Saka bersenandung pelan sembari mengemut sebuah lollipop yang ia beli dari sistem. Suasana hatinya sedang sangat bagus, usai membeli teknik telepati yang langsung ia praktekkan kepada Tetua Solu, Saka mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Melirik sudut layar sistem, waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Masih banyak waktu jika ia ingin menjelajah hutan timur. Hutan timur bukan termasuk hutan yang berbahaya, karena ada sebuah jalan besar yang menjadi penghubung antara pemukiman dan dermaga. Banyak para pedagang jalur laut yang melewati hutan timur untuk ke pusat kota Tanica. Ada juga pemukiman nelayan tak jauh dari tepi pantai.
Namun semua itu hanya pernah didengar oleh Saka. Nyatanya selama tujuh belas tahun hidup, ia hampir tak pernah keluar dari kediaman Hirawan. Ia sangat sibuk dengan latihan dan kultivasi sehingga tak pernah menjelajahi dunia luar. Dipikir-pikir, hal itu sangat merugikan. Bukankah naga yang hebat ditempa oleh lingkungan? Bagaimana Wisaka dulu dibilang jenius jika tidak tahu apa-apa tentang dunia luar?
Mengedarkan persepsinya, Saka menangkap sebuah pertarungan tak jauh dari tempatnya berada.
"Huh, kenapa selalu ada yang bertarung saat aku ingin bersantai?" keluhnya dengan wajah yang tertekuk.
Dengan malas, ia bangkit dari posisinya dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan lincah. Semakin dekat, suara pertarungan semakin jelas. Suara jeritan perempuan pun terdengar membuat Saka mengernyit.
Dari sebuah puncak pohon yang tinggi, Saka menyembunyikan keberadaannya dengan bantuan sistem dan mengamati pertarungan. Dari pakaiannya, Saka hanya bisa menebak jika mereka adalah rombongan para nelayan yang mungkin akan ke pusat kota.
Sementara pihak lain adalah ... bandit?
Bajingan! Apakah bandit sekarang terlalu miskin sampai merampok nelayan? Bahkan nelayan di kota Tanica terhitung miskin karena tidak setiap saat bisa melaut. Berbatasan langsung dengan samudera, intensitas ombak akan sangat tinggi di waktu-waktu tertentu.
Mata Saka semakin berkobar dengan amarah saat salah satu bandit menangkap seorang gadis dan langsung bertindak tidak senonoh. Gadis itu masih berusia sekitar lima belas tahun, terhitung sangat cantik meski pakaiannya lusuh. Rautnya yang lugu kini ketakutan dan air matanya bercucuran. Berharap seseorang menolongnya dari cengkeraman manusia biadap penyembah kepala bawah.
Dorr!
Tanpa aba-aba, Saka melepaskan tembakan yang membuat bandit itu langsung mati dengan lubang berdarah di keningnya, sementara gadis itu jatuh terduduk dengan seluruh tubuh yang bergetar.
Saka mendekap gadis itu sembari mengalirkan energi yang membuatnya sedikit tenang.
"Heh, Bocah! Kamu mau cari mati!" bentak kawanan bandit yang menyadari jika salah satu kawannya sudah mati.
Gadis itu kembali meringkuk ketakutan. "Ssstt! Tenanglah, jangan takut! Aku akan mengurus mereka, kamu tetap di sini!" ucap Saka sembari berdiri. Menatap kawanan bandit dengan penuh benci.
"Kalian benar-benar bajingan keji. Apakah kalian terlalu miskin sehingga rakyat biasa pun kalian rampok? Cuih! Benar-benar menggelikan!" provokasi Saka yang membuat kawanan bandit itu berkumpul di depan Saka. Meninggalkan para nelayan yang sudah terbaring. Entah terluka atau mati.
"Bocah Tengik, tidak ada urusannya denganmu, dan jangan ikut campur atau aku akan meledakkan kepalamu!" ancam pemimpin bandit yang membawa sebuah kapak besar bermata dua.
"Oh, benarkah? Haruskah aku takut?" Saka mengeluarkan satu bungkus lollipop dan mengemutnya dengan santai, tak mempedulikan pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya.
"Hei, apa yang kau makan?" Salah satu kawanan bandit yang paling kecil tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Apa urusanmu?" tanya Saka tak acuh. Tangan kanannya masih memegang revolver sementara tangan kirinya sibuk memegang batang lollipop.
"Bajingaaan! Mati!"
Dorr!
Belum sempat bandit itu mendekat ke arah Saka, lesatan peluru membuat lubang di keningnya.
Headshot!
Saka meniup ujung revolver dengan bangga. Tak sia-sia memiliki skill penembak jitu saat di bumi. Meski sudah berpindah tubuh, kemampuannya tidak menurun, bahkan semakin meningkat dengan bantuan persepsinya.
"Ap-apa?" Mata para bandit melotot keluar. Menolak percaya jika lawan memiliki senjata yang sangat luar biasa. Namun, bukannya takut, para bandit itu justru kegirangan, tatapan serakah tampak menghiasi sorot mata mereka.
"Hehehe, itu senjata yang sangat bagus. Tidak memerlukan energi dan bisa membunuh dengan sekali serangan. Jika aku bisa mendapatkannya, maka semua orang akan tunduk di bawah kakiku," gumam pemimpin bandit sembari menatap revolver di tangan Saka.
"Oh, kamu mau ini?" tanya Saka sembari melemparkan revolver miliknya ke arah pemimpin bandit, setelah menon-aktifkan pengamannya.
"Hehehe, apakah kamu merasa takut sehingga memberikan senjatamu ini padaku? Sebuah pilihan yang bijak. Jika kamu bergabung dengan kelompokku, maka kamu akan kuangkat sebagai bandit penyerang nomor satu." Pemimpin bandit itu kegirangan dan mengambil revolver yang berada tak jauh dari kakinya.
"Cih, siapa yang bilang aku menyerah?"
Tingkah Saka membuat para bandit kebingungan.
"Lalu kenapa kau memberikan senjatamu padaku?"
"Hanya ingin menunjukkan betapa bodohnya dirimu. Senjata itu hanya aku yang bisa menggunakannya!"
Pemimpin bandit itu mencibir. "Cih, kau pikir aku tidak bisa menggunakannya? Ini bahkan lebih mudah daripada menggunakan kapakku," ucapnya sembari memegang revolver seperti yang sebelumnya dilakukan Saka. Membidik tepat ke arah Saka berdiri.
"Mati kamu, Bocah!"
Klik!
Pemimpin bandit itu tercengang, begitu pula anak buahnya. Mereka sibuk memeriksa seluruh bagian revolver mencoba untuk mencari tahu secara otodidak bagaimana cara menggunakannya.
"Tekan ke bawah bagian atas senjata yang seperti tuas!" Saka dengan baik hati memberi petunjuk.
Klik!
"Terus?" tanya pemimpin bandit dengan penasaran. Sepertinya ia sudah lupa dengan permusuhan mereka.
"Tekan telunjukmu!"
Dorr!
"Arghh!"
Karena posisi pemimpin bandit saat memegang pistol dikerumuni oleh bawahannya. Peluru itu tepat mengenai dada anak buahnya sementara ia yang dalam posisi tidak siap, terhempas ke belakang menimpa salah satu anak buahnya akibat hentakan peluru yang ditembakkan.
Tak menunggu, Saka melesat dan mengambil revolver lalu menembak tanpa henti.
Headshot!
Double kill!
Triple kill!
Hingga tersisa pemimpin bandit yang gemetar ketakutan melihat semua anak buahnya tumbang tak bernyawa.
"Bagaimana? Masih menginginkan milikku?" tanya Saka santai sembari mendekat langkah demi langkah.
Pemimpin bandit itu sudah tak memiliki nyali. Melihat Saka yang mendekat secara perlahan, ia seolah melihat malaikat maut.
"Ja-jangan mendekat! Klan darah tidak akan mengampunimu jika kamu membunuhku!" Pemimpin bandit itu mencoba menggunakan senjata terakhirnya untuk bertahan hidup. Namun, sesaat kemudian ia menyesali keputusannya.
"Klan darah? Apakah itu organisasi yang menaungi para bandit? Atau mereka adalah dalang sebenarnya?"
Tatapan tajam Saka membuat pemimpin bandit itu gelisah. Ia tak sengaja membocorkan sebuah rahasia.
"Kau salah dengar, aku tidak mengatakan apa-apa," elaknya.
"Benarkah? Apa aku masih salah dengar jika aku mematahkan kaki dan tanganmu?"
Krek!
Tanpa aba-aba, Saka mematahkan salah satu kaki pemimpin bandit yang membuatnya berteriak kesakitan.
Krek!
Satu kaki lagi.
Krek!
Satu tangan terkulai.
Kaki Saka baru terangkat untuk mematahkan tangan satunya saat pemimpin bandit itu berteriak.
"Aku akan bicara, aku akan bicara!" Air mata dan ingus bercampur dengan rintihan membuat pemimpin bandit itu terlihat sangat kacau.
"Cepat katakan! Aku bukan orang yang sabar!" desak Saka yang membuat bandit itu membuka suara. Memberitahu semua informasi tentang klan darah yang ia tahu diselingi dengan isakan dan rintihan.
Dorr!
Hadiah kematian diberikan kepada pemimpin bandit usai ia bercerita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Arif Ismawan
makin ngawur makin asyiiiiiiik
2024-02-29
2
Putra_Andalas
gk asik nih MC ,ngandalin SENJATA API mulu...gk punya Senjata lain atau Seni Bertarung yg Hebat..
2024-02-24
0
Nazrul
🤣🤣🤣
2024-01-04
1