Ngilang, Ditangkap Polisi

"Aduh, Ca … kamu dimana, sih. Udah sore, pula. Bisa kena amukan singa, nih, kalau sampai Caca gak ketemu," ujar Sahida lirih.

Sahida mencarinya di jalanan kampung sekitar cafe, hingga berputar beberapa kali. Setelah satu jam lebih tidak menemukan Caca, dia memutuskan untuk kembali ke cafe dengan harapan Caca sudah ada di sana. Akan tetapi harapannya pupus. Saras belum menemukan Caca, meskipun dia juga sempat mencari keluar–keliling kampung.

"Da, coba elo minta tolong Raditya. Kali aja dia bisa bantu kita. Nggak mungkin 'kan, kita nyari Caca malam-malam hanya berdua aja," ujar Saras.

"Raditya 'kan belum hubungi aku, Ras. Mana aku tahu, nomornya dia." Sahida menghela nafas berat. Tubuhnya berkeringat dingin dan sedikit gemetar. Dia membayangkan amukan dari ibunya Caca, juga abang kandungnya yang seram. Tanpa dia sadari, air matanya jatuh di pipi dan membuat Saras menjadi keheranan.

"Kenapa, sih? Kok malah nangis?" Saras mendekati Sahida dan duduk di depannya.

"Aku takut kena marah ibunya, Ras. Aku bingung, harus ngomong apa ke mereka," jawab gadis pecinta warna pastel.

Dengan santai, Saras menyuruh Sahida untuk bicara apa adanya dengan kejadian ini, tanpa ditutup tutupi. Tetapi tidak mudah bagi Sahida untuk melakukannya.

***

Tin ...! Tin tin! Klakson motor itu terdengar sangat keras dengan sorot lampunya yang menyala sangat terang. Seorang gadis berbadan mungil tengah berdiri–berhenti di pinggir jalan sedikit–maju ke tengah, sembari memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Brak! Suara benda terbentur. Gadis itu perlahan membuka matanya. Dia terkejut saat melihat di depannya sudah ada banyak orang berkerumun, menolong seorang pria bertubuh atletis yang sedang babak belur, tertimpa motornya.

Gadis mungil itu mendekati kerumunan itu dan berusaha melihat wajah pria yang kecelakaan. Matanya membulat dan dia segera mendekati pria itu–berusaha menolongnya dan membawa ke rumah sakit.

"Pak, Mas, tolongin dong ... Kita bawa ke rumah sakit, ya ... Saya kenal sama dia," ujar sang gadis.

Pria itu menoleh, "Caca ..." ucapnya lirih.

Caca hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Dia membawa Raditya ke rumah sakit, di bantu oleh orang-orang pengguna jalan. Raditya meminta agar di bawa ke Klinik Bhayangkara saja dan Caca hanya bisa menurutinya. Kali ini, Caca terpaksa lembut dengan Raditya.

Sesampainya di klinik, Caca hendak pergi–mengurus administrasi dan kembali pulang, karena Raditya sudah selesai di tangani dokter dan dia harus rawat inap hingga pulih. Namun langkah kakinya terhenti, saat Raditya memanggil namanya. Dia menoleh ke belakang, lalu kembali mendekati Raditya–berdiri di samping tempat tidur pasien.

"Kamu dari mana saja, kok jalan kaki?" tanya Raditya. Namun Caca tidak mau menjawabnya. Dia tetap berwajah murung dan malas melihat Raditya.

"Ca, untung saja saya tadi bisa banting setir, walaupun resikonya saya yang celaka. Tapi kalau tidak begitu, maka saya akan menabrakmu," ucap Raditya.

Caca terkejut mendengar pernyataan itu dan dia kini menatap wajah pria yang baginya menyebalkan dengan tatapan sendu. Ada perasaan bersalah di hatinya.

"Ja–jadi kamu—" Caca menunjuk Raditya tanpa menyelesaikan ucapannya.

"Ya, saya sudah klakson kamu berkali-kali hingga posisinya lumayan dekat. Tapi kamu tidak segera mundur. Jadi, tidak ada jalan lain, selain ini." Raditya tersenyum.

"Ma–maafin aku, ya ... Ini semua salahku dan gara-gara aku, kamu jadi kayak gini," ucap Caca. Dia lalu berpamitan pulang karena sudah malam. Raditya meminta Caca untuk menunggu sebentar. Dia menelepon temannya dan meminta tolong mengantar Caca pulang.

Namun Caca menolak dengan dalih ingin sendiri. Tetapi Raditya memaksanya agar mau nurut dengannya, dengan dalih demi keamanan Caca di jalan. Gadis itu menghela nafas dan pada akhinya mau menuruti keinginan Raditya.

***

Kring! HP Saras berdering. Dia segera mengambilnya. Saras mendecih dan wajahnya tampak kesal, setelah tahu kalau yang menelpon adalah Caca. Dia mengangkat telepon itu dan memaki Caca, tanpa henti. Tetapi Caca justru tertawa terbahak-bahak–membuat Saras semakin geram.

Sahida mengkode Saras, agar menyalakan tombol loudspeaker HP nya dan Saras pun melakukannya. Caca meminta maaf karena telah membuatnya dan Sahida khawatir. Dia saat ini sudah ada di rumah, sejak sepuluh menit yang lalu.

"Aku tadi niatnya jalan-jalan, refreshing. Eh, nggak taunya malah terpikat naik dokar. Habis itu aku turun dan mau telepon Sahida agar jemput aku di halte. Nggak tahunya aku mau ketabrak motor," ujar Caca.

"Apa!" teriak Sahida dan Saras.

"Terus kamu gimana, Ca? Baik-baik aja 'kan, Ca?" tanya Sahida dengan suara panik.

"Ya, aku baik-baik aja. Tadi yang mau nabrak aku kebetulan Raditya. Lalu dia banting stir dan akhirnya dia yang jatuh. Sekarang dia opname di Klinik Bhayangkara. Aku tadi pulang dari klinik di antar temannya Raditya, sampai rumah," jelas Caca.

"Astaga, Caca! Kamu kebangetan ya, jadi orang. Bisa gak sih, sehari …, aja, jadi orang waras?!" teriak Sahida.

"Tadi marah-marah mulu perkara Raditya. Sekarang main kabur gitu aja dan dengan santainya kamu bilang terpikat naik dokar. Membuat anak orang celaka, pula. Bener-bener, kamu ya, Ca …" ujar Sahida penuh dengan emosi. Kali ini kedua sahabatnya sangat marah dan Saras mematikan telepon dengan sepihak, tanpa ada kata penutup. Sahida pun berpamitan pulang dengan membawa helm Caca yang tertinggal di sepeda Sahida.

***

Aku nggak tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku. Sejak aku berpisah dengan Haikal, aku menjadi manusia asing yang menyebalkan. Bahkan tak jarang pula diriku sendiri tak mengenalnya. Yang aku tahu saat ini hanyalah kesendirian, kehampaan dan kekecewaan.

Saat ini, aku hanya hidup berteman dengan prinsip. Jika aku berdoa dengan khusyuk dan Allah mengabulkan doa-doaku, pasti nanti akan terlihat tanda-tanda dimana alam akan segera menjawab dan melaksanakan perintah Tuhan, untuk menggenapi dan menyediakan sarana itu untukku.

Aku hanya tinggal menunggu dan memperhatikan sekeliling, waspada di setiap langkah, agar tidak satu pun pertanda yang luput dari mataku. Aku yakin, dengan izin-Nya, pasti tak akan ada kendala apapun. Kalaupun ada, semoga jalan keluar selalu datang beriringan. Amin.

by Caca

Kalimat-kalimat itu Caca tulis dalam buku hariannya. Layaknya anak yang masih belasan tahun, Caca sulit mengungkap kesedihannya. Dia tak ingin orang lain turut merasakan kesedihannya, terutama jika orang itu adalah orang tuanya.

Menulis adalah kebiasaan Caca sejak masih duduk di bangku SD. Sebagai sarana untuk mengungkapkan semua unek-unek yang ada di hatinya dan dia hanya bisa berharap, perasaannya bisa lebih tenang setelah dia menuangkannya pada buku hariannya.

Sesekali suara Raditya terdengar di telinganya, saat Raditya menasehatinya. Tetapi justru tanggapan menyebalkan yang pria itu dapatkan darinya. Caca menyesal dan merasa berdosa atas perlakuannya pada Raditya hari ini.

"Aku memang bodoh dan ceroboh. Selalu bertindak tanpa berpikir terlebih dulu. Ya, penyesalan memang selalu di belakang. Seharusnya aku bisa kontrol emosiku. Kalau sudah begini, malu rasanya mukaku. Orang yang aku perlakukan buruk, justru tanpa dendam dia menolongku, selamatkan aku tanpa keegoisan," gumamnya dalam hati.

Dia menghela nafas berat, lalu merebahkan badannya ke ranjang. Dia berniat untuk istirahat lebih awal, hari ini. Tetapi matanya sulit untuk di tidurkan. Bayangan Raditya terus saja hadir di pelupuk matanya, apalagi suaranya saat menasehati, benar-benar membuat Caca merasa bersalah.

Caca mengambil HP nya dan berniat mengirim pesan WA ke Sahida untuk meminta nomor WA Raditya. Tapi lagi-lagi hatinya dipenuhi dengan rasa gengsi dan benci–yang membuat dia mengurungkan niatnya. Dia letakkan kembali HP nya di meja–samping ranjang tidurnya, lalu ia mematikan lampu kamarnya.

***

"Ca, bangun, Ca! Bantu aku foto produk, Ca!" teriak Sandi–abangnya.

Caca membuka matanya dengan perlahan-lahan, lalu menarik kedua tangannya ke atas. Dia lihat jam dinding yang ada di depannya dan matanya membulat, melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Aaa! Tega banget sih! Nggak ada yang bangunin aku!" Caca berteriak histeris, sambil bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidurnya.

Caca sangat menyesal karena terlelap dalam tidurnya, sehingga dia tidak salat subuh. Usai mandi dan berganti pakaian, dengan wajah murung dia keluar dari kamarnya–menuju ke sebuah ruang–tempat di mana dia bisa menemukan banyak makanan lezat di dalam rumahnya.

"Habis makan, bantuin aku foto produk," kata Sandi, sekali lagi.

"Ogah. Kamu aja nggak pernah mau bangunkan aku, ngapain kamu minta tolong aku?" Caca menatap Sandi dengan sangat sinis.

"Ca, Sandi itu kakakmu. Masa sih, kamu perhitungan banget, sama kakakmu. Lagian biasanya 'kan, kamu juga bangun sendiri, pakai alarm. Kita berdua mana tahu kalau kamu tidak menyalakan alarm itu," sahut wanita paruh baya.

Caca mendecik dan terpaksa mau menolong kakaknya untuk foto produk. Tetapi dia tidak bisa lama-lama karena dia harus segera menemui Sahida di rumahnya, untuk mengambil helmnya yang ketinggalan kemarin.

Sandi tersenyum lebar sambil berterima kasih kepada Caca, lalu dia segera mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk foto produk, sambil menunggu Caca selesai makan.

Tak lama, suara ketukan pintu rumah terdengar, diiringi dengan suara pria yang begitu keras, seperti seseorang yang akan menagih hutang. Suara tersebut membuat Caca merasa sangat risih dan terganggu, apalagi Sandi.

"Siapa sih, masih pagi sudah gedor-gedor pintu orang," gerutu Sandi dengan alisnya yang sudah mulai mengerut. Dia keluar–menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Sandi tercengang dan mendadak gagap, karena yang datang adalah rombongan Polisi.

"Selamat Pagi. Apakah benar, ini rumah saudari Caca?" tanya seorang Polisi berperut buncit.

"Ya, benar. Ada apa ya, Pak?" tanya Sandi.

Mendengar namanya disebut-sebut, Caca pun memutuskan untuk keluar–menemui Sandi.

"Ada apa, ini?"

"Kami sedang melaksanakan tugas untuk melakukan penangkapan kepada saudari Caca." Polisi itu menunjukkan surat tugas yang ia miliki kepada Caca.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!