Liana mengajak Syahnaz berjalan menjauh dari kelompok lelaki. Mereka menuju ke bagian stand minuman dan mengambil gelas anggur yang sudah tersaji.
Liana masih memperhatikan wanita yang dibawa Jendra. Ia seakan tengah menilai dari atas hingga ke bawah.
Tatapannya yang serius membuat Syahnaz sedikit takut dan sungkan. Ia menjadi tidak nyaman dan tidak betah berada di sana.
"Sudah berapa lama kamu jadi pelacvrnya Jendra?" tanya Liana tanpa rasa sungkan.
Kata-katanya membuat Syahnaz sedikit merasa sakit hati meskipun itu sebuah kenyataan. "Mau jalan tiga bulan," jawabnya.
Liana tertawa kecil mengejek. Ia meneguk air anggur di dalam gelasnya. "Luar biasa sekali ada wanita yang bisa meluluhkan hatinya selain Jendra. Apa kamu memakai pelet, susuk, atau semacamnya?"
Syahnaz menyadari bahwa wanita murahan sepertinya akan selalu dipandang rendah oleh orang lain. Tidak peduli apa alasannya melakukan hal itu, sekali ia terjun ke dalam jurang kenistaan, ia akan selamanya dicap sebagai manusia buruk. Hal yang harus dilakukan hanyalah mengakui, karena tidak ada pembenaran untuk tindakannya.
"Aku hanya menjual diri, kebetulan saja Mas Jendra yang membeli. Kami sama-sama membutuhkan. Aku butuh uangnya dan dia butuh tubuhku. Kamu ingin aku bagaimana?" kata Syahnaz dengan nada pasrah.
Mata Liana berkaca-kaca. Ia terlihat menghela napas menahan kekesalannya. "Aku rasa kamu tidak punya rasa kasihan sebagai sesama wanita. Kamu tidak pernah berada di posisi Elisa."
Liana selalu sedih setiap kali mengingat Elisa. Persahabatan mereka begitu erat sampai memiliki suami yang juga saling bersahabat. Ia tidak menyangka Jendra sampai tega menduakan sahabatnya yang bahkan dalam kondisi tidak berdaya.
"Setiap hari aku sudah meminta maaf padanya," kata Syahnaz dengan nada sendu. Ia menundukkan kepala.
"Tanpa kamu ingatkan, aku juga sudah tahu kalau perbuatanku sangat buruk. Tapi, kalau Mas Jendra tidak membawaku ke rumahnya, ia harus melepaskan Elisa dan menikah dengan wanita lain," lanjutnya.
"Apa?" Liana tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Syahnaz mengangkat kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya dengan serius. "Keluarga Mas Jendra membutuhkan penerus. Mereka menyuruh Mas Jendra meninggalkan Elisa dan menikahi wanita lain yang bisa melahirkan anak. Tapi, Mas Jendra menolak karena masih sangat mencintai Elisa. Makanya dia membayarku untuk bisa melahirkan anaknya tanpa harus meninggalkan Elisa. Aku hanya melakukan apa yang belum bisa Elisa lakukan, termasuk datang menemaninya ke pesta ini."
Liana tertegun mendengarkan penjelasan dari Syahnaz. "Elisa itu sahabat baikku. Kami sudah berteman sejak SMA. Dia orang yang sangat baik dan lemah lembut. Saat ia mengatakan ingin menikah dengan Jendra, aku sangat senang. Apalagi Jendra adalah sahabat baik suamiku. Sayangnya, dia sekarang koma. Bahkan aku rasa sudah sangat lama kami tidak bisa lagi saling bertegur sapa."
Mata Liana tampak berkaca-kaca menahan tangisnya. Setiap kali mengingat Elisa, hanya kesedihan yang dirasa.
"Kalau memang kata-katamu itu benar, tinggalkan Jendra setelah kewajibanmu selesai. Jangan rebut Jendra dari Elisa. Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Liana sungguh-sungguh.
Syahnaz terdiam sejenak. "Iya, aku akan melakukannya. Aku tidak akan merebut Mas Jendra dari Elisa," ucapnya.
***
Jendra dan Regi tampak sibuk berbicara dengan banyak pengusaha yang mereka temui. Seperti biasa, pembahasan saat mereka bertemu tak jauj dari urusan bisnis. Mereka terbilang masih muda dibandingkan dengan para pengusaha lainnya. Bisnis mereka juga menanjak dengan pesat sehingga mampu mengimbangi para pengusaha senior yang sudah lebih dulu terjun dalam dunia bisnis.
Ketika mendapatkan kesempatan untuk sedikit menjauh dari perkumpulan, mereka menghampiri stand makanan dan mencicipi beberapa hidangan yang sudah tersedia di sana.
"Hari ini aku merasa beruntung ada kamu. Setidaknya teman bicaraku bukan orang tua semua," ujar Regi sembari menikmati sushi yang diambilnya.
"Tapi, kamu kan selalu ditemani Liana. Aku rasa itu tidak masalah," kata Jendra. Ia lebih memilih kue-kue kecil berbentuk lucu.
"Sudah aku bilang, wanita tidak akan betah berlama-lama mendengarkan pembahasan bisnis seperti kita. Yah, kecuali kalau pasangan kita memang sama-sama pengusaha. Liana juga lebih suka berkumpul dengan teman-temannya."
"Aku harap dia tidak melakukan apapun kepada Syahnaz," gumam Jendra.
Regi tertawa mendengar kekhawatiran Jendra. "Istriku itu orang baik, jangan khawatir," katanya.
"Oh, iya. Bagaimana dengan rencana perilisan produk baru perusahaanmu? Bukankah seharusnya bulan ini? Apa kamu menundanya?" tanya Jendra.
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Regi berubah murah. "Gagal," lirihnya.
"Apa?" tanya Jendra penasaran.
Regi menghela napas. "Perusahaanku tidak jadi merilis produk baru itu, Jendra. Ada perusahaan saingan yang lebih dulu merilis produk sejenis yang sangat mirip dengan konsep dari perusahaanku," katanya dengan nada kecewa.
Jendra terkejut dengan ucapan Regi. Beberapa waktu yang lalu, Regi selalu bersemangat menceritakan rencana perusahaannya yang akan meluncurkan produk baru dan diharapkan bisa memberikan gebrakkan dalam bidang teknologi dan rumah tangga.
Perusahaan Regi sudah lama merancang robot yang bisa menyapu dan mengepel secara otomatis. Butuh waktu hampir dua tahun bagi Regi untuk merancangnya bersama tim. Sudah banyak waktu, tenaga, dan tentunya biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan proyek itu.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Jendra.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin saja ada orang dari perusahaanku yang membocorkan rencana itu kepada perusahaan saingan. Seluruh tim juga merasa kecewa," tutur Regi.
"Kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
Regi menggeleng.
"Memang perusahaan mana yang mengeluarkan produk itu? Aku bahkan belum tahu karena belakangan tidak terlalu mengikuti berita," ucap Jendra.
"Otakmu terlalu sibuk dengan Syahnaz, Jendra," ledek Regi.
"Ah, diam kamu!" kesalnya.
"Hahaha ... Maaf. Aku sangat pusing sampai malas untuk membahasnya. Itu adalah perusahaan baru, namanya Sonic Tech. Anak cabang perusahaan lama milik Tuan Gumilang," kata Regi.
Jendra mengerutkan dahi. "Apa pemiliknya adalah Jarwis, anaknya Gumilang?"
"Kok kamu bisa tahu?" Regi terkejut ternyata Jendra juga mengetahuinya.
"Itu dia sekarang ada di sana," kata Jendra sembari menunjuk ke satu arah.
Regi mengikuti arah telunjuk Jendra. Benar saja, Jarwis ada di sana. Jarwis adalah pemilik perusahaan yang lebih dulu memasarkan produk dengan konsep serupa dengan perusahaannya.
Ia lebih kaget saat melihat Aditya juga ada di sana. Mantan karyawannya terlihat santai saat menghampiri Jarwis. Keduanya seperti sudah sangat akrab dan saling kenal dengan baik.
"Apa jangan-jangan dia yang sudah membocorkan rahasia perusahaanmu kepada Jarwis?" tebak Jendra.
"Aku tidak percaya ini ... Itu tidak mungkin," kilah Regi menggelengkan kepala.
Selama ini Aditya merupakan salah satu karyawan teladan di perusahaan. Dia tidak pernah membuat masalah atau bertengkar dengan karyawan lain. Ia sangat percaya kepada anak buahnya, salah satunya Aditya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Truely Jm Manoppo
waw si Aditya pengkhianat perusahaan
2023-12-26
0
Bram
sdh bisa di pastikan justru org dalam yg membocorkan rahasia perusahaan.
tdk lain adalah aditya
2023-12-05
1
dewi
kecolongan
2023-11-15
0