Disudut ruangan yang luas, bersih dan harum. Tampak seorang gadis sedang duduk termenung dengan menopang dagu. Memandang ke arah luar jendela ruangan, tanpa ada gerakan tubuh.
Seorang pemuda menghampirinya dan menegurnya. Teguran pertama, tidak dia hiraukan. Teguran kedua pun sama. Hingga di akhir teguran, pemuda itu mengeraskan suaranya yang membuat gadis tersebut tersentak dan menengok ke belakang–memandangnya.
"Ngagetin aja, sih." Dia menatap pemuda itu dengan tatapan kesal.
"Gimana mau gak kaget, kalau nglamun? Di tegur dari tadi gak nyaut sama sekali," ujar Sandi–kakak kandungnya.
"Ya, maaf. Aku yang salah," jawab Caca–lirih.
"Mikirin apa, sih, sampai segitunya?" tanya Sandi.
Caca enggan menjawab pertanyaan kakaknya. Alih-alih menjawab, dia malah pergi meninggalkan ruangan untuk mengambil minuman dingin. Kali ini Caca benar-benar jenuh–merasa bosan dan kesepian dengan statusnya yang masih saja jomblo.
Akan tetapi, dia juga masih malas menanggapi lelaki yang seringkali membuatnya ilfeel. Baginya, semua lelaki yang mendekatinya hanya membuatnya ilfeel saja dan berakhir emosi.
Ting Tung! Suara bel rumah berbunyi–sangat keras. Sandi bergegas pergi–menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian, Caca mendengar suara teriakan Sandi yang memanggil namanya.
"Ada apa, sih. Masih pagi, udah teriak-teriak!" ujar Caca dengan nada tinggi.
"Ini lo, ada kiriman kue buat kamu. Enak kayaknya, Ca. Minta, dong ..." Sandi terkekeh, sembari menyodorkan box kue yang dia pegang itu ke Caca.
Dengan mengerutkan alisnya, Caca menerima box kue itu dan membukanya. Dia tersenyum karena bentuk kuenya lucu-lucu. Tertulis namanya juga di atas kue, sebagai hiasannya.
"Dari siapa ya, ini. Nggak ada nama pengirimnya, Mas," kata Caca.
Sandi mengendikkan bahunya, "Mana aku tahu ..." Dia lalu pergi meninggalkan Caca.
"Aneh banget, sih. Jadi ngeri mau makan. Jangan-jangan ada racunnya," ucap Caca dengan suara lirih.
Caca meletakkan kue itu di meja makan. Matanya melihat sekilas, ada secarik kertas terlipat yang di selipkan pada box kue. Dia segera mengambil dan membukanya.
***
Assalamualaikum, gadis jutek. Maaf, kalau pagi-pagi sekali, saya membuatmu terkejut dan kebingungan. Saya hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi melalui kue ini, sebagai awal pendekatan saya. Saya yakin, kamu mau menerima niat saya karena saya tahu, kamu sebetulnya adalah orang baik.
Saya harap, kamu suka dengan kuenya. Tapi saya minta maaf, sebab kue yang saya berikan bukanlah kue yang mahal. Tapi percayalah, ketulusan saya sangat mahal dan berkelas untukmu. Hehe
Selamat Pagi, Raditya.
***
Caca tertawa, "Orang konyol," ujarnya sembari mencicip satu kue dan kembali ke ruang kerjanya dengan membawa surat itu, lalu menyimpannya di laci meja kerjanya.
"Assalamualaikum, selamat pagi!" sapa Sahida dengan suara keras dan ceria.
"Waalaikumussalam ... Ceria banget, Da ...," tegur Sandi.
"Ya iya, dong. Harus ceria dan semangat. Biar rezekinya betah." Sahida terkekeh.
Gadis itu masuk ke ruang kerja Caca dan menyapanya juga, seperti biasa. Namun Caca hanya menjawabnya dengan sangat datar. Dia lebih memilih menceritakan kekonyolan Raditya di pagi hari ini yang membuat Sahida turut heran.
Mereka berdua sempat berpikir 'bagaimana bisa Raditya tahu alamat rumah Caca' sedangkan mereka tidak pernah memberi tahu Raditya tentang alamat rumah Caca.
Akan tetapi Sahida tidak peduli dengan hal tersebut. Dia segera menuju ke ruang makan untuk mengambil beberapa kue milik Caca dari Raditya dengan seizin Caca. Kue coklat dan tiramisu itu terasa begitu lezat, bagi Sahida.
Dia juga sempat mencari-cari alamat toko kue tersebut pada kotak kuenya, tetapi tidak ada alamatnya. Dia hanya menemukan beberapa akun sosial media, toko kue tersebut.
Rasa penasaran tingkat dewa pun muncul dalam diri Sahida, sehingga dia memutuskan untuk segera mencari akun instagram toko tersebut dan memfollow nya.
"Ngapain sih, kamu? sibuk banget, kayaknya," tegur Caca.
"Kepoin akun toko roti. Sumpah, rotinya enak banget, Ca. Aku mau pesan deh, besok," ujar Sahida. Caca hanya nyengir, sembari memandang sahabatnya yang sedang asyik memakan roti tersebut.
"Da, aku lama-lama makin sebel deh, sama Raditya itu." Caca dan sayyidah kini saling bertatap mata.
"Aduh, Ca. Kalau kamu sih dari dulu aku udah nggak kaget, sih. Pokoknya sejak kamu putus sama Haikal, kamu jadi Caca yang berbeda dari yang dulu, aku kenal," kata Sahida.
"Beda gimana, maksudmu? Prasaan B aja, tuh," sahut Caca dengan muka murung.
"Itu kan perasaanmu, bukan perasaan aku, sebagai orang lain. Apalagi sebagai sahabat kamu. Ya …, pokoknya kamu itu beda. Kamu sekarang jadi dingin banget sama cowok dan kamu jadi jutek, judes banget. Pokoknya nggak banget, deh." Gadis itu mengerutkan alisnya sembari melirik ke arah Caca.
Caca hanya bisa menghela nafas berat, sembari diam sejenak. Sebelum akhirnya, dia menjelaskan pada Sahida tentang perasaannya saat ini. Dia bercerita kalau dirinya masih belum siap untuk jatuh cinta lagi setelah dia mengalami patah hati yang luar biasa dengan Haikal.
Dia bahkan merasakan sedikit trauma dengan lelaki. Sebab terlalu banyak dan terlalu sering, beraneka kebohongan Caca dapatkan dari mulut lelaki.
Untuk saat ini, Caca hanya ingin merasakan ketenangan hidup dengan kesendirian, hingga perasaannya sudah jauh lebih tenang dan siap untuk memulai hubungan percintaan kembali dengan orang yang baru.
Bagi caca tidak mudah untuk mengobati rasa trauma tersebut apalagi trauma yang dia alami menyangkut pekerjaan yang itu artinya menyangkut hidupnya juga. Gadis pecinta bunga azalia itu tidak ingin kejadian seperti dulu terulang kembali. Sebab jika itu terjadi, pasti bisa menghancurkan hidupnya lebih parah lagi.
"Ya sudah lah. Terserah kamu aja, mau yang bagaimana dan kayak apa. Yang penting adalah …, kamu sehat walafiat dan bahagia selalu. Karena aku nggak mau lihat sahabat aku terus-terusan sedih, galau, merana." Sahida tersenyum.
"Ca, habis ini kita keluar, yuk. Cari udara seger, sekalian jajan," ujar Sahida.
"Okey, lima menit lagi kita keluar. Aku juga jenuh, nih, di rumah." Caca mempercepat pekerjaannya agar bisa segera keluar jalan-jalan dengan Sahida, tanpa memikirkan pekerjaan yang belum selesai.
***
Caca dan Sahida menuju ke cafe saras untuk nongkrong cantik di sana, karena sudah cukup lama mereka tidak mengunjungi cafe milik Saras.
Tiba di cafe, mata Caca dikejutkan dengan adanya seorang pria blesteran yang memiliki paras seperti opa-opa Korea, sedang berada di cafe nya Saras. Gadis itu sempat berhenti dan mengajak Sahida untuk kembali pulang, tetapi Sahida menolak.
"Sudah lah, Ca. Biasa aja, nanggepin tuh orang. Mau sampai kapan kamu menghindar dari dia? Selagi kamu masih ada di dunia ini, kamu nggak bisa menghindari dia," ujar Sahida.
"Iya, aku ngerti. Tapi kamu tahu sendiri 'kan, Da …, dia itu suka cari gara-gara sama aku. Aku nggak mau ya, ribut di depan banyak orang. Aku udah kapok sama yang dulu-dulu, Da. Dah lah, kita balik aja. Kita kesini nanti aja." Wajah Caca mulai semburat merah.
Dia mencoba berkali-kali untuk merayu Sahida, agar mau kembali pulang. Namun kali ini sebuah ketidak peruntungan yang membaca dapatkan sebab tidak tidak mau pergi dari cafe saras. Dia tetap ingin nongkrong di tempatnya Saras.
Bahkan Sahida juga tak sekali dua kali menenangkan Caca yang kini sedang gugup, karena harus bertemu dengan Haikal secara tidak sengaja di cafe tersebut.
Dengan hati yang bergemuruh karena masih memiliki perasaan yang kesal, kecewa dan sakit hati, Caca terpaksa masuk ke cafe tersebut dan pura-pura tidak tahu dengan keberadaan Haikal–mantannya yang sangat dia benci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments