Regi mondar-mandir di lobi hotel sembari sesekali melihat jam tangannya. Sudah satu jam ia menunggu kedatangan sahabatnya, Jendra. Padahal Aditya dan Syahnaz sudah lebih dulu tiba di sana dua jam yang lalu.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan lobi hotel. Regi mengembangkan senyum. Ia bergegas berjalan ke arah depan menghampiri mobil tersebut.
Seorang pria berperawakan tinggi dan tegap mengenakan pakaian rapi keluar dari dalam mobil tersebut. Wajahnya terlihat tampan dengan sorot mata elang yang membuatnya terkesan berwibawa. Lelaki itu berjalan menghampiri Regi.
“Kamu telat!” kata Regi.
“Maaf, ada urusan mendadak di kantor. Apa orangnya sudah pergi?” tanya Jendra dengan nada suara beratnya.
“Untungnya belum. Kali ini aku yakin kamu akan cocok dengannya,” ujar Regi dengan penuh keyakinan.
Jendra menyunggingkan senyuman. “Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa orangnya.”
Jendra adalah seorang pengusaha muda yang namanya tengah melejit di antara para pengusaha lainnya. Ia merupakan sosok lelaki idaman bagi seorang wanita. Sayangnya, ia selalu bersikap dingin terutama kepada wanita.
Jendra telah memiliki seorang istri yang wajahnya tak pernah ditampakkan di depan publik. Banyak yang menduga ia hanya berbohong agar tidak ada wanita yang mendekati.
Regi mengajak Jendra ikut bersamanya masuk ke dalam hotel. Ia sudah menyediakan ruangan khusus sengaja untuk pertemuan rahasia itu. Mereka juga ditemani beberapa bodyguard Jendra dan sekertaris pribadi.
Setibanya di sana, tampak Aditya dan Syahnaz tengah duduk menunggu. Mereka lagsung berdiri saat Regi dan Jendra datang.
“Kalian duduk saja, mari kita bicara secara santai,” pinta Regi mempersilakan mereka duduk kembali.
Regi dan Jendra turut duduk di hadapan mereka.
Jendra menatap dua orang yang akan Regi kenalkan kepadanya itu. Ia fokus pada sang wanita yang tampak ketakutan, menunduk, sembari menggenggam tangan si lelaki.
“Perkenalkan, ini sahabatku, Jendra. Dia yang sedang mencari seorang wanita yang bersedia melahirkan anak untuknya,” kata Regi.
“Jendra, ini Aditya, dia salah satu karyawan di kantorku. Dan wanita yang ada di sampingnya adalah istrinya, Syahnaz,” imbuh Regi.
“Apa? Kalian suami istri?” Jedra tampak terkejut mendengar fakta yang baru saja Regi katakan. Ia kira wanita yang akan dikenalkan kepadanya seorang wanita single, bukan wanita yang sudah bersuami.
Jendra menoleh ke arah Regi dan menatapnya penuh tanya. Seakan ia ingin menegaskan tidak suka diajak bercanda atau waktunya hanya akan dibuang percuma di sana. Ia sudah mengungkapkan keinginannya kepada Regi dengan sederet kriteria. Ia yakin seharusnya Regi sudah paham seperti apa wanita yang diinginkannya.
“Maaf, Pak Jendra. Kami memang sudah menikah, baru saja tadi pagi kami menikah. Tapi, saya sama sekali belum menyentuhnya,” sahut Aditya dengan canggung.
Jendra mengerutkan dahi. “Baru kali ini aku melihat suami yang tega mengajukan istrinya sendiri. Apa kamu sedang mabuk?” tanyanya. Ia yakin mereka pasti tahu apa yang sedang ia cari. Sungguh aneh ada suami yang berminat menyerahkan istri kepadanya.
“Intinya mereka sedang butuh uang, Jendra. Mereka juga sudah sama-sama sepakat. Kamu tidak berhak tahu lebih jauh dari itu,” tukas Regi.
Sebagai sahabat Jendra, ia sebenarnya sudah cukup pusing ikut mengurusi kemauan lelaki itu. Atas desakan keluarga besarnya, Jendra memang dituntut untuk segera memiliki anak. Kriteria yang diminta sangat berat, sudah banyak wanita yang ditolak.
Regi yakin kali ini Jendra akan menyukai wanita itu. Meskipun memang statusnya sudah menikah, namun Syahnaz memiliki semua kualifikasi yang Jendra inginkan.
Jendra kembali menatap wanita itu.
“Kelihatannya dia ketakutan. Kalau memang dia tidak bersedia, kalian pergi saja!” kata Jendra dengan tegas. Ia tidak mau ada pemaksaan dalam perjanjian kali ini.
“Dia mungkin sedikit grogi, Pak. Harap dimaklumi. Istri saya memang wanita yang polos,” kata Aditya.
Jendra menyeringai. Ia seakan bisa membaca kebusukan lelaki itu. Ia menebak pasti lelaki itu yang sudah memaksa istrinya sendiri untuk menerima tawarannya.
“Aku tidak meminta pendapatmu. Aku hanya ingin tahu kalau dia memang mau menerima tawaranku atau tidak. Kalau memang tidak mau, silakan kalian pergi!” ucap Jendra.
“Saya mau melakukannya, Pak!” kata Syahnaz.
Jendra terpukau saat wanita itu menegakkan kepalanya. Wajahnya terlihat cantik meskipun tanpa make up yang berlebihan. Ia bisa menilai jika wanita itu memang seseorang yang baik.
“Apa kamu yakin? Setelah tanda tangan kontrak kamu tidak boleh mundur,” kata Jendra mengingatkan.
“Saya sudah mantap dengan keputusan ini, Pak. Saya mau menjadi wanita Anda dan melahirkan anak untuk Anda,” kata Syahnaz. Meskipun terlihat berani, namun sorot matanya tidak bisa membohongi bahwa ia menyimpan rasa takut.
“Ini mungkin pertanyaan sensitif. Tapi, apa benar kamu belum pernah tidur dengan lelaki manapun?”
Syahnaz melirik ke arah suaminya. Aditya tampak memberi anggukkan.
“Sampai sekarang belum pernah, Pak. Bahkan dengan suami saya sendiri,” jawabnya.
Jendra menghela napas sejenak. “Sebenarnya aku tidak terlalu peduli kamu masih per awan atau tidak. Aku hanya ingin memastikan saja kalau teman tidurku nanti tidak memiliki penyakit menular,” ungkapnya.
“Anda tidak perlu khawatir. Dia adalah wanita baik-baik yang pandai menjaga diri,” ujar Aditya.
Jendra dibuat tertawa oleh ucapan Aditya. “Kalau memang dia wanita baik-baik, kenapa kamu tega memberikannya padaku?” Ia terlihat seperti berusaha memojokkan suami Syahnaz.
Aditya terdiam. Ucapan Jendra sangat menusuk perasaannya.
“Jendra …,” tegur Regi dengan lirikan tajamnya.
“Ah, sudahlah! Abaikan kata-kataku tadi,” kata Jendra. “Kalian pasti heran kenapa aku mengajukan begitu banyak syarat untuk wanita yang hanya akan aku kontrak sampai melahirkan anak. Dia harus cantik, pintar, berpendidikan, dan sehat agar bisa melahirkan seorang anak yang unggul. Makanya aku tidak mau memilih sembarangan wanita untuk melahirkan anakku.”
“Kamu tenang saja, Jendra. Syahnaz ini seorang sarjanan lulusan terbaik dari kampus ternama. Dia tidak pernah minum alkohol atau merokok. Aku sudah mengeceknya, semua sesuai yang kamu inginkan,” sambung Regi.
Jendra mangguk-mangguk. “Aditya,” panggilnya.
“Iya, Pak?”
“Selama kontrak berlangsung, dia bukan istrimu. Dia akan menjadi wanitaku sampai melahirkan anak nanti. Kamu dilarang menemuinya secara diam-diam atau terang-terangan. Kalian harus menjadi orang asing satu sama lain, tidak boleh saling sapa atau sok akrab. Apa kamu sepakat?” tanya Jendra.
Aditya mengangguk. “Saya akan melakukannya.”
“Kamu pasti tahu siapa aku. Kalau berani melanggar kesepakatan ini, aku tidak akan memberi toleransi.” Jendra berkata dengan sungguh-sungguh. Sorot matanya menunjukkan keseriusan.
“Baik, Pak. Anda bisa mempercayai kami,” kata Aditya meyakinkan.
“Pak Mateo!” panggil Jendra.
Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan berjalan mendekat, menyerahkan sebuah koper dan satu bendel kertas kepada Jendra. Koper itu dibuka oleh Jendra di hadapan Aditya dan Syahnaz. Lembaran uang seratus ribuan memenuhi koper. Bahkan mata Aditya sampai berbinar-binar melihat uang sebanyak itu.
“Ini hanya uang muka saja sebagai tanda jadi sebesar satu miliyar,” kata Jendra. Ia terlihat biasa saja mengeluarkan uang sebanyak itu.
Aditya dan Syahnaz saling berpandangan. Baru pertama kali mereka melihat uang sebanyak itu. Masalah hutang maupun biaya rumah sakit bisa langsung teratasi, bahkan masih ada sisa uang.
“Silakan kalian baca surat perjanjiannya. Kalau sepakat degan semua poin yang ada, tanda tangan di lembar paling akhir.” Jendra menyodorkan surat perjanjian sebanyak tiga lembar kepada keduanya.
Mereka hanya membaca secara sekilas dan langsung menandatanganinya.
“Selama perjanjian ini berlangsung, aku akan rutin membayar 50 juta per bulan sampai anakku nanti lahir. Dan ketika perjanjian ini berakhir, aku akan memberikan lagi 3 milyar.”
Aditya tersenyum senang mendengarnya. Ia menyerahkan kembali perjanjian yang sudah ditanda tangani kepada Jendra. Lalu, ia mengambil koper berisi uang yang Jendra berikan untuk mereka.
“Baiklah, aku rasa tidak ada lagi yang perlu di bahas,” kata Jendra. Tatapannya kini mengarah pada Syahnaz. “Kamu sekarang milikku. Pergillah ke kamar 101 dan tunggu aku di sana!” pintanya.
“Apa?” Syahnaz terkejut dengan permintaan tiba-tiba itu.
“Kenapa? Kamu mau berubah pikiran?” tanya Jendra.
“Em, bukan begitu … tapi, apa secepat ini?” Syahnaz bertanya balik dengan nada bicara yang gugup.
“Di detik kamu menandatangi surat perjanjian itu, maka kamu sudah menjadi milikku!” tegas Jendra.
“Tenang, Pak Jendra. Saya sendiri yang akan mengantarkan dia ke sana,” kata Aditya.
Orang tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya diserahkan oleh suami sendiri kepada lelaki lain. Terdengar begitu klise, namun itulah realita yang harus Syahnaz rasakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
aryuu
dijual
2024-11-16
0
𖤓࿐кιиαяα 😘💞࿐
suami gila .. pasti tuan Jendra sudah bisa membaca seperti apa suami syahnazz...🥱
2024-02-21
2
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
smoga Bu Sumi bnr2 drawat sm Aditya 😩
2024-02-12
0