Gagal Fokus

Raditya : Ca, bagaimana jawabanmu soal yang tadi?

Pesan masuk dari Raditya di ponsel Caca tidak sengaja terbaca oleh Sahida. Sahida tersenyum tipis dan berpura-pura tidak tahu, saat Caca datang–hendak duduk disampingnya.

"Cengar-cengir sendiri, kenapa? Ada yang lucu?" tanya Caca.

"Nggak kenapa-kenapa, kok. Biasa aja," ucap Sahida sembari menahan tawanya.

Caca lantas membuka ponselnya yang sudah beberapa jam tidak ia buka sama sekali. Dia terkejut dengan pesan masuk dari Raditya. Gadis itu lantas pergi meninggalkan Sahida begitu saja. Duduk di taman belakang rumah, hanya untuk menelpon Raditya–polisi muda yang ia kenal secara tidak sengaja.

"Halo, Pak. Maaf ya, aku tadi gak tahu kalau ada pesan masuk," ucap Caca dengan suaranya yang dipelankan.

"Nggak apa-apa, kok. Santai saja, Ca. Jadi bagaimana keputusannya?"

"Emm ... kamu yakin, serius sama aku? Aku ini cuma perempuan biasa yang berpendidikan rendah dan gak punya cukup banyak harta, loh." Sebuah jawaban yang sangat mengejutkan bagi Raditya. Pasalnya, baru kali ini dia menjumpai gadis yang berpikiran sejauh itu.

"Saya ini nyari istri, Ca." Raditya terkekeh.

"Saya bukan sedang mencari partner bisnis. Ngapain kamu berpikir soal harta dan titel? Saya tulus mencintaimu dan saya ingin kamu menjadi istri saya," ucapnya.

"Apa kamu gak malu sama teman-temanmu? pasangan mereka cantik, keren, bergelar, hampir sempurna. Sementa—"

"Ssst!! Cukup, Ca. Saya nggak mau mendengar ucapan itu lagi. Jangan samakan saya dengan orang lain. Saya hanya butuh jawaban kamu, mau atau nggak menjadi istri saya, itu saja." Kekesalan Raditya, membuatnya memutus pembicaraan gadis jutek–Caca.

Caca terdiam sejenak. Setelah kejadian yang luar biasa dahsyat mengguncang batinnya dan menyayat hatinya begitu dalam selama bertahun-tahun, telah berhasul menjadikan gadis bertubuh kecil itu trauma cukup serius. Hati kecilnya sangat menginginkan untuk kembali memiliki pasangan, seperti layaknya manusia pada umumnya. Tetapi disisi lain ia takut kekecewaan dan sakit hati terulang kembali untuk yang ke sekian kalinya.

"Ca. Kok diam? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Raditya.

"Ah, i–iya, aku gak papa, kok. Emm .. Aku sebenarnya gak masalah untuk jalani hubungan sama kamu. Tapi ..."

"Kenapa? insecure?" Raditya masih berusaha menggali keterangan isi hati Caca.

"Aku takut kecewa dan sakit hati lagi kayak dulu," ucap Caca.

Lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu menghela nafas panjang. Dia baru ingat kalau beberapa bulan yang lalu, Caca pernah menceritakan masa lalunya yang membuatnya trauma.

"Ca, percayalah saya ini serius sama kamu. Enam bulan lagi ikatan dinas saya sudah selesai dan kita bisa menikah. Kamu mau, 'kan?"

"Atau begini saja, deh. Kamu bilang ke saya sekarang, hal apa saja yang bisa menbuat kamu yakin kalau saya ini benar-benar serius sama kamu? Apapun pasti saya lakukan demi kamu, Ca," sambungnya.

"Serius, apapun?" tanya Caca.

Rupanya Caca memiliki beberapa tantangan untuk Raditya yang harus ia lakukan. Tantangan yang tidak mudah dilakukan, bagi lelaki yang tidak serius dan tidak memiliki komitmen.

"Aku mau kamu punya kerjaan sampingan yang halal. Terserah kamu, mau bisnis apaan. Aku juga mau ketemu orangtua kamu secepatnya dan kamu harus bisa buktikan ke aku kalau gak ada perempuan lain yang kamu cintai atau sedang lagi punya hubungan sama kamu. Kalau kamu bisa penuhi semua itu, aku mau nikah sama kamu," ujar Caca.

"Oke, siapa takut. Besok lusa saya libur tiga hari dan saya pastikan, di waktu libur itu saya bawa orangtua saya ke sini buat ketemu sama kamu." Raditya menerima tantangan dari gadis kesayangannya dan segera menyusun rencana-rencana bisnis yang sesuai dengannya, pada saat selesai berkomunikasi dengan Caca.

***

Di rumah dinasnya, Raditya mencoba diskusi dengan sahabat karibnya yang ia kenal cukup lama dan pernah memiliki sebuah usaha toko pakaian olahraga, sebelum ia dimutasi.

"Bro! usaha yang cocok buat aku apa, ya?" tanya Raditya seraya menepuk bahu Dewa.

"Widih ...! tumben, nanyain begituan. Mau bisnis lo?" ledeknya.

"Iya, demi Caca." Jawaban yang membuat Dewa tersedak kopi yang sedang ia seruput.

"Caca? Siapa itu? Gue baru dengar nama itu, Bro ...," ujar Dewa.

"Ya iya, lah. Wong aku baru cerita sekarang." Mata sayu Raditya melirik sinis ke arah Dewa sembari duduk di sampingnya.

"Dia ngasih aku tantangan. Kalau aku bisa usaha sendiri, berani ngenalin dia ke ortuku dalam waktu dekat ini dan aku bisa jauhi cewek-cewek selain dia, maka ajakan nikahku diterima," sambung Raditya.

Tentu saja suara tawa keras dari Dewa yang Raditya dengar pertama kali sebelum mendapat jawabannya.

"Lo yakin, bakal bisa berbisnis? Lo saja dari kecil anak mami, Bro."

"Heee! Ngeledek mulu, kamu ini. Jadi gimana, nih? usaha apa yang cocok buat aku?"

"Kalau dilihat dari tampang lo yang lumayan ganteng dan dikejar-kejar cewek, sih .. Lo lebih pantes jualan baju tapi pakai brand punya lo sendiri," ucap Dewa.

Setelah melewati obrolan yang panjang, Raditya memutuskan memesan lebel merek dan mencari pengrajin pakaian jadi yang berkualitas tinggi dan dengan model yang sedang trend untuk anak muda masa kini.

Raditya yakin, dia bisa memenangkan hati Caca dan menjadikannya istri. Karena ketidak sabarannya, Raditya mencoba menghubungi Caca kembali hanya untuk memberikan kabar bahwa dirinya sudah proses membuka usaha sendiri.

Raditya : Demi cinta sejatiku, sekarang saya sudah mulai berproses untuk jualan pakaian cowok. Saya kasih merek 'Radica.id' sesuai nama kita berdua. Menurut kamu bagaimana?

***

Di rumahnya–Caca terkekeh membaca pesan masuk dari Raditya.

Caca : Boleh, boleh. Pokoknya buktikan aja, gak perlu sering laporan kayak orang mau masuk perumahan gini. Hehehe

"Yaampun ... ditungguin dari tadi malah senyam-senyum sendiri. Desainnya mana, Ca?!" tegur Sahida dari depan pintu ruang kerja.

Caca terkejut dan segera mengambil desain yang ada di depannya untuk dia berikan kepada Sahida.

Raditya : Ya bukan begitu maksud saya, Nona ... saya 'kan hanya berusaha memberikan kabar, biar nggak dikira bohong.

Caca : Iya, Pak. Buktikan saja, nanti kalau sudah ada hasil baru kasih tahu aku, ya.

"Caca! Ih! Kamu ini gimana, sih? Ini 'kan desain yang kemarin dibetulin, Ca! Yang belum dibetulin yang mana?!" teriak Sahida dengan suara penuh kekesalan.

"Ya itu tadi, Da! Udah aku kasih ke kamu, 'kan! Coba deh, lihat yang teliti .."

Adu mulut antara Caca dan Sahida terjadi begitu saja dengan durasi yang cukup lama. Hingga Saras datang dan melerai mereka.

"Kalian ini pada kenapa, sih? suara kalian itu kayak toa masjid, ngerti kaga! Gue masih di jalan, suara kalian udah kedengeran kencang banget."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!