"Ca. Saya minta nomor WA mu dong," kata Raditya.
"Em ... Gimana ya, kayaknya aku belum bisa ngasih, deh. Kamu hubungi Sahida aja kalau butuh apa-apa sama aku," jawab Caca.
"Haduh ... angel. Seperti artis saja, ribet nya minta ampun. Terkenal juga enggak," gerutu Raditya sembari membuang muka.
"Yhe ..., aku emang terkenal dari dulu di kota ini. Elu aja yang nggak kenal aku. Dah lah, aku mau pulang. Bye!" Caca meninggalkan kamar Raditya sambil melambaikan tangannya dengan sedikit teriakan.
Raditya berteriak memanggil nama gadis jutek itu dan menyuruhnya untuk berhenti. Raditya turun dari ranjangnya, lalu menghampiri sang gadis dan memberinya sebuah bros hijab berbentu kepala kelinci dengan warna pink–kesukaan Caca. Dia menghampiri Caca sambil membawa tiang infusnya.
Caca terkejut dan tampak kebingungan dengan sikap Raditya yang mendadak baik dan manis. Sebetulnya Caca senang dengan perlakuan Raditya di menit-menit itu. Tetapi, dia tidak ingin ke GR-an dan di anggap gampangan oleh Raditya.
"Apa ini? Buat apa?" tanya Caca sambil menerima kotak kecil dari Raditya.
"Buat nakutin tikus. Nanya mulu, heran saya. Ya itu hadiah buat kamu karena kamu sudah mau tepati janji. Maaf, saya nggak bisa kasih hadiah mahal," jawab Raditya.
Caca membuka kotaknya di hadapan Raditya, "Ih, lucu banget ini ..., serius ini buat aku?" tanya Caca lagi.
Raditya berusaha merebut hadiah itu dari tangan Caca, "Sini balikin kalau nggak mau," ucapnya dengan nada sedikit kesal.
Caca tertawa dan mengatakan kalau dirinya sangat suka dengan pemberian Raditya. Gadis jutek itu mengucapkan terima kasih pada Raditya, sebelum dia pergi untuk kembali pulang.
Pria manis yang sedang berdiri dihadapan Caca, sempat diam sejenak–mengamati Caca yang sedang tersenyum bahagia, sebelum akhirnya dia mempersilakan Caca untuk pulang. Raditya masih terus memandang Caca hingga menghilang dari kamarnya.
Semakin hari, dia semakin penasaran dengan Caca. Tanpa sadar, dirinya tersenyum sendiri di dalam kamarnya. Tak lama, Bayu datang untuk menjenguknya bersama dengan AKBP Wahyu dan Ipda Fikri, selaku senior dan atasannya.
"Selamat Malam, Komandan," ucap Raditya dengan memberikan sikap penghormatan.
"Malam. Bagaimana keadaanmu hari ini, Radit?" tanya AKBP Wahyu.
"Siap. Alhamdulilah membaik, Komandan. Besok, Insya Allah sudah bisa pulang tapi belum boleh beraktifitas," jawab Raditya.
"Ya, tidak apa-apa. Yang terpenting sehat dulu, istirahat biar lekas pulih kembali. Saya ada penghargaan buat kamu yang akan saya berikan nanti, saat kamu telah bekerja kembali." AKBP Wahyu tersenyum dan menepuk bahu Raditya.
Mereka berempat mengobrol santai cukup lama. Sesekali juga bercanda tawa. Ingin sekali Raditya bercerita ke Bayu tentang Caca, tetapi kedua seniornya masih ada di dalam kamar. Raditya sangat berharap, kedua seniornya memberikan kesempatan waktu untuknya bicara dengan Bayu.
Namun sangat di sayangkan sekali, sampai mereka kembali pulang, Raditya tidak punya kesempatan untuk bicara empat mata dengan Bayu.
***
Terkadang, tanpa kita sadari Tuhan telah mengganti bahagia yang kita punya dengan bahagia lain yang baru. Mungkin wujudnya lebih sederhana dan mungkin juga sepele daripada yang dulu.
Tetapi, terkadang justru itu yang terbaik untuk kita. Aku percaya, Tuhan selalu berikan yang terbaik untuk seluruh hamba-Nya. Sebab itu, aku terus mencoba belajar untuk mensyukuri apapun yang telah kumiliki saat ini.
by Caca
Barisan kata yang Caca tulis pada story instagramnya–malam ini. Kata-kata yang murni keluar dari dalam hati. Dua tahun sudah, bahkan lebih. Caca berpisah dengan Haikal dan selama itu juga Caca belajar menerima kenyataan, belajar mensyukuri hidup dan belajar menikmati hidup dengan apa adanya.
Meski terkadang sulit dan berulang kali terjebak dalam masa lalunya, tetapi Caca tidak pernah memiliki keinginan untuk menyerah. Dia tetap berusaha bangkit menjadi Caca yang lebih baik dan melupakan segala masa lalunya.
Malam ini, tepat jam sebelas malam. Gadis bertubuh mungil itu mematikan lampu kamarnya dan lekas memejamkan mata–beristirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok dia masih harus menepati janjinya–menjaga Raditya di rumah sakit.
***
Denting piano terdengar merdu di sebuah ruangan bernuansa pink dengan dinding yang penuh cahaya lampu bintang-bintang. Seorang gadis perlahan menggerakkan tubuh dan matanya.
Dia menarik kedua tangannya keatas, lalu bangun dan duduk termenung di atas tempat tidurnya sembari mengayunkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Hanya beberapa saat saja, kemudian dia turun dari tempat tidurnya untuk pergi mandi.
Namun, ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Sahida yang mengabarkan bahwa Caca hari ini tidak perlu ke rumah sakit lagi karena Raditya sudah boleh pulang.
"Serius, Da?" tanya Caca.
"Dua rius, Ca," jawab Sahida.
"Alhamdulilah ..., akhirnya aku merdeka dari orang itu!" teriak Caca dengan riang gembira.
"Orang aneh. Ca, kamu itu jangan menutup hati lama-lama. Nanti nggak laku loh," ujar Sahida.
"Hadeh ..., jodoh itu di tangan Tuhan, Da. Semua pasti ada jodohnya. Nggak usah khawatir begitu, kali." Caca tertawa.
"Ya tapi nyatanya masih ada tuh, yang nggak nikah. Lagian kamu nyari model seperti ap—" Perkataan Sahida terputus, sebab Caca memutus pembicaraan dia dan segera mematikan teleponnya.
Sahida menggerutu di rumahnya sendiri. Tak sanggup merasakan perubahan Caca–sahabatnya yang dulu dia kenal sangat baik dan ramah. Kini Caca menjadi seseorang yang asing baginya.
Sahida mengambil tas dan helmnya, lalu berpamitan ke suami tercintanya untuk berangkat ke rumah Caca. Seperti biasa, setiap kali libur kerja, Caca selalu memintanya untuk menemani jalan-jalan kemana pun yang Caca mau. Sebab Caca tidak lagi memiliki teman perempuan yang single–yang bisa diajak healing.
***
Sampai di rumah Caca, dia dipaksa untuk ikut sarapan bersama Caca dan keluarganya, sebelum berangkat. Caca memang seseorang yang terbiasa hidup disiplin sejak kecil. Orangtuanya tidak pernah mengizinkan Caca bepergian sebelum dia sarapan. Meski berangkat sekolah atau kerja sekali pun.
"Da, berangkat sekarang yuk," ucap Caca setelah selesai makan.
"Istirahat dulu, Ca! Baru selesai makan kok sudah jalan!" teriak ibunya.
Caca menghela nafas kasar, "Iya!" teriak Caca sambil melirik Sahida yang sedang menertawakannya.
"Betah banget sih, Ca. Hidup seperti ini," ujar Sahida.
"Ya ..., mau gimana lagi? Masa iya, aku harus bunuh diri. Nasi padang masih enak, Bestie ..." Mereka berdua tertawa cengengesan.
Tak lama dari obrolannya, Sahida dan Caca berangkat menuju ke desa pegunungan untuk tenangkan diri dengan menikmati kesejukan udara pegunungan. Mereka berboncengan dengan membawa tas ransel kecil yang mereka gendong di punggungnya.
Namun hal tragis hampir saja merenggut nyawa mereka, saat baru sampai di pertengahan jalan–menuju ke atas. Untung saja, rem motor masih bisa diajak kompromi, meski dadakan. Sehingga kedua motor yang hampir bertabrakan itu berhenti dengan cepat.
"Kalau jalan hati-hati dong mbak, jangan ngebut-ngebut," tegur pria berpakaian metal–serba hitam.
"Enak aja nyalahin, kita. Harusnya kamu, tuh yang hati-hati. Kalau mau turun, nglakson dong! Nggak main nyelonong aja!" bentak Caca sambil menunduk–mengambil barang bawaannya yang terjatuh.
Caca dan pria itu terkejut saat saling menatap muka. Rupanya pria itu adalah Bayu–Polisi muda–teman Raditya yang sama menyebalkan dengan Raditya, bagi Caca.
"Kamu!" teriak mereka bertiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments