Sulit Didapatkan

"Emangnya serius, kamu sekarang pacaran sama Polisi? aku nggak salah dengar, 'kan? Oh, aku paham. Mungkin yang lagi pacaran sama kamu ini Polisi gadungan kali ya, makannya mau sama kamu. Kalau Polisi beneran mana mau sama perempuan seperti kamu. Nggak selevel, lah." Dia tersenyum miring.

"Oh begitu ... jadi kamu mengira saya ini Polisi gadungan? Sebentar ya, saya tunjukkan KTA saya." Raditya membuka dompetnya dan mengeluarkan KTA nya, lalu menunjukkannya ke wanita tersebut, sehingga wanita itu menjadi semakin terkejut dan merasa sangat kesal.

Perempuan jahat itu mendecih, lalu pergi dari kafe tersebut tanpa sepatah kata terakhir. Sementara Caca menghela nafas berat dan berterima kasih pada Raditya karena sudah membelanya. Raditya kemudian bertanya kepada Caca–kronologi masalahnya dengan perempuan itu.

Dia juga menanyakan identitas perempuan itu kepada Caca, tapi Caca tidak menceritakannya secara keseluruhan karena bagi Caca itu adalah masalah pribadinya yang tidak selayaknya diketahui orang orang lain, apalagi orang yang baru dia kenal.

"Dia kekasih barunya Haikal yang akan dinikahi. Dia memang sangat benci sama aku, tanpa aku tahu sebabnya apa. Ya ..., walaupun seharusnya yang pantas marah, 'kan aku. Tapi ya sudah lah, gak usah dibahas. Kita lanjut makan aja, habis ini juga aku harus kembali ke studio, 'kan," ujar Caca sembari tersenyum.

Raditya terus memandangi Caca sembari menikmati makanannya, "Kasihan Caca. Dia gadis yang baik sebetulnya, tapi banyak sekali yang jahat sama dia. Aku salut sama Caca karena dia nggak pernah membalas kejahatan itu dengan kejahatan juga," gumamnya dalam hati.

***

"Ca, nanti saya antar pulang, ya. Saya tahu sih, kalau kamu bawa motor. Tapi setidaknya saya bisa jaga kamu dari belakang," ujar Raditya saat selesai makan.

"Aduh, gak usah lah, Radit. Kayak apa aja, dikawal. Aku udah terbiasa pulang sendiri kok, tenang aja. Pasti gak ada apa-apa, aman disini." Nada bicara Caca sudah mulai sedikit halus, tidak seperti biasanya yang dingin dan kaku.

Dia juga sudah bisa tersenyum lebar. Semua itu terjadi karena dia merasa berhutang budi dengan Raditya.

Polisi muda itu memandang Caca dengan tatapan mata yang berbeda. Dia merasa bahagia karena Caca sudah berbeda dari yang dulu. Kini Caca sudah menjadi wanita yang lembut dan tidak lagi kaku.

Senyumannya juga membuat Raditya meleleh dan semakin ingin dekat dengannya. Kini mereka berdua kembali menuju ke studionya Caca.

"Caca, terima kasih ya ..., kamu sudah mau menemani saya makan siang hari ini. Semoga kamu nggak bosan berteman dengan saya. Dan ..., maaf kalau ada kata-kata ataupun perilaku saya yang kurang menyenangkan hari ini," kata Raditya.

Caca tertawa, "Ngomong apaan sih, Dit. Ya …, sama-sama. Kita 'kan berteman, aku juga terima kasih karena kamu udah mau berteman sama aku. Semoga aja kamu betah ya, sama kelakuan aku yang selalu ngeselin.

"Astaghfirullah …, ketawa mulu nih cewek. Bikin dag dig ser saja," gumamnya dalam hati.

Raditya berpamitan ke Caca untuk kembali ke kantor. Dia melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup lirih, sembari melambaikan tangannya ke Caca. Dia menjadi lebih bahagia karena lambaian tangannya dibalas oleh Caca dengan lambaian juga.

"Cie …, yang habis kencan sama pak polisi. Gimana, seru nggak?" tanya Lita.

"Apaan, sih. Biasa aja." Caca mengerutkan dahinya, lalu duduk di kursinya dan menaruh tasnya.

Dia juga sesekali tersenyum pada lita. Lalu menceritakan sedikit tentang kejadian tidak mengenakan yang dia alami di cafe itu.

***

Lain halnya dengan Raditya yang baru sampai kantor sudah bercerita panjang lebar tentang kencan pertamanya dengan Caca, ke temannya se kantor. Dia merasa sangat bahagia dan dia juga heran dengan dirinya sendiri, karena dari dulu tidak pernah bisa sebahagia ini kalau mengenal perempuan.

"Jelas aja kamu bahagia, Pak. Kan kamu jatuh cinta sama dia. Gimana, sih." Bripda Andika dan Bripda Firmansyah terkekeh–meledek Raditya.

"Masa, sih. Perasaan, enggak mungkin lah kalau saya jatuh cinta sama dia. Kan kita baru ketemu, baru kenal juga. Masa ya secepat itu orang jatuh cinta," jawab Raditya–mengelak.

"Ya ..., sekarang mungkin belum menyadari. Tapi nanti lama-lama juga sadar sendiri kalau Pak Radit itu lagi jatuh cinta sama Mbak Caca itu," sahut Firmansyah.

Andika dan Firman adalah teman satu angkatan Raditya yang kebetulan juga teman satu kantornya. Mereka berdua adalah sahabat yang sangat dekat dan selalu hidup suka duka bersama.

Mereka selalu berbagi cerita suka dan duka, bahkan tidak segan-segan memperkenalkan pasangannya masing-masing. Tidak hanya itu, mereka bertiga juga sekarang sama-sama jomblo dan senasib–sama-sama korban tersakiti oleh perempuan yang mereka cintai dengan setulus hati.

Raditya mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan whatsapp ke Caca. Dia sudah merasa rindu dengan senyuman Caca, walaupun baru beberapa jam dia berpisah dengan Caca.

Bagi Raditya, senyuman Caca membuatnya candu dan beberapa hari ini membuatnya sulit tidur malam karena terbayang selalu dengan tawa dan senyuman manis Caca– seorang gadis yang bertubuh mungil dan berusia lebih tua 3 tahun di atas Raditya.

Bripda Raditya (13.30) : Assalamualaikum. Caca, nanti pulang jam berapa? Saya jadi jemput kamu ya, saya lagi pengen main ke rumah kamu sebentar, saja. Boleh 'kan?

Caca (14.20) : Aduh, maaf ya. Lain kali aja ya kalau main ke rumah. Soalnya aku habis ini mau kerja lagi, jadi aku pulang cuman mandi dan siap-siap aja, habis itu berangkat lagi. Maaf ya ...

Bripda Raditya (14.22) : Oh, begitu. Memangnya kemana? boleh saya antar? saya cuman memastikan saja kalau kamu dalam posisi yang aman. Saya nggak ingin kamu kenapa-kenapa, apalagi sepertinya musuh kamu banyak banget, kan.

Caca (14.23) : Kayaknya nggak usah, deh. Nanti takutnya malah jadi gosip. Masa cuman gitu aja, bawa-bawa Polisi, sih. Udah dulu ya, aku mau pulang. Assalamualaikum.

Raditya menghela nafas kasar. Dia merasa kecewa, tetapi dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dia mencari cara supaya bisa mengikuti Caca dari jauh. Karena dia benar-benar khawatir dengan Caca, semenjak kekasihnya Haikal mencaci maki Caca di kafe tadi.

Dia melihat jam tangannya yang sudah pukul setengah tiga lebih lima menit. Dirinya sangat ingin keluar dari kantor untuk mengikuti Caca, tetapi mengingat jam kerjanya belum berakhir dan dia tidak mungkin meminta izin kepada atasannya hanya untuk urusan pribadi yang tidak terlalu penting.

Perasaan resah dan gelisah mulai datang menghampirinya–membuatnya pada akhirnya memilih untuk menelpon Caca, agar hatinya bisa sedikit lebih tenang. Namun sayangnya telepon Raditya tidak diangkat oleh Caca, sehingga perasaan Raditya menjadi semakin tak karuan.

"Gimana, ya. Apa aku telepon temannya yang punya kafe itu saja? Tapi ... Nanti dia jadi curiga sama aku," tutur batin Raditya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!