Sepanjang hari, Syahnaz hanya bisa merenung sembari memperhatikan lalu Lalang kendaraan melalui jendela kaca di kamar apartemennya. Sudah dua minggu ia di sana, menghabiskan waktu bersama Jendra.
Lelaki itu akan datang menemuinya setiap kali ingin bercinta. Tak peduli pagi, siang, ataupun malam, Syahnaz harus bersiap memenuhi kemauan lelaki itu. Ia rasa gairah yang dimiliki Jendra sudah di luar batas kewajaran. Setiap hari ia akan diajak bercinta berkali-kali tanpa bisa menolak. Padahal ia kira hanya butuh satu dua kali melakukannya agar ia bisa hamil.
Syahnaz merindukan suaminya, juga ingin tahu tentang kabar ibunya. Tapi, Jendra melarangnya menghubungi siapapun sampai batas waktu yang tidak bisa dipastikan. Meskipun Jendra memperlakukannya dengan sangat baik, namun ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya.
“Mas Aditya, aku kangen,” gumam Syahnaz sembari bersandar pada kaca jendela.
“Kamu menyebut nama siapa tadi?”
Syahnaz terkesiap saat mendengar suara Jendra. Lamunannya seketika menghilang berganti ketakutan dengan kehadiran lelaki itu.
“Pak Jendra, Anda sudah pulang?” Syahnaz memberanikan diri bertanya.
Wajah Jendra terlihat muram. Ia jelas mendengar nama siapa yang baru saja disebut oleh wanitanya. Syahnaz terlihat takut akan dimarahi.
Jendra berjalan mendekat, mengusap lembut pipi wanita itu. “Kenapa kamu masih memanggilku seperti itu? Gunakanlah panggilan lain yang lebih akrab untukku. Kita juga sudah dua minggu lebih tinggal bersama. Apa kamu masih menganggapku orang asing, hm?”
“Mas Jendra,” ucap Syahnaz dengan nada lirih dan malu-malu.
Jendra tersenyum puas. “Jangan lupa untuk terus memanggilku begitu, aku menyukainya,” bisiknya.
Wajah Syahnaz memerah saat hembusan napas Jendra mengenai telinganya. Ada sedikit rasa menggelitik yang ia rasakan.
“Ini masih siang, kenapa Mas Jendra sudah pulang?” tanya Syahnaz.
“Aku merindukanmu.”
Jendra menyibakkan rambut yang menutupi Sebagian wajah Syahnaz. Ia sangat suka memandangi wajah cantik itu di sela-sela kesibukannya di kantor.
Semenjak ada Syahnaz, ia tak bisa tahan berlama-lama di kantor seperti sebelumnya. Bawaannya ia selalu merindukan wanita itu.
Bahkan terkadang saat rapat penting, ia masih sempat membayangkan tubuh indah wanitanya.
Ia tak peduli lagi dengan ucapan Regi waktu itu. Ia akui bahwa kini dirinya tengah mabuk kepayang dengan keberadaan Syahnaz. Ia tidak ingin momen itu cepat berakhir hanya karena kehamilan. Ia akan menunda kehamilan Syahnaz lebih lama lagi.
Jangankan untuk hamil, bahkan secara diam-diam Jendra tidak membiarkan Syahnaz mengalami siklus bulanannya agar ia bisa leluasa menyentuh wanita itu setiap waktu.
“Apa itu tidak akan mengganggu? Mas Jendra sering bolak-balik dari kantor ke apartemen. Bukankah pekerjaan di kantor pasti sangat banyak?” tanya Syahnaz dengan polosnya.
Bukan tanpa alasan, saat masih berpacaran dengan Aditya, Syahnaz sering kali sulit bertemu saat hari kerja. Aditya hampir selalu bekerja lembur dan pulang larut malam. Jadi, ia mengira jika semua pekerja kantoran pastilah punya banyak pekerjaan.
Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Jendra. Lelaki itu bisa dihitung pulang pergi dari kantor ke apartemen hanya untuk mengajak bercinta. Setelah itu, biasanya ia akan kembali ke kantor. Bukan sesuatu yang mengherankan jika Syahnaz bisa mandi berkali-kali dalam sehari.
Jendra memeluk pinggang Syahnaz. Tatapan mata mereka bertemu. “Kamu tidak perlu memusingkannya. Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena sering meninggalkan kantor.
Apalagi aku pemilik perusahaannya,” kata Jendra seolah ingin mengingatkan betapa kaya dirinya, sampai bisa membeli Syahnaz dari suaminya.
“Apa Mas Jendra mau aku membuka baju sekarang?” tanya Syahnaz.
Jendra tertawa lebar mendengarnya. Syahnaz seakan sudah hafal dengan kebiasaannya. Ia memang sering kali tiba-tiba pulang dan menyuruh wanita itu untuk menanggalkan pakaian. Lalu, ia akan mengajak Syahnaz bercinta sampai terpuaskan. Setelah itu, ia akan kembali lagi ke kantor dengan perasaan yang lebih bahagia.
Jendra kembali memeluk Syahnaz. Ia membelai lembut rambut panjang wanitanya. “Kita lakukan saja itu nanti malam. Hari ini, aku akan mengajakmu pulang,” ucapnya.
“Pulang?” tanya Syahnaz penasaran.
Jendra mengangguk. Ia tersenyum melihat wajah Syahnaz yang tampak bingung. “Aku akan mengajakmu tinggal di rumahku. Kita akan tinggal bersama keluargaku di rumah utama. Kamu pasti sangat bosan kan, menghabiskan waktu di apartemen ini?”
Wajah Syahnaz terlihat panik. Mendengar Jendra menyebut kata keluarga sudah membuatnya takut. Ia pasti tidak akan diterima dengan baik di sana, apalagi Jendra sudah memiliki seorang istri. Ia tidak bisa membayangkan tinggal dengan keluarga Jendra.
“Aku tidak apa-apa tinggal di sini terus, Mas. Aku sama sekali tidak bosan,” kilah Syahnaz. Ia hanya tidak ingin pergi ke rumah Jendra.
“Jangan khawatir, keluargaku sudah tahu siapa kamu. Mereka tidak akan berbuat macam-macam kepadamu, karena aku yang membawamu,” kata Jendra meyakinkan.
Syahnaz menggigit bibirnya. Ia masih ragu untuk memutuskan.
“Di sana tempatnya lebih luas dan nyaman, juga ada banyak orang. Aku yakin kamu akan betah berada di sana. Apalagi nanti kalau kamu hamil, kandunganmu harus dijaga dengan ekstra. Kamu akan melahirkan anak dari seorang Jendra, Syahnaz. Kamu harus mendapatkan pelayanan yang terbaik.” Jendra terus mempengaruhi agar Syahnaz mau mengikuti kemauannya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan ikut denganmu,” kata Syahnaz memutuskan.
Jendra tersenyum bahagia. Ia lantas menggandeng tangan Syahnaz agar ikut dengannya untuk pulang ke rumah.
Ternyata Jendra mengendarai mobilnya sendiri. Dengan perhatian lelaki itu memasangkan sabuk pengaman di tubuh Syahnaz. Lalu, ia mengemudikan mobil itu meninggalkan Kawasan apartemen.
Rasa cemas Syahnaz masih ada, tetapi ia berusaha untuk menguatkan diri. “Mas,” kata Syahnaz membuka perbincangan.
“Iya, kenapa?” tanya Jendra sembari fokus pada kemudinya.
“Jadwal menstruasiku sudah telat satu minggu. Biasanya selalu tepat waktu. Apa kita perlu ke dokter untuk tes kehamilan?”
Jendra terdiam sesaat mendengar pertanyaan Syahnaz. Apa yang dialami wanita itu tidak lain adalah ulahnya sendiri. Ia sengaja menghilangkan jadwal siklus bulanan Syahnaz dan memastikan wanita itu agar tidak cepat-cepat hamil.
Jendra menyunggingkan senyum. “Kita tunda saja jadwal periksanya sampai bulan depan, ya! Aku masih sibuk. Ini pasti karena kamu rajin minum obat yang aku berikan. Kamu jadi sangat subur,” ucapnya.
Syahnaz tersenyum. Ia mengelus perutnya sendiri. Ia sangat yakin jika di dalam sana ada calon bayi yang tengah tumbuh. Semakin cepat bayi itu terlahir, maka perjanjiannya dengan Jendra akan segera berakhir. ia sangat menantikan momen untuk kembali pada suaminya, Aditya.
Jendra diam-diam memperhatikan Syahnaz. Ia terpaksa harus membohongi wanita itu agar tidak kabur darinya. Ia yakin jika Syahnaz tahu dirinya hanya menginginkan tubuhnya, wanita itu pasti akan marah dan meninggalkannya.
Perjanjian awal mereka hanyalah untuk mendapatkan seorang anak. Tapi, setelah mencoba, Jendra ingin mendapatkan kepuasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
𖤓࿐кιиαяα 😘💞࿐
sepertinya Jendra gak mungkin gak tau siapa Aditya... pasti dia sudah menyelidiki siapa Aditya knpa gak buka kedoknya aja sihhh biar Syahnaz gak kepikiran sama Aditya lagi
2024-02-21
1
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
Aditya n Jendra sm2 nyebelin 😩😩
2024-02-12
0
Qorie Izraini
dasar si jendra serakah...
gimana kabar ibu ny Sahnaz y..
2023-11-13
1