“Kamu baru pulang?” tanya Jendra.
Saat Syahnaz baru saja masuk ke dalam kamar, Jendra lebih dulu ada di sana. Lelaki itu berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin dan melipat kedua tangannya. Seketika debaran jantung Syahnaz memburu, ia merasa takut.
“Em, maaf. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di rumah sakit, jadi butuh waktu yang cukup lama,” jawab Syahnaz.
Jendra tersenyum kecut. “Apa kamu menemui suamimu?” tebaknya.
Syahnaz menggeleng. “Bisa Mas Jendra tanyakan sendiri pada Pak sopir atau bodyguard. Aku sama sekali tidak bertemu dengannya di rumah sakit. Aku hanya mengurus ibuku.”
“Benarkah?” tanya Jendra. Ia mengambil ponselnya, lalu mengecek sesuatu. “Hari ini kamu cukup banyak menggunakan uang dari kartu kreditku. Aku baru saja menerima laporannya.” Ia memperlihatkan layar ponselnya kepada wanitanya.
Syahnaz terpojok. Ia tidak menyangka jika Jendra akan tahu dengan cepat. “Aku terpaksa memakainya untuk membayar biaya tunggakkan rumah sakit ibuku, juga untuk memindahkan ruang perawatannya. Kalau memang Mas Jendra keberatan, potong saja dari bayaranku setiap bulan,” katanya.
Jendra mengerutkan dahi. “Kenapa bisa menunggak biaya? Katanya suamimu sudah mengurus semuanya?” tanyanya heran.
Syahnaz menghela napas. Mengingat kembali hal itu membuatnya kesal pada Aditya. “Dia hanya membayar biaya operasi, biaya perawatan ibuku selama satu bulan belum dibayarkan. Dia juga menempatkan ibuku di kelas paling murah di rumah sakit!”
Jendra sampai tercengang mendengarnya. “Lalu, kemana uang yang ia dapatkan dariku? Aku rasa itu masih cukup banyak untuk sekedar membayar biaya rumah sakit.”
“Entahlah, mungkin aku harus bertemu dengannya dan meminta penjelasan darinya,” kata Syahnaz dengan nada lemas.
“Tidak usah!” tegas Jendra. “Kamu seharusnya sudah tahu kalau suamimu itu lelaki yang tidak bertanggung jawab sejak awal dia ingin menjualnya padaku. Tidak perlu lagi kamu berurusan dengan orang seperti itu!” perintahnya.
“Tapi, itu juga kami lakukan dengan terpaksa, bukan kemauan kami berdua,” tukas Syahnaz.
“Hahaha … bodoh sekali kamu percaya dengan ucapannya. Yang terpaksa itu hanya kamu, bukan dia. Aku rasa sekarang dia sedang berfoya-foya dengan uang yang didapatkan dariku,” ujar Jendra.
“Mas, kamu tidak boleh bicara buruk seperti itu! Mas Aditya bukan orang seperti itu!”
Syahnaz sedikit marah dengan tuduhan Jendra. Meskipun ia kesal, tapi ia yakin Aditya punya alasan kenapa melakukannya. Ia hanya akan tahu setelah bertemu sendiri dengannya. Sayangnya, Jendra melarang hal itu.
Jendra meraih tangan Syahnaz dan menariknya ke arah ranjang. Dengan tiba-tiba, ia mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh di atas Kasur yang empuk. Sementara, dirinya berada di atasnya, memandangi kepolosan wajah itu.
“Kamu boleh jadi orang baik, tapi jangan sampai jadi orang bodoh,” ucap Jendra seraya membelai wajah wanitanya.
“Apapun yang lelaki itu lakukan bukan urusanku, terserah dia mau berbuat apa. Yang penting, kamu masih milikku. Ingat perjanjian kita, kamu tidak boleh bertemu dengannya. Kamu paham, kan?” tanya Jendra memastikan.
Syahnaz hanya bisa mengangguk.
Seperti biasa, Jendra tak bisa menahan diri untuk kembali merengkuh wanitanya. Menghujani wanita itu dengan serentetan cumbuan mesra yang agresif. Syahnaz seolah sudah disetel untuk pasrah menerima perlakuan lelaki itu.
Rasa curiga dan cemburu yang bercongkol di hati, membuat Jendra kian bersemangat melakukan aksinya menjamah tubuh indah wanita itu. Seakan ia ingin menandai setiap sudut teritori kepemilikannya terhadap sang wanita. Jendra merasa hanya dirinya yang berhak memiliki.
Suara lengkuhan dan erangan yang keluar dari mulut Syahnaz seakan menjadi penyemangatnya untuk terus menghujamkan kepemilikannya ke dalam lembah penuh kenikmatan. Kepasrahan wanitanya semakin membuatnya mengukuhkan diri sebagai orang yang berkuasa.
Entah sudah berapa banyak benih yang ia semaikan pada lembah kenikmatan itu. Rasanya sekali saja tidak akan cukup, butuh berkali-kali hingga ia mencapai kepuasannya sekaligus meluapkan emosi serta meredakan perasaan resahnya.
Bagi Jendra, Syahnaz tak hanya sekedar penghangat ranjangnya, tetapi juga sebagai penenang jiwanya.
“Sayang, jangan tidur dulu. Kamu belum makan malam,” kata Jendra usai kegiatan bercinta mereka berakhir.
Syahnaz masih tergolek lemas di ranjang. Ia bahkan belum berpakaian kembali. Tubuh polosnya hanya ditutupi selimut setengah badan. Ia benar-benar kelelahan. Setelah dibuat cukup pusing di rumah sakit tadi siang, ia masih harus melayani Jendra yang menggempurnya dari sore hingga malam menjelang. Seakan ia tak ada tenaga lagi hanya sekedar untuk menggerakkan badan.
“Aku tidak lapar,” ucap Syahnaz.
“Apa aku bawakan saja makan malamnya ke kamar?”
“Hm, tidak usah. Aku mau langsung tidur, aku mengantuk,” katanya.
Jendra tersenyum. Ia mengusap kepala Syahnaz dengan lembut. “Baiklah, kalau begitu minum obatmu dulu sebelum tidur,” pintanya seraya memberikan sebuah kapsul dan segelas air kepada Syahnaz.
Ia membantu wanitanya meminum obat itu tanpa harus beranjak dari ranjang. Syahnaz sudah terbiasa mengkonsumsi obat itu. Jendra tak pernah lupa memberikan obat kepadanya setelah bercinta.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Jendra mengalihkan pandangan ke arah pintu. Ia penasaran siapa yang ada di balik pintu.
“Selamat tidur, Sayang,” ucap Jendra seraya mengecup dahi Syahnaz. Wanita itu benar-benar kelelahan dan sudah memejamkan mata.
Jendra berjalan menghampiri ke arah pintu. Ia membukanya, ternyata ada ibunya. “Kenapa, Ma?” tanyanya.
“Mama sejak tadi menunggu kalian di bawah untuk makan malam. Kenapa belum turun juga?” tanya Rania.
“Ah, iya, Ma. Aku mau turun sekarang,” kata Jendra.
“Syahnaz mana?” tanya Rania heran.
“Dia sudah tidur, katanya kelelahan,” jawab Jendra. Ia berjalan melewati ibunya menuju ke arah tangga.
Rania mengintip sebentar dari pintu kamar Jendra yang terbuka setengah. Dilihatnya Syahnaz yang tengah terbaring di atas ranjang dengan bagian punggung polos yang terekspose.
Rania mengembangkan senyum, seolah tahu apa yang baru saja putranya lakukan di dalam sana. Ia lantas menutup kembali pintu kamar dan menyusul Jendra turun ke bawah menuju meja makan.
Di ruang makan Jendra dan Terry sudah mengambil makan malamnya masing-masing. Ia turut bergabung dengan kedua anak kesayangannya.
“Kak, belikan aku mobil!” pinta Terry.
“Buat apa? Kan sudah ada sopir yang setiap hari antar jemput kamu,” tukas Jendra.
“Aku mau ke kampus sendiri, masa sudah kuliah masih diantar sopir. Aku malu!” keluh Terry yang kesal selalu dianggap anak kecil oleh kakaknya.
“Tunggu nanti kalau sudah semester dua, lihat dulu nilaimu selama satu semester. Kalau memang bagus, akan aku ijinkan kamu punya mobil sendiri.”
“Yah, memangnya sekarang masih jaman jadi anak pintar? Aku kan punya kakak yang bisa diandalkan. Sekalipun aku bodoh, Kakak masih bisa merekrutku masuk ke perusahaan.”
Jendra tersenyum mendengar rengekkan adikknya. “Kamu kira aku akan menerima orang bodoh di perusahaanku?”
“Aku kan adikmu!” ujar Terry.
“Memangnya kamu mau bergantung selamanya dengan kakakmu? Berusahalah sendiri untuk hidupmu sendiri.”
Terry hanya bisa manyun karena keinginannya tidak dipenuhi. Ia memang sudah menebak jika kakaknya tidak mungkin dengan mudah mengabulkan apa yang dia mau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Soraya
qu bingung ktanya cinta sm istri nya tp kok bsa bercinta dgn wanita lain tnpa beban
2023-11-07
3
Ass Yfa
jangan bilang ntar Tery kepincut Aditya
2023-08-22
1
Sunarti
biarkan aja Aditya sng kelakuan bejatnya lama" akan terbongkar juga
2023-08-16
0