“Sialan. Pakai acara lampu merah, lagi. Duh, pasti lama, nih,” tutur batin Caca.
Dia terus mengawasi arah laju motor Raditya, sampai lampu merah berakhir. Caca kembali melajukan motornya sangat kencang.
Dia berhenti di sebuah kafe dan mencari Raditya di dalam, tetapi tidak dia temukan.
“Kok gak ada, ya. Kemana, dia,” tutur batinnya. Tidak cukup sampai disitu, Caca juga berusaha menanyakan ciri-ciri Raditya yang dia lihat kepada karyawan kafe.
“Itu mbak orangnya ..” Salah satu kasir menunjuk sepasang kekasih yang sedang duduk di pojok dekat kolam.
“Mas yakin, dia yang bawa motor cowok itu?”
Caca menunjuk motor hijau yang sedang diparkir di depan, tepat di dekat pintu masuk kafe.
“Iya, Mbak. Mereka pelanggan kami, jadi kami sudah hafal. Memangnya ada apa ya?” tanya sang kasir dengan tatapan menyelidik.
“Gak apa-apa, Mas. Berarti aku salah orang. Ya udah, makasih ya ...”Senyum kekecewaan terlihat begitu jelas di raut wajah Caca.
Padahal dia sangat berharap lelaki itu Raditya. Apapun yang terjadi nanti, dia siap menghadapinya asalkan ada kejelasan hubungan antara dia dan Raditya. Tetapi takdir berkata lain. Lelaki itu hanyalah seseorang yang mirip dengan Raditya.
Caca melanjutkan perjalanan pulang. Tiba di rumah, ia kembali terkejut dengan kehadiran Bayu yang sudah berada di teras rumahnya.
“Bay, kamu udah lama disini?” tanya Caca.
“Baru 10 menitan, Ca.” Sembari memakan camilan yang sudah disuguhkan.
“Ada info apa soal Raditya?”
“Duduk dulu lah, Nona. Masa baru pulang kerja sudah nyerocos begitu,” ucap Bayu.
Sesuai perintahnya, Caca segera duduk di kursi samping Bayu. Tetapi polisi muda itu tidak segera bercerita, hingga Caca merasa kesal dan memukul lengan Bayu.
“Au! Sakit, Non. Tanganmu kurus, penuh tulang, jangan mukul-mukul.” Mereka berdua tertawa bersama, karena memang akhir-akhir ini badan Caca menjadi kurus.
“Sebenarnya Raditya ngelarang aku buat cerita ke kamu. Tapi aku takut kamu kepikiran berlebihan, terus sakit. Jadi aku kasih tahu, tapi jangan bilang-bilang ke Raditya, ya. Pura-pura nggak tahu saja. Bisa nggak?” tanya Bayu.
Caca mengangguk, “Insyaallah bisa.”
“Dia lagi tugas ke Fak Fak. Tapi bulan depan katanya sudah pulang kesini lagi.”
“Jauh banget, Bay. Sejak kapan dia disana? Kok gak pamit ke aku, sih.” Hati Caca sedikit lega mendengar kabar dari Bayu.
Kini ia sudah bisa tersenyum lebar kembali, dan tidak lagi murung seperti hari-hari yang lalu.
“Sudah cukup lama, Ca. Aku juga lupa, sudah berapa bulan. Dia sengaja nggak kasih tahu kamu karena dia yakin, kamu pasti khawatir dengannya,” ucap Bayu.
Sunyi sejenak. Tidak ada lagi perbincangan antara Caca dan Bayu, sampai rintik hujan turun dan Bayu bergegas menaikkan motornya di teras rumah Caca, sesuai perintah Caca.
“Aku ganti baju dulu ya, Bay! Kamu masuk aja. Mau aku bikinin kopi, gak?” tanya Caca.
“Boleh, Ca. Makasih, ya ...” Bayu segera pindah duduk di ruang tamu, sembari membaca pesan masuk yang sudah menumpuk di ponselnya. Ada satu pesan dari Raditya.
Raditya : Bay, tolong belikan kado buat Caca, ya. Lusa dia ulang tahun. Bilang ke dia kalau aku akan datang setelah ini dengan pencapaianku yang aku janjikan ke dia dulu.
“Aish .., sobat yang satu ini memang benar-benar romantis. Dia memang layak untuk jadi pendamping Caca. Kalau aku sih, nggak akan mungkin cocok buat Caca,” tutur batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments