Ruangan untuk manager tepat berada di lantai lima, dan tidak semua orang berhak untuk masuk ke sana. Ini memang rencana Saka, karena ia tak mungkin menerobos begitu saja, dan tak semua orang akan percaya jika ia mengenal Sofia. Dengan menunjukkan eliksir langka, sudah pasti Paviliun Bunga Mekar akan tertarik padanya.
Untuk sampai ke lantai lima, Saka harus melewati tangga panjang dari lantai tiga dan empat yang menjadi satu. Panggung besar tepat berada di tengah-tengah lantai tiga. Lantai empat adalah ruangan-ruangan eksklusif yang diperuntukkan untuk VIP. Dengan layar penutup yang bekerja satu arah, maka privasi para VIP akan terjaga.
Sampai di lantai lima, pelayan itu langsung mengetuk pintu satu-satunya yang ada di sana.
"Masuk!"
Saka melangkah dengan tenang usai pelayan itu membukakan pintu. Interior di dalam ruangan tidak terlalu istimewa, sebuah meja bundar besar dengan kursi yang mengelilinginya terletak di tengah ruangan, sementara di pojok sebelah kanan, sebuah meja dan kursi tunggal berada. Sepertinya itu adalah meja kerja manager Paviliun. Di pojok sebelah kiri adalah sebuah pintu yang sepertinya adalah ruangan pribadi.
"Selamat datang, Tuan! Silakan duduk!"
Sudut bibir Saka berkedut saat mendapati Ansel menyapanya dengan begitu sopan.
Saka membuka tudung jubah dengan seringai lebarnya, disambut dengan tatapan terkejut dari Sofia dan Ansel.
"Dirga!" pekik Sofia tak percaya sementara Ansel sudah merah padam. Ia sangat emosi mengingat sambutannya yang begitu sopan kepada seseorang yang mampu mendapatkan eliksir langka. Tapi ia sama sekali tidak menyangka jika orang itu adalah orang yang paling tidak ingin ia temui di dunia ini.
"Halo, Sofia!" sapa Saka dengan ringan. Ia kemudian menoleh ke arah Ansel. "Terima kasih untuk sambutan ramahnya, Tuan Muda Gemar Sembunyi, aku tidak perlu bersikap sopan lagi dan langsung duduk. Boleh 'kan?" lanjut Saka yang langsung mengambil tempat duduk di salah satu kursi.
"Kau--" Ansel menuding dengan tangan gemetar, tetapi tak ada kata yang mampu terucap.
Engah!
Saking marahnya, Ansel muntah darah. Sofia dan Saka hanya melihat sembari tersenyum simpul.
"Sepertinya Tuan Muda satu ini tidak terlalu sehat. Aku sarankan untuk beristirahat saja." Saka terus memprovokasi Ansel.
"TUTUP MULUTMU, SIALAN!" pekik Ansel tak mampu lagi menahan amarahnya. Aura ranah Jenderal menengah menguar memberikan tekanan. Pelayan yang sejak tadi terdiam di depan pintu sampai gemetar mempertahankan posisi berdiri. Saka langsung mengambil gerak cepat menempatkan Sofia di belakangnya.
"Tahan auramu, Ansel Orlando!" Suara tegas Sofia terdengar meski berada di belakang Saka.
Ansel mengernyit saat auaranya sama sekali tidak berdampak kepada Saka. Padahal menurut persepsinya Saka hanya berada di ranah Prajurit, kenapa aura ranah Jenderal sama sekali tidak berefek apa-apa pada Saka?
"Kau ... bagaimana kau baik-baik saja?" tanya Ansel sembari menghilangkan tekanan auranya sehingga ruangan kembali damai seperti semula.
Saka mengangkat sebelah alisnya. "Perlukah aku memberitahumu?"
Ansel mengepalkan tangannya dengan kuat, mencoba menahan emosi yang sejak tadi meminta untuk dilampiaskan.
"Tunggu saja! Saat pengawal keluarga Orlando tiba, kamu akan menyadari sedang berhadapan dengan siapa," ancam Ansel sembari keluar dari ruangan.
Saka mengangkat bahu, dan kembali duduk di kursi seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Dirga, kenapa kau menempatkanku di belakangmu?" tanya Sofia membuka pembicaraan setelah keadaan hening sejenak. Di ruangan ini tertinggal mereka berdua karena pelayan itu juga pergi untuk kembali bekerja.
"Maaf, aku hanya refleks!" ucap Saka sembari menyengir lebar.
"Meski aku berada satu tingkat di bawah Ansel, aku masih bisa untuk sekedar melawan dominasi auranya," sungut Sofia.
"Baiklah, aku minta maaf, itu refleks-ku sebagai seorang laki-laki saja. Oh ya, bagaimana? Apa aku bisa mengikutkan barangku di lelang kali ini?" tanya Saka mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, benarkah kamu mempunyai tanaman itu?" tanya Sofia dengan antusias.
"Tentu saja!"
Saka kemudian mengeluarkan daun patah tulang. Menyusul daun pegagan dan timun lima warna.
Sofia tak mampu lagi mengekspresikan rasa terkejut kecuali mulutnya yang menganga lebar dengan mata melotot.
"Bagaimana kamu bisa memilikinya?" tanya Sofia begitu bisa menguasai dirinya.
"Itu ... rahasia," goda Saka yang membuat Sofia kembali kesal.
"Kamu benar-benar menyebalkan!"
Saka terkekeh. "Bagaimana? Kalau tidak bisa, aku akan membuangnya saja."
"Bu-buang? DIRGA, KAU SUDAH GILA!"
Saka kembali tertawa. "Apa salah jika aku ingin membuangnya? Eliksir ini tidak berguna untukku, dan aku masih memiliki banyak."
"Kau, huh! Aku mengerti kenapa Ansel mudah lepas kendali jika sudah berhadapan denganmu. Kau memang pematik emosi."
Saka ingin kembali tertawa, tetapi kehadiran aura kuat membuatnya memusatkan perhatian ke arah ruangan dibalik pintu.
"Tetua, jika Tetua tertarik dengan eliksir ini, Tetua bisa keluar!"
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Sofia karena ia tak merasakan ada seseorang yang datang.
Tepat setelah Sofia selesai berbicara, pintu di pojok sebelah kiri terbuka. Seorang lelaki tua yang mungkin sudah berusia di atas seratus tahun, dengan jubah putih dan rambut panjangnya yang putih keluar. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
"Tetua Rama!" sapa Sofia terkejut. Ia tak menyadari kehadiran Tetua Rama adalah normal, karena tingkat kultivasinya masih rendah, tapi bagaimana bisa Saka menyadari kehadiran Tetua Rama? Apakah Saka juga berada di ranah yang sama dengan salah satu Tetua Balai Obat yang kini juga menjabat sebagai Tetua Paviliun Bunga Mekar?
"Salam, Tetua!" Saka membungkuk sedikit sebagai sapaan.
"Aku tidak menyangka kepekaanmu begitu tinggi, Anak Muda!" Tetua Rama melangkah pelan menghampiri Sofia dan Saka.
"Hanya kebetulan, Tetua!" sahut Saka merendah.
"Anak muda, mungkin kau bisa menipu Sofia, tapi kau tidak bisa menipuku," ucap Tetua Rama melalui telepati yang membuat Saka sedikit tersentak kaget.
Telepati adalah kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang berada di ranah Immortal. Meskipun kaget, Saka pun tak heran karena sejak awal ia sudah tahu ranah dari Tetua Rama.
"Sofia, kenapa kau tidak membuatkan minum untuk tamu?"
Sofia menepuk keningnya. "Astaga, kenapa aku bisa lupa? Maaf ya, Dirga! Aku akan membuatkan minuman sekarang!" ucapnya lalu buru-buru masuk ke ruangan sebelah.
"Baiklah, Tuan Muda Hirawan, aku dengar kultivasimu hancur, tapi sepertinya itu tidak benar." Tetua Rama membuka percakapan usai Sofia hilang dibalik pintu.
"Berita itu benar, Tetua! Tetapi sebuah keajaiban terjadi sehingga kultivasiku kembali," ujar Saka sembari tersenyum simpul.
"Ayahmu pasti akan bangga kepadamu."
Saka tersenyum kecut. "Tetua, bolehkah aku minta tolong?"
Tetua Rama melihat senyum Dirga merasakan hal yang janggal, ia pun mengangguk.
"Mulai sekarang, panggil saja aku Arsaka, Arsaka Dirgantara! Itu adalah identitas baruku. Aku bukan lagi Tuan Muda keluarga Hirawan."
Kilat keterkejutan tampak di mata Tetua Rama. Meski sangat penasaran, tetapi ia sudah menebak alur kasarnya.
"Baiklah, aku akan merahasiakan identitasmu. Dan untuk eliksir itu ...." Tetua Rama memandang Saka penuh harap.
"Eliksir mana yang Tetua butuhkan?"
"Timun lima warna. Aku baru saja naik ranah dan pondasiku belum terlalu kuat. Aku membutuhkannya untuk menguatkan pondasiku," ujar Tetua Rama terus terang. "Tenang saja, aku akan membelinya dengan harga yang tinggi!" lanjut Tetua Rama saat melihat Saka yang ingin menyangkal.
"Tetua, bukan aku menolak, tapi tiga eliksir ini akan aku ikutkan untuk lelang."
Raut wajah Tetua Rama tampak murung.
"Tetua, untuk menyempurnakan pondasi tidak hanya membutuhkan timun lima warna, tetapi juga akar kelimpar. Apakah Tetua memiliki eliksir itu?"
Tetua Rama menggeleng. Saat melihat timun lima warna ia sudah sangat antusias dan berharap akar kelimpar akan muncul setelahnya.
Saka mengulum senyum saat melihat wajah murung Tetua Rama. "Aku akan membawakan dua eliksir itu untuk Tetua besok, sekarang tiga eliksir ini akan aku ikutkan lelang karena aku penasaran dengan harganya."
Mendengar itu, sorot mata Tetua Rama berbinar. "Benarkah? Kamu memiliki keduanya?"
Saka mengangguk meyakinkan.
"Baiklah kalau be--"
Tok! Tok! Tok!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Gak komen gk makan
Udin,Baharudin,Samsudin
2024-02-08
2
Nazrul
👍🏻👍🏻👍🏻
2024-01-03
0
Jimmy Avolution
sippp
2023-12-03
0