Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan

Pelelangan telah usai, tapi situasi di ruang VIP 2 sangat suram. Baik Patriak Pandu maupun Patriak Indra tengah diliputi oleh amarah. Bukan hanya tidak mendapatkan teknik kuno, tetapi provokasi orang dari VIP 1 benar-benar meruntuhkan citra Keluarga Hirawan. Saat keluar, Pandu seperti tidak mempunyai muka. Ingin sekali ia membantai siapapun yang ada di depannya demi melampiaskan kekesalan, tapi akal sehatnya masih mampu menilai apa yang seharusnya ia lakukan.

Saat ini mereka tengah menunggu utusan yang diminta untuk menyelidiki siapa yang berada di ruang VIP 1, sehingga mereka bisa merencanakan balas dendam yang sempurna. Penghinaan ini tidak bisa terbalaskan kecuali pelakunya mati di tangannya sendiri. Pandu benar-benar tak bisa menoleransi siapapun yang merendahkan keluarga Hirawan.

Tak lama, orang yang mereka urus, datang dengan wajah tegang.

"Katakan! Siapa yang ada di ruang VIP 1?" sambar Pandu tak sabar. Ia sudah sangat gatal ingin menghajar orangnya.

"Ruang VIP 1 berisi para petinggi Paviliun Bunga Mekar, bahkan Tetua Rama dan manager Sofia ada di sana," ucap utusan itu dengan hati-hati.

Bagai mendapat guyuran air dingin, amarah yang melingkupi Pandu dan Indra pun sirna. Memangnya siapa yang sanggup menyinggung Paviliun Bunga Mekar?

"Kamu yakin?" tanya Indra tak percaya. "Untuk apa Paviliun Bunga Mekar menjatuhkan nama Keluarga Hirawan?"

Utusan itu mengangguk. "Tapi ada satu orang asing yang mengenakan jubah hitam--"

"Kenapa baru bilang?" sentak Pandu. Kekesalan yang memuncak membuatnya ingin mengunyah utusan itu hingga menjadi daging cincang.

"Tapi semua petinggi tampak hormat padanya, bahkan orang itu terlihat sangat akrab dengan manager Sofia," jelas utusan itu dengan nada takut-takut.

Kini, Pandu dan Indra kembali tertegun. Jika Paviliun Bunga Mekar saja mereka tidak berani menghadapi, apalagi orang yang dihormati oleh Paviliun?

Memikirkan sikapnya yang sedikit ceroboh, Pandu menghela napas dingin. Untung saja ia tadi sempat dicegah, jika tidak, ia tak sanggup memikirkan konsekuensi apa yang akan ditanggung oleh keluarga Hirawan.

"Apa yang akan kita lakukan Patriak?" tanya Solu, salah satu tetua keluarga Hirawan.

"Lupakan! Kita tidak bisa menyinggung seseorang yang dihormati oleh Paviliun Bunga Mekar," ucapnya dengan pasrah. Sebesar apapun rasa bencinya, nasihat keluarga Hirawan masih menjadi prioritas utamanya.

"Ayah, sepertinya aku tahu siapa orang berjubah itu," celetuk Raden yang sejak tadi diam.

Mata Pandu memicing. "Kau tahu? Memangnya dia siapa?"

"Aku juga tidak tahu siapa dia, Ayah--"

"Goblok! Kalau tidak tahu, kenapa sok tahu?!" Pandu hampir muntah darah karena emosi. Sudah berapa kali emosinya dipermainkan seperti ini?

"Ayah, aku belum selesai bicara!" Raden lumayan kesal dengan kebiasaan ayahnya yang suka menyela perkataan orang lain sebelum ucapan mereka selesai.

"Aku memang tidak tahu siapa dia, tapi aku dan Alisha pernah bertemu dengannya di lantai dua, dan kultivasinya hanya berada di ranah Prajurit akhir."

Pandu mengerutkan kening. "Ranah Prajurit akhir? Apakah dia berasal dari keluarga bangsawan ibukota? Apakah dia dikawal?"

Raden menggeleng. "Dia sendirian, tapi sepertinya tidak lama lagi dia akan berhubungan dengan keluarga Olsen. Sebelum pergi, dia pernah berkata kepada Mario dan berharap mereka bisa bertemu lagi suatu saat nanti."

Kerutan di dahi Pandu semakin mendalam. Meski hanya berada di ranah Prajurit akhir, entah kenapa ia merasakan sebuah ancaman dari orang itu. Belum lagi jika ternyata keluarga Olsen berhasil menjalin hubungan dengan Paviliun Bunga Mekar berkat orang itu, maka keluarga Hirawan akan semakin redup.

"Tetua Solu, selidiki dia! Kalau keadaan memungkinkan, bunuh!" perintah Pandu. Tetua Solu mengangguk sejenak sebelum sosoknya menghilang.

Pandangan Pandu menjadi lebih bengis. Ia tak akan membiarkan siapapun menindas keluarganya dan ia juga tak mengijinkan anggota keluarganya menjadi kelemahan untuknya.

Andai saja Pandu tahu, siapa sosok yang menjadi ancaman untuknya, entah bagaimana reaksinya.

*

Sementara itu, Saka dengan santai pergi dari Paviliun Bunga Mekar dengan bersenandung kecil. Sebagai penikmat musik saat di bumi, Saka cukup banyak mengetahui lagu-lagu dari berbagai genre. Mungkin akan terdengar aneh saat ada yang mendengar senandungnya, tapi ia tak peduli.

Di belakangnya dalam jarak satu kilo meter, Tetua Silo mengikuti setiap langkah Saka. Persepsinya terus mengedar, mencoba mencari kekuatan dibalik bayang yang mungkin saja menjadi pelindung orang berjubah yang misterius itu.

Saka tersenyum kecil menyadari dirinya diikuti. Ia juga tahu jika yang mengikutinya adalah Tetua Silo. Tetua paling kuat setelah ayahnya yang telah mencapai ranah Langit tingkat pertama.

Mengayunkan langkah dengan riang, Saka menggiring Tetua Silo ke hutan timur kota Tanica, berbatasan langsung dengan laut lepas.

Setelah berjalan sejauh lima kilo meter dan sudah berada di tengah-tengah hutan, Saka menghentikan langkahnya. Tetua Silo pun otomatis menghentikan langkah.

Dengan senyum di bibirnya, Saka membalikkan badan. "Tetua Silo, lama tidak berjumpa," sapa Saka sembari membuka tudung jubahnya.

Tetua Silo membelalakkan mata di tempatnya bersembunyi. Ia sama sekali tidak menyangka jika yang membuat gelisah pemimpin keluarga Hirawan ternyata putranya sendiri.

"Tu-tuan Muda!" Tetua Silo mendekat dengan penuh keheranan.

"Ada apa Tetua? Apakah laki-laki itu merasa terancam oleh sampah sepertiku sehingga mengutusmu untuk membunuhku?" tanya Saka dengan tenang. Saka tahu, jika memaksa untuk bertarung dengan Tetua Silo hanya akan membuatnya menderita. Tapi ia juga tak takut, dengan revolver di tangan dan teknik langkah angin miliknya, ia bisa membunuh Tetua Silo dengan sedikit trik. Itu pun jika keadaan memaksa.

"Ba-bagaimana mungkin?" Tetua Silo tak mempercayai penglihatan dan persepsinya. Tuan Muda Pertama keluarga Hirawan yang jenius dikabarkan cacat dan menjadi sampah, bahkan Tetua Silo pun pernah menjenguk Saka, melihat dantiannya yang hancur dan tidak mungkin untuk kultivasi lagi. Namun di depannya kini, Saka berdiri tegak dengan senyum lebar dan aura ranah Raja tingkat dua menguar di sekelilingnya.

Sebelum cacat, bukankah kultivasi Tuan Mudanya baru saja naik ke ranah Jenderal tingkat lima?

Semakin dipikirkan, semakin tak mengerti. Kecepatan kultivasi ini tak bisa diterima dengan akal sehat. Tetua Silo adalah salah satu dari Tetua yang menyayangkan keputusan Patriak Pandu. Meskipun cacat, Saka adalah putranya sendiri. Seharusnya Patriak Pandu memikirkan cara yang bisa digunakan agar bisa mengembalikan kultivasi Saka kembali, bukan malah membuangnya dan tak peduli.

"Tetua Silo, jika kamu bersikeras ingin membunuhku, maka kita akan bertarung sampai mati di sini. Tapi jika kamu masih menganggapku, maka aku ingin kamu pulang ke kediaman Hirawan dan menyampaikan pesanku kepada Patriakmu." Saka bahkan enggan menyebutnya sebagai 'ayah'.

"Tuan Muda, apa yang kau bicarakan? Tuan Muda adalah jenius keluarga Hirawan. Jika Patriak Pandu mengetahui ini, beliau pasti akan sangat bahagia. Mari kita pulang dan merayakan ini. Semua orang harus tahu, jika jenius keluarga Hirawan sudah kembali." Tetua Silo gemetar karena gembira. Membayangkan keluarga Hirawan menduduki herarki teratas di kota Tanica.

Saka menggeleng dengan senyum kecut. "Tetua Silo, hal yang ingin aku sampaikan adalah ... mulai hari ini, aku bukan lagi Wisaka Hirawan, tetapi Arsaka Dirgantara! Aku bukan lagi anggota keluarga Hirawan dan secara resmi mengeluarkan diri. Urusan keluarga Hirawan ke depannya, tidak ada lagi sangkut pautnya denganku," ucap Saka dengan tegas yang membuat Tetua Silo membeku.

Saka segera mengambil langkah seribu karena yakin jika Tetua Silo tidak akan memburunya.

"Tetua Silo, sampaikan juga kepada Raden Hirawan dan Alisha Caraka untuk menjaga dirinya dengan baik. Suatu saat, aku akan membayar lunas semua hutangku."

Kejutan kedua diterima Tetua Silo saat suara Saka terngiang di benaknya. Asal tahu saja, telepati hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang berada di ranah Immortal, jadi ... bagaimana mungkin? Semua pengetahuan selama puluhan tahun yang diperoleh Tetua Silo seolah tak berguna dengan semua kejutan dari Saka.

"Patriak, kali ini kamu membuat keputusan yang sangat salah," gumam Tetua Silo memandang arah kepergian Saka dengan tatapan kosong.

Terpopuler

Comments

Bejo giring

Bejo giring

Ooh ternyata yg salah sebut kala itu authornya di awal menyebut tingkatan saka adalah raja bintang 5 ternyata di sini di ralat jadi jendral bintang 5 awas jgn salah lagi Thor😜😜😜😜😜

2024-12-04

0

Deny Fathurachman

Deny Fathurachman

ane demen nih ky gini

2024-02-26

3

Nazrul

Nazrul

mantap thor

2024-01-03

2

lihat semua
Episodes
1 Transmigrasi
2 Awal Yang Baru
3 Pegunungan Berkabut
4 Harta Karun
5 Markas Baru
6 Pertempuran
7 Paviliun Bunga Mekar
8 Tuan Muda Orlando
9 Pertunangan Raden Hirawan
10 Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11 Pergi
12 Perseteruan
13 Tetua Rama
14 Bertemu Para Petinggi
15 Pelelangan
16 Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17 Klan Darah
18 Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19 Fisik Dewi Es
20 Jackpot
21 Merampok Sistem 1
22 Merampok Sistem 2
23 Elemen Cahaya
24 Ternyata Warisan Dewi
25 Hirawan vs Caraka
26 Hirawan vs Caraka 2
27 Musnahnya Keluarga Caraka
28 Memulai Petualangan
29 Vampire
30 Membebaskan Tawanan
31 Perketat Keamanan
32 Kedatangan Prajurit Kota
33 Siaga
34 Pulang
35 Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36 Pasangan Yang Cocok
37 Raja Naga
38 Pamit
39 Hutan Jurang
40 Inti Es Semesta
41 Tigra, Harimau Suci
42 Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43 Membantu Desa Paju
44 Upgrade Sistem Selesai
45 Berlatih 1
46 Berlatih 2
47 Kebangkitan Fisik Dewi Es
48 Naik Ranah
49 Melatih Arunika
50 Kota Rogo
51 Tuan Muda Rajasa
52 Telur Dalam Batu
53 Keluarga Rajasa Musnah
54 Undangan Tuan Kota
55 Masalah Kecil
56 Sampai di Kota Ngiwa
57 Banteng atau Sapi?
58 Misi
59 Pasukan Garuda
60 Perkembangan Pasukan Garuda
61 Memulai Penyerangan 1
62 Memulai Penyerangan 2
63 Gejolak Kota Ngiwa
64 Kotak Semesta
65 Genting
66 Biar Nggak Lupa
67 Ke Istana
68 Strategi
69 Perang dengan Vampire
70 Akhir Perang
71 Tindakan Spontan Sofia
72 Dua
73 Kebersamaan
74 Hari Pernikahan
75 Benua Tengah
76 Pembebasan
77 Sekte Pedang Langit
78 Sekte Pedang Langit 2
79 Pertempuran di Hutan Kematian
80 Masalah Selesai
81 Alam Kultivator (end)
82 Disambut Jutaan Monster
83 Insiden Kecil
84 Kerajaan Angin
85 Masalah Selalu Datang
86 20 Tahun yang Lalu
87 Identitas Asli
88 Kembali ke Kerajaan Api
89 Sambutan Hangat
90 Mengobati Kakek dan Paman
91 Meningkatkan Kekuatan
92 Jurang Kegelapan
93 Ular Kepala Sembilan
94 Kondisi Kerajaan Api Terkini
95 Pesta Rakyat
96 Dunia Kecil
97 Gunung Dewa
98 Qian
99 Rubah Surgawi, Foxy
100 Kota Aneh
101 Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102 Keluarga Narendra yang Lain
103 Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104 Dunia Canopus Kacau
105 Kembali ke Kerajaan Api
106 Gelombang Monster
107 Di Balik Gelombang Monster
108 Rencana Selanjutnya
109 Dunia Kecil Kerajaan Naga
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Transmigrasi
2
Awal Yang Baru
3
Pegunungan Berkabut
4
Harta Karun
5
Markas Baru
6
Pertempuran
7
Paviliun Bunga Mekar
8
Tuan Muda Orlando
9
Pertunangan Raden Hirawan
10
Bolehkah Aku Memanggilmu, Ibu?
11
Pergi
12
Perseteruan
13
Tetua Rama
14
Bertemu Para Petinggi
15
Pelelangan
16
Bukan Lagi Bagian Keluarga Hirawan
17
Klan Darah
18
Kenyataan Pahit Keluarga Hirawan
19
Fisik Dewi Es
20
Jackpot
21
Merampok Sistem 1
22
Merampok Sistem 2
23
Elemen Cahaya
24
Ternyata Warisan Dewi
25
Hirawan vs Caraka
26
Hirawan vs Caraka 2
27
Musnahnya Keluarga Caraka
28
Memulai Petualangan
29
Vampire
30
Membebaskan Tawanan
31
Perketat Keamanan
32
Kedatangan Prajurit Kota
33
Siaga
34
Pulang
35
Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut
36
Pasangan Yang Cocok
37
Raja Naga
38
Pamit
39
Hutan Jurang
40
Inti Es Semesta
41
Tigra, Harimau Suci
42
Sekte Lembah Hitam dan Raja Dharma
43
Membantu Desa Paju
44
Upgrade Sistem Selesai
45
Berlatih 1
46
Berlatih 2
47
Kebangkitan Fisik Dewi Es
48
Naik Ranah
49
Melatih Arunika
50
Kota Rogo
51
Tuan Muda Rajasa
52
Telur Dalam Batu
53
Keluarga Rajasa Musnah
54
Undangan Tuan Kota
55
Masalah Kecil
56
Sampai di Kota Ngiwa
57
Banteng atau Sapi?
58
Misi
59
Pasukan Garuda
60
Perkembangan Pasukan Garuda
61
Memulai Penyerangan 1
62
Memulai Penyerangan 2
63
Gejolak Kota Ngiwa
64
Kotak Semesta
65
Genting
66
Biar Nggak Lupa
67
Ke Istana
68
Strategi
69
Perang dengan Vampire
70
Akhir Perang
71
Tindakan Spontan Sofia
72
Dua
73
Kebersamaan
74
Hari Pernikahan
75
Benua Tengah
76
Pembebasan
77
Sekte Pedang Langit
78
Sekte Pedang Langit 2
79
Pertempuran di Hutan Kematian
80
Masalah Selesai
81
Alam Kultivator (end)
82
Disambut Jutaan Monster
83
Insiden Kecil
84
Kerajaan Angin
85
Masalah Selalu Datang
86
20 Tahun yang Lalu
87
Identitas Asli
88
Kembali ke Kerajaan Api
89
Sambutan Hangat
90
Mengobati Kakek dan Paman
91
Meningkatkan Kekuatan
92
Jurang Kegelapan
93
Ular Kepala Sembilan
94
Kondisi Kerajaan Api Terkini
95
Pesta Rakyat
96
Dunia Kecil
97
Gunung Dewa
98
Qian
99
Rubah Surgawi, Foxy
100
Kota Aneh
101
Potongan Tubuh Jenderal Iblis
102
Keluarga Narendra yang Lain
103
Narendra vs Sekte Rajawali Besi
104
Dunia Canopus Kacau
105
Kembali ke Kerajaan Api
106
Gelombang Monster
107
Di Balik Gelombang Monster
108
Rencana Selanjutnya
109
Dunia Kecil Kerajaan Naga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!