Mobil yang Jendra kendarai berhenti di sebuah rumah besar bercat putih gading. Untuk memasuki halaman rumah itu, mereka perlu melewati gerbang besar yang dijaga oleh beberapa orang. Sekeliling rumah besar itu dibatasi oleh tembok tinggi dengan kawat berduri. Orang yang berniat untuk mencuri di sana mungkin harus berpikir matang-matang karena ketatnya pengamanan.
Jendra membukakan pintu mobil untuk Syahnaz. Ia menggandeng tangan wanitanya dan mengajak masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Syahnaz masih takut dengan respon keluarga Jendra nanti. Dilihat dari megahnya rumah itu, penghuninya pastilah orang-orang kaya yang selalu bergelimang kemewahan. Ia yang terbiasa hidup seadanya mungkin saja tidak akan cocok dengan gaya hidup mereka. Apalagi posisi dirinya di sana hanya sebatas wanita bayaran.
“Selamat datang, Tuan Jendra.” Seorang wanita paruh baya berpakaian seperti pelayan berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka.
Syahnaz semakin kagum, bahkan pelayan di sana mengenakan seragam yang bagus. Wajar jika lelaki itu membelinya dengan harga yang fantastis. Mungkin saja uang beberapa miliyar itu hanyalah jumlah yang kecil.
“Syahnaz, ini Mamita. Kamu bisa memanggilnya seperti itu. Dia yang akan melayanimu selama di sini. Jangan sungkan untuk meminta bantuannya. Dia sudah puluhan tahun mengurus rumah ini,” kata Jendra memperkenalkan kepala pelayan di rumahnya.
“Salam kenal, Nona. Saya Mamita. Silakan mengatakan apapun yang Anda butuhkan selama berada di sini,” kata Mamita dengan nada bicara yang sopan.
Syahnaz hanya bisa mengulaskan senyum. Tidak pernah membayangkan seumur hidupnya akan ada masa ia dilayani oleh pelayan. Selama ini ia mengurus dirinya sendiri.
“Dimana Mama dan Terry?” tanya Jendra.
“Nyonya Rania dan Nona Terry sudah menunggu Anda di ruang tengah, Tuan.”
Jendra mengajak Syahnaz masuk mengikuti langkah Mamita. Ia akan memperkenalkan Syahnaz kepada ibu dan adik perempuannya.
“Akhirnya kamu pulang, anakku,” sapa Rania.
Di ruang tengah, Syahnaz melihat dua orang wanita dengan penampilan sederhana namun terlihat elegan. Secara fisik, orang juga pasti sudah bisa menebak jika mereka merupakan orang kaya.
Ibu Jendra masih tampak cantik dan muda dengan potongan rambut pendeknya. Adik Jendra juga tak kalah cantiknya, seperti artis atau model. Wajar saja sebelum datang ke sana, Jendra membawa Syahnaz mampir ke salon dan mendandaninya dengan cantik. Jika Syahnaz berpenampilan apa adanya, mungkin saja ia akan dikira mau melamar sebagai pelayan di rumah itu.
“Mama, aku membawa wanita yang sudah aku ceritakan, namanya Syahnaz,” kata Jendra memperkenalkan wanitanya.
Rania memperhatikan penampilan wanita yang Jendra bawa. Ia mengulaskan senyum. “Dia cantik sekali,” pujinya.
Syahnaz terlihat kaget menerima pujian itu. Ia kira ibu Jendra akan memaki-makinya karena berani menginjakkan kaki di sana.
“Selamat datang, Syahnaz. Aku harap kamu akan betah tinggal di sini,” kata Rania seraya berdiri dan memeluk Syahnaz dengan hangat.
Syahnaz masih belum percaya dengan sambutan yang diterima. Ia hanya bisa merasa lega, ternyata apa yang ditakutinya tidak terjadi. Ia membalas pelukan yang Rania berikan.
“Oh, iya, Syahnaz. Kenalkan, ini adiknya Jendra, putri bungsuku. Namanya Terry. Dia baru saja masuk kuliah.”
“Halo, Terry. Namaku Syahnaz.”
Syahnaz mengulurkan tangan dan disambut jabat tangan oleh Terry. Adik Jendra itu memang mau tersenyum dan menyapanya, namun Terry tidak terlalu suka melihat kehadirannya di sana.
“Duduklah dulu, kita harus lebih banyak bicara,” ajak Rania.
Syahnaz duduk di antara Rania dan Terry. Ia masih tampak canggung berada di sana.
“Sebenarnya jendra masih punya satu adik laki-laki, namanya Noah. Tapi, dia sedang sibuk berbisnis di luar negeri. Terry itu anak terakhir, satu-satunya perempuan, maklumi saja kalau nanti kelakuannya agak menjengkelkan,” kata Rania.
“Ma, aku mau ke kamarku dulu, ganti baju,” pamit Jendra.
“Oh, iya, Sayang. Mama masih mau ngobrol lebih lama dengan Syahnaz. Kamu naiklah!” kata Rania.
Jendra lantas berbalik badan dan berjalan ke arah tangga penghubung ke lantai atas. Bersamaan dengan itu, dua orang pelayan datang menghidangkan minuman dan makanan.
“Silakan diminum, Syahnaz,” kata Rania dengan ramah.
“Terima kasih, Nyonya,” kata Syanaz dengan nada sedikit bergetar.
Rania mengerutkan dahi. “Nyonya? Kenapa kamu memanggilku begitu? Panggil saja Mama, sama seperti Jendra,” pintanya.
Syahnaz tersenyum kikuk. “Ah, iya, maaf, Ma … ma ….,” ucapnya terbata-bata.
Rania tersenyum. “Karena Jendra yang membawamu ke sini, jadi kamu juga sudah aku anggap sebagai keluarga. Jangan canggung kepada kami.”
Syahnaz mengangguk. “Iya, Ma.”
Rania terus menatap Syahnaz dengan bahagia. Wanita itu adalah harapannya. Jendra tak pernah mau mendengarkannya untuk mencari seorang wanita demi bisa mendapatkan keturunan. Ketika Jendra mengabarkan tengah tertarik dengan seorang wanita, ia meresponnya dengan baik.
Siapapun itu, akan ia terima asalkan Jendra mau mempunyai anak. Ia bahkan sudah sering mengenalkan Jendra kepada beberapa anak temannya, namun Jendra selalu menolak.
Syahnaz memang cantik, juga terlihat santun. Pastilah Jendra tidak sembarangan untuk memilih wanitanya. Setelah sekian lama, akhirnya putranya bisa luluh juga kepada seorang wanita.
“Kak Syahnaz, nanti jangan kaget ya, kalau tinggal di sini,” celetuk Terry yang sedang asyik mengemut permennya.
Syahnaz tak terlalu paham apa yang adik Jendra itu maksud. Ia hanya merasa Terry kurang suka padanya.
“Jangan pedulikan dia. Kalau Terry mengganggumu, laporkan saja pada Mama. Dia akan Mama hukum,” ujar Rania.
“Duh, Mama saking mau punya cucu sampai anak sendiri rela dikorbankan,” protes Terry dengan nada ketusnya.
Rania menepuk lengan anak bungsunya yang agak manja itu. “Kalau kamu tidak aneh-aneh pada Syahnaz, Mama juga tidak akan memarahimu. Pokoknya, jaga baik-baik Syahnaz di sini!” ucapnya.
“Iya, Ma! Iya ….”
Syahnaz tersadar seketika. Ternyata memang bukan hanya Jendra yang menginginkan anak darinya, tetapi juga nyonya di rumah itu. Ia merasa disayangi hanya karena dirinyalah calon wanita yang akan melahirkan keturunan dari keluarga itu. Ada sedikit rasa kecewa karena ia dianggap ada karena dirinya, melainkan ada maksud di belakangnya.
Seperti yang pernah Jendra katakan, ia harus menjadi wanita yang sempurna untuk menampung benih berharga dari lelaki itu. Tentunya mereka menginginkan bibit unggul darinya. Makanya, ia akan disenangkan sampai anak itu terlahir dan akhirnya ia akan kembali dibuang.
“Aku dengar kamu lulusan dari kampus XXX jurusan Manajemen Bisnis dengan predikat cumlade?” tanya Rania dengan antusias.
“Iya, Ma. Saya lulus tahun kemarin, belum terlalu lama,” jawab Syahnaz.
“Baguslah, jurusanmu juga sama dengan Terry. Mungkin sesekali kamu bisa menemani dia belajar.”
“Aku bisa belajar sendiri, Ma,” kata Terry sedikit kesal.
“Lebih enak belajar dengan teman kan, dari pada sendirian? Lagi pula, Syahnaz pasti sudah lebih punya pengalaman,” tutur Rania.
Terry memutar malas kedua bola matanya. “Terserah sajalah!” ia memilih cuek dan melanjutkan bermain ponselnya. Ia memang tak pernah menang jika berhadapan dengan ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
𖤓࿐кιиαяα 😘💞࿐
disini Syahnaz akan menemukan keluarga sesungguhnya setelah ibunya sendiri 🥰
2024-02-21
0
Adelia Rahma
tenang Naz Kamu akan berada di rumah itu untuk selamanya jika si jen jen sdh bucin ke kamu
2023-11-07
2
Andariya 💖
welcome banget keluarganya 😍
2023-11-07
0