Penelantaran

“Bagaimana pekerjaanmu? Apakah lancar?” tanya Sumi.

Syahnaz hanya mengangguk. Ia tidak tahu apa saja yang Aditya katakan kepada ibunya. Ia juga tidak mungkin mengatakan pekerjaannya yang sebenarnya.

“Ibu turut lega akhirnya kamu dapat pekerjaan, kuliahmu jadi bermanfaat. Ibu minta maaf sudah menyusahkan kamu untuk membiayai ibu,” kata Sumi dengan raut wajah sendunya.

“Kenapa Ibu bilang seperti itu? Aku yang sudah banyak menyusahkan Ibu selama ini,” bantah Syahnaz.

“Kalian itu dapat uang dari mana sampai bisa membiayai operasi ibu, juga melunasi hutang Aditya. Ibu masih khawatir kalian melakukan hal yang tidak-tidak untuk mendapatkan banyak uang dengan cepat.”

Syahnaz terdiam. Ternyata ibunya memiliki sisi kepekaan yang tinggi. Ia tidak tega mengatakannya.

“Ibu tidak perlu memikirkan itu. Aku dan Mas Aditya sudah bekerja keras untuk membereskannya. Rumah kita juga masih bisa dipertahankan, Bu. Untungnya pekerjaan Mas Aditya dan pekerjaanku memang sedang bagus, atasan kami bersedia memberi pinjaman dengan memotong gaji. Jadi, tidak ada yang perlu ibu khawatirkan lagi.” Syahnaz berusaha menenangkan ibunya. Ia memasang senyuman termanis seolah tidak ada masalah apa-apa.

“Oh, pantas saja Aditya sangat jarang datang ke sini. Katanya dia sering lembur di kantornya. Pasti dia bekerja keras selama ini,” gumam Sumi.

“Apa? Mas Aditya jarang menjenguk ibu?” tanya Syahnaz kaget. Ia semakin kesal dengan suaminya. Selain masalah kamar, Aditya juga mengecewakan tentang masalah kunjungan ke sana.

“Tidak apa-apa, Naz. Dia juga pasti sibuk dengan pekerjaannya, makanya jarang bisa ke sini. Tapi, setiap minggu juga dia sudah berusaha datang walaupun cuma sebentar.”

Syahnaz mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar kesal. Uang yang ia titipkan seharusnya digunakan untuk merawat ibunya dengan baik, tetapi lelaki itu seperti menelantarkan ibunya.

“Jadi, Mas Aditya juga yang sudah menempatkan ibu di ruangan ini?” tanya Syahnaz dengan raut wajah kesal.

“Di sini juga lumayan nyaman, kamu tidak perlu berlebihan. Ibu juga tahu kondisi keuangan kalian. Sudahlah,” ujar Sumi.

Namun, Syahnaz tetap tidak bisa menerimanya. Ia yakin Aditya sengaja melakukannya. Jelas-jelas waktu itu Aditya bilang mau merawat ibunya dengan baik. Syahnaz juga sepakat untuk menyerahkan 50 juta yang ia dapatkan setiap bulan dari Jendra untuk biaya ibunya.

“Ibu, aku mau keluar sebentar bertemu dengan Dokter Rafa untuk menanyakan kondisi Ibu, ya!” ijin Syahnaz.

Sumi mengangguk, membiarkan Syahnaz meninggalkannya.

Dengan langkah tegas, Syahnaz berjalan menuju ke ruangan Dokter Rafa yang menangani ibunya. Setibanya di sana, seorang perawat mempersilakannya masuk untuk menemui sang dokter yang kebetulan sedang ada di ruangannya.

“Oh, kamu yang waktu itu, ya? Syahnaz?” tanya Dokter Rafa memastikan. Ia agak pangling dengan penampilan wanita itu yang sekarang terlihat lebih cerah dari pada saat pertama mereka bertemu.

“Iya, Dok. Saya anak dari Ibu Sumi, salah satu pasien Anda,” ucapnya.

“Ya, aku masih ingat. Apa kamu datang untuk membayar tunggakkan pembayaran rumah sakit?”

“Apa? Tunggakkan biaya rumah sakit?”

Syahnaz benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia baru saja datang ke sana dan ada banyak hal mengejutkannya. Setelah masalah kamar perawatan ibunya, Aditya yang jarang datang, sekarang masalah tagihan biaya rumah sakit.

Dokter Rafa mengerutkan dahi. “Apa suamimu tidak mengatakan apapun? Ibumu sudah dirawat di sini selama satu bulan dan katanya dia belum memiliki uang untuk membayarnya. Jadi, aku yang menalangi biayanya karena ibumu sangat kasihan kalau tidak mendapat perawatan lanjutan.”

Syahnaz menghela napas panjang. Ia merasa Aditya benar-benar keterlaluan. “Berapa biaya tagihan rumah sakit ibu saya yang belum terbayar, Dok. Akan saya lunasi secepatnya,” ucapnya.

“Lima belas juta,” kata Dokter Rafa.

Syahnaz mengangguk mengerti. “Saya ingin memindahkan ibu saya ke ruang VIP, Dok. Nanti biayanya akan langsung saya urus, yang penting ibu saya dipindahkan ke kamar perawatan yang lebih baik,” katanya dengan mantap.

“Kamu yakin?” tanya Dokter Rafa seolah tidak percaya dengan ucapan Syahnaz barusan.

“Tenang saja, Dok. Saya punya uang dan saya mampu membayarnya.” Syahnaz mengeluarkan selembar kartu kredit pemberian Jendra. Kartu kredit itu terkenal hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja.

“Baiklah, kalau begitu nanti akan aku bantu mengurus pemindahan ruangannya,” ucap Dokter Rafa.

“Lalu, bagaimana kondisi ibu saya setelah operasi hingga sekarang?”

“Operasi berjalan lancar dan kondisi ibu Anda semakin membaik. Kami hanya ingin memastikan kondisinya bisa pulih secara penuh pasca operasi. Jadi, jika ada masalah akibat proses operasi, bisa segera tertangani.”

“Terima kasih atas perawatan yang telah dokter berikan kepada Ibu saya. Kalau tidak ada dokter, saya tidak tahu bagaimana nasib ibu saya karena saya harus bekerja, tidak bisa menemani ibu saya.”

Dokter Rafa tersenyum. “Tidak perlu berlebihan, saya sebagai dokter juga menolong orang lain atas dasar kemanusiaan.”

Dokter Rafa bersama asistn perawatnya membawa Syahnaz ke bagian administrasi. Di sana ia memberikan penjelasan untuk melakukan pemindahan ruang perawatan Ibu Sumi. Syahnaz langsung membereskan biaya rumah sakit selama satu bulan yang akan didapatkan ibunya di sana dengan kartu kredit itu.

Syahnaz mendampingi ibunya dalam proses pemindahan ruang perawatan. Awalnya sang ibu harus tinggal bersama banyak pasien lainnya yang tentu saja berisik dan tidak bisa istirahat tenang. Kini, ibu Syahnaz akan menempati ruangan VVIP, ruang perawatan yang fasilitasnya sudah seperti hotel. Bahkan ada kamar tambahan untuk keluarga pasien yang menunggui.

“Ini kamu yakin mau menaruh ibu di ruangan seperti ini?” tanya Sumi ragu, melihat ruang perawatan yang terlalu bagus menurutnya. Ia menebak harganya pasti mahal.

“Ibu jangan memikirkan apapun, aku sudah bekerja keras dan sekarang ingin menyenangkan Ibu. Aku sudah melunasi sampai satu bulan ke depan,” kata Syahnaz.

Sumi tercengang. “Naz, bagaimana kalau nanti Aditya marah? Masa kamu menghabiskan uang hanya untuk ibu?”

“Jangan khawatir, Bu. Aku memakai uangku sendiri, bukan uang Mas Aditnya,” ucapnya.

Syahnaz melihat jam. Ia sudah melewatkan waktu yang diberikan Jendra untuk keluar. Lelaki itu pasti akan marah jika ia lebih lama terlambat kembali.

“Ibu, maafkan aku. Sepertinya aku harus pergi sekarang, mungkin minggu depan aku baru bisa datang,” pamitnya dengan wajah sedih.

Sumi mengulaskan senyum. “Tidak apa-apa, Nak. Kamu kan memang ada tanggung jawab pekerjaan di luar kota. Jangan khawatir, ibu juga akan baik-baik saja di sini karena banyak yang merawat. Hati-hati di jalan pulang,” ucap Sumi sembari mengelus kepala putrinya.

Syahnaz memeluk ibunya. Ia sebenarnya tidak ingin pergi dari sana, ia ingin menemani ibunya. Namun, Jendra nanti akan marah jika dia tidak pulang-pulang.

“Dok, bisa aku minta tolong satu hal?” tanya Syahnaz ketika ia telah kelaur dari ruangan ibunya. Ia kembali berbicara dengan Dokter Rafa.

“Apa yang bisa aku bantu?”

“Tolong rahasiakan identitas ibuku, aku tidak ingin lelaki bernama Aditya tahu kalau ibuku sudah dipindahkan ruang perawatannya. Atau buat saja catatan kalau ibuku sudah keluar dari rumah sakit ini,” pinta Syahnaz.

Dokter Rafa menegrutkan dahi. “Kamu tidak mau suamimu tahu?” tanyanya heran.

Syahnaz mengangguk. “Tolong ya, Dok!”

Terpopuler

Comments

Truely Jm Manoppo

Truely Jm Manoppo

bagus Shanaz ... jangan biarkan si Aditys memanfaatkan ibumu utk memeras kamu ... kalo perlu ceraikan suami penjual istri.

2023-12-26

1

Sri Rahayu

Sri Rahayu

god job shanaz .....itu baru keren.

2023-11-08

3

Indah Milayati

Indah Milayati

good

2023-11-08

0

lihat semua
Episodes
1 Petaka di Hari Pernikahan
2 Tawaran Gila
3 Calon Wanita Tuan Jendra
4 Malam Pertama dengan Tuan Jendra
5 Obat Kesuburan Palsu
6 Sonya Si Wanita Liar
7 Rencana Licik Jendra
8 Keluarga Jendra
9 Elisa, Istri Jendra
10 Malangnya Elisa
11 Gerakkan Tangan Elisa
12 Menjenguk Ibu
13 Penelantaran
14 Bibit Kecemburuan
15 Resign
16 Periksa Kehamilan
17 Istri Pengganti
18 Menghadiri Pesta
19 Pengkhianat
20 Pertemuan Syahnaz dan Aditya
21 Ide Gila Aditya
22 Kemarahan Jendra
23 Salah Paham
24 Dari Ratu Menjadi Babu
25 Perasaan Syahnaz
26 Sakit Meriyang
27 Merindukan Kasih Sayang
28 Kamu Milik Siapa?
29 Anda Puas Saya Lemas
30 Pelayan Khusus Tuan Jendra
31 Kesepakatan
32 Transaksi Akhir
33 Mulai Terkuak
34 Hal Menyakitkan
35 Main Cantik
36 Memilih Rumah
37 Kepulangan Ibu
38 Ingin Membunuh Aditya
39 Mendatangi Blue Ocean
40 Adu Mulut
41 Hadiah dari Jendra
42 Liburan di Jepang
43 Kabar Mengejutkan
44 Sang Istri Sah
45 Kunjungan Liana
46 Sebatas Pelayan
47 Kehangatan Jendra
48 Gelang Mencurigakan
49 Telepon dari Rania
50 Rasa Penasaran Elisa
51 Liburan di Pantai
52 Sesuatu yang Tidak Diharapkan
53 Di Antara Dua Wanita
54 Kehamilan Syahnaz
55 Buku Nikah Syahnaz
56 Pencarian Elisa
57 Perhatian Elisa
58 Pemerasan
59 Kewaspadaan
60 Ingin Sepertimu
61 Liburan
62 Masa Depan yang Samar
63 Skandal yang Terbongkar
64 Permintaan Cerai
65 Keputusan
66 Merasa Terpuruk
67 Kepulangan Rania
68 Menikahi Syahnaz
69 Restu Ibu
70 Malam Pertama Sebagai Pasangan Sah
71 Dari Pembantu Jadi Mantu
72 Pura-Pura Miskin
73 Benih Ayah Mertua
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Petaka di Hari Pernikahan
2
Tawaran Gila
3
Calon Wanita Tuan Jendra
4
Malam Pertama dengan Tuan Jendra
5
Obat Kesuburan Palsu
6
Sonya Si Wanita Liar
7
Rencana Licik Jendra
8
Keluarga Jendra
9
Elisa, Istri Jendra
10
Malangnya Elisa
11
Gerakkan Tangan Elisa
12
Menjenguk Ibu
13
Penelantaran
14
Bibit Kecemburuan
15
Resign
16
Periksa Kehamilan
17
Istri Pengganti
18
Menghadiri Pesta
19
Pengkhianat
20
Pertemuan Syahnaz dan Aditya
21
Ide Gila Aditya
22
Kemarahan Jendra
23
Salah Paham
24
Dari Ratu Menjadi Babu
25
Perasaan Syahnaz
26
Sakit Meriyang
27
Merindukan Kasih Sayang
28
Kamu Milik Siapa?
29
Anda Puas Saya Lemas
30
Pelayan Khusus Tuan Jendra
31
Kesepakatan
32
Transaksi Akhir
33
Mulai Terkuak
34
Hal Menyakitkan
35
Main Cantik
36
Memilih Rumah
37
Kepulangan Ibu
38
Ingin Membunuh Aditya
39
Mendatangi Blue Ocean
40
Adu Mulut
41
Hadiah dari Jendra
42
Liburan di Jepang
43
Kabar Mengejutkan
44
Sang Istri Sah
45
Kunjungan Liana
46
Sebatas Pelayan
47
Kehangatan Jendra
48
Gelang Mencurigakan
49
Telepon dari Rania
50
Rasa Penasaran Elisa
51
Liburan di Pantai
52
Sesuatu yang Tidak Diharapkan
53
Di Antara Dua Wanita
54
Kehamilan Syahnaz
55
Buku Nikah Syahnaz
56
Pencarian Elisa
57
Perhatian Elisa
58
Pemerasan
59
Kewaspadaan
60
Ingin Sepertimu
61
Liburan
62
Masa Depan yang Samar
63
Skandal yang Terbongkar
64
Permintaan Cerai
65
Keputusan
66
Merasa Terpuruk
67
Kepulangan Rania
68
Menikahi Syahnaz
69
Restu Ibu
70
Malam Pertama Sebagai Pasangan Sah
71
Dari Pembantu Jadi Mantu
72
Pura-Pura Miskin
73
Benih Ayah Mertua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!