"Maksudnya apa ya? Anda jangan asal tangkap orang, Pak. Saya nggak pernah nipu orang!" teriak Caca dengan suara lantang, saat Polisi menangkapnya dan membawanya ke kantor secara paksa.
"Nanti silakan Anda jelaskan di kantor," ujar Polisi itu.
Watak keras Caca kembali hadir. Dia berontak dan berusaha menyingkirkan tangan Polisi yang menggandeng nya.
"Ya sudah, saya mau ikut. Tapi nggak usah gandeng-gandeng seperti ini! Saya nggak suka! Saya bisa jalan sendiri dan saya nggak akan lari!" teriaknya lagi. Sandi hanya bisa pasrah karena baginya, mengurus ibunya yang sedang pingsan saat ini–lebih penting daripada mengurus Caca. Dia yakin, Caca tidak melakukan perbuatan itu.
Polisi itu pun melepas tangan Caca dan tidak lagi menggandeng atau pun memborgolnya, sampai tiba di kantor.
***
Tiba di kantor–di sebuah ruangan, Caca duduk dan menunggu introgasi dari petugas khusus. Dia menunggu dengan kondisi wajah yang sangat kesal dan memerah.
Detak jantungnya yang tidak lagi beraturan, emosinya yang tak lagi stabil dan keringat yang bercucuran–membasahi seluruh wajahnya yang manis dan imut. Tak lama kemudian, yang ditunggu pun datang. Hal mengejutkan terjadi, saat petugas melihat wajah Caca.
Petugas itu marah-marah kepada bawahannya, lalu meminta maaf ke Caca. Rupanya mereka salah tangkap orang. Caca yang mereka cari adalah tetangga Caca yang bertempat tinggal di rt sebelah dan dulu memang pernah kontrak di rumah Caca.
Keempat Polisi itu bergegas memohon maaf kepada Caca, namun Caca mengabaikannya. Dia memilih untuk segera pergi–keluar dari ruangan dengan wajah murung. Di halaman kantor, Caca kembali dikejutkan dengan pemandangan yang tak pernah ia duga. Dia bertemu dengan Bayu–pria yang mengantarnya pulang dari rumah sakit setelah Raditya kecelakaan malam itu.
"Caca!" teriak Bayu–teman Raditya dari kejauhan. Dia berjalan sedikit cepat, demi menghampiri Caca.
"Kamu—" Caca menunjuk Bayu. Bayu meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya, saya temannya Raditya yang dulu antar kamu pulang …" ujarnya.
"Oh," Caca manggut-manggut.
"Kamu ngapain disini?" Bayu menengok kanan kiri, mengira Caca tidak sendirian.
Dengan wajah dan nada bicara yang masih kesal, Caca bercerita kronologi dia bisa berada disini, pagi ini. Bayu tertawa sebentar, sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan. Dia meminta maaf kepada Caca dan akan segera mengantarkannya pulang.
"Mbak Caca!" teriak Polisi senior.
"Mari, saya antarkan pulang. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya dan rekan-rekan ya, Mbak …" imbuhnya.
"Mohon maaf. Mohon izin, Bang. Caca biar saya saja yang antarkan pulang, jika diperbolehkan. Dia teman saya, Bang," sahut Bayu.
Polisi berpangkat Ipda itu mengizinkan Bayu untuk mengantar Caca pulang. Bagi Bayu kesalahan ini adalah sebuah berkah untuknya, karena dia bisa punya alasan untuk mengobrol dengan Caca dan tahu rumahnya.
"Ca, mau pulang sekarang atau besok?" goda Bayu.
"Tahun depan," jawab Caca yang masih sedikit ketus.
Namun Bayu tidak heran dengan respon Caca. Sebab dia sudah tahu kalau Caca tipe cewek yang dingin. Begitu pula dengan Caca yang berusaha untuk bersikap santun dan tidak terbawa emosi, saat mengobrol dengan cowok, tapi selalu kesusahan.
Polisi muda itu mengambil motornya dan meminjam helm milik temannya untuk Caca. Keduanya pun pulang, tepat pukul sembilan pagi. Di perjalanan pulang, Caca meminta maaf kepada Bayu soal kesalahannya dua hari yang lalu. Bayu hanya tertawa dan dia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Stop. Ini rumahku," ujar Caca.
Dia turun dari motor, "Mau masuk dulu nggak?" tanya nya.
"Em … next time saja, Ca. Saya masih jam kerja …" Bayu tersenyum.
"Oh iya, ya … duh, bloon banget, sih." Caca menepuk dahinya.
"Maaf, aku lupa," imbuhnya.
"Nggak papa, santai saja. Em …, Ca, saya boleh minta nomor kamu?" tanya Caca.
Kali ini Caca memberikannya dengan tanpa rasa keberatan. Dia mendikte Bayu, di depan gerbang rumahnya.
Tak lama, Bayu berpamitan kembali ke kantor dan Caca pun masuk ke rumah.
Ada suatu hal yang mengejutkan, saat Caca sampai di ruang keluarga. Disana sudah ada tante dan adik sepupunya yang berkumpul dengan wajah tegang. Mereka pun sama terkejutnya dengan Caca. Tante Rini tiba-tiba berdiri dan memeluk Caca dengan tangisan yang terdengar jelas di telinga Caca.
Rupanya mereka khawatir dan syok dengan kejadian yang menimpanya pagi ini. Dalam hati Caca sangat murka dan mencaci mereka yang dengan seenaknya menangkap, tanpa bertanya identitas terlebih dulu.
"Bu, Caca nggak papa, kok. Tadi mereka hanya salah orang saja. Mungkin mereka kurang kopi," ujar Caca dengan senyuman sinis.
"Aku juga berpikir begitu, tadinya. Nggak mungkin Caca melakukan penipuan. Keluarga kita adalah keluarga yang patuh hukum dan aturan. Rasanya sangat mustahil, kalau Caca menipu," ujar Sandi.
Dari kecil, Caca memang sudah di didik patuh dengan aturan dan hukum yang ada. Selain karena dia cucunya seorang angkatan, juga karena keluarganya tidak ingin hidup susah hanya karena terlibat masalah yang seharusnya tidak terjadi. Sampai kini, meskipun Caca sudah dewasa, tetapi dia masih sangat mengingat nasehat dari almarhum dan almarhumah eyangnya.
Bahkan ketika dia melanggar lalu lintas ataupun sedang lupa tidak membawa SIM, dia tidak pernah melakukan hal konyol seperti yang dilakukan oleh orang lain, pada umumnya. Karena baginya, salah tetaplah salah, dan segala perbuatan harus bisa dipertanggungjawabkan.
"Ya sudah, lupakan musibah ini. Kamu tadi pulang naik apa, Ca?" tanya ibunya.
"Diantar sama Polisi, tadi. Kebetulan Polisi itu kenal sama Caca. Ya … baru kenal, sih. Baru kenal kemarin," terang Caca.
"Terus sekarang mana orangnya? kok nggak kamu suruh mampir dulu?" tanya Tante Rini.
"Udah, Te … tadi udah Caca suruh mampir, tapi katanya dia masih ada pekerjaan. Iya …, kan, memang ini masih pagi to, jadi masih waktunya bekerja. Dia bilang, next time mau main ke sini kalau ada waktu," jawab Caca.
Dia lalu pergi meninggalkan ruang keluarga dan menuju ke kamarnya untuk membereskan kamarnya yang berantakan.
Tiba-tiba saja, dia berpikir bahwa sebenarnya Tuhan itu sangat baik terhadapnya. Tuhan selalu mempertemukan dia dengan orang-orang yang baik. Hanya saja dia sendiri yang berubah menjadi menyebalkan, semenjak dia pisah dengan Haikal. Dia merasa dirinya bukanlah Caca yang dulu–Caca yang penyayang, ramah dan bersyukur.
Ini bukan suatu penyesalan yang pertama kalinya dialami oleh Caca, melainkan penyesalan yang kesekian kalinya. Karena dia sudah begitu banyak mengecewakan dan mungkin juga menyakiti hati orang-orang yang ada di sekitarnya dengan perkataan dan juga sikapnya. Bayangan ekspresi wajah Raditya pun masih terlintas, meskipun dia sudah meminta maaf.
Di tengah lamunannya, dia mendengar suara Sandi memanggil namanya. Dia pun segera berlari keluar untuk menemui Sandi di teras rumah. Rupanya sudah ada Haikal di sana.
"Ngapain, dia kesini. Mau cari ribut lagi?" batin Caca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments