Syahnaz terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata dan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Ada rasa pegal yang mengingatkannya akan kejadian semalam.
Tidak akan ia lupakan jika semalam ia telah melakukan kegiatan bercinta dengan Jendra, lelaki yang telah membelinya. Sepanjang malam lelaki itu terus menyentuhnya seakan tak memiliki rasa lelah. Ia sampai tak ingat sampai jam berapa percintaan mereka selesai.
Perlahan Syahnaz bangkita dan duduk di atas ranjang. Rasa perih semakin terasa di antara kedua pahanya. Ia memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih tak mengenakan selembar kainpun.
Saat matanya berkeliling menatap seisi ruangan hotel itu, ia menemukan sosok Jendra tengah berdiri di dekat jendela sembari memegang segelas minuman. Lelaki itu terlihat keren dan maskulin mengenakan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya.
Jendra menoleh, ia mengulaskan senyum saat melihat Syahnaz terbangun. “Selamat pagi,” sapanya.
Ia berjalan mendekat ke arah Syahnaz. Dengan lembut ia mencium dan memeluk wanitanya. “Kamu mau minum?” tanyanya sembari menyodorkan minuman di gelasnya.
Syahnaz meminum air yang disodorkan kepadanya. Rasanya kecut sampai ia mengerutkan keningnya. Jendra tertawa kecil melihatnya. Lelaki itu lantas mengambilkan segelas air putih yang telah ada di atas nakas dan memberikannya kepada Syahnaz. Dengan malu-malu, Syahnaz meminumnya.
“Minum ini juga, ya! Kata dokter sangat bagus untuk kesuburan,” kata Jendra. Ia memberikan sebutir obat berbentuk kapsul berwarna merah muda.
Tanpa keraguan sedikitpun, Syahnaz meminumnya. Lelaki itu memang membayarnya untuk melahirkan seorang anak.
“Kamu mau sarapan dulu atau mandi? Aku bisa membantumu membersihkan diri kalau kamu mau mandi dulu,” ucap Jendra.
“Tidak! Aku mau makan!” tolak Syahnaz. Ia masih terlalu malu untuk melakukan hal-hal seintim tadi malam.
Masih jelas dalam ingatannya, betapa bagus tubuh lelaki itu. Dada bidangnya yang terlihat kokoh serta otot-ototnya yang kuat saat merengkuhnya, ia bahkan tak bisa membayangkan ada lelaki sesempurna itu.
Bahkan untuk seseorang yang telah membayar, Jendra sama sekali tak memperlakukannya dengan kasar. Rasa takutnya hilang dan berganti kenikmati setiap kali ia menyentuhnya.
***
Jendra terus tersenyum-senyum di ruang kerjanya. Sepanjang hari membayangkan betapa indahnya malam yang ia habiskan dengan wanita itu di hotel. Syahnaz, wanita yang baru ia temui malam itu langsung membuatnya terpikat.
Setelah sekian lama menjalani kehidupan yang hampa dan membosankan, ia bisa kembali menikmati percintaan yang luar biasa memuaskan.
Saking nikmatnya, ia bahkan tak membiarkan wanita itu beristirahat semalaman. Ia seperti melampiaskan hasratnya sepanjang malam.
Tok tok tok
Pintu ruangannya diketuk. Tanpa ia suruh masuk, Regi terlihat berjalan seenaknya memasuki ruangan dengan raut wajah yang terlihat seperti orang kesal.
“Nih, titipan dari Dokter Adrian!”
Regi melemparkan sebuah botol obat yang tepat bisa ditangkap oleh Jendra. Jendra menyunggingkan senyuman saat melihat botol yang berisi puluhan butir obat di dalamnya.
Regi menyandarkan punggung pada kursi di depan meja Jendra sembari melipat kedua tangannya. “Sepertinya ada yang sedang berubah pikiran,” ujarnya.
Jendra kembali mengulaskan senyum. “Apa Adrian mengatakan sesuatu kepadamu?” tanyanya.
“Ya, kita bertiga sudah lama bersahabat. Mana ada rahasia di antara kita,” ujar Regi. “Adrian bilang kamu memaksanya datang pagi-pagi buta ke hotel hanya untuk membawakan pil KB darurat. Dia bahkan sampai tidak sempat mencuci muka karena kamu bilang sangat urgen!”
“Hahaha ….” Jendra tertawa mendengar ucapan Regi.
“Lalu, Adrian bilang itu obat untuk menunda haid dan kehamilan, kan? Apa kamu mau memberikannya kepada wanita itu?” tanya Regi.
Jendra memfokuskan tatapan pada botol obat di tangannya. “Sepertinya aku punya rencana lain,” tuturnya.
“Bukannya kamu bilang hanya butuh anak dari dia? Kenapa sekarang kamu malah tidak ingin dia hamil?” telisik Regi.
Jendra tampak menghela napas. “Entahlah, aku juga tidak tahu. Setelah semalam, aku rasa ingin memilikinya lebih lama. Kalau sudah puas, barulah aku akan membiarkannya hamil.”
Regi benar-benar tidak percaya dengan jalan pemikiran sahabatnya. “Kamu berniat menjadikannya sebagai pelacurmu sampai bosan?” tanyanya.
“Aku membayarnya memang untuk itu,” jawab jendra dengan santainya.
“Tidak, sebelumnya kamu hanya ingin dia melahirkan anak karena Elisa tak bisa melakukannya.”
Raut wajah Jendra berubah muram saat Regi menyebutkan nama istrinya. Elisa merupakan seorang wanita yang telah ia nikahi tiga tahun yang lalu. Sayangnya, tak lama sejak pernikahan mereka, Elisa mengalami kecelakaan dan mengalami koma. Hingga kini Elisa belum sadarkan diri.
Selama tiga tahun ini, Jendra melewati hari-harinya yang sepi. Ia juga selalu mendapatkan tekanan dari pihak keluarga untuk meninggalkan Elisa dan menikah dengan wanita lain. Keluarganya berharap Jendra bisa segera memiliki anak.
Jendra tak bisa menceraikan Elisa. Ia sangat mencintainya. Namun, memang tidak bisa dipungkiri karena kejadian semalam, hasratnya yang telah lama terpendam seakan kembali bangkit. Ia begitu merindukan tubuh hangat seorang wanita yang menjadi selimutnya di kala tidur. Semalam ia bisa tidur dengan nyenyak untuk pertama kali setelah tiga tahun lamanya.
Syahnaz. Wanita itu awalnya membuat dia merasa kasihan. Ia hanya ingin membantu wanita itu tersadar bahwa suaminya bukanlah seorang lelaki yang baik karena sudah tega menjual istrinya sendiri. Tapi, setelah tadi malam, ia menjadi semakin serakah untuk memiliki wanita itu lebih lama lagi.
Jendra tipe orang yang tidak mudah dekat dengan wanita. Bahkan secantik dan seseksi apapun wanita itu, ia tidak merasa tertarik. Ia hanya terpaksa mencari wanita karena desakan keluarga untuk memiliki anak.
“Apa kamu sudah tidak mencintai Elisa lagi?” Tanya Regi.
Jendra langsung mengalihkan tatapannya kepada Regi. Sorot matanya seakan menunjukkan rasa kesal atas pertanyaan itu.
“Kalau aku tidak mencintainya, mana mungkin sampai sekarang aku masih merawatnya?”
Regi terkekeh. “Lalu kenapa kamu jadi tertarik dengan wanita itu? Padahal cukup untukmu tidur sekali dengannya dan dia akan mengandung anak yang kamu inginkan?” ia menatap Jendra balik dengan sorot mata menantang.
“Kamu tidak akan tahu rasanya kesepian. Apa salah kalau aku sekedar ingin menyalurkan hasratku saja? Itu juga hanya aku lakukan dengan satu wanita menunggu sampai suatu saat Elisa kembali terbangun.”
“Aku yakin Elisa akan sangat kecewa jika mengetahui hal ini,” ujar Regi. Ia merasa menyesal sudah mengenalkan wanita itu kepada Jendra. Ia bersedia membantu Jendra hanya agar posisi Elisa tetap aman di sisi Jendra.
Perjanjiannya, Jendra hanya membutuhkan wanita itu agar bisa melahirkan seorang anak. Tapi, sepertinya Jendra menginginkan hal yang lebih dari wanita itu.
“Elisa akan tahu kalau aku hanya mencintainya. Wanita itu hanya sekedar pelampiasan untukku, kamu tidak perlu khawatir!” kata Jendra dengan tegas.
Kehadiran Regi benar-benar merusak suasana hatinya. Padahal, tadi pagi ia masih semangat untuk bekerja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
smoga Jendra kena tulah omongnny sndiri😁
2024-02-12
0
Adelia Rahma
awas Jendra kamu akan kemakan ucapan mu sendiri..kamu bakal jatuh cinta ke Syahnaz nantinya tunggu saja
2023-11-07
2
Nenk Jelita
tuh kn sesuai perjanjian
tuan Jendra
2023-11-07
0