“Kamu yakin mau berhenti dari perusahaan ini?” tanya Regi.
Pagi ini Aditya datang ke ruangan Regi menyerahkan selembar surat pengunduran diri. Ia cukup terkejut karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan sama sekali dari karyawannya itu.
Patut ia akui, selama 7 tahun Aditya bekerja di sana, tak pernah ia kecewa dengan hasil kerjanya. Aditya salah satu karyawan teladan dan paling setia di perusahaan.
Akan tetapi, ia memang sudah mencium gelagat yang aneh sejak Aditya meneleponnnya waktu itu. Ia sempat terkejut karena Aditnya mau merelakan istrinya untuk dijual secara kontrak kepada sahabatnya, Jendra.
Ia tak ingin terlalu mencampuri kehidupan pribadi karyawannya. Terlepas dari hal itu, Aditya memang melakukan pekerjaannya dengan baik. Saat karyawan terbaik tiba-tiba berniat lepas dari perusahaannya, ada sedikit rasa berat untuk melepaskan.
“Maaf, Pak. Saya tertarik untuk berwirausaha,” kata Aditya.
Regi mangguk-mangguk. “Kamu mau wirausaha apa memangnya? Yakin nggak sayang dengan gaji yang sudah kamu dapatkan di perusahaan ini?”
“Saya juga belum ada bayangan mau usaha apa, Pak. Mungkin dari usaha kuliner kecil-kecilan. Saya ingin membuat bisnis sendiri,” ucap Aditya.
“Baiklah, kalau kamu memang sudah mantap dengan keputusanmu. Aku terima surat pengunduran dirimu, silakan hubungi bagian HRD untuk kepengurusan gaji,” kata Regi.
Aditya mengembangkan senyuman lebar. Ia tidak menyangka akan sebegitu mudah pengunduran dirinya diterima. “Terima kasih, Pak!” katanya dengan semangat.
Regi membiarkan Aditya keluar dari ruangannya. Ia masih penasaran dengan apa yang akan lelaki itu lakukan setelah keluar dari perusahaannya. Meskipun Aditya seorang karyawan teladan, jika sudah tidak ada niatan bertahan di sana, maka tak ada gunanya lagi untuk dipertahankan.
***
Sonya duduk di bangku parkiran perusahaan sembari menghisap sebatang rokok. Ia tengah menunggu Aditya keluar. Katanya lelaki itu hari ini mau mengundurkan diri dari perusahaan.
Sembari menunggu, ia melihat apa yang ada di sekitarnya. Ia merasa ada enaknya juga bekerja sebagai pegawai kantoran, memakai pakaian rapi dan terlihat keren. Tidak seperti dirinya yang selama ini hanya tahu mengenakan pakaian minim untuk bekerja di klab malam demi mencari mangsa.
Tatapannya tiba-tiba tertuju pada seorang pria yang baru saja turun dari mobil sedannya. Matanya bahkan sampai tak berkedip saking terkesimanya. Pria berperawakan tinggi, bertubuh atletis serta wajah yang tampan seperti layaknya seorang artis. Lelaki itu semakin keren mengenakan setelan jas seperti seorang pengusaha muda.
Ia tiba-tiba teringat dengan foto yang pernah Aditya kirimkan ke ponselnya. Buru-buru ia membuka ponsel dan ternyata memang pria itu sama dengan yang ada di foto. Dia adalah Jendra, pengusaha kaya yang sudah membeli istri Aditya.
“Wah, kalau sekeren dia, aku juga mau dibeli olehnya,” gumam Sonya sambal terus memandang kagum pada sosok Jendra.
Awalnya ia kurang yakin jika pria semacam itu mau membeli istri Aditya. Pria seperti Jendra bahkan bisa meluluhkan siapapun wanita yang diinginkannya tanpa harus mengeluarkan uang. Ia rasa tak ada wanita yang akan menolak untuk mau dihamili oleh lelaki seperti itu.
“Kenapa bengong?” tegur Aditya.
Sonya sampai kaget tiba-tiba Aditya sudah ada di sampingnya. “Eh, anu, itu … tadi aku lihat pria yang pernah kamu ceritakan itu. Jendra,” katanya.
“Oh ….” Aditya memberikan respon datar. “Dia memang berteman baik dengan pemilik perusahaan ini, makanya tidak heran kalau melihatnya sering datang ke sini,” katanya.
“Kamu tidak penasaran dengan kabar istrimu? Hampir dua bulan kan, kalian tidak bertemu?” pancing Sonya.
Aditya rasanya ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. “Siapa peduli, kan? Yang terpenting uang darinya lancar. Bulan lalu saja dia mengirimiku 50 juta. Anggap saja dia sedang bekerja,” ujarnya.
Sonya langsung memeluk lengan Aditya. Ia sudah tidak aktif menerima pelanggan sejak Aditya punya banyak uang. Ia hanya ingin menempel pada lelaki itu agar keuangannya juga lancar. Asalkan ia bisa merayu dan memuaskannya, Aditya sangat royal kepadanya.
“Kamu pintar sekali, Mas … istrimu yang bekerja keras, kamu yang menikmatinya,” ujar Sonya.
“Aku yang menikmatinya? Kamu juga ikut menikmatinya, kan?” tukas Aditya.
Sonya tertawa. “Iya, Mas. Maksudku kita berdua yang menikmatinya. Kamu memang sangat nikmat, Mas. Kapan mau memberikan kenikmatan lagi padaku,” godanya.
Aditya mencubit gemas hidung Sonya. “Nanti malam saja kita main yang enak-enak. Aku masih ada urusan menemui temanku. Ayo, ikut aku ke mobil!” ajaknya.
Keduanya berjalan sambal bergandengan menuju ke mobil Aditya, mobil yang diperoleh dari uang menjual Syahnaz kepada Jendra. Aditya membukakan pintu untuk Sonya, ia memperlakukan wanita itu dengan mesra.
“Kalau nanti perjanjian istrimu dengan Pak Jendra sudah berakhir, apa kalian mau kembali bersama?” tanya Sonya sembari memasang sabuk pengaman di badannya.
Aditya menyunggingkan senyum. “Kenapa? Kamu takut kalau aku akan membuangmu?”
“Oh, tentu saja! Aku akan kangen dengan pisang enakmu,” kata Sonya sembari mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Aditya merasa bangga dipuji oleh wanita di sebelahnya. “Tenang saja, kamu sejak dulu sudah menjadi favoritku. Mana bisa aku meninggalkan goyangan mautmu, Sonya.”
“Aw! Jadi, kamu mengakui kehebatanku, kan?” Sonya terkekeh.
“Tentu saja. Siapa lagi wanita yang jadi primadona di klab malam kalau bukan Sonya?” ujar Aditya.
“Hahaha … jadi, walaupun nanti kamu balikan dengan istrimu, kita masih tidur bareng, kan?” tanya Sonya memastikan.
“Itu tergantung. Kalau istriku lebih enak darimu, mungkin aku akan melupakanmu!” canda Aditya.
Seketika wajah Sonya langsung cemberut. Ia cemburu dengan istri Aditya.
“Hahaha … jangan merengut begitu, aku hanya bercanda. Kita masih bisa bersama walapun istriku nanti pulang.” Aditya mengelus kepala Sonya untuk menghibur wanita itu.
“Lebih baik kamu jual saja lagi ke pria lain kalau tugasnya di rumah Pak Jendra sudah selesai!” ketus Sonya.
“Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi. Aku memintamu menemani juga untuk melupakan dia sementara. Aku ini sangat kesepian, sudah menikah tapi tidak ada istri. Ah, sudahlah! Kita temui temanku saja dulu!”
Aditya menghentikan pembicaraan di antara mereka. Ia mulai melajukan kendaraannya. Ia menuju ke arah sebuah restoran tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan temannya.
Setibanya di sana, Aditya dan Sonya sudah disambut oleh Jarwis, teman Aditya. Mereka bertemu di sebuah ruang khusus yang dipersiapkan untuk perbincangan serius.
“Aku kira kamu tidak akan datang,” ujar Jarwis. Ia terlihat senang melihat kehadiran temannya.
“Mana mungkin aku tidak datang. Kita sudah lama membahas hal ini. Aku juga sudah resmi resign dari perusahaan,” kata Aditya.
“Baguslah kalau begitu, jadi kamu bisa fokus untuk mengurus usaha kita bersama. Kamu akan aku jadikan CEO di perusahaanku,” ucap Jarwis.
Aditya tersenyum lebar mendengarnya. Posisi itu memang sudah lama ia incar. Ia tidak akan mungkin mendapatkan posisi itu jika tetap bertahan di perusahaan milik Regi. Kebetulan ia bertemu dengan temannya yang tengah merintis usaha, dengan sebuah perjanjian saling menguntungkan, akhirnya mereka bekerja sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mamah Kekey
keren banget lanjut kk tambah seruu
2023-11-11
1
Indah Milayati
moga kena tipu,, ga usah TF bulanan lagi
2023-11-08
0
Nenk Jelita
penipu kena tipu
🤣🤣🤣🤣
2023-11-07
0