Matahari hampir terbenam saat rombongan Paviliun Bunga Mekar memasuki gerbang kota Tanica. Sampai saat itu juga, batang hidung Saka tak terlihat. Sofia beberapa kali membuka jendela karavan, menatap ke belakang berharap ada sosok yang tengah berlari mengejar rombongannya.
"Nona Sofia, apa yang kau lihat? Penipu itu pasti tidak akan muncul karena takut jika kita akan melaporkannya kepada Tuan Kota." Ansel tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat berharap jika bocah kecil yang membuatnya darah tinggi itu tidak pernah kembali. Syukur-syukur jika mati.
"Kata siapa?"
Ansel dan Sofia terperanjat saat mendapati di sebelah jendela sosok yang tadi merek perbincangkan tengah berjalan santai. Sofia sedikit mengernyit, padahal karavan ini ditarik oleh kuda-kuda yang sangat kuat. Kecepatan berlari kuda-kuda itu tak perlu diragukan lagi. Tetapi yang ia lihat kini seolah membalikkan semua pengetahuan yang dimilikinya.
"Bagaimana kamu bisa berjalan?" celetuk Sofia yang membuat Ansel dan Saka menatapnya aneh.
"Tentu saja karena aku punya kaki," jawab Saka dengan intonasi aneh. Bukankah ini adalah hal yang klasik?
"Bukan, maksudku ... kuda yang menarik karavan ini sangat cepat, tapi kenapa kamu terlihat bisa mengimbanginya hanya dengan berjalan?"
Saka menyeringai, kepalanya sedikit mendekat ke arah karavan. "Ra ... ha ... si ... a," ucapnya dengan terputus-putus disertai cengiran lebar yang membuat Sofia jengkel setengah mati sementara Ansel sudah mendidih. Jika tak teringat dengan misinya, Ansel pasti sudah meledak dengan emosinya. Dikuasai oleh emosi, bahkan Ansel tidak menyadari kelebihan Saka seperti yang dipertanyakan oleh Sofia.
"Kamu menyebalkan," desis Sofia, lalu membuang muka. Menatap ke arah depan meski sesekali melirik Saka dengan tajam.
Saka hanya tersenyum kecil. Saat marah, wajah Sofia akan memerah dan itu sangat lucu. Warna merah yang kontras dengan kulitnya yang sebening giok. Saka bahkan yakin jika di bumi, kecantikan Sofia akan membuat para anak muda rela menderita.
*
Rombongan berhenti di depan sebuah bangunan lima lantai yang masih sangat ramai. Saka tahu tempat ini, semua orang menyebutnya sebagai balai obat, dan hanya segelintir orang yang tahu jika Balai Obat adalah cabang dari Paviliun Bunga Mekar.
"Bukankah ini Balai Obat?" tanya Saka heran.
"Kau benar, Balai Obat adalah cabang dari Pavilun Bunga Mekar. Besok adalah hari resmi pembukaan Paviliun Bunga Mekar di kota Tanica. Akan ada pelelangan skala besar, kau harus datang!" jawab dan pinta Sofia.
"Benarkah? Kukira kalian ke sini hanya untuk sekedar berkunjung mengingat pengawalan kalian tidak terlalu tinggi." Saka lumayan terkejut, ini adalah informasi baru baginya. Meski sudah mendengar reputasi Paviliun Bunga Mawar, tetapi Paviliun itu hanya ada di kota-kota besar seperti kota Baya, kota Alang, kota Sido, kota Madin, kota Mojo dan kota-kota besar lainnya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran jika Paviliun Bunga Mekar akan mendirikan tonggaknya di kota kecil seperti Tanica.
"Para pengawal tinggi tinggal di kota Rogo, karena jarak yang lumayan dekat antara kota Rogo dan kota Tanica, aku hanya membawa sedikit pengawal. Sama sekali tidak menyangka di kota kecil ini akan ada bandit pembudidaya racun," jelas Sofia dengan nada sedikit menyesal. Jika saja ia membawa pengawal yang berada di ranah langit, pasti tidak akan kehilangan begitu banyak pengawal.
"Kota kecil justru menyimpan rahasia yang paling besar, jangan meremehkan hal itu," ucap Saka mengingat markasnya di Pegunungan Berkabut. Saka bahkan sudah tidak sabar dengan rahasia-rahasia lain yang disembunyikan dibalik kabut itu.
"Kau benar, aku terlalu ceroboh." Bahu Sofia mengendur. Ia merasa bersalah karena di tugas pertamanya sudah mengalami kerugian yang lumayan.
"Sudahlah! Tidak perlu disesali yang sudah terjadi, ke depannya berhati-hati saja dan jangan menganggap remeh apapun." Saka memberikan nasihat.
"Baiklah, tapi kau harus datang besok!"
Saka terkekeh. "Baiklah Tuan Puteri, aku juga penasaran dengan jalannya pelelangan."
"Kau belum pernah datang ke pelelangan?" tanya Sofia dengan heran.
Saka menggeleng. "Aku terlalu sibuk berlatih dan melakukan hal bodoh."
"Nona Sofia! Hari sudah malam, sebaiknya kau bergegas masuk!" teriak Ansel yang sudah ada di dalam.
Sofia hanya mendengus, lalu kembali menatap Saka.
"Kau mau masuk dulu?"
Saka menggeleng. "Aku akan pulang, besok aku ke sini saat pelelangan."
"Baiklah, terima ini!" Sofia memberikan sebuah lencana seukuran telapak tangan. Lencana perak dengan ukiran bunga middlemist camelia yang tegah merekah indah berwarna merah muda. Ukiran nama Paviliun Bunga Mekar tertulis di bawah bunga, melingkar mengikuti bentuk lencana.
Saka belum terlalu memahami kegunaan lencana itu, tetapi ia tetap menerimanya dan menyimpannya di cincin spasial.
"Masuklah! Aku akan pergi sekarang!" ucap Saka lalu melesat pergi menggunakan langkah angin, meninggalkan Sofia yang terpaku dengan menghilangnya Saka dalam hitungan detik.
"Cepat sekali!" gumamnya takjub.
*
Berjalan perlahan sembari memasang telinga, Saka mengamati kesibukan yang terjadi. Dengan menggunakan jubah hitam dan penutup kepala, tidak ada satu pun yang mengenali Saka.
"Apakah kau sudah mendengar berita pertunangan Tuan Muda kedua keluarga Hirawan?" Seorang pejalan kaki yang membawa sekarung ubi bertanya kepada temannya.
"Tuan Muda Kedua? Bukankah yang akan bertunangan dan menikah adalah Tuan Muda Pertama?" tanya yang satunya dengan heran.
"Kenapa kau sangat ketinggalan berita? Keluarga Caraka sudah memutuskan pertunangan antara Tuan Muda Pertama dengan Nona Caraka karena Tuan Muda Pertama sudah menjadi sampah. Kultivasinya hancur saat bertarung dengan monster di Pegunungan Berkabut. Nona Caraka kemudian memilih untuk bertunangan dengan Tuan Muda Kedua Hirawan."
"Benarkah? Bukankah Tuan Muda Pertama adalah seorang genius?"
"Kabarnya, Tuan Muda Pertama terpaksa bertarung dengan monster untuk melindungi Nona Caraka."
Temannya tersentak kaget. "Maksudmu, Tuan Muda Pertama kehilangan kultivasi karena menyelamatkan calon tunangannya, tapi sekarang justru calon tunangannya akan bertunangan dengan adiknya?"
"Kenapa aku bingung mendengar perkataanmu, ya? Tapi intinya memang seperti itu, bahkan kabarnya Tuan Muda Pertama sudah diusir oleh ayahnya sendiri dari rumah utama."
"Jahat sekali! Bukankah itu anaknya sendiri? Tapi lebih jahat keluarga Caraka. Sangat tidak tahu balas budi."
"Kau benar, keluarga Caraka memang sangat brengsek! Bahkan aku mendengar kabar jika pertunangan ini hanya salah satu cara untuk menguasai semua sumber daya keluarga Hirawan!"
"Kata siapa? Jangan menyebarkan rumor! Kalau keluarga Caraka tahu, kita bisa mati," bisik temannya sambil menoleh ke kanan dan kiri, takut jika pembicaraan mereka didengar oleh orang lain.
Saka tersenyum tipis mendengar itu semua, meskipun jarak antara dirinya dan dua orang itu lumayan jauh, tapi persepsinya masih menangkap pembicaraan mereka.
"Sebuah berita bagus, aku tidak menyangka jika keluarga Hirawan sedang bersiap-siap menyambut bandit berkelas," gumamnya dengan seringai penuh kemenangan. Jika seperti ini, ia hanya perlu menunggu. Sampai keluarga Caraka beraksi, dan keluarga Hirawan menyesal. Ia sungguh tak sabar melihat ekspresi mereka.
Dengan perasaan yang riang, Saka pulang ke kediaman keluarga Hirawan. Kesibukan terlihat sangat jelas, bahkan halaman kini sudah didirikan tenda dengan hiasan yang sangat indah.
Saka mengangkat bahu tak peduli. Ia hanya ingin bertemu Bi Sinta lalu tidur di kamarnya. Saka baru saja akan melangkah ke gerbang masuk saat sebuah seruan menghentikannya.
"Berhenti! Siapa yang memberimu ijin untuk masuk?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
K4k3k 8¤d¤
💗✌🏻💗✌🏻💗✌🏻💗✌🏻💗
2024-04-19
1
K4k3k 8¤d¤
semangat semangat terus semangat thor lanjutin update sampai tamat ditunggu sama para reader yang setia menanti mu update kembali
2024-04-19
1
Sang M
langsung bunuh aja jgn banyak cing cong. lindungi harga dirimu.
2024-02-08
3