Menyelidik

"Ibu kok jadi nyalahin saya, sih. Ya ..., bukan salah saya dong, Bu. Ini semua murni kesalahan anak ibu. Kenapa sekarang jadi nyalahin saya!" bantah Caca dengan nada tinggi.

"Ya jelas ini karena salah kamu dong, karena kamu tidak bisa mencintai anak saya dengan baik dan benar, makanya anak saya cari yang lain dan sekarang malah jadi seperti ini," ujar Bu Sinta–mamanya Haikal.

Perseteruan itu terjadi cukup lama. Hingga tiba-tiba muncul goncangan seperti gempa bumi yang dirasakan oleh Caca. Dia panik dan berteriak semakin kencang karena takut terjadi gempa bumi di kampungnya. Caca memegang erat tangan abangnya, tetapi justru bentakan dari abangnya yang dia dapatkan.

"Ca! Bangun, Ca!" teriak Sandi sembari mengoyak tubuh adiknya. Caca terbangun dari tidurnya dengan posisi wajah yang sudah penuh keringat dingin.

"Astaghfirullahaladzim, aku ternyata cuman mimpi lagi," gumamnya dengan suara lirih dan sesekali menghela nafas berat.

"Makanya kalau tidur itu berdoa dulu, mandi dulu atau wudhu dulu. Kamu mana pernah, begitu. Untung saja kamarmu gak kamu kunci. Coba kalau kamu kunci, sudah mati kamu gak ada yang bangunin." Sandi terus menggerutu karena ulah Caca yang bukan pertama kalinya lagi, melainkan berkali-kali terjadi.

Caca terkekeh, "Mana ada orang mati karena ngigo, ada-ada aja," ujarnya.

Sandi menatap serius wajah Caca, "Tuh kan, kalau di bilangin orang tua nglawan mulu."

Caca minta maaf kepada abangnya, lalu dia menjelaskan kalau tidak ada kematian karena di sebabkan oleh mimpi. Sandi tidak menghiraukan ucapan adiknya tersebut dan dia memilih keluar dari kamar Caca untuk kembali ke kamarnya. Gadis itu berniat kembali tidur, tetapi ternyata matanya sudah sulit untuk dipejamkan.

Sebab dari kecil, Caca memang sangat sulit tidur lagi kalau sudah terbangun. Dia membuka ponselnya yang sudah lumayan banyak pesan yang masuk. Salah satu pesan itu adalah dari Raditya– seorang lelaki yang sempat sangat dia benci dan termasuk lelaki yang bertemu dengannya di cafe milik Saras, sebagai pertemuan pertama mereka.

Bripda Raditya (23.00) : Assalamualaikum. Jangan lupa Tahajud kalau bisa, Ca. Manfaatnya sangat banyak, sayang kalau di sia-siakan.

Caca (02.17) : Waalaikumussalam. Masih ngantuk, besok aja. Toh sunnah 'kan, nggak wajib.

Caca duduk termenung di atas kasurnya sembari merenungkan pesan dari Raditya. Dia berpikir 'Raditya adalah pria yang berbeda–yang baru pertama kali dia jumpai di sepanjang usianya' sehingga membuatnya merasa keheranan dan menjadi penasaran.

Karena rasa penasarannya tersebut, Caca jadi berinisiatif untuk menjahili Raditya dengan berpura-pura menjadi perempuan yang sangat bandel, ketika dia bertemu dengan Raditya nanti.

Rencana untuk bersandiwara itu sengaja Caca lakukan karena dia ingin mengerti seberapa baik Raditya dan seberapa alim dirinya sebagai seorang pria yang baru beberapa bulan, Caca kenal. Tiba-tiba saja Caca tersenyum geli dan menunggu balasan pesan dari Raditya. Namun ternyata, sampai subuh berkumandang, pria itu tidak kunjung membalas pesannya bahkan tidak online WA.

"Masih tidur kali ya," gumamnya dalam hati.

"Ah, tapi nggak mungkin kalau subuh belum bangun. Mungkin masih sibuk," gumamnya lagi.

***

"Ca, kamu hari ini kerja gak?" tanya Sandi.

"Ya iya dong, masa nggak kerja. Hari ini aku mau ada rapat kerja sama klien yang ngajak aku kerja sama di produk parfum," ujar Caca.

"Oh, gitu. Aku tadinya mau minta tolong ke kamu, sih ..., untuk nganter ini ke rumahnya Bella. Tapi kalau kamu kerja, ya sudah deh biar kurir saja yang nganter." Sandi menunjukkan flashdisk milik Bella–kekasihnya.

"Ya nggak papa, aku anterin aja dulu. Nanti kan aku bisa langsung capcus ke tempat kerja." Gadis manis itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk menerima flashdisk tersebut dari Sandi.

Pria yang menjadi Abangnya Caca itu sempat berpesan kepada Caca untuk mengatakan kepada Bella bahwa, saat ini dirinya sedang berada di luar kota dan tidak bisa ditemui hingga pekan depan.

Sandi memang sengaja ingin memberikan kejutan untuk Bella di hari ulang tahunnya, pada hari Jum'at depan dan sang gadis itu pun bersedia.

Caca segera memasuki ruang makan untuk persiapan sarapan bersama dengan Sandi dan ibunya. Hari ini dia berpenampilan yang cukup berbeda dari hari-hari biasanya karena hari ini ada jadwal acara rapat kerja bersama kliennya dari ibukota. Sehingga dia merasa harus berpenampilan yang sangat santun dan resmi, sebagaimana mestinya menjadi seorang Entrepreneur sekaligus owner.

"Kamu nanti rapat kerjanya sama siapa saja?" tanya ibunya.

"Sama Sahida, Tina dan Robby, seperti biasa, Bu." Dia mengambil ponselnya yang berada di saku bajunya, lalu membuka pesan dari Raditya yang baru saja masuk– membalas pesannya dini hari tadi.

Tanpa dia sadari kini dirinya senyum-senyum sendiri lagi–membuat Sandi dan ibunya merasa heran. Sebab, sikap itu adalah di luar kebiasaan Caca selama 3 tahun setelah berpisah dengan Haikal. Oleh karena penasaran, ibunya jadi bertanya kepada Caca 'ada apa, dapat pesan dari siapa' dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat Caca menjadi salah tingkah.

"Bukan siapa-siapa kok, Bu. Hanya teman aja, nggak lebih dari itu. Ya udah kalau gitu Caca berangkat sekarang ya, Bu. Takutnya telat." Caca meringis sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ibunya, lalu dilanjutkan bersalaman dengan Sandi–abangnya.

"Hati-hati, Ca …, jangan ngebut-ngebut," kata ibunya.

Caca hanya mengangkat jempol tangan kanannya sambil berlari ke depan untuk mengambil helm dan tasnya. Lalu menuju ke halaman rumah untuk mengambil motornya dan pergi meninggalkan kampungnya–menuju ke kantor tempatnya bekerja, yang jaraknya sekitar satu setengah kilo dari rumahnya.

Di perjalanan, dia bertemu dengan Raditya yang sedang asyik memakan gorengan dan minum kopi di sebuah warung, dekat dengan pom bensin. Saat itu Caca sedang mengisi bensin dan Raditya sempat melihat Caca, sehingga dia menghampiri Caca, hanya untuk menegur gadis itu saja. Raditya menunggu Caca di depan pintu keluar.

"Mau kemana, Ca?" tanya Raditya.

"Kerjalah. Mau kemana lagi," jawab gadis berhijab merah.

"Emangnya tempat kerjamu di mana, sih? kamu itu kerja apa?" tanya Raditya lagi.

"Kepo banget sih, jadi orang. Nggak perlu tahu lah, aku kerja apa dan di mana," ujar Caca dengan sedikit berkerut alisnya.

"Yaelah ..., orang cuman ditanya gitu doang kok ngegas. Saya kan cuma nanya. Ya ..., barangkali saya butuh apa-apa sama kamu yang bersangkutan dengan pekerjaan kamu, 'kan jadinya saya nanti enak hubungin kamunya," jawab Polisi berpangkat Bripda itu.

Caca mendecih, sembari melirik Raditya dengan lirikan sinis. Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Raditya dan kembali melajukan motornya–meninggalkan Raditya di pom bensin itu seorang diri.

Polisi muda itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak heran lagi dengan sikap Caca yang begitu dingin, namun kadang-kadang juga manis. Bagi Raditya sikap Caca tersebut justru mengundang rasa penasarannya dan ingin mengenalnya lebih dekat lagi.

Raditya melihat jam tangannya yang ternyata masih pagi dan dia memiliki waktu kurang lebih 1 jam untuk ke kantornya. Maka dia memutuskan mengikuti perjalanan Caca ke kantor Caca terlebih dulu, agar dia tahu 'di mana' letak kantor Caca. Dia mengikuti Caca dari kejauhan, agar tidak ketahuan oleh Caca–seorang gadis yang berhasil membuatnya penasaran hingga sempat susah tidur malam.

***

"Zalfa Design Studio. Fashion Designer Zaviera Salsabila." Raditya membaca tulisan yang ada di atas pintu masuk kantor Caca. Bibirnya sedikit terbuka membentuk huruf 'O' karena terkejut dengan tempat kerja Caca.

Raditya tidak menyangka kalau gadis se menyebalkan Caca itu ternyata bisa bekerja di sebuah studio yang cukup terkenal di kota yang memiliki julukan Bumi Kandung–tempatnya berdinas saat ini. Dia tersenyum dan kembali menutup kaca helm tropongnya, lalu berputar arah– melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor tempatnya bekerja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!