Syahnaz berdandan rapi mengenakan pakaian yang dibelikan Rania, sebuah gaun berwarna merah yang senada dengan sepatunya. Ia memulaskan make up sederhana namun tidak meninggalkan kesan elegan. Rambut panjangnya sengaja ia gerai dengan sedikit di-curly pada bagian bawah.
Jendra menatapnya dengan wajah datar. Lelaki itu juga sudah bersiap mengenakan kemeja dan setelan jas berwarna hitam. Jendra selalu terlihat maskulin serta tampan dalam balutan busana formal semacam itu. Tak bisa dipungkiri jika Syahnaz sebagai wanita biasa juga mengakui ketampanan lelaki itu.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Jendra.
Keduanya turun ke bawah dan berpamitan dengan Rania. Wanita itu tampak bahagia melihat putranya akhirnya mau menghadiri pesta. Apalagi ditemani oleh Syahnaz yang cantik.
"Tolong temani Jendra malam ini, ya! Pastikan tidak ada lagi orang yang menggosipkan kalau dia sudah tidak menyukai wanita. Aku sakit hati anakku selalu dikira tidak normal karena titak pernah memperkenalkan istrinya."
Ucapan Rania tadi sore masih terngiang-ngiang di pikiran Syahnaz. Ia tak bisa menolak permintaan wanita itu untuk pergi ke pesta.
Jendra dan Syahnaz menaiki mobil sedan yang dikendarai oleh sopir. Mereka duduk di bangku belakang berdampingan. Jarak rumah ke tempat acara tidaklah jauh, hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai.
Banyak orang berpakaian rapi dan elegan saat mereka tiba. Jendra menggandeng tangan Syahnaz melewati pintu masuk acara yang diamankan secara ketat dengan metal detektor dan perugas penerima tamu yang berjaga.
Suasana menjadi lebih ramai ketika mereka menapakkan kaki di dalam sana. Pesta itu didekorasi dengan sangat mewah, dengan dominasi warna biru dan pink salmon.
Jendra tetap tak melepaskan gandengan tangannya. Ia membawa Syahnaz berjalan menghampiri orang yang dikenalnya, Regi.
Sahabat Jendra itu terlihat kaget dengan kedatanganJendra. Apalagi Jendra membawa serta Syahnaz ke sana. Selama ini Jendra terkenal paling anti menghadiri pesta.
"Akhirnya kamu datang juga, Jendra. Aku kira kamu akan melewatkan pesta ini seperti biasa," ujar Regi.
"Mama memaksaku datang," jawab Jendra dengan ekspresi malas.
"Kamu sudah mengajak Syahnaz ke sini, jangan muram begitu. Kesannya kalian seperti orang yang sedang bertengkar," ujar Regi.
"Oh, Jendra juga datang, ya?" sapa seorang wanita cantik yang menghampiri mereka. Potongan rambutnya pendek, namun tetap terlihat feminim dengan gaun berwarna hitam mini yang dikenakan. Namanya Liana, dia adalah istri Regi.
"Apa kabar, Liana?" tanya Jendra.
"Baik. Lama juga ya, tidak bertemu," jawab Liana. Matanya melirik ke arah wanita yang tengah digandeng oleh Jendra.
"Dia siapa?" tanya Liana. Baru kali ini ia melihat wanita yang ada di samping Jendra.
Regi menarik tangan Liana agar mendekat kepadanya. Ia memang lupa tidak menceritakan hal itu kepada istrinya.
"Sayang, wanita yang datang bersama Jendra akan menjadi istrinya malam ini," ucap Regi mencoba menjelaskan dengan sederhana.
"Apa? Kamu sudah menceraikan Elisa, Jendra?" tanya Liana dengan penuh keterkejutan. Ia hanya tahu jika Jendra hanha punya satu istri, yaitu Elisa.
"Eh, maksudku bukan begitu, Sayang. Dia malam ini hanya menggantikan posisi Elisa saja. Kamu tahu kan kalau Elisa masih koma. Jendra hanya butuh pengakuan kalau ia sudah menikah di hadapan para rekan bisnisnya," kata Regi meluruskan perkataan yang sebelumnya.
Liana mengarahkan tatapannya kepada Syahnaz. Ia sungguh tidak suka melihat keberadaan wanita itu di sana. Apalagi dikatakan jika posisinya ingin menggantikan Elisa.
"Aku rasa kamu sudah sangat berubah, Jendra," sindir Liana. Ia merasa kecewa dengan lelaki itu.
Jendra punya seorang istri yang sedang koma. Tidak etis rasanya dia menghadiri sebuah pesta membawa wanita lain lalu diakui sebagai istrinya.
"Kalau kamu tidak paham dengan kondisiku, lebih baik kamu diam saja, Liana," timpal Jendra. Ia memasang wajah kesal karena ada yang berani mengkritiknya. Ia juga sebenarnya tak terlalu ingin datang ke pesta itu kalau bukan kemauan ibunya.
"Jendra, sudahlah, jangan emosi. Liana memang tidak tahu apa-apa. Kamu juga harus memaklumi kalau istriku ini sahabat baik istrimu," tutur Regi. Ia kebingungan untuk menengahi antara sahabat dan istrinya sendiri. Regi bahkan memeluk istrinya agar tidak marah-marah.
"Apa bisa kita berkenalan? Aku Liana, istri. Regi. Siapa namamu?" tanya Liana. Ia mengulurkan tangan meminta berkenalan.
"Namaku Syahnaz," jawab Syahnaz menyambut jabat tangan itu. Meski ia tahu Liana tidak menyukainya, ia tetap berusaha untuk terlihat biasa.
"Apa kamu mau ikut denganku? Biarkan para lelaki bertemu dengan para koleganya untuk membahas bisnis. Kita bisa berbincang-bincang sambil menikmati pesta di sudut yang lain," ajak Liana.
Jendra melepaskan jabatan tangan kedua wanita itu. Ia merasa Liana punya niatan buruk terhadap Syahnaz sehingga ia tidak berani melepaskan wanitanya dari pengawasan.
"Syahnaz akan tetap ikut denganku," kata Jendra menegaskan.
"Biarkan saja Syahnaz ikut istriku, Jendra. Kamu tenang saja, dia akan aman dengan Liana. Kasihan Syahnaz kalau harus menemani kita, obrolannya kebanyakan dengan orang tua, nanti dia bisa kebosanan," ujar Regi.
"Kamu takut sekali kalau aku akan memakannya, Jendra," ucap Liana sembari terkekeh.
Jendra memikirkan sejenak ucapan Regi. Keberadaannya di sana memang untuk basa-basi bisnis yang membosankan. Ada banyak lelaki paruh baya yang akan berbincang-bincang dengannya.
"Ya sudah kalau begitu, jaga dia baik-baik, Liana. Awas kalau sampai nanti kamu buat dia menangis!" ancam Jendra dengan sorot mata elangnya yang tajam.
Liana mengabaikan ucapan Jendra. Ia menggandeng tangan Syahnaz dan membawa wanita itu pergi menjauh dari kedua lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Sunarti
palingan Liana akan nyuruh Syahnaz utk menjauhi Jendra klo nggak tau urusannya mending gak usah ikut campur
2023-08-17
2
Eka Bundanedinar
klo udah gini liana jd maju jg drmi sahabatnya
2023-08-11
0
Lie Hia
ternyata ke pesta bkn hal baik jg, bertemu org2 yg kenal, mereka psti bingung jg, aplg yg kenal istrinya Jendra, mereka tentu saja amat sangat bingung, serba salah...
2023-08-10
0