[Ding! Selamat Tuan, teknik array kuno naik ke level 2]
Senyum Saka semakin lebar. Tidak sia-sia ia membakar habis beberapa batu roh. Rasanya sepadan dengan peningkatan level tekniknya sekarang.
Matahari sudah setinggi galah saat Saka berjalan perlahan menjauh dari goa harta karunnya.
"Haruskah aku mengasah teknik langkah anginku?" monolognya.
Teknik langkah angin adalah teknik bawaan dari Wisaka Hirawan. Dengan memanfaatkan energi angin, pengguna teknik langkah angin akan dapat bergerak dengan cepat menggunakan energi angin. Bahkan di tingkat yang lebih tinggi, langkah angin mungkin bisa menandingi lari dari hewan cheetah di bumi yang bisa berlari 120 km/jam.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Saka menuruni pegunungan berkabut menggunakan langkah angin. Ia tak lagi mempedulikan beberapa monster yang ranahnya berada di bawah ranah raja. Bagaimanapun, ia tak bisa membantai semua monster di pegunungan ini. Ia tak ingin manusia semakin banyak ke pegunungan ini dan menemukan markas tersembunyi miliknya.
[Ding! Selamat Tuan, langkah angin naik ke level 3]
Saka semakin bersemangat, ia merasa seperti terbang saat turun gunung. Padahal yang bisa terbang hanyalah kultivator yang berada di ranah langit. Tapi langkah angin memang salah satu teknik yang sangat berguna terutama untuk menghadapi lawan yang ranahnya lebih tinggi.
Tentu saja, ada keuntungan lain bagi pengguna teknik langkah angin yaitu ... kabur!
Saka kini akan sangat realistis. Diberikan kesempatan hidup kedua, tentu saja tidak akan ia sia-siakan. Melawan dua ranah di atasnya ia sanggup, tapi kalau lebih dari itu mending ... kabur!
Langkah angin adalah kartu truf miliknya. Menyadari itu, Saka semakin bersemangat mengasah tekniknya.
*
Hilangnya Saka dalam sejak pagi kemarin, sudah diketahui oleh seluruh keluarga Hirawan. Namun begitu, tak ada yang bereaksi lebih, kecuali Bi Sinta. Wanita paruh baya itu tak bisa tidur semalaman menunggu di depan kamar Saka. Ia sama sekali tidak tahu kemana Tuan Mudanya itu pergi dengan tubuh yang belum sehat.
Padahal malam sebelumnya, ia masih mengantarkan makan malam, tetapi pagi hari saat ingin mengantarkan sarapan, Tuan Muda yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu tak ada di kamar. Ia sudah mencari di seluruh kediaman Hirawan dan menanyakan ke setiap orang tapi tak juga menemukan.
"Sinta, pergilah ke balai obat! Hari ini tugasmu untuk mengambil jatah pil untuk keluarga Hirawan! Setelah itu belanja ke pasar, acara nanti malam harus sangat mewah. Pertunangan anakku akan menjadi acara paling mewah di keluarga Hirawan!"
Jaila, yang kini menjadi nyonya baru alias ibu kandung Raden, berdiri dengan berkacak pinggang di depan Sinta yang tengah menunggu Saka.
"Tapi Nyonya, saya harus menunggu Tuan Muda pulang, sejak kemarin malam Tuan Muda tidak ada di kamarnya." Sinta mencoba untuk menawar. Sungguh, ia sangat enggan untuk terlibat dalam acara nanti malam.
'Huh, kalian benar-benar orang yang tidak punya hati. Dengan mudahnya berpaling saat Tuan Mudaku sedang dalam kondisi terpuruk' batin Sinta.
"Apa yang membuatmu berani melawan, ha? Apa kau sudah bosan hidup?" Jaila menyalak. "Kau hanya pelayan di sini dan tugasmu adalah menuruti semua ucapanku!"
Sinta mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin membantah, tapi ia tak memiliki kekuatan yang bisa diandalkan. Hanya ranah Jenderal, jika nekat melawan ia hanya akan mati.
"Baik, Nyonya!"
Dengan berat hati Sinta menurut, sembari berdoa untuk keselamatan Tuan Mudanya dan berharap hari ini Tuan Muda pulang lebih awal sehingga ia bisa memberikan kesibukan agar Saka tak terlalu bersedih.
Mungkin jika Saka mendengar ini, ia akan berdecak dan mengomel. Sekarang Saka bukanlah si budak cinta yang bodoh, dia bukan Wisaka Hirawan, tetapi Arsaka Bimantara, sang kapten pasukan elit negara yang ... sayangnya belum pernah jatuh cinta.
Sudahlah, jangan ditertawakan! Bukankah sebuah pencapaian butuh pengorbanan? Ya ... meskipun ujungnya mati, tapi Saka tidak pernah merasa menyesal.
Kembali ke tempat Saka yang sudah mulai menuruni gunung. Saat ini, ia berhenti di sebuah lembah bernama lembah merah. Semua pohon di lembah merah seragam, seperti daun maple saat musim gugur. Jika saja tumbuhnya pohon teratur, mungkin lembah merah bisa dijadikan destinasi wisata. Saka mau tidak mau berdecak kagum. Jika saja ia punya ponsel, maka akan ia abadikan lembah merah dari ketinggian. Maka akan terlihat lembah merah yang sangat mencolok karena tumbuhan di sekitarnya berwarna hijau.
Saat datang kemarin, langit masih gelap sehingga Saka tak menyadari keindahan dari lembah merah. Sekarang Saka ingin menikmati sepuasnya. Udara hangat berhembus dan suara gemerisik daun yang tertiup angin terdengar. Sangat nyaman. Saka duduk di salah satu dahan pohon yang besar, membaringkan tubuhnya sembari memejamkan mata. Menikmati perasaan damai yang entah kapan terakhir kali ia rasakan. Hiruk pikuk medan perang selalu menjadi santapan setiap hari. Kewaspadaan yang tinggi membuatnya tak bisa merasakan nikmatnya seperti ini.
Saka hampir saja tertidur jika tidak terdengar suara ledakan yang membuat tempatnya merasakan getaran kecil.
"Sial, siapa yang mengganggu waktu santaiku?" gerutu Saka sambil memanjat ke dahan pohon yang lebih tinggi.
Suara ledakan itu disusul dengan suara pertempuran yang tidak terlalu jauh dari tempat Saka. Satu kilometer di barat daya, dua pasukan bertempur.
Saka duduk dengan tenang mengamati pertempuran. Dari pakaiannya, Saka hanya bisa menebak jika mereka adalah pasukan pedagang dan bandit.
"Pengawal pedagang itu lumayan juga," gumam Saka saat melihat serangan skala penuh dari pengawal mampu membuat salah satu bandit itu jungkir balik hingga menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan.
"Tapi pemimpin bandit itu belum maju, pasti para pengawal kehabisan tenaga saat menghadapi pemimpin bandit itu. Ranah tertinggi ranah Bumi tingkat tingkat lima, itu milik pemimpin pengawal dan pemimpin bandit." Saka mengulas pertempuran itu tanpa sadar. Ini adalah kebiasaannya saat masih berada di pasukan Garuda. Sebagai kapten, ia harus mengetahui kekuatan lawan demi meminimalisir korban dari pasukannya.
"Sial! Bandit itu menggunakan racun!" pekik Saka saat melihat satu persatu pengawal pedagang itu terkulai lemas usai menghirup serbuk racun yang ditebarkan oleh para bandit.
Jika sebelumnya pertempuran imbang dan cenderung lebih mendominasi para pasukan pedagang, kini berbalik. Pengawal mulai terdesak dan para bandit dengan semena-mena memenggal kepala para pengawal yang sebelumnya terkena racun.
Saka membuka toko sistem, sebuah senapan Steyr SSG 69 menarik perhatiannya. Saat di bumi, ia pernah mengoperasikan senapan sniper model ini, sehingga Saka merasa tak asing. Melihat harga, Saka otomatis mengumpat.
"Bajingaan! Di bumi saja tidak sampai 200 juta, kenapa di sini harganya 500 juta koin emas?"
Saka kembali menatap arena pertempuran, sang pemimpin pengawal yang lolos dari serbuk racun, mulai kewalahan menghadapi keroyokan dari pasukan bandit. Dengan menggeretakkan gigi, Saka memutuskan untuk membeli senapan itu.
Dari puncak pohon, Saka menemukan posisi yang las untuk menembak usai mengisi peluru. Saka harus puas dan berhenti mengumpat saat pembelian senapan itu dilengkapi dengan 2 kotak amunisi kaliber 7,62 mm.
Dilengkapi dengan peredam suara, Saka mulai menembak.
Syuutt!
Syuutt!
Arrghh!
Satu persatu para bandit itu tumbang dengan lubang di kepala. Menghadapi serangan tersembunyi, para bandit itu ketakutan. Mereka mundur dengan pandangan waspada.
"Siapa itu? Jangan jadi bajingan pengecut yang menyerang sembunyi-sembunyi!" teriak pemimpin bandit. Pemimpin pengawal dan rombongan pedagang juga tampak kebingungan, meski sedikit lega karena para bandit itu mati satu persatu, tapi tak menurunkan kewaspadaan mereka.
Saka terkekeh kecil, tetapi ia tak berhenti dan terus menumbangkan para bandit yang membuat mereka merasakan teror.
Syuttt!
Blaaarrr!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
💖💪🏼💖💪🏼💖💪🏼💖💪🏼💖
2024-04-19
1
Arif Ismawan
kalau ada senapan harusnya ada juga hp
2024-02-29
1
Wayan RaNa
thor, jgn dibuat mc sll mengumpat"Sial"..jgn disamakan spti dirimi(author) yg sll mengimpat dlm keseharianmu,,
2024-02-18
9