Tujuh Bulan Kemudian

“Maaf, Mbak. Toko ini punya siapa, ya?”Masih cukup pagi, Caca menelusuri kota hanya demi mencari tahu kabar Raditya yang tiba-tiba menghilang. Dia pergi ke sebuah toko kecil yang berada di ujung jalan Senayan–jalanan yang sering dia lalui.

“Memangnya kenapa, Mbak?”Pramuniaga itu bertanya kembali dengan tatapan menyelidik.

“Ah, gak apa-apa, sih. Cuma tanya aja, pengen tahu boss kamu yang mana karena tokonya mirip sama yang diunggah oleh teman saya di sosial media,”ujar Caca–membohongi.

Salah satu pramuniaga tiba-tiba menunjuk ke dinding belakang tempat duduk kasir. Ada sebuah foto yang membuat Caca terkejut.

Caca tersenyum, “Alhamdulilah ... Ternyata dia benar-benar serius membuktikan cintanya ke aku,”tutur batinnya.

“Oh, ya sudah, Mbak. Saya ambil outer ini satu ya, Mbak.”Pura-pura menjadi pembeli adalah cara yang ia pakai saat ini. Dengan hati yang berbunga-bunga, Caca keluar dari toko mini tersebut dan menuju ke kafe sahabatnya.

***

Sembari menunggu sang sahabat selesai melayani para pelanggannya, ia menyempatkan mengirim pesan ke Raditya hanya untuk basa-basi, memulai komunikasi yang sempat hilang. Sayangnya, ceklis satu berwarna abu-abu yang ia dapati.

Sesaat keningnya berkerut. Menghela nafas berat karena kecewa. Pikirannya mulai mengganggu mood nya. Over thinking, bahasa gaulnya. Sejenak ia melamun dan berharap ceklis satu itu segera berubah menjadi dua.

“Kenapa, Ca?”tanya Saras, sembari menarik kursi dan duduk di depan Caca.

“Tujuh bulan, aku gak dengar kabar dari Radit. Barusan coba aku japri, tapi ceklis satu.”

“Sibuk, kali. Dia 'kan polisi, jadi wajar kalau dia suka ghosting anak orang,”sahut Saras.

“Apa dia marah kali ya, sama aku?”Caca memandang Saras sangat serius. Begitu pun dengan Saras yang belum mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu.

“Emang lu kenapa? Orang dia sendiri yang kagak hubungin lu,”ujar Saras lagi.

“Dulu aku pernah bikin tantangan sama dia, Ras. Aku mau jadi istrinya dia kalau dia bisa punya kerjaan sampingan dan dia janji bakal buktikan. Hari ini aku cari tahu tentang toko baru yang ada di ujung Senayan itu, ternyata punya dia.”

“Oh ..! jadi ceritanya, hari ini lu mau bilang ke dia kalau lu mau jadi istrinya, gitu?”Gadis berbahasa gaul itu tertawa tidak ada habisnya.

Baginya tindakan Caca adalah sebuah kekonyolan yang baru pertama kalinya dia dengar dari sahabat nya tersebutnya.

“Kenapa, sih?! Malah ngakak gitu ..”gerutu Caca.

“Kamu ini lucu, Ca. Cinta sejati itu kagak kenal syarat, kagak punya kata tapi dan alasan. Kalau lu kasih dia syarat, bisa aja lama-lama dia mikir kalau lu itu kagak serius sama dia, terus dia berubah pikiran.”Lagi-lagi ia menertawakan Caca yang sedang sedih dan resah.

Gadis mungil mendadak diam, melamun. Dia berpikir negativ tentang Raditya yang menghilang tanpa kabar. Takut apa yang dikatakan oleh Saras itu benar-benar terjadi.

“Apa iya, Raditya berubah pikiran dan sekarang udah punya pasangan, jadi dia ganti nomor,”tutur batinnya.

“Udah deh, kagak usah dipikirin. Mending nge es aja, mumpung gue lagi baik hati. Lu mau makan dan minum apa aja, gratis,”ujar Saras.

Tetapi Caca hanya meliriknya dan tidak berminat menjawab. Hingga Saras bertanya yang ke dua kalinya, baru ia mau bicara. Jari-jari kecilnya menari di atas layar ponsel miliknya. Dia menghubungi Bayu dan menanyakan keberadaan Raditya saat ini. Tapi sayangnya ...

Bayu : Waduh, maaf ya, Ca. Aku nggak bisa kasih tahu kalau tentang posisi Raditya karena itu rahasia.

Caca : Rahasia? emangnya kenapa kok main rahasia-rahasiaan, gitu? apa dia udah nikah? Udah punya calon?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!