"Liana, aku mau ke toilet sebentar, ya," pamit Syahnaz. Sejak berangkat ia belum sempat ke kamar kecil. Sebenarnya sejak tiba di sana ia sudah sangat ingin buang air hanya saja sungkan kepada Jendra.
"Oh. Baiklah. Aku akan menunggumu di sini. Toiletnya di sebelah sana, ya!" kata Liana sembari menunjuk ke suatu arah.
"Iya. Titip tasku sebentar," kata Syahnaz seraya memberikan tas tangannya kepada Liana.
Syahnaz berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Liana. Letak toilet berada tak jauh dari tempat acara. Di dalam toilet wanita, tampak beberapa orang yang tengah membenarkan dandanannya. Ia memasuki salah satu bilik toilet yang kosong untuk buang air kecil.
"Eh, tadi itu wanita yang datang bersama Pak Jendra, ya?"
Samar-samar Syahnaz bisa mendengar percakapan orang yang ada di luar bilik. Mau tidak mau ia tetap mendengarkan percakapan itu.
"Sepertinya iya. Aku juva kurang begitu memperhatikan."
"Tumben Pak Jendra mau datang, biasanya dia tidak pernah mau kalau ada acara seperti ini."
"Iya. Bahkan yang jadi kejutan dia datang membawa istrinnya."
"Ah ... Aku patah hati sekali Pak Jendra ternyata sudah beristri."
"Kamu selama ini kemana saja? Pak Jendra kan memang sudah menikah."
"Iya, sih ... Tapi kan Pak Jendra tidak pernah memperlihatkan istrinya. Jadi aku punya harapan untuk bisa menjadi istrinya."
"Kalau kamu sedang tidur, mending cepetan bangun deh! Mimpinya ketinggian bisa menikah dengan Pak Jendra."
"Ah, sudah, sudah ... Sampai kapan kita mau ngobrol di sini? Balik ke dalam, yuk!"
"Iya, deh! Aku kita keluar!"
Syahnaz sengaja menunggu suasana di luar sepi baru ia keluar dari dalam bilik. Ia tidak menyangka para wanita itu akan begitu berani berbicara padahal tahu dia ada di sana. Ternyata Jendra disukai oleh banyak wanita.
Syahnaz mencuci tangan dan membasuh mukanya agar lebih segar. Di dalam tempat pesta rasanya pengap karena banyak sekali orang yang datang. Ia menghela napas dan menatap dirinya yang ada di dalam cermin. Ia sudah tidak betah berada di tempat pesta itu.
"Aku bilang saja sama Mas Jendra kalau aku mau pulang," gumamnya.
Syahnaz berjalan ke arah pintu keluar toilet. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan cepat dan membawanya ke arah sudut yang sepi tak jauh dari sana.
"Mas Aditya!" serunya kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan suaminya di sana. Ia sampai tertegun melihat kedatangannya.
Aditya tanpa ragu langsung memeluk wanita itu, meluapkan kerinduannya. Ia benar-benar merindukan Syahnaz.
"Mas, hentikan, lepaskan aku," pinta Syahnaz. Ia sangat takut jika ada yang melihat keberadaan mereka.
Aditya menurut. Ia melepaskan pelukannya. Ia pandangi wajah wanita cantik yang ada di hadapannya. Malam ini Syahnaz tampak sangat cantik. Ia tidak percaya wanita itu bisa tampil begitu cantik seperti sekarang.
Ketika tangannya mengusap pipi wanita itu, ada getaran yang terasa dalam dirinya. Ia terpesona olehnya. Namun, saat bibirnya hendak mencium bibir sang istri, Syahnaz menolak dengan telapak tangannya.
"Jangan, Mas. Ini sudah berlebihan," kata Syahnaz.
"Kenapa? Aku kan suamimu?" tanya Aditya. Ia merasa sangat kecewa dengan penolakan wanita itu.
"Tentu kamu tidak lupa dengan perjanjian itu kan, Mas? Kamu sudah menjualku kepada Tuan Jendra," kata Syahnaz mengingatkan.
Aditya melihat ke sekeliling. Suasana aman, tak ada siapapun yang melintas di sekitar tempat mereka.
"Tidak ada siapa-siapa, kamu tenang saja. Aku kangen banget sama kamu," ucap Aditya. Ia berusaha merayu.
Syahnaz menggeleng. "Aku tidak mau mengambil resiko, Mas. Mungkin saja ada CCTV di sekitar sini. Kita tahu berurusan dengan Tuan Jendra bukanlah perkara yang mudah. Dia punya kuasa dan bisa menuntut kita," tuturnya.
Aditya hanya bisa menghela napas. "Begini ya, rasanya memendam rindu pada istri sendiri," protesnya.
"Lalu kamu mau menyalahkan siapa? Bukannya kamu sendiri yang sudah menjual aku kepadanya." kata Syahnaz dengan ketus. Tatapan kesal dan benci bisa terlihat jelas dari sorot matanya.
Aditya tidak bisa mengelak dari ucapan Syahnaz. "Maafkan aku, Naz. Kita memang tidak punya pilihan lain saat itu. Kalaupun ada, pasti aku tidak akan mengorbankanmu," kilahnya.
"Ya sudah, Mas. Kalau begitu, aku mau kembali ke dalam dulu," pamit Syahnaz.
Aditya menahan tangannya seolah tidak rela ditinggalkan. "Kita kan baru sebentar ketemu, Nas. Apa kamu tidak kangen aku? Sudah hampir tiga bulan kita berpisah. Hampir tidak ada kesempatan untuk kita bisa bertemu."
"Kesepakatannya kan memang seperti itu, Mas. Kamu sendiri yang setuju kalau kita tidak akan bertemu selama aku jadi milik Tuan Jendra!" tepis Syahnaz.
Aditya merasa percuma berbasa-basi dengan Syahnaz. Wanita itu tampaknya masih punya rasa kesal kepadanya.
"Iya, Sayang. Maafkan aku. Kamu sabar-sabar saja sebentar, ya! Nanti kita akan bersama lagi," kata Aditya menenangkan. Ia membelai rambut Syahnaz, namun wanita itu menyingkirkannya.
"Oh. Iya. Apa Pak Jendra juga ingkar janji? Sudah dua bulan dia tidak memberikan transferan yang kepadaku, Sayang. Dia kan sudah menjanjikan untuk rutin mengirim 50 juta per bulan ke rekeningku," protes Aditya.
"Aku yang memintannya," lirih Syahnaz.
"Apa?" tanya Aditya memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Syahnaz melayangkan tatapan tajam ke arah Aditya. "Aku kecewa sama kamu, Mas," katanya.
"Kecewa? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Aditya berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Syahnaz terlihat semakin kesal. "Jangan pura-pura tidak tahu, Mas. Kamu nggak pernah ngurusin ibuku, kan? Kamu juga tega menempatkan ibuku di ruang kelas perawatan paling rendah!" ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk mengungkapkan kekesalannya itu.
Aditya terlihat panik, wajahnya langsung pucat pasi. Apa yang Syahnaz katakan, semuanya adalah kenyataan. Ia memang agak lupa untuk mengurus mertuanya. Ia kira Syahnaz tidak akan bisa keluar dari rumah Jendra sebelum melahirkan anak. Padahal ia sudah berencana membiarkan ibu Syahnaz mati secara perlahan-lahan di rumah sakit supaya dirinya tidak ada lagi beban.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Sukliang
msu ensk sja dr jual istri
2023-11-30
0
dewi
bener2 kurang asem si Aditya
2023-11-15
0
Qorie Izraini
wah enak banget hidup Ditya
tiP bln dapat 50 juta ,yanpa bekerja
2023-11-13
0