Keromantisan Pertama Raditya

"Hai, Bestie!" sapa Caca dan Sahida dengan teriakan ceria.

"Hai! Ya ampun …, akhirnya ketemu juga. Kalian dari mana aja, sih?" tanya Saras.

"Dari rumah, lah …, " Caca terkekeh, meledek Saras.

Mereka bertiga saling berbincang sampai di teras cafe sembari bercanda bersama, menceritakan tentang keadaan mereka, setelah sekian lama mereka tidak bertemu–hampir dua bulan lamanya. Saras juga tidak lupa dengan kejadian menghilangnya Caca pada malam itu yang sempat membuat dirinya khawatir bersama Sahida.

Gadis merah jambu itu tertawa tanpa perasaan bersalah dan dia menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, karena dia belum sempat cerita ke Saras. Dia hanya cerita ke Sahida. Cerita Caca itu membuat Saras semakin greget dengannya.

"Elo tuh, emang dasar ya, nyebelin banget tahu gak." Saras, Sahida dan Caca tertawa.

"Ya maaf, khilaf. Eh, aku haus nih," ujar Caca.

"Mau minum apa? Lagi full nih, cafe gue," ledek Saras.

"Es capuchino, deh. Banyakin ya, es nya …" pinta Caca dengan cengengesan.

Caca dan Sahida kini sedang asyik mengobrol, membicarakan tentang Raditya–Polisi antik yang mereka kenal. Ya, Sahida menyebut Raditya sebagai Polisi antik karena penampilannya yang tidak terlihat seperti seorang Polisi.

Raditya adalah tipe orang yang berpenampilan santai, seperti anak kuliahan. Terlebih usianya yang terbilang muda, semakin mendukung. Sehingga membuat orang tidak menyangka kalau dirinya adalah seorang Polisi.

"Tapi asli, dia tuh baik banget lo, Ca. Apa kamu gak kepingin kenal lebih dekat sama dia?" tanya Sahida.

"Bukannya nggak pengen kenal, cuman aku tuh males gitu ya, kalau harus pdkt sama cowok." Lagi-lagi jawaban Caca masih sama. Dia masih malas menanggapi pria.

"Mau sampai kapan, begini terus? Kamu udah nolak pinangan orang berkali-kali loh, Ca …" Sahida menatap Caca yang sedang memainkan ponselnya.

Seorang pemuda tiba-tiba datang menghampiri Caca dan Sahida. Ya, dia adalah Haikal–mantan kekasih Caca. Awalnya dia datang hanya sekedar untuk basa-basi–menanyakan kabar. Tapi lama-kelamaan dia mencari gara-gara dengan secara tidak langsung, menghina Caca yang sampai kini belum mendapatkan penggantinya.

Caca hanya diam dan tidak menanggapi pernyataan Haikal tersebut. Dia hanya tersenyum miring dan menatap Haikal dengan tatapan yang sinis. Berbeda dengan Sahida yang menanggapi ucapan Haikal dengan penuh keseriusan.

Sahida menjelaskan kepada Haikal bahwa jomblo bukan berarti tidak laku, tetapi memang sahabatnya sedang menunggu cowok yang benar-benar serius dan terbaik untuk hidupnya.

Haikal tertawa seolah meledek, "Ya …, jomblo sama gak laku itu 'kan beda tipis, ya. Iya kan, Caca sayang …," Haikal mencolek dagu Caca–membuat Caca berteriak–mencaci maki Haikal dengan suara yang cukup keras–yang membuat seluruh pengunjung cafe menengok dan memandangi mereka yang sedang berada di sudut timur ruangan cafe.

"Jangan kurang ajar, ya! Kamu dan aku sudah gak ada hubungan apa-apa! Jjadi tolong jangan ganggu hidup aku lagi!" bentak Caca. Dia sangat marah dan menunjuk wajah Haikal.

Sementara di depan pintu masuk, berdirilah seorang Raditya yang tidak sengaja mengetahui keributan Caca dan Haikal, saat itu. Dia juga sempat mendengar ledekan Haikal kepada Caca, sehingga Raditya memutuskan untuk bersandiwara, agar Caca tidak dipermalukan di depan banyak orang.

Dia datang menghampiri Caca, Sahida dan Haikal, lalu menegur mereka bertiga dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal.

"Ini ada apa ya? mas ini siapa? lancang sekali colek-colek cewek orang?" Raditya menggandeng tangan kanan Caca. Gadis itu tercengang dan memandang Raditya.

"Cewekmu? Gak usah ngaku-ngaku deh," ujar Haikal.

Raditya tersenyum kecut, "Silakan tanya ke Caca sendiri kalau tidak percaya," ujarnya.

"Iya. Dia pacarku, puas kamu!" bentak Caca.

"Bukannya tadi bilang jomblo?" Lelaki itu belum puas dengan jawaban Caca.

"Gak semua hal harus diceritakan ke kamu, 'kan? Memangnya kamu siapa? Gak penting, Kal!" Emosi Caca tidak lagi bisa terkontrol. Tetapi Raditya berusaha menenangkannya dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya.

Haikal menatap Raditya, Caca dan Sahida dengan tatapan yang sinis, secara bergantian. Lalu dia pergi meninggalkan mereka bertiga–kembali ke tempat duduknya, berkumpul bersama teman-temannya–menikmati kopi yang mereka pesan.

Raditya mengajak Caca untuk duduk kembali. Begitupun dengan Sahida. Polisi antik itu menanyakan perihal status Haikal dengan Caca. Sehingga, Caca jadi terpaksa menceritakan masa lalunya dengan Haikal kepada Raditya– lelaki yang sempat Caca benci.

"Dia meninggalkan aku begitu saja, setelah menguras semua hartaku. Dia adalah lelaki yang aku ceritakan padamu dulu, saat kamu masih di rumah sakit," ujar Caca.

"Maaf ya, Ca. Kalau saya boleh kasih kamu saran, kamu harus berhati-hati dengan dia. Sebab sepertinya dia adalah lelaki yang cukup bahaya buat kamu. Dia tipikal orang yang akan melakukan segala macam cara, demi mendapatkan apa yang dia inginkan," ujar Raditya sembari sesekali melihat Sahida.

Sahida–gadis yang kini berada di depannya, membenarkan ucapan Raditya, karena memang menurutnya, Caca membutuhkan pasangan yang benar-benar bisa diandalkan untuk menjaga dia. Tidak hanya menjaga hatinya, tapi juga menjaga dirinya. Sebab semakin hari, Caca semakin memiliki banyak lawan, semenjak dia putus cinta dengan Haikal.

"Kamu kira aku barang, di jaga …," Caca terkekeh.

"Ya bukannya begitu, Ca. Tapi emang benar, 'kan …, kamu itu butuh pendamping yang baik dan berkualitas." Sahida terus bergumam panjang lebar–membuat Raditya dan Caca tertawa tiada habisnya.

"Ngemeng apa sih, Lo? Semua orang itu berkualitas, Da. Kagak ada yang gak, kecuali kalau orang gila," sahut Saras yang baru selesai melayani pengunjung.

Ucapan Saras semakin menambah keseruan obrolan mereka, hari ini. Begitu seharusnya sampai-sampai raditya lupa tidak memaksakan minuman ataupun makanan. Dia baru teringat ketika Saras menanyakan 'ingin pesan apa' kepadanya.

"Biasanya ya, Mbak. Masih hafal kan, sama makanan dan minuman favorit saya?" Raditya tersenyum.

"Oh, ya masih dong, tentu saja. Apalagi pelanggan setia seperti Anda. Sebentar ya, gue siapin dulu." Saras segera pergi untuk menyiapkan pesanan Raditya.

Caca, Sahida dan Raditya sempat saling diam beberapa saat, hingga akhirnya Raditya membuka pembicaraan dengan meminta alamat rumahnya Caca.

Caca sempat diam, beberapa saat untuk berpikir 'harus memberikan alamatnya ataukah tidak,' namun setelah itu Caca mengambil keputusan untuk memberikannya ke Raditya, karena dia berpikir, Raditya adalah seorang lelaki baik-baik.

Caca membuka dompetnya lalu mengeluarkan selembar kartu nama dan memberikannya ke Raditya. Dalam hati Raditya sangat berbunga-bunga karena akhirnya dia bisa memiliki alamat rumah gadis yang sudah lama dia incar dan membuat dirinya selalu penasaran.

"Ikhlas nggak, nih? Nanti saya kamu caci maki lagi, seperti dulu," ujar Raditya.

"Ikhlas, lah. Tapi …, aku minta tolong jangan pernah berseragam ya ... Kalau main ke rumahku,”ujar Caca.

Ucapan Caca membuat Sahida dan Raditya menatap penuh kebingungan.

"Oke, siap 86. Saya pasti akan menjaga amanah itu. Terima kasih, ya …, " Raditya dan Caca saling bertatap mata dan melempar senyuman manis mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!