Pergi

Sepanjang malam, Saka dan Sinta bercengkerama tanpa peduli dengan ramainya acara pertunangan yang ada di kediaman utama. Apalagi, Saka secara sengaja memasang array kedap suara agar tak terganggu dengan suara-suara dari luar. Selama satu malam penuh, dihabiskan Saka dengan bercerita bagaimana kekuatannya bisa kembali. Dengan berdalih jika dirinya mendapat guru yang sakti dan tempat tinggal baru, Saka mengajak sang ibu untuk tinggal bersama dirinya saja di markas barunya.

"Ibu di sini saja, Ibu tidak mau membuatmu terbebani. Kamu harus fokus untuk terus latihan dengan gurumu dan menjadi lebih kuat," tolak Sinta.

Saka menggeleng. "Jangan menolak, Bu! Aku justru tidak tenang jika meninggalkan ibu sendirian di sini. Apakah ibu tidak menyadari kalau di sini sama saja berbahayanya dengan di hutan? Semua penghuninya sangat buas dan mementingkan diri sendiri."

Sinta terkekeh. "Baiklah, ibu akan ikut kemana pun anak ibu ini pergi."

Senyum Saka merekah. "Aku juga mau ibu menjadi lebih kuat. Kalau di sini, ibu tidak akan punya waktu untuk berkultivasi." lanjut Saka yang diamini oleh Sinta. Mengingat posisinya sebagai pelayan, jangankan sumber daya, bahkan sekedar berkultivasi saja tidak ada waktu saking sibuknya.

"Bagaimana kalau kita pergi pagi ini saja, Bu?"

"Pagi ini?"

"Ya, semua orang sedang sibuk di rumah utama, tidak akan ada yang menyadari jika kita pergi sekarang. Lagipula, cepat atau lambat, keluarga Hirawan akan menderita. Lebih cepat kita pergi, akan lebih baik."

Sinta tampak diam, mempertimbangkan segala sesuatu sambil menatap Saka dalam-dalam.

"Baiklah, masih ada waktu sebelum matahari terbit. Sebaiknya kita segera bersiap!"

Saka dan Sinta bangkit dari posisinya. Saka mematikan api naga abadi miliknya setelah membakar semua bekas pesta kecilnya bersama sang ibu.

Pagi masih dingin, tetapi Saka begitu bersemangat. Setelah Sinta selesai bersiap, Saka membawa sang ibu melesat menggunakan  langkah angin agar lebih cepat sampai di pegunungan berkabut. Siang nanti, ia masih harus ke Paviliun Bunga Mekar untuk mengikuti lelang.

Tak ada satu pun yang menyadari kepergian dari Saka dan Sinta. Semua orang tengah dimabuk dengan kebahagiaan pesta tadi malam.

Sinta sempat terkejut saat dibawa begitu saja dengan kecepatan yang sangat ekstrem. Namun setelah itu ia merasa sangat bangga dan bahagia.

[Ding! Selamat langkah angin naik ke level empat]

Senyum Saka semakin melebar, kecepatannya semakin bertambah. Sinta sampai harus memeluk Saka dengan sangat erat dan memejamkan mata.

Sekitar satu setengah jam kemudian, langkah Saka mulai memelan bersamaan dengan semburan kuning keemasan di langit timur.

"Kita sudah sampai?" tanya Sinta masih belum membuka mata.

"Hampir, Bu! Silakan buka mata terlebih dahulu!"

Sinta membuka mata perlahan dan apa yang tampak dalam visinya membuatnya terpana.  Lembah merah yang terkena sinar matahari pagi bagai permadani. Udara sejuk berembus melonggarkan paru-paru yang sempat sesak akibat musibah yang menimpa Saka.

"Indah sekali," decak Sinta kagum. Ia yang sejak kecil sudah mengabdi sebagai pelayan keluarga Hirawan, tak pernah memiliki waktu untuk menjelajahi seluruh kota. Ini adalah pertama kalinya ia melihat keindahan seperti ini.

"Memang sangat indah, Bu! Aku menemukan tempat ini kemarin," jawab Saka ikut menikmati keindahan yang tersaji di hadapannya.

"Lalu di mana rumahmu?" tanya Sinta sembari menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari bangunan atau pun sekedar gubuk yang layak huni.

"Di sana!" Saka menunjuk pegunungan berkabut yang tampak seperti tumpukan awan yang bersinar keemasan.

Sinta terkejut. Meski tak pernah melihat secara langsung, tetapi ia tahu jika gunung yang ada di hadapannya adalah pegunungan berkabut. Salah satu tempat terlarang yang telah memakan banyak korban karena pembatasan persepsi dan pandangan.

"Nak Saka, jangan bercanda!"

Saka tersenyum, ia maklum karena sebelumnya ia juga tak akan mampu memasuki pegunungan berkabut.

"Ibu tutup mata lagi, aku akan memberi kejutan."

Meski sangat penasaran, Sinta memilih untuk menurut. Ia kembali menutup mata sehingga Saka lebih leluasa bergerak menggunakan langkah anginnya.

Tak membutuhkan waktu lama hingga ia tiba di depan pintu goa. Meski menjumpai beberapa monster di perjalanan, Saka memilih untuk abai karena ranah monster yang rendah.

Saka menempelkan telapak tangannya ke dinding array hingga array itu menghilang. Mengadopsi sensor sidik jari di bumi, Saka memodifikasi array yang hanya akan mengenali sidik jarinya saja.

Saka tetap menggunakan langkah angin hingga kini ia sampai di tengah goa.

"Sudah sampai, Bu!" Saka melepaskan Sinta dan membiarkan wanita itu membuka mata secara perlahan.

"Kita di mana, Saka?" tanya Sinta keheranan. Ia memandangi sekeliling goa yang sudah diterangi oleh api naga abadi.

"Ini markas baruku, Bu!" jawab Saka sambil dua buah bedcover yang ia letakkan bersebarangan. Lengkap dengan dua bantal dan guling serta selimut. Sinta cukup heran melihat barang-barang aneh yang ia lihat. Meski tidak asing dengan bantal, tetapi bentuk kasur dan guling sangat asing untuknya. Tak lupa Saka juga mengeluarkan berbagai peralatan memasak, kursi dan meja, serta peralatan makan.

"Saka, darimana kamu mendapatkan semua barang aneh ini?" tanya Sinta saat mendapati berbagai barang aneh yang baru diketahuinya.

"Dari suatu tempat rahasia," jawab Saka singkat, memberi sinyal kepada ibunya agar tak bertanya lebih lanjut. Sinta yang memang sudah sangat mengenal Saka memilih untuk bungkam. Ia menurut dengan semua aturan yang dibuat Saka sehingga ruangan goa ini menjadi hunian yang nyaman.

"Bu, lihatlah!" Saka menunjuk ke ujung goa di mana berbagai eliksir langka tumbuh. Karena terlalu heran dengan barang-barang yang dikeluarkan Saka, Sinta sampai tidak menyadari dengan adanya harta karun di dalam goa.

"I-ini ...." Sinta tidak sanggup meneruskan ucapan kala netranya juga menangkap tumpukan batu roh tingkat surgawi.

"Ini memang tempat harta karun, dan selanjutnya akan menjadi rumah kita." Saka menjelaskan dengan senyum bangga melihat wajah shock ibunya. Saka sengaja tidak memberitahukan tentang  koin emas, ia takut Sinta akan pingsan jika mendengarnya.

"Ibu, di sini ibu bisa berkultivasi sepuasnya. Berkat eliksir itu energi di dalam goa sangat melimpah sehingga memudahkan ibu untuk naik ranah."

Saka kemudian menyerahkan satu pil peningkat kultivasi yang ia beli dari sistem. "Minumlah ini, Bu! Mulailah berkultivasi dan jangan takut, tidak akan ada yang bisa menemukan kita karena kita berada di tengah pegunungan berkabut. Aku juga sudah memasang formasi array ilusi dan penyerangan sehingga tidak akan ada monster yang menemukan goa ini."

Kembali Sinta dibuat menganga dengan deretan penjelasan Saka. Meski sangat penasaran, tetapi Sinta menelan kembali pertanyaannya. Ia hanya ingin ikut bahagia dan bangga melihat perkembangan Saka.

"Baiklah, aku pamit keluar dulu, Bu! Aku akan kembali sebelum malam!" pamit Saka setelah memetik tiga jenis eliksir berbeda yang rencananya akan ia ikutkan dalam lelang. Ia sungguh penasaran akan mendapat berapa koin emas dari tiga eliksir ini.

"Ibu, cepatlah berkultivasi, jangan mau kalah dariku!" Saka membocorkan auranya yang berada di ranah Raja tingkat dua.

Sak tertawa lebar sambil melesat pergi melihat wajah Sinta yang melongo lantaran selama di kediaman Hirawan, Saka menyembunyikan ranah kultivasinya.

Terpopuler

Comments

Putra_Andalas

Putra_Andalas

Nah... 👍🏻

2024-02-24

3

Nazrul

Nazrul

mantap

2024-01-03

2

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

sippp

2023-12-03

1

lihat semua
Episodes
1 Transmigrasi
2 Awal Yang Baru
3 Pegunungan Berkabut
4 Harta Karun
5 Markas Baru
6 Pertempuran
7 Paviliun Bunga Mekar
8 Tuan Muda Orlando
9 Pertunangan Raden Hirawan
10 Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11 Pergi
12 Perseteruan
13 Tetua Rama
14 Bertemu Para Petinggi
15 Pelelangan
16 Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17 Klan Darah
18 Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19 Fisik Dewi Es
20 Jackpot
21 Merampok Sistem 1
22 Merampok Sistem 2
23 Elemen Cahaya
24 Ternyata Warisan Dewi
25 Hirawan vs Caraka
26 Hirawan vs Caraka 2
27 Musnahnya Keluarga Caraka
28 Memulai Petualangan
29 Vampire
30 Membebaskan Tawanan
31 Perketat Keamanan
32 Kedatangan Prajurit Kota
33 Siaga
34 Pulang
35 Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36 Pasangan Yang Cocok
37 Raja Naga
38 Pamit
39 Hutan Jurang
40 Inti Es Semesta
41 Tigra, Harimau Suci
42 Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43 Membantu Desa Paju
44 Upgrade Sistem Selesai
45 Berlatih 1
46 Berlatih 2
47 Kebangkitan Fisik Dewi Es
48 Naik Ranah
49 Melatih Arunika
50 Kota Rogo
51 Tuan Muda Rajasa
52 Telur Dalam Batu
53 Keluarga Rajasa Musnah
54 Undangan Tuan Kota
55 Masalah Kecil
56 Sampai di Kota Ngiwa
57 Banteng atau Sapi?
58 Misi
59 Pasukan Garuda
60 Perkembangan Pasukan Garuda
61 Memulai Penyerangan 1
62 Memulai Penyerangan 2
63 Gejolak Kota Ngiwa
64 Kotak Semesta
65 Genting
66 Biar Nggak Lupa
67 Ke Istana
68 Strategi
69 Perang dengan Vampire
70 Akhir Perang
71 Tindakan Spontan Sofia
72 Dua
73 Kebersamaan
74 Hari Pernikahan
75 Benua Tengah
76 Pembebasan
77 Sekte Pedang Langit
78 Sekte Pedang Langit 2
79 Pertempuran di Hutan Kematian
80 Masalah Selesai
81 Alam Kultivator (end)
82 Disambut Jutaan Monster
83 Insiden Kecil
84 Kerajaan Angin
85 Masalah Selalu Datang
86 20 Tahun yang Lalu
87 Identitas Asli
88 Kembali ke Kerajaan Api
89 Sambutan Hangat
90 Mengobati Kakek dan Paman
91 Meningkatkan Kekuatan
92 Jurang Kegelapan
93 Ular Kepala Sembilan
94 Kondisi Kerajaan Api Terkini
95 Pesta Rakyat
96 Dunia Kecil
97 Gunung Dewa
98 Qian
99 Rubah Surgawi, Foxy
100 Kota Aneh
101 Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102 Keluarga Narendra yang Lain
103 Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104 Dunia Canopus Kacau
105 Kembali ke Kerajaan Api
106 Gelombang Monster
107 Di Balik Gelombang Monster
108 Rencana Selanjutnya
109 Dunia Kecil Kerajaan Naga
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Transmigrasi
2
Awal Yang Baru
3
Pegunungan Berkabut
4
Harta Karun
5
Markas Baru
6
Pertempuran
7
Paviliun Bunga Mekar
8
Tuan Muda Orlando
9
Pertunangan Raden Hirawan
10
Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11
Pergi
12
Perseteruan
13
Tetua Rama
14
Bertemu Para Petinggi
15
Pelelangan
16
Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17
Klan Darah
18
Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19
Fisik Dewi Es
20
Jackpot
21
Merampok Sistem 1
22
Merampok Sistem 2
23
Elemen Cahaya
24
Ternyata Warisan Dewi
25
Hirawan vs Caraka
26
Hirawan vs Caraka 2
27
Musnahnya Keluarga Caraka
28
Memulai Petualangan
29
Vampire
30
Membebaskan Tawanan
31
Perketat Keamanan
32
Kedatangan Prajurit Kota
33
Siaga
34
Pulang
35
Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36
Pasangan Yang Cocok
37
Raja Naga
38
Pamit
39
Hutan Jurang
40
Inti Es Semesta
41
Tigra, Harimau Suci
42
Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43
Membantu Desa Paju
44
Upgrade Sistem Selesai
45
Berlatih 1
46
Berlatih 2
47
Kebangkitan Fisik Dewi Es
48
Naik Ranah
49
Melatih Arunika
50
Kota Rogo
51
Tuan Muda Rajasa
52
Telur Dalam Batu
53
Keluarga Rajasa Musnah
54
Undangan Tuan Kota
55
Masalah Kecil
56
Sampai di Kota Ngiwa
57
Banteng atau Sapi?
58
Misi
59
Pasukan Garuda
60
Perkembangan Pasukan Garuda
61
Memulai Penyerangan 1
62
Memulai Penyerangan 2
63
Gejolak Kota Ngiwa
64
Kotak Semesta
65
Genting
66
Biar Nggak Lupa
67
Ke Istana
68
Strategi
69
Perang dengan Vampire
70
Akhir Perang
71
Tindakan Spontan Sofia
72
Dua
73
Kebersamaan
74
Hari Pernikahan
75
Benua Tengah
76
Pembebasan
77
Sekte Pedang Langit
78
Sekte Pedang Langit 2
79
Pertempuran di Hutan Kematian
80
Masalah Selesai
81
Alam Kultivator (end)
82
Disambut Jutaan Monster
83
Insiden Kecil
84
Kerajaan Angin
85
Masalah Selalu Datang
86
20 Tahun yang Lalu
87
Identitas Asli
88
Kembali ke Kerajaan Api
89
Sambutan Hangat
90
Mengobati Kakek dan Paman
91
Meningkatkan Kekuatan
92
Jurang Kegelapan
93
Ular Kepala Sembilan
94
Kondisi Kerajaan Api Terkini
95
Pesta Rakyat
96
Dunia Kecil
97
Gunung Dewa
98
Qian
99
Rubah Surgawi, Foxy
100
Kota Aneh
101
Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102
Keluarga Narendra yang Lain
103
Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104
Dunia Canopus Kacau
105
Kembali ke Kerajaan Api
106
Gelombang Monster
107
Di Balik Gelombang Monster
108
Rencana Selanjutnya
109
Dunia Kecil Kerajaan Naga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!