan tajam.
"A-ayah! Kau sudah keluar dari pengasingan?" Pandu tergagap. Ia sedikit ketakutan menatap mata ayahnya.
"Katakan! Apa yang kamu lakukan pada cucuku sehingga dia memutuskan hubungan dengan keluarga Hirawan?" Dominasi aura milik lelaki tua itu diarahkan secara penuh kepada Pandu.
Menghadapi dominasi aura yang membuatnya sesak, Pandu tak punya pilihan lain kecuali menceritakan semua yang terjadi tanpa menutupi apapun. Ia sangat mengenal karakter sang ayah dimana kejujuran lebih dihargai meski sangat menyakitkan.
Plakk!
Sebuah tamparan energi membuat Pandu terpelanting dan menabrak dinding dengan keras usai ia bercerita. Sebuah retakan besar tercipta sementara Pandu meluruh ke lantai dengan seteguk darah dimuntahkan.
"Dasar tidak berguna! Apa kau tidak malu menyebut dirimu sebagai ayah? Kau bahkan lebih bajingan daripada para bajingan! Bahkan harimau pun tidak akan memakan anaknya sendiri meskipun mereka binatang buas tanpa akal!"
"Leluhur Sana, tolong tenangkan dirimu, mungkin kita masih punya cara untuk membawa Tuan Muda kembali ke keluarga Hirawan." Tetua Solu mencoba meredam amarah dari Leluhur Sana, yang mana beliau adalah kakek Saka.
"Kalian juga tidak berguna! Kenapa kalian tidak mencegah apa yang dilakukan anak bodoh ini dan membiarkan cucuku merasakan ketidakadilan seperti itu? Kalian semua memang bodoh! Tidak berguna! Terutama kamu, wanita ular! Tunggu saja pembalasan dari cucuku! Jangan kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini!" Leluhur Sana tampak berapi-api. Ia seolah menumpahkan semua emosi yang dipendamnya. Jaila yang ditatap dengan sangat tajam pun gemetar ketakutan.
"Belum cukup kau merenggut nyawa menantuku, sekarang kau ingin menghancurkan keluargaku! Dasar sampah!"
"Ayah, apa maksudmu?" Pandu yang sudah agak membaik menatap ayahnya dan sang istri dengan heran.
"Kau memang sangat bodoh! Pembunuh istrimu ada di depanmu tapi kau justru menempatkannya di posisi tertinggi. Kau membiarkan anak kandungmu tertindas dan memanjakan anak orang lain!"
Berbagai rentetan kenyataan pahit menghantam semua orang yang ada di aula. Sebuah misteri yang selama ini hanya menjadi rahasia, dibuka dengan begitu gamblang tanpa halangan.
"Ayah, ini ... tidak benar 'kan?" Suara Pandu bergetar. Sebuah kenyataan yang cukup menyakitkan membuatnya kembali mengutuk dirinya sendiri.
"BODOH, SANGAT BODOH! AKU SELAMA INI DIAM KARENA INGIN MELIHAT BAGAIMANA KAMU MENGATASI SEMUANYA, TAPI TAK KUSANGKA KALAU KEBODOHANMU SUDAH MENDARAH DAGING TANPA BISA DISARING!" Air liur Leluhur Sana sampai muncrat menghujani Tetua Solu dan Tetua Soko yang kebetulan ada di dekatnya.
Pandu kini mengalihkan tatapan ke arah Jaila yang memucat.
"Apa benar itu, Jaila? Siapa ayah dari Raden?" tanya Pandu sembari menatap tajam istrinya.
"Ap-apa yang k-kau bicarakan? Ten-tentu saja Raden an-anakmu." Dengan terbata dan gemetar, Jaila menjawab. Tentu saja, reaksi dari Jaila semakin mengkonfirmasi kecurigaan dari Pandu.
"Katakan, atau aku akan membunuhmu!" Aura dominasi Pandu menekan Jaila membuat perempuan itu menggeretakkan gigi.
"Pandu, kau tidak percaya padaku?" Mencoba untuk mengambil hati suaminya kembali, Jaila berucap selembar mungkin. Ia berakting menjadi orang yang terfitnah dan paling tersakiti.
"Jaila, aku tidak punya waktu meladeni dramamu, katakan sekarang atau aku akan mencaritahu sendiri. Tapi saat aku tahu semuanya, maka kematian akan menjadi hukuman paling mudah buatmu." Pandu mendekat dengan aura dominasi yang semakin menekan.
"Pandu, aku akan pastikan keluarga Hirawan hancur di tanganku!" Jaila menyambar Raden yang berada di sebelahnya, lalu keduanya lenyap tanpa jejak aura.
"Token teleportasi," gumam Tetua Soko yang membuat semuanya terkejut.
Tidak semua orang bisa memiliki token teleportasi karena harganya yang sangat mahal, bahkan keluarga Hirawan hanya memiliki satu token teleportasi.
Tersentak, Pandu kemudian berteriak, "CEPAT! PERGI KE RUANG HARTA DAN PERIKSA, APAKAH TOKEN TELEPORTASI KITA MASIH ADA!"
Tanpa diperintah dua kali, salah satu tetua melesat pergi ke ruang harta. Tak menunggu lama, tetua itu kembali dengan wajah memucat.
"Patriak, semua sumber daya di ruang harta lenyap tak bersisa."
BOOMM!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Nazrul
🤣🤣
2024-01-04
4
Jimmy Avolution
ayo
2023-12-03
0
Hadi P
gassszzz keun k
2023-11-29
1