Setelah mengambil semua cincin penyimpanan para bandit, Saka mengumpulkan semua mayat mereka dan membakarnya dengan api naga abadi. Sementara untuk mayat para nelayan, Saka hanya mengumpulkannya. Ia harus bertanya kepada gadis itu sebagai satu-satunya penyitas. Akankah langsung dibakar, atau dikuburkan.
Gadis itu tampak masih terdiam dengan pandangan kosong. Semua mayat sanak saudaranya terjejer rapi di depannya. Mulut gadis itu bergetar, dan perlahan air matanya turun. Mulai dari isakan lirih hingga teriakan memilukan gadis itu terdengar. Saka tak menginterupsi, memberikan waktu yang cukup bagi gadis itu untuk berkabung.
Setelah tangis gadis itu mereda, Saka mendekat. Memberikan sedikit usapan di rambut sebagai penenang sekaligus mengalirkan energi murni karena melihat gadis itu sulit bernapas akibat terlalu keras menangis.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan mereka?" tanya saka begitu napas gadis itu mulai stabil.
"Tu-tuan, terima kasih sudah menolong saya, bolehkah saya meminta tolong Tuan untuk mengkremasi mereka lalu menguburkan abunya dalam satu lubang?"
Saka mengangguk. Permintaan gadis itu sangat mudah untuk ia lakukan. Dengan hentakan energi, tanah yang sebelumnya dipijak Saka ambles, menciptakan lubang sedalam setengah meter dengan lebar tak lebih dari satu meter. Dengan lambaian tangan, Saka membakar tumpukan mayat nelayan itu hingga menjadi abu lalu menguburkannya. Di atas gundukan tanah itu, Saka meletakkan sebuah batu sebagai nisannya.
"Tuan, terima kasih!" Gadis itu tampak lebih bisa menguasai dirinya. Ia menunduk dalam, mengungkapkan terima kasih yang tak terhingga kepada penolongnya.
"Sudahlah, kebetulan aku sedang melewati jalan ini sehingga bisa menolongmu. Bangkitlah, aku akan mengantarmu pulang!"
Gadis itu berdiri tegak, dan menatap Saka dengan pandangan rumit.
"Kenapa?" tanya Saka heran.
"Tuan, rumah kami di kampung nelayan sudah hancur karena para bandit itu. Kami sedang dalam pelarian ke pusat kota hari ini, dan mereka semua adalah keluarga terakhir yang saya punya."
Saka tertegun. Ia tak menyangka jika kemalangan gadis itu bahkan lebih parah dari yang ia bayangkan.
Melihat Saka hanya terdiam, gadis itu kembali bicara.
"Tuan, jika boleh, saya ingin mengikuti Tuan, menjadi pelayan pun tak apa."
"Tapi-"
[Ding! Terima permintaan gadis itu, Tuan]
"Kenapa harus?" tanya Saka dengan heran. Kultivasi gadis ini hanya berada di ranah Prajurit menengah, jika Saka membawanya, maka benar-benar hanya menjadi pelayan. Sementara Saka tidak membutuhkan pelayan.
[Ding! Sistem mendeteksi fisik Dewi Es yang belum terbangun di tubuh gadis itu]
"Fisik Dewi Es? Apa itu?"
[Ding! Fisik Dewi Es adalah fisik khusus yang memiliki atribut sihir elemen es alami. Seseorang yang memiliki fisik khusus, kekuatannya meningkat tiga kali lebih kuat dari manusia biasa jika mendapatkan teknik kultivasi yang cocok, gadis ini akan menjadi salah satu bawahan terkuat Tuan]
Saka terpana. Siapa sangka gadis di depannya adalah eksistensi langka.
"Baiklah, siapa namamu?" tanya Saka setelah terdiam beberapa saat.
"Nama saya Alice Yatra, Tuan!"
"Baiklah, Alice! Perkenalkan namaku Arsaka Dirgantara, kamu bisa memanggilku Arsa, Saka, ataupun Dirga, terserah kamu."
"Tuan Saka, terima kasih sudah menerima saya," ucap gadis itu dengan mata yang mulai mengembun. Ia sadar, jika mulai saat ini hidupnya tak lagi sama. Mungkin ia harus pergi jauh dari kampung halamannya.
"Aku akan memberimu waktu untuk menata hatimu terlebih dahulu sebelum kita pulang. Oh ya, ngomong-ngomong aku bukan Tuan Muda dari keluarga kaya, kuharap kamu tidak akan menyesal karena mengikutiku."
"Tidak masalah, Tuan! Itu lebih baik daripada saya berkelana sendirian."
Saka hanya tersenyum puas. Lalu menyodorkan satu cup es krim kepada Alice.
"Makanlah, dan tenangkan dirimu! Aku akan menunggumu di sini!"
Meski merasa heran dengan jenis makanan aneh yang diberikan Saka padanya, gadis itu tetap menerimanya. Satu suapan masuk ke mulut, mata gadis itu berbinar.
"Ini sangat manis dan dingin! Tuan, makanan apa ini?"
Saka terkekeh kecil melihat ekspresi takjub gadis itu. Sedikit menghela napas lega karena Alice terlihat susah mulai keluar dari kesedihannya.
'Memang es krim selalu menjadi moodboster' batin Saka.
"Bagaimana? Perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Saka begitu gadis itu menghabiskan suapan terakhir es krim-nya.
"Sudah, terima kasih, Tuan!" jawab Alice dengan senyum mengembang. "Tapi, di mana aku harus membuang ini?" tanya Alice kebingungan sembari memegang cup plastik di tangannya.
"Berikan padaku!" Saka mengambil cup es krim dari tangan membakarnya dengan api miliknya hingga tak tersisa. Saka menepuk tangannya pelan dan menatap Alice yang tampak masih begitu takjub melihat api miliknya.
"Baiklah, sebelum kita pulang bisakah kamu berhenti memanggilku Tuan? Itu terdengar sangat aneh di telingaku."
Alice tampak kebingungan. "Lalu, bagaimana saya bisa memanggil Anda?"
Saka berpikir sejenak, menimbang sesuatu sebelum kemudian mengambil keputusan. "Panggil kakak juga boleh, aku hanya dua tahun lebih tua darimu."
Mendengar ucapan Saka, wajah Alice memerah.
"Kak Saka," panggilnya dengan lirih.
"Bagus, itu terdengar lebih nyaman." Saka menyeringai.
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan wanita dengan fisik khusus, mendapatkan hadiah paket berlian]
"Seperti ada yang salah," gumam Saka pelan saat mendengar ucapan sistem.
"Sistem, kenapa kamu bilang kalau aku mendapatkan wanita? Bukankah kamu tadi bilang kalau dia akan menjadi bawahan terkuatku?" Saka mengerutkan kening dan memprotes ucapan sistem.
[Ding! Hal itu tidak dapat dihindari, Tuan! Untuk membangkitkan fisik Dewi Es perlu perantara dari Tuan sendiri, Tuan perlu memberikan esensi kehidupan milik Tuan yang harus secepatnya ditransfer ke tubuh gadis itu. Satu detik saja esensi itu terkena udara, maka esensi itu tidak akan berguna lagi]
Saka membeku. Otaknya cukup cerdas untuk menangkap semua maksud ucapan sistem, tapi ... huh! Bukankah ini sangat konyol? Memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan Alice, membuat pipi Saka terbakar oleh rasa malu.
"Kak Saka, apakah kamu sakit? Perlukah aku memanggil tabib? Wajahmu sangat merah!" Alice dengan panik mendekat dan meraba-raba seluruh wajah Saka yang memerah. Sontak saja hal itu semakin menambah desiran aneh yang membuat semua bulu di tubuh Saka berdiri. Mungkin jika sensasi itu sedikit lebih kuat, rambut di kepala Saka akan berdiri macam landak.
"Ti-tidak! Ayo kita segera pulang, hari sudah mulai gelap." Lalu Saka segera menyambar pinggang Alice dan membawa gadis itu melesat menggunakan langkah angin. Ia ingin secepatnya sampai ke goa dan membuka hadiah paket berlian dari sistem. Semoga saja hadiah itu sangat istimewa mengingat tingkat paket tergolong sebagai paket berlian.
Hanya dalam waktu satu jam, Saka sudah sampai di depan goa. Di pelukannya, Alice menutup mata dengan wajah pucat dengan pipi menggembung seolah menahan sesuatu di mulutnya. Saka menepuk keningnya pelan, ia lupa memberitahu gadis itu untuk menutup mata sedari awal. Lantaran malu, ia hampir saja membunuh Alice.
"Alice, buka matamu, dan muntahkan yang di mulutmu!"
Tak menunggu dua kali, Alice membuka mata, membalikkan badan dan berjongkok lalu ....
Hoooeeekkk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Sang M
goblokkk
2024-02-08
3
Nazrul
👍🏻
2024-01-04
1
Jimmy Avolution
nice
2023-12-03
1