Jendra dan Regi tengah berdiri di dekat jendela ruang kantor Regi sembari menikmati kopi. Keduanya menatap ke bawah tepat ke arah parkiran, memandangi sebuah pemandangan yang sungguh membuat mereka ingin tertawa sekaligus kesal. Tampak Aditya dengan santainya berpelukan mesra dengan seorang wanita, bersenda gurau, lalu masuk ke dalam mobil.
“Orang itu ternyata benar-benar tidak waras. Kasihan sekali istrinya,” guman Regi seraya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Jendra menyeringai. “Kalau dia waras, mana mungkin mau melepaskan istrinya untukku,” ujarnya.
Regi menyenggol lengan Jendra. “Ah, iya. Aku sampai lupa kalau ada orang yang bahagia atas ketololan Aditya. Tuan Jendra memang luar biasa,” sindirnya.
“Meski begitu, istrinya masih menganggapnya sebagai lelaki baik-baik. Padahal, dia sudah menelantarkan ibunya di rumah sakit. Aditya tidak membayar tagihan rumah sakit selama satu bulan. Juga menempatkan ibunya hanya di ruangan kelas tiga. Coba kamu bayangkan sendiri,” kata Jendra.
“Serius?” tanya Regi kaget. “Jadi, uang yang dia dapat untuk senang-senang sendiri? Bahkan ia habiskan dengan wanita lain? Benar-benar gila itu Aditya. Untung saja dia sudah kelaur dari perusahaanku.”
“Oh, dia resign?” Jendra balik bertanya.
Regi menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Baru tadi pagi aku menerima surat pengunduran dirinya. Karena dia sudah tidak mau kerja lagi ya sudah, aku kabulkan kemauannya.”
Jendra kembali menyeringai. Mengetahui kebusukan lelaki semacam Aditya, ia semakin tak mau melepaskan wanita sebaik Syahnaz. Meskipun ia juga bukan sepenuhnya lelaki baik-baik, tapi ia tidak akan setega itu menelantarkan seseorang. Apalagi ia juga masih betah memanfaatkan kehangatan wanita itu.
“Aku rasa dia beli mobil murahan itu juga memakai uang istrinya. Kayaknya dia sudah merasa keren banget dapat uang satu milyar dengan mudah. Sindrom orang kaya baru!” ujar Regi.
“Uang segitu untuk orang miskin sudah dianggap bisa untuk membeli kebahagiaan hidup,” kata Jendra.
***
“Mas, kita jadi kan periksa kandungan hari ini?” tanya Syahnaz.
Sudah berkali-kali ia mengajak Jendra untuk pergi ke dokter kandungan, tetapi lelaki itu terus beralasan untuk terus menundanya. Padahal, ia sudah lebih dari satu bulan telat haid. Mereka juga rajin bercinta. Meskipun belum ada tanda-tanda kehamilan seperti mual, Syahnaz ingin memastikan bahwa dirinya hamil.
Jendra mencium pipi Syahnaz. “Kapan-kapan saja, ya! Aku juga tidak terlalu terburu-buru untuk memiliki anak. Kalau sudah waktunya juga kamu akan hamil,” ucapnya dengan enteng.
“Mas, bukannya kamu membeliku supaya cepat-cepat bisa hamil?”
Jendra mengembangkan senyum. “Tentu saja iya, tapi tidak terburu-buru juga. Santai saja, dinikmati prosesnya, supaya nanti kamu juga bisa hamil dengan bahagia. Kalau aku menuntutmu untuk segera hamil, nanti kamu jadi merasa terpaksa dan stres. Kasihan anak yang akan kamu kandung nanti,” kilah Jendra.
Syahnaz benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Jendra. “Tapi Mama Rania sudah menanyakan terus, Mas. Katanya hari ini Mama mau ikut periksa. Mas Jendra juga sudah bilang kalau hari ini kita mau periksa!” desaknya.
Jendra menepuk dahinya sendiri. Memang, ada hal yang tidak bisa diaturnya, yaitu ibunya sendiri. Rania sudah sering mendesaknya untuk segera memiliki anak. Syahnaz juga pasti selalu ditagih dengan hal itu.
“Baiklah kalau begitu, kita pergi periksa kandungan sekarang,” kata Jendra. Ia akhirnya menyerah dan menuruti kemauan Syahnaz dan ibunya.
Syahnaz mengembangkan senyuman lebar. Ia merasa lega Jendra tidak menunda-nunda lagi.
“Kenapa kamu kelihatan sangat senang? Kamu sudah tidak betah tinggal denganku?” tanya Jendra dengan wajah masamnya.
Senyuman Syahnaz langsung hilang. Ia jadi kikuk. “Tidak,” kilahnya dengan ekspresi sungkan.
“Kamu pasti sudah sangat ingin melahirkan anak dan meninggalkan aku lalu kembali pada suamimu, kan?” kesal Jendra. Ia terlihat kecewa dan memutuskan berjalan lebih dulu keluar kamar.
Syahnaz tertegun sejenak. Ia heran karena Jendra sepertinya kesal dengannya, membuat ia merasa bersalah telah punya pikiran seperti apa yang Jendra katakan. Ia memang sudah sangat ingin pekerjaannya berakhir.
Syahnaz lantas turut berjalan keluar dari kamar membuntuti suaminya yang turun lebih dulu. Di bawah sudah ada Rania, ia tampak menunggu mereka turun.
“Jadi kan kita hari ini ke rumah sakit?” tanya Rania.
“Jadi, Ma,” jawab Jendra dengan nada malas. Ia melangkah ke arah depan lebih dulu, membuat Rania merasa sedikit diabaikan.
“Dia kenapa?” tanya Rania kepada Syahnaz.
Syahnaz menggeleng. “Mungkin Mas Jendra masih kelelahan setelah pulang kerja, Ma,” jawab sekenanya.
“Kenapa dia begitu? Seharusnya dia senang karena mau memeriksakan kandunganmu,” gumam Rania. Ia juga tidak bisa memahami putranya sendiri.
Jendra memilih untuk mengemudikan mobil sedannya sendiri. Syahnaz duduk di sampingnya, sementara sang ibu di belakang. Ia akan membawa Syahnaz ke rumah sakit tempat temannya bekerja, Dokter Adrian.
Sepanjang perjalanan tidak banyak obrolan yang mereka lakukan. Suasana terasa kaku, apalagi Jendra terlihat sangat malas hanya untuk membawa mereka ke rumah sakit. Sesampainya di tujuan, mereka langsung diarahkan ke ruangan Dokter Adrian.
“Oh, Jendra. Kamu sudah datang?” sapa Adrian yang baru kembali ke ruangan setelah diberi tahu asisten perawatnya. Ia menghampiri Jendra dan memberi pelukan.
“Kenapa telat membaca pesanku?” protes Jendra.
“Aku tidak selalu memegang ponsel, Jendra. Kamu pikir aku tidak ada pekerjaan?” kilah
Adrian. “Eh, Tante Rania ikut juga?” sapanya saat melihat keberadaan ibu Jendra. Ia menyapa dan menyalaminya dengan sopan.
“Apa kabar kamu, Adrian? Sudah lama kamu tidak main ke rumah,” kata Rania.
Adrian menyunggingkan senyum. “Iya, Tante. Sulit untuk mencari waktu luang untuk bertamu ke rumah Tante. Lagi pula, Jendra juga sibuk dan pasti tidak ada waktu untuk menerimaku.”
“Memangnya kalau bertemu harus bertemu Jendra? Di rumah kan ada Tante atau Terry.”
“Oh, iya, Tante. Kapan-kapan aku akan usahakan main ke rumah Tante. Terry sekarang sudah kuliah, ya?” tanya Adrian.
“Iya, dia mengambil jurusan manajemen bisnis. Padahal Tante juga mau dia jadi dokter seperti kamu.”
“Hahaha … jangan, Tante. Terry itu takut darah. Nanti setiap hari bisa pingsan di kampus,” gurau Adrian.
“Adrian, ini Syahnaz. Aku sudah pernah menceritakannya kepadamu,” kata Jendra seraya menarik tangan wanitanya dan mengenalkan kepada sahabatnya.
Adrian menatap wanita itu. Cantik. Ia jadi paham alasan Jendra yang ngotot meminta obat penunda kehamilan untuk wanita itu. Ternyata sahabatnya memang mulai bisa move on dari kesedihannya karena kecelakaan yang menimpa Elisa.
Syahnaz diarahkan untuk melakukan tes urin dan menjalani pemeriksaan oleh Adrian dibantu oleh perawat. Adrian mengecek kondisi kandungan, kemungkinan kehamilan, dan kesehatan alat reproduksi Syahnaz.
“Semuanya baik dan normal, tidak ada kelainan apapun. Meskipun siklus bulanan terganggu, tidak ada masalah yang serius. Kemungkinan karena masih penyesuaian saja karena ini juga pengalaman pertama Syahnaz punya pasangan.
Tapi, keterlambatan siklus bulanan ternyata bukan diakibatkan karena kehamilan. Syahnaz belum hamil,” kata Dokter Adrian.
Penjelasan itu membuat wajah Syahnaz dan Rania terlihat kecewa. Sementara, Jendra dan Adrian tentu saja tidak kaget karena memang keduanya yang membuat hal itu bisa terjadi.
“Bagaimana dengan Jendra sendiri? Apa jangan-jangan yang bermasalah itu putraku? Apa dia tidak subur?” celetuk Rania.
Adrian terkejut, ia langsung menoleh ke arah Jendra yang juga tampak terkejut dengan ucapan ibunya sendiri. “Ah, itu … Jendra tidak ada masalah, Tante,” ucapnya.
“Mama pikirannya aneh-aneh. Nanti kalau sudah waktunya juga Mama bakalan punya cucu,” sambung Jendra.
“Benar, Tante. Biarkan mereka terbiasa satu sama lain dulu, tidak perlu diburu-buru. Mereka berdua sama-sama sehat, jangan khawatir,” kata Adrian menenangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Juan Sastra
kok suaminya,, jendra kan bukan suaminya zahnaz thorr
2024-03-05
0
Truely Jm Manoppo
wah konspirasi juga nih
2023-12-26
0
dewi
kongkalikong 🤦
2023-11-15
2