Curi-Curi Pandang

"Ca, kemarin itu gue lihat Haikal lagi jalan sama cewek, tapi bukan cewek yang elo kasih lihat fotonya ke gue," ujar Saras.

"Terus …, mau kamu apain?" tanya Caca dengan wajah sensi.

"Lagi pula, udah nggak ada urusan apa-apa lagi sama aku. Ngapain, masih ceritain dia ke aku?" tanya Caca lagi. Saras melirik Sahida yang sedang duduk di sampingnya. Sahida pun sama, namun dia hanya tersenyum.

Sahida sangat paham dengan watak Caca yang sulit untuk melupakan kesalahan orang lain. Dia akan terus ingat, semua kesalahan-kesalahan itu sampai kapan pun. Dia juga tipe orang yang tak segan untuk mengungkit kesalahan orang lain di masa lalu, jika menurutnya sudah keterlaluan.

Sebab itu, Sahida dan Saras memilih untuk diam dan mengalihkan pembicaraan. Tanpa sengaja, Sahida mendapati seorang pria yang menjatuhkan gelas es kopi tadi, melihat Caca tanpa berkedip.

"Sstt … Caca …" Sahida berbisik sambil menyenggol tangan kiri Caca.

"Apa, sih. Nggak jelas deh," gerutu Caca.

"Cowok yang nabrak kamu tadi, sekarang lihatin kamu terus, Ca …" kata Sahida.

Caca mendecak risih. Dia menilai respon Sahida berlebihan dan menjijikkan. Berulang kali dia menegur Sahida, agar tidak membalas pandangan pria itu. Namun Sahida mengabaikan omongan Caca.

"Ras, aku sekalian mau minta solusi, nih …" Caca menunjukkan beberapa poster pameran yang dia dapatkan dari media sosial ke Saras.

"Elo mau ikutan?" tanya Saras.

Caca mengangguk, "Iya, pengennya sih, begitu."

"Bagus, Ca … gue setuju dan bakal support elo. Semoga elo bisa sukses nantinya, setelah mengikuti acara ini," jawab Saras.

Tiba-tiba, seorang pria mendatangi meja Caca. Dia menanyakan nama Caca, alias meminta kenalan. Tetapi Caca hanya meresponnya datar. Baginya, tidak lagi ada daya tarik dalam diri pria. Mereka hanya sebatas ingin tahu dan penasaran saja, setelah itu pergi tinggalkan luka, saat mereka sudah tahu semua kelebihan dan kekurangan wanita yang membuatnya penasaran.

Alih-alih menjawab pertanyaannya. Menerima uluran tangannya untuk berjabat tangan saja, Caca enggan melakukannya. Sahida yang sedang duduk di samping Caca saat itu, merasa sangat sungkan dan iba–melihat sang pria yang diabaikan oleh sahabatnya.

"Ah, Hai … kenalkan, namaku Sahida–sahabatnya Caca." Dia yang menerima uluran tangan pria itu, sembari meringis–menahan malu.

Pria itu sedikit bingung dan bengong, "Hai, Sahida. Saya Raditya, salam kenal ya," ujarnya.

"Oke, sama-sama. Maaf ya, Dit. Dia namanya Caca dan yang itu Saras …" Sahida menunjuk Caca, lalu menunjuk Saras.

"Caca ini masih trauma dengan pria. Jadi …, maaf ya kalau dia dingin sikapnya dan mengabaikan kamu," imbuhnya.

"Oh, iya … nggak masalah, santai saja. Saya yang minta maaf karena membuat suasana jadi nggak nyaman. Kalau saya boleh tahu, apakah ada kontak WA atau IG? Mbak Sahida, mungkin. Ya … hanya buat menambah teman saja, lah." Raditya tersenyum.

Sesekali dia masih mencuri pandang ke arah Caca yang sedang sibuk menyedot es nya sambil memainkan HP. Sahida memberikan kartu namanya kepada Raditya.

Perbincangan mereka tidaklah lama, sebab Raditya sudah harus kembali pulang. Saat Raditya dan teman-temannya sudah pergi, Caca mulai aktif berpidato–mengkritik tindakan Sahida yang menurutnya sangat gampangan.

Dia pun tak segan-segan memperingatkan Sahida, agar dia tidak lancang memberikan kontak apapun milik Caca kepada Raditya. Caca sangat hafal dengan tingkah dan kebiasaan kedua sahabatnya itu kalau sudah berurusan dengan cinta. Baginya, mereka seakan tidak peduli dengan hak-hak Caca sebagai manusia, saat mereka sudah kerasukan percintaan.

"Astaga, aku gak akan se rese itu, Ca … aku udah gak mau tahu lagi tentang asmaramu. Aku capek, Ca." Sahida mendecih kesal.

"Bagus, deh." Caca membuang muka.

Adzan Ashar berkumandang. Seperti biasa, Caca segera berdiri dan beranjak pergi ke mushola dekat dengan cafe. Dia tidak salat sendiri, melainkan ditemani oleh Sahida. Pemandangan yang menyebalkan, Caca temui lagi di mushola.

Apa lagi kalau bukan penampakan Raditya yang sedang berwudhu dan terlihat dari halaman mushola. Lagi-lagi Caca mendecih dengan helaan nafas kasar. Dia sempat berputar balik, ingin kembali ke cafe dan salat di rumah Saras. Tetapi langkahnya dihalangi oleh Sahida.

"Ca, istighfar, Ca. Ingat, tujuan kita di mushola itu untuk salat bukan untuk hal lain. Jangan hanya karena ada Raditya, lalu kamu mengurungkan niatmu untuk jamaah." Sahida menatap Caca dengan wajah serius yang sangat jarang dia keluarkan.

Caca mendecih sekali lagi, "Iya, iya." Dengan wajah murung, dia masuk ke tempat wudhu wanita. Raditya sempat melihatnya dan tersenyum. Tetapi Caca hanya melihat sepintas saja dan mengabaikannya.

Usai jamaah, Caca hendak duduk di kursi yang tersedia di halaman mushola untuk menunggu Sahida keluar. Namun hal menyebalkan baginya, datang lagi. Raditya tak sengaja menabraknya yang sudah berjalan dengan hati-hati. Akibatnya, Caca hampir terjatuh dan kakinya terkilir.

"Aw. Aduh ..." Dia memegang kakinya yang terkilir.

"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja. Aduh, kakinya sakit ya, Mbak?" Raditya kebingungan harus berbuat apa.

Caca mendongak–melihat lelaki yang menabraknya. Alisnya mengerut dan darahnya mulai naik ke ubun-bun.

"Kamu lagi! Kenapa sih, harus ketemu orang semenyebalkan kamu terus!" teriak Caca.

"Ya mana saya tahu, Mbak. Jodoh kali," ucapnya.

"Jodoh jodoh, palamu. Sakit, nih. Tanggung jawab dong, jangan diem aja!" teriak Caca lagi.

Raditya menawarkan Caca untuk dibawa ke Puskesmas terdekat agar mendapatkan obat dan penanganan medis. Tetapi Caca menolak, jika harus berboncengan dengan Raditya.

Radit semakin kebingungan menghadapi Caca. Hingga dia memutuskan untuk membeli sebuah obat berupa salep di apotek terdekat, lalu kembali lagi ke mushola itu untuk mengobati Caca.

Raditya berniat untuk menggosokkan salep itu ke kaki Caca yang terkilir, tetapi Caca menolaknya dan dia meminta untuk mengobati lukanya sendiri. Raditya dan Caca duduk berdampingan di sebuah kursi taman yang berada di halaman mushola.

Meski jarak duduk mereka sekitar satu meter, tetapi Caca merasa risih dan kesal. Tiba-tiba, Raditya memberanikan diri bertanya tentang alasan Caca trauma dengan pria–yang menjadikannya sedingin saat ini. Namun lagi-lagi, Caca tidak menjawab.

"Kalau saya boleh bilang, jangan terlalu larut dalam masa lalu. Sebab, sangat merugikanmu. Allah itu maha adil, bijaksana dan maha tahu. Sedangkan kita sebagai manusia tidak tahu apapun tentang peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi—" Perkataan itu terputus karena sengaja Caca timpali dengan perkataannya.

"Anda siapa, menggurui saya? Anda nggak kenal saya dan Anda nggak tahu apa-apa tentang saya. Lagi pula, saya nggak minta Anda untuk berpendapat, 'kan?" Caca menatapnya sadis, lalu pergi ke arah cafe. Raditya tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu beristighfar lirih.

Tak lama kemudian, Sahida keluar dari mushola. Dia mencari-cari Caca, namun matanya tidak berhasil menemukan keberadaan Caca.

Raditya meneriaki Sahida dan memberi tahu kalau Caca sudah kembali ke cafe. Sahida mengucap terima kasih padanya, lalu segera menyusul Caca ke cafe. Tiba di cafe, Sahida masih tidak menemukan wajah Caca.

Tetapi dia berpikir 'mungkin Caca ada di dalam rumah Saras' sehingga dia tidak mencari Caca dan lebih memilih duduk santai, menikmati wifi gratis milik Saras. Pengunjung cafe saat itu sedang sangat ramai, sehingga Saras dan dua karyawannya sangat sibuk dan belum sempat menemani Sahida ngobrol. Sudah hampir setengah jam, Sahida duduk sendirian di kursi cafe.

Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menanyakan keberadaan Caca kepada Saras. Mengejutkannya, Saras ternyata tidak tahu keberadaan Caca saat ini. Dia mengira, Caca masih bersama Sahida. Kepanikan mulai hadir, mengusik hati Sahida. Pikirannya mulai overthinking dan segera pergi, mencari Caca.

"Ya udah, kita nyari Caca berpencar ya, Da! Elo nyari di luar, gue nyari di dalam dulu. Kali aja ada di dalam, tapi gue nggak tahu," ujar Saras.

"Oke, deh. Aku cari sekarang!" teriak Sahida, sambil berlari keluar, mengambil motornya dan melajukannya dengan kecepatan yang cukup mengerikan.

Terpopuler

Comments

Covana_Nana

Covana_Nana

kenapa tidak di telpon aja ya

2023-10-19

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!