Raditya Ke Lain Hati?

Lelaki itu menghilang begitu saja. Kala itu Caca semakin murung dan berpikir yang aneh-aneh tentang Raditya. Hingga akhirnya, ia memilih mundur dan tidak lagi mau mengharapkan pembuktian apapun dari Raditya.

"Kayaknya ..., aku milih mundur aja deh, Ras. Aku sadar diri, aku ini orang apa dan Raditya orang apa. Kita berdua beda level. Beda jauh, malah. Kayak langit dan bumi," celetuk Caca.

Gadis tomboy menoleh dan terkejut dengan perkataan sahabatnya. Caca yang ia kenal tidak pernah insecure dalam segala hal, kini tiba-tiba menjadi seorang yang lemah dan insecure.

"Lo kesambet apaan sih, Ca? Tumbenan jadi insecure gitu?" tanya Saras.

"Bukannya insecure, tp emang bener, 'kan .. Apa yang aku omongin? Kita emang beda level."

"Emang lo demen sama Raditya? Bukannya lo dulu bilang ke gue, kalau lo biasa aja sama dia?"

Sejenak Caca termenung. Dia baru ingat kalau beberapa bulan yang lalu, dirinya pernah mengatakan hal itu ke teman-temannya.

"Ya .. Itu 'kan dulu, Ras. Lama-lama rasa cinta itu tumbuh gitu aja. Aku juga gak tahu, kapan datangnya cinta itu," jawab Caca.

Senyuman miring, saat itu yang Saras berikan kepada Caca. Dia merasa kalau apa yang diucapkan Caca semuanya adalah dusta.

"Bilang aja kalau dari dulu lo juga demen sama Raditya, tapi gengsi," tutur batin Saras.

***

Cinta. Apa itu cinta? Bahkan sampai detik ini, Aku belum juga paham dengan artinya cinta. Jika cinta itu anugerah yang indah, Lantas mengapa cintaku selalu hitam pekat? Mengapa tak pernah memberikan keindahan?

Coretan hati, ia sampaikan di dinding sosial medianya dengan sengaja. Sangat berharap Raditya membacanya, sebelum tulisan itu menghilang karena sudah 24 jam berlalu.

Berulangkali Caca mengintip penonton story nya, tapi belum juga muncul nama Raditya disana. Pada akhirnya, hanya lelah dan rasa kantuk yang menemaninya hari ini. Di kafe milik Saras, gadis itu memejamkan mata alias tertidur.

"Ca, bangun. Maaf ya, aku lama nggak kasih kabar ke kamu."

Belum ada 30 menit, ia sudah bermimpi didatangi oleh Raditya. Hingga ia terbangun dan menoleh ke kanan kiri, mencari Raditya yang ternyata tidak ada di kafe.

"Radit tadi kesini ya, Ras?!" tanya Caca.

"Hah? Radit? Kagak ada Radit disini daritadi. Lo lama-lama bisa gila, Ca kalau kayak gini ceritanya. Baru ketiduran sebentar aja udah mimpiin dia," ujar Saras, tanpa menghentikan gerakan tangan membuat es jus pesanan.

Menghela nafas kasar dan kembali letih lesu. Caca kembali membuka sosial medianya dan melihat Raditya telah membaca story nya.

Tapi bukan bahagia yang ia hasilkan, melainkan kesedihan yang semakin dalam. Semua tidak sesuai dengan ekspektasinya.

"Kok dia diem aja, sih. Gak komentar apa atau apa, gitu," gerutunya dalam hati.

"Ras, aku pulang dulu ya!" teriak Caca, sembari bergegas keluar dari kafe.

Saras hanya diam, mematung. Dia sudah tidak heran dengan sikap Caca yang moodian dan seringkali mendadak tidak punya sopan santun, saat sedang ada masalah.

***

Di perjalanan pulang, tidak sengaja Caca bertemu dengan seorang pemuda yang memakai motor milik Raditya, sedang bersama seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian dinas salah satu instansi negara.

"Radit!" teriaknya. Kala itu Caca segera menambah kecepatan laju motornya, hanya untuk mengejar pemuda yang ia yakini adalah Raditya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!