"Caca. Kamu ngapain disini?" tanya Bayu.
"Nguli. Udah tahu, lagi jalan. Kok masih nanya," jawab Caca–judes.
Bayu tersenyum sinis, "Kamu ini, bisa nggak sih, sopan sedikit sama orang? Sekali ..., saja. Bisa nggak?"
"Enggak. Kenapa? Nggak suka?" Caca balik bertanya dengan nada bicara yang masih tetap judes.
"Aduh ..., ini pada kenapa, sih. Kok malah jadi berantem. Ini jalanan, bukan ring tinju. Kita mau ke Taman Cinta, Bay, kita duluan ya ...," ujar Sahida sembari menarik tangan Caca.
Saat ini yang membawa motor adalah Sahida. Sebab dia takut terjadi hal-hal buruk lainnya. Sahida sangat hafal dengan kebiasaan Caca yang ketika melamun saat berkendara, dia pasti bisa menabrak apapun yang sedang berada di depannya.
Oleh sebab itu, Sahida sengaja meminta untuk membonceng Caca, agar tidak terjadi kecelakaan. Tiba di lokasi, mereka berdua saling berfoto selfie sembari menikmati wisata kuliner yang tersedia di sana dan saling bercerita tentang banyak hal, seperti biasanya.
Tak lupa, mereka juga menceritakan tentang berbagai pekerjaan di dunia hiburan dan dunia fashion yang kebetulan sama-sama mereka gemari. Tak jarang, Caca juga menceritakan pada Sahida bahwa dia sangat ingin menjadi seorang fashion designer yang terkenal.
Tak hanya itu, dia sekaligus ingin memiliki rumah singgah untuk anak-anak yang kurang mampu, agar bisa belajar dan mendapatkan pendidikan agama yang layak, sesuai dengan kurikulum dan tentunya gratis.
Tetapi, gadis jutek itu merasa impiannya akan sulit dia wujudkan, karena saat ini dia sendiri masih kesulitan untuk menjadi seorang fashion designer yang terkenal dan banyak uang.
"Ca, kamu harus yakin, dong. Nggak ada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan, Ca. Aku yakin, kamu pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpi baik itu," kata Sahida.
"Tapi ..., aku bingung harus memulai dari mana. Aku juga nggak punya teman yang ahli agama untuk mengajar anak-anak," jawab Caca.
Sahida tersenyum, "Bismillah, Ca. Segala niatan yang baik, pasti selalu diberi kemudahan." Gadis tinggi itu menepuk bahu Caca dan sesekali menggodanya–menyuruhnya untuk bersemangat.
"Makasih, Bestie ..., kamu emang bestie terbaik aku," ucap gadis jutek sambil berpelukan erat dengan Sahida.
Mereka kembali melanjutkan makan pangsit di tangga taman–pinggir kolam ikan. Nuansa pedesaan benar-benar membuat Caca dan Sahida betah, hingga lupa waktu untuk pulang.
"Ca, pulang, yuk. Nggak terasa, kita disini sudah lama," ucap Sahida.
Caca hanya menganggukkan kepalanya–pertanda dia menyetujui ajakan Sahida. Tiba-tiba saja, sebuah pemandangan kelabu terlihat di depan mata Caca. Seorang remaja dan anak-anak berbadan kurus kering dengan penampilan seadanya tampak sedang bernegosiasi dengan beberapa manusia dewasa.
Raut wajahnya yang tampak layu, sendu. Tak jarang pula ia dapati salah satu diantaranya beberapa kali mengusap dahinya dengan lengan tangannya. Terlihat pula seseorang dewasa dengan wajah garang–menunjuk-nunjuk kedua anak laki-laki itu.
Dengan hati yang kini terselimuti rasa penasaran dan iba, Caca memutuskan untuk berjalan–menghampiri mereka yang berada di sudut utara pintu masuk, di ikuti oleh Sahida yang masih kebingungan dengan sikap Caca yang mendadak aneh menurutnya.
"Maaf. Ini ada apa, ya?" tanya Caca kepada beberapa orang dewasa yang kini ada di depannya.
"Mereka ini ketahuan mencuri minuman yang saya jual, Mbak." Seorang bapak-bapak berperut buncit menjawab pertanyaan Caca dengan nada kesal.
"Iya, Mbak. Sudah di minum posisinya dan kami suruh bayar, tapi mereka gak mau bayar," ujar ibu-ibu yang di duga istri bapak perut buncit.
Caca memandang kedua anak laki-laki yang kini ada di sampingnya dengan bergantian. Mereka hanya bisa menunduk ketakutan.
"Apa betul yang di bilang bapak dan ibu ini?" tanya Caca.
"I–iya, Mbak. Kami haus, tapi belum dapat uang. Sampah yang kami pungut masih belum banyak," jawab bocah remaja.
"Pak, minumannya harga berapa? Biar saya yang bayar. Sekalian saya nambah es dua, aqua botol dua ya, Pak. Yang ukuran tanggung saja," kata Caca.
Usai membayar, Caca mengajak kedua anak di bawah umur itu ke tempat parkir motor yang letaknya tak jauh dari TKP. Caca menyuruh mereka bercerita tentang kehidupannya yang ternyata sangat memilukan dan membuat hati Caca terasa begitu perih.
Kakak beradik yang masih berusia dua belas tahun dan tujuh tahun itu rupanya seorang anak piatu alias tidak lagi memiliki ibu. Ayahnya bekerja sebagai seorang pemulung juga, namun terkadang, dia ikut orang untuk jadi kuli batu. Saat itu hati Caca kembali terketuk dan dia berniat mengantarkan pulang kedua bocah itu ke rumahnya.
"Ca, kita nggak mungkin boncengan empat kan, Ca ...," ujar Sahida.
"Saya bawa sepeda, Mbak ..." sahut Aryo–bocah yang berusia dua belas tahun.
"Ya udah, yuk ..., kita berangkat," kata Caca dengan senyuman sumringahnya.
Caca dan Sahida melajukan motornya–keluar dari area Taman Cinta. Sampai di pintu keluar, dia dan kedua anak pemulung terjebak pada kemacetan.
Terdengar suara yang begitu riuh. Suara-suara teriakan dan bentakan-bentakan lantang dari laki-laki yang lebih dari satu orang. Semakin lama semakin banyak orang yang memenuhi kerumunan, hingga terlihat seperti semut yang sedang bergerombol.
"Da, aku penasaran, deh. Kita lihat sebentar, yuk ...," ujar Caca.
"Sama, Ca. Aku juga kepo. Ya udah lah, ayo kesana ...,"
Kedua gadis itu menyuruh Aryo dan adiknya agar tetap menunggu di depan gapura–pintu keluar. Mereka meletakkan motornya di dekat kerumunan. Caca dan Sahida berusaha menerobos kerumunan dengan cukup hati-hati, sambil bertanya 'ada peristiwa apa' namun jawaban yang dia dapatkan justru simpang siur.
Sahida terkejut, melihat wajah yang saat ini ada di depannya–sedang menodongkan sebuah alat tempur keamanan berwarna hitam adalah Amir. Dia menarik tangan Caca dan menunjukkannya tanpa bisa berkata-kata.
"Ca ..., i–itu. Itu kan, Amir, Ca ...," Gadis tinggi itu menunjuk Raditya.
"Oh iya, bener. Ternyata dia Polisi, to." Caca manggut-manggut
"Pantesan, songong," ujarnya.
"Dia yang temannya Bayu itu kan, Ca? Raditya yang kamu rawat di rumah sakit?" tanya Sahida yang masih berusaha meyakinkan hatinya.
"Iya. Ya udah lah, kita lanjut jalan aja, yuk. Toh pelakunya juga udah di masukin mobil." Gadis jutek itu menarik tangan sahabatnya untuk kembali menemui Aryo dan adiknya, lalu melanjutkan perjalanan mereka.
***
"Ini rumah kalian?" tanya Caca pada Aryo.
"Iya, Mbak. Silakan masuk," ujar Aryo.
Caca sangat ingin bertemu dengan Ayahnya Aryo, hari ini juga. Sebab itu dia rela menunggu hingga hampir dua puluh menit. Beruntungnya, perjuangannya menunggu di rumah yang terbilang kecil itu, tidak sia-sia. Caca bisa bertemu dengan Pak Tejo–Ayahnya Aryo dan mengorek banyak informasi tentang kehidupan Aryo beserta ayah dan adiknya.
"Saya jadi duda sudah ada hampir sepuluh tahun, Mbak. Saat itu saya di PHK karena sering izin cuti untuk mengurus anak saya yang paling kecil ini, saat sakit. Kehidupan kami ya seperti ini, ala kadarnya yang penting sehat dan anak saya bisa makan," ucap Pak Tejo seraya tersenyum tipis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments