Di hadapan Saka kini ruangan goa seluas lapangan sepak bola terhampar. Meski gelap begitu pekat, tapi dengan mata dewa Saka mampu melihat seluruh ruangan goa dan seisinya. Isi yang membuat mulut Saka terbuka lebar dengan air liur yang mulai keluar.
"I-ini ruang harta karun siapa?" bisiknya takjub.
Bagaimana tidak? Di sebelah kirinya adalah tumpukan batu roh kualitas tinggi yang menggunung hingga mencapai langit-langit goa. Di sebelah kanan adalah tumpukan emas yang tidak kurang dari dua triliun koin emas. Sejajar dengan tempatnya berdiri adalah hamparan kebun eliksir yang sangat langka, bahkan keberadaannya mungkin tidak dijumpai di seluruh Benua Siana. Itu menurut ingatan Saka yang didapat dari ingatan pemilik sebelumnya.
Tepat di tengah-tengah goa, yang dikelilingi oleh formasi array pertahanan, terdapat satu peti yang berukuran besar dan jutaan batu roh kualitas surgawi.
Tak bisa menekan rasa bahagianya, Saka meloncat-loncat kecil.
"Hehehe ... sistem, aku akan bisa membayar hutangku sekarang juga." Tangan Saka melambai, triliunan koin emas yang menggunung berpindah ke Inventory sistem.
[Ding! Pembayaran menggunakan koin emas yang ditukar dengan koin sistem sedang diproses]
"Sialan sistem! Aku belum memberi perintah!" gerutu Saka saat sistem langsung memotong koin emasnya.
[Ding! Tidak baik menunda untuk membayar hutang lebih lama, Tuan! Jangan sampai Tuan lebih galak daripada sistem, padahal sistem sudah berbaik hati mau menjual teknik array secara kredit]
Bibir Saka berkedut. Ia tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar jawaban dari sistem.
Saka mendekat ke tengah-tengah di mana formasi array yang melingkupi sebuah peti dan jutaan batu roh surgawi berada. Tangannya perlahan terangkat, mencoba untuk merasakan formasi array pertahanan yang melingkupinya.
Jrett!
Sial! Ternyata ada formasi array serangan!
Saka mematung saat merasakan dirinya tersengat listrik ribuan volt yang membuat seluruh tubuhnya serasa dikerumuni oleh semut. Beruntung dia seorang kultivator, jika hanya manusia biasa, mungkin kematian kedua sudah membuka gerbangnya.
Uhuk!
Sebuah asap tipis keluar dari mulutnya bersamaan Saka terbatuk.
"Sistem, kenapa aku tidak bisa mendeteksi adanya formasi array serangan di sini?"
[Ding! Level Tuan masih sangat rendah. Array di sini tingkatannya lebih tinggi daripada array yang ada di depan goa tadi]
Saka mendengus. "Jadi aku tidak bisa membukanya sekarang?"
[Ding! Tuan harus menaikkan level kemampuan Tuan dalam teknik array]
"Apakah aku bisa menukarnya dengan koin emas dan batu roh untuk menaikkan level?"
[Ding! Tidak Tuan, level hanya bisa dinaikkan oleh Tuan sendiri. Semakin sering berlatih, maka kemungkinan untuk naik level akan semakin tinggi]
"Baiklah, sepertinya aku harus tumbuh secara perlahan."
[Ding! Pilihan yang baik Tuan, karena tergesa-gesa hanya akan membuat Tuan hancur dari dalam]
Saka terdiam. Perkataan sistem memang benar adanya. Meski ia sudah sangat ingin membalas dendam, tetapi dengan tingkatannya sekarang, hanyalah kata mustahil. Meski ia bisa menghadapi dua ranah di atasnya, tetapi menghadapi ranah langit seperti ayahnya hanyalah bunuh diri.
Saka memandang seluruh bagian goa dan tersenyum puas. "Sepertinya tempat ini cocok menjadi markas rahasiaku."
Tangannya melambai, mengambil tumpukan batu roh hingga bagian itu kosong. Kini hanya tersisa bagian tengah dan sejajar dengan tempatnya yang berisi eliksir. Untuk eliksir sendiri, Saka akan memanennya nanti jika diperlukan.
"Tapi tempat ini terlalu suram."
Saka memutar otak, mencoba untuk mencari solusi. Meski ia bisa melihat dengan bantuan mata dewa, tetapi Saka ingin membuat suasana goa itu nyaman untuk ditinggali dalam waktu lama.
[Ding! Tuan bisa menggunakan api naga abadi dengan batu roh sebagai mediasi]
Saat tengah kebingungan, sistem memberikan solusi yang membuat Saka tersenyum lebar.
"Benar juga, kenapa aku lupa jika aku memiliki api naga abadi yang tidak akan padam? Aku sempat khawatir jika menggunakan api akan padam sewaktu-waktu, tapi api milikku tidak akan padam kecuali aku menginginkannya." Senyum Saka semakin cerah. Ia mengambil satu batu roh, memusatkan energi dan api naga abadi miliknya ke batu roh.
Buzzz!
Batu roh melebur menjadi debu. Saka terpaku. Ingin rasanya menangis karena satu batu roh kualitas tinggi sangat berharga, dan ia membakarnya tanpa sisa.
"Sialaaan! Kenapa susah sekali mengontrol tingkat panas api ini?"
Namun meski dengan banyak gerutuan dan keluhan, Saka tetap mengambil satu lagi batu roh dan mencobanya dengan menekan energi api naga abadi miliknya, berharap tingkat panasnya tidak lagi melenyapkan batu roh dengan sia-sia.
Buzz!
Masih gagal.
Buzz!
Buzz!
Krakk!
Krakk!
Setelah tiga batu roh lenyap dan dua batu roh retak, kini Saka mampu menghela napas lega, menatap batu roh ke-7 miliknya yang diselimuti oleh api naga abadi, menjadi penerangan layaknya obor saat ia masih ada di bumi.
Saat satu masalah selesai, kini muncul masalah selanjutnya. Diletakkan di mana api-api ini?
Saka menatap ke sekeliling, melihat dinding-dinding goa yang datar layaknya dinding rumah. Tidak seperti saat di lorong dimana banyak tonjolan yang memudahkannya untuk menaruh sesuatu.
"Ah, kenapa aku bodoh sekali?" Saka menepuk keningnya pelan. Melupakan salah satu teknik pamungkas miliknya. Teknik array kuno. Untuk sekedar memanipulasi energi untuk membuat bola api miliknya melayang dengan teknik array adalah hal yang mudah.
Saka kemudian membuat beberapa gerakan tangan yang kemudian dia arahkan ke bola api dengan sedikit hentakan. Dalam hitungan hela napas, bola api melayang, dengan energi mental miliknya, Saka menempatkan bola api itu di salah satu sudut dinding.
Saka mengulangi lagi proses dari awal membuat bola api, hingga kini ruangan goa itu terang benderang dengan cahaya bola api di seluruh sudut dan dinding goa. Total ada sepuluh bola api termasuk yang ada di langit-langit goa.
Saka tersenyum puas melihat kreasi pertamanya. Kini, ia harus membuat formasi array ilusi untuk menyembunyikan keberadaan goa yang akan menjadi markasnya tersebut. Dengan riang, Saka berjalan keluar goa. Ia bahkan tidak tahu berapa lama waktu berjalan selama ia ada di goa. Saat sampai di mulut goa, Saka hanya mampu terkejut saat mendapati sinar matahari yang mulai mengintip di ufuk timur.
"Sudah pagi lagi?" pekiknya tak percaya.
Saka hanya mampu menggaruk kepalanya. Kemarin saat pergi, dia tidak berpamitan kepada Bi Sinta, perempuan penuh kasih sayang itu pasti sangat khawatir karena ia tidak pulang semalaman. Saka memang terlalu bersemangat hingga lupa waktu. Bahkan ia tak merasa lelah meski sudah menggunakan sebagian energinya untuk membuat bola api. Itu karena teknik penyerapan akan secara otomatis menyerap energi alam dan mengisi kembali energi yang telah digunakan. Apalagi di dalam goa terdapat banyak eliksir yang mengandung energi melimpah. Bahkan hanya tidur di sana saja, Saka sudah seperti berkultivasi.
Tak menunda waktu, Saka segera membuat formasi array ilusi di mulut goa. Meski keberadaan kabut dan pembatasan persepsi, Saka tak ingin mengambil resiko. Buktinya saja ada yang mampu menyimpan harta karun di sini, pastinya bukan hanya dirinya saja yang sanggup menakhlukkan pegunungan berkabut. Seperti kata pepatah yang sering ia dengar saat ada di bumi 'lebih baik mencegah daripada mengobati'. Selain formasi array ilusi, Saka juga menambahkan array pertahanan dan array penyerangan. Bertumpuk-tumpuk array ia letakkan di mulut goa, membuatnya tersenyum puas.
Saka memutuskan untuk pulang sejenak saat sebuah suara terdengar ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
❤👏🏼❤👏🏼❤👏🏼❤👏🏼❤
2024-04-19
1
Arif Ismawan
okb
2024-02-29
2
Reci Pawn
sistem milik si mc sungguh kocak /Facepalm//Facepalm/
2023-12-07
3