Benarkah Raditya Mencintai Caca?

“Yaa Allah ... yang sabar ya, Pak. Tapi Aryo sama adik ini masih sekolah sampai sekarang?”tanya Caca.

“Masih, Mbak. Tapi sering bayar SPP telat karena memang buat kebutuhan hidup saja sulit, Mbak.”Air mata Pak Tejo dan Caca tidak lagi terbendung. Tentu saja Caca merasa sedih dengan kondisi yang Aryo dan Pak Tejo alami.

***

Caca dan Sahida memutuskan untuk pulang, tepat saat menjelang magrib. Sepanjang perjalanan, Caca tiba-tiba teringat dengan seseorang yang sudah menjaga, mendidik, serta merawatnya, sejak dia masih duduk di bangku SD. Seseorang itu bernama Andika Pratama– seorang polisi yang sekarang belum diketahui berdinas di mana. Pasalnya, sudah hampir tujuh tahun, Caca tidak bertemu dengan orang tersebut–setelah dia lulus dari sekolah SMK.

Sampai di rumah, Caca berusaha menceritakan tentang Andika Pratama kepada sahabatnya– Sahida yang kebetulan sama-sama mengenal Andika.

“Da. Kamu masih ingat Mas Dika? Andika Pratama,”tanya Caca.

“Ingat, dong. Kenapa?”

“Sekarang dia dinas dimana ya, Da. aku tiba-tiba ingat sama dia gara-gara melihat kondisi Aryo.”Mereka saling menatap muka.

Sahida tidak menyangka, ternyata Caca sempat melupakan orang sebaik Andika, hingga selama itu. Andika adalah sosok polisi yang mengenal Caca sejak Caca masih duduk di bangku SD. Mereka bertemu ketika Caca menunggu jemputan dari orang tuanya sampai kondisi sekolah sudah sepi. Andika lantas mengantarkannya pulang dan kejadian itu terjadi berulang kali. Hingga akhirnya, Caca dan Andika saling menganggap saudara.

“Aku kira, kamu masih berkomunikasi dengannya, Ca.”Lagi-lagi Sahida memandang Caca dengan tatapan terkejut.

Caca menggelengkan kepalanya, “Aku sudah lama gak kontakan sama dia, Da. Bahkan sama istrinya juga.”

Kring! Panggilan masuk dari Raditya yang membuat dua gadis tersebut tercengang. Dengan senang hati, Caca mengangkat telepon itu. Ternyata, Raditya ingin bertemu dengan Caca besok pagi di kafe milik Saras.

“Oke, besok aku tunggu di sana ya,”ujar Caca.

***

Keesokan harinya, Caca berangkat menemui Raditya di kafe milik Saras, pukul setengah sembilan pagi.

“Ca, kamu ini mbok ya cepetan nikah, Nduk. Mamah sudah tua, pengen lihat anak-anaknya nikah dan punya cucu.”Tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulut mamanya.

“Biar Sandi dulu, Mah. Dia aja belum nikah, kok malah aku duluan,”ujar Caca.

“Sandi itu laki-laki, Ca. Tidak masalah meskipun nikah tua. Sementara kamu ini perempuan, kamu punya masa ekspayed nya karena kamu nanti yang bakal hamil.”

Mood Caca pagi ini sudah benar-benar rusak oleh ucapan mamanya sendiri. Rasa traumanya dengan cinta belum selesai, dan dia juga belum menemukan pengganti Haikal.

Murung. Hanya itu yang bisa Caca tunjukkan dihadapan mamanya. Dia berharap mamanya bisa paham dengan kode yang dia berikan.

“Caca berangkat dulu.”Dia mencium tangan sang ibunda, lalu keluar menuju garasi untuk mengambil motor.

Berulang kali Caca melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya, sudah terlambat 5 menit dari jam yang dijanjikan olehnya kepada Raditya. Sehingga dia memutuskan mempercepat kecepatan motornya, agar bisa sampai ke lokasi dengan tepat waktu dan tidak mengecewakan Raditya.

“Duh, pakai acara macet segala, lagi,”tutur batinnya.

Sepuluh menit, Caca terjebak kemacetan yang membuat Raditya gelisah. Di kafenya Saras, Raditya berusaha mengirim pesan berkali-kali kepada Caca, tetapi tidak kunjung ada balasan.

***

“Ini Caca kemana, ya. Jam segini belum nongol, juga. Apa mungkin dia lupa, terus masih tidur?”batin Raditya.

Keresahan semakin tergambar diraut wajah Raditya, ketika teleponnya tidak juga diangkat oleh Caca hingga dua kali.

“Lo kenapa, Bro?”tanya Saras.

“Caca kok belum sampai, ya? ini sudah telat empat puluh menit dan dihubungi juga susah,”ujar Raditya.

“Oo ... Soal Caca, to. Dia mah udah biasa begitu, kali. Palingan juga masih molor, mengukir mimpi.” Gadis pemilik bahasa 'Lo gue' itu terkekeh. Begitu pula dengan Raditya.

“Sorry, telat! Tadi jalannya macet parah!”Suara teriakan Caca tiba-tiba muncul bagai jailangkung.

Dia menghentikan tawa Saras dan Raditya. Dia juga turun dari motornya, lalu bersalaman dengan Raditya dan tos dengan Saras, sebelum memilih duduk di depan Raditya.

“Ras, aku jus melon satu, ya!”teriak Caca lagi.

“Macet dimana, Ca?”tanya Raditya.

“Di Cendrawasih. Udah mulai panas, macetnya lama, pula. Jadi keringat kayak gini ...”

“Masih wangi, masih cantik, kok.”Dengan sengaja Raditya memuji dan menggoda Caca.

Dia berusaha belajar mencuri hati Caca, meskipun tidak yakin akan berhasil. Setelah saling diam beberapa menit, kini Raditya memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan seputar hal pribadi kepada Caca.

“Ca. Apa kamu nggak pengen punya pacar lagi?”tanya Raditya.

Caca tertawa, “Kenapa, sih. Semua orang pada bahas soal cinta, jodoh, pasangan mulu kalau ketemu aku.”

“Kalau ngomongin soal pengen gak nya ..., ya jelas pengen, lah. Aku 'kan manusia normal, Pak. Tapi masalahnya .. Siapa yang mau sama orang kayak aku?”sambungnya.

“Ada, kok. Tapi .. Mungkin kamu yang nggak mau sama orang itu,”ujar Raditya.

Saras terkejut mendengar jawaban Raditya. Dia sempat menghentikan kegiatannya sejenak, sebelum akhirnya tersenyum karena ia yakin, orang yang Raditya maksud adalah dia sendiri.

“Dari tatapan matanya ..., udah kelihatan banget kalau Raditya itu demen sama Caca,”ucapnya dalam hati.

“Kalau orang itu saya?”Raditya fokus menatap wajah Caca. Lain halnya dengan Caca yang tiba-tiba tersedak makan wafer yang dia makan.

“Maksudnya?”tanya Caca.

“Iya ..., saya mau kamu jadi pendamping saya,”ujarnya.

Perasaan dilema mulai berkecamuk. Sudah lama Caca mengenal Raditya dan sudah cukup banyak mengetahui karakter Raditya. Tetapi dia masih tidak yakin kalau untuk menjadi pasangan hidupnya. Pasalnya, Caca tidak pernah mau bermain-main untuk urusan penting apapun.

“Nikah itu bukan hal untuk main-main, loh,”ujar Caca.

“Iya, saya tahu. Dan saya tidak main-main dengan perkataan saya. Saya serius dan siap melamar kamu, kalau memang kamu mau.”

“Udah! Terima aja! Kesempatan kagak datang dua kali, Ca. Justru lo harus tunjukin ke Haikal kalau lo bisa dapatin cowok yang lebih baik dari dia,”sahut Saras sembari meletakkan dua gelas jus di meja.

“Nikah itu sakral, Ras. Bukan buat saingan, apalagi balas dendam sama mantan. Aku tahu, aparat itu kebiasaan punya banyak cewek. Dimana pun dia bertugas, pasti ada pacarnya. Aku gak mau kalau di duakan,”gerutu Caca seraya sesekali melihat Saras dan Raditya.

Raditya hanya tersenyum karena paham dengan kekhawatiran Caca. Dia mencoba tenang dan santai, sembari menikmati jus yang sudah ada di depan matanya.

“Saya janji, saya nggak akan jadi seperti mereka yang hobi menduakan cinta,”ucap Raditya.

“Aku gak bisa kasih jawaban sekarang, Pak. Aku butuh waktu,”tukas Caca.

“Oke. Saya pastikan, saya bisa menunggu kamu seberapa lama pun itu. Sebulan, setahun, tiga tahun, saya siap.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!