Gerakkan Tangan Elisa

Syahnaz kembali ke kamar. Dadanya terasa sesak mendengarkan umpatan yang sebenarnya tidak ditujukan padanya, melainkan Elisa.

Sebagai sesama wanita, ia merasa kata-kata Rania itu sangat menyakitkan. Ia yang awalnya sempat iri dengan keberadaan Elisa, kini merasa kasihan dengan nasib wanita itu. Tidak ia sangka Elisa menjalani hari-hari buruknya meskipun mendapatkan cinta dari suaminya.

Suara omelan Rania masih samar-samar terdengar dari kamar Syahnaz yang sedikit terbuka. Sejak tadi wanita itu terus mengomel karena Elisa mengalami menstruasi dan kotorannya mengenai ranjang. Padahal para perawat terlihat sabar melayani Elisa, namun kelihatannya Rania tetap tidak suka.

Ia jadi teringat dengan ucapan Jendra waktu itu. Keberadaannya di sana sebenarnya untuk mempertahankan Elisa di sana. Jendra sepertinya sudah tahu kalau ibunya tidak menyukai istrinya.

Beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Syahnaz yakin jika Rania dan para perawat sudah pergi meninggalkan kamar Elisa. Diam-diam ia kembali keluar kamarnya dan menuju ke kamar Elisa.

Benar saja, Elisa masih terbaring di sana. Ia memberanikan diri untuk mendekat ke arah wanita itu. Elisa tampak tertidur dengan tenang, wajah cantiknya terlihat berseri.

Syahnaz tak kuasa menahan buliran air matanya yang jatuh, merasa terharu melihat wanita itu dan mengingat ucapan kasar Rania barusan. Ia mengusap air matanya. Ia duduk di samping ranjang perawatan Elisan.

Suasana di dalam sangat hening, hanya suara monitor itu yang terdengar memenuhi ruangan. Syahnaz meraih tangan Elisa yang terasa lembut namun sangat lemah.

“Hai, Elisa. Akhirnya kita bertemu,” kata Syahnaz dengan senyuman haru.

Ia tahu jika Elisa tak akan bisa merespon kata-katanya, namun ia tetap ingin berbicara dengannya.

“Perkenalkan, namaku Syahnaz. Sudah satu minggu Mas Jendra mengajakku tinggal di sini dan aku baru berani menemuimu.” Mata Syahnaz terlihat kembali berkaca-kaca.

“Aku yakin kamu pasti sudah tahu kenapa aku ada di sini. Rasanya memalukan untuk diceritakan, tapi aku tetap ingin jujur kepadamu.”

Syahnaz menghela napas. “Mas Jendra membayarku untuk bisa melahirkan anak untuknya, Elisa.”

“Awalnya aku heran kenapa dia ingin membayar wanita yang bersedia mengandung anaknya padahal sudah memiliki istri. Tapi, melihatmu seperti ini, aku jadi bisa memahami kemauannya.”

Syahnaz kembali menyeka air matanya yang jatuh. Meskipun tidak kuat berbicara, ia ingin terus bercerita. “Mas Jendra sangat mencintaimu, Elisa. Dia berkorban mencari wanita lain agar bisa hamil sehingga kamu bisa tetap berada di sini. Aku tadi sempat mendengar ucapan Mama kepadamu. Hanya mendengarnya saja, aku merasa sakit hati. Kenapa dia begitu tega berkata seperti itu kepadamu.”

Syahnaz tak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukkan di depan Elisa. Tiba-tiba ia merasakan gerakkan tangan. Ia langsung terkesiap. Dengan jelas ia melihat jemari Elisa bergerak dengan berlahan. Syahnaz merasa terkejut sekaligus senang.

“Elisa, apa kamu bisa mendengarku?” tanyanya dengan nada begitu girang.

Sayangnya, gerakan tangan itu perlahan menghilang. Elisa masih terdiam di tempatnya, tak ada tanda-tanda pulihnya kesadaran. Syahnaz merasa sedikit kecewa. Ia yakin bahwa tadi jari-jari Elisa benar-benar bergerak.

“Elisa, jangan menyerah, ya! Cepatlah bangun, Mas Jendra sangat mencintaimu,” kata Syahnaz memberi semangat.

“Kamu jangan cemburu dengan keberadaanku di sini, ya. Sebenarnya aku juga terpaksa. Suamiku punya banyak hutang dan ibuku perlu biaya operasi yang besar. Aku terpaksa menjual diri kepada Mas Jendra untuk mengatasi permasalahan ekonomi keluargaku. Mas Jendra juga terpaksa melakukannya demi dirimu. Kita sama-sama berada dalam posisi yang sulit. Aku juga ingin perjanjian di antara kami segera berakhir agar aku bisa pulang kepada keluargaku. Karena itu, cepatlah bangun, Elisa! Masih ada orang yang menginginkan kesembuhanmu,” tutur Syahnaz.

“Syahnaz … Syahnaz ….”

Terdengar suara panggilan dari arah kamarnya. Ia yakin itu suara Rania. Wanita itu pasti mengeceknya di kamar.

“Elisa, sepertinya aku harus pergi sekarang. Nanti, aku akan menemuimu lagi,” pamitnya.

Syahnaz bergegas pergi dari kamar Elisa, ia menghampiri Rania yang sudah ada di dalam kamarnya.

“Mama, ada apa?” tanyanya.

Rania tersenyum melihat keberadaan Syahnaz.

“Kamu dari mana? Tadi kata Jendra kamu sedang dandan tapi belum juga turun untuk sarapan.”

Syahnaz tersenyum kikuk. “Maaf, Ma. Tadi aku duduk-duduk sebentar di teras balkon,” kilahnya.

“Mama kira tadi kamu hilang. Ayo, turun ke bawah dan kita sarapan,” ajak Rania.

Wanita paruh bawah itu menggandeng mesra tangan Syahnaz seperti memperlakukan seorang menantu kesayangan. Mereka beriringan menuruni tangga menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Terry yang sedang menikmati sarapannya.

“Pagi, Terry,” sapa Syahnaz.

“Pagi, Syahnaz,” jawab Terry dengan cuek.

Rania memukul lengan Terry. “Kalau manggil orang yang lebih tua yang sopan! Siapa yang ajari kamu begitu!” omelnya. Ia melotot kepada anak bungsunya itu.

“Aduh, Ma! Jarak usia kami juga nggak jauh, aku cuma mau akrab saja dengan dia,” tepis Terry sembari mengelus lengannya. Semenjak ada Syahnaz di sana, ia seperti selalu menjadi sasaran kemarahan ibunya.

“Tetap saja itu tidak sopan! Panggil dia Kak Syahnaz atau Mbak Syahnaz!” pinta Rania.

“Tapi kenapa kita memanggil Mamita dengan Mamita? Seharusnya kan kita memanggilnya Bibi Mamita? Mamita jauh lebih tua dari Mama, loh!” protes Terry.

Rania jadi pusing dengan anaknya yang sangat kritis dan suka protes itu. “Tetap saja beda, Terry! Pokoknya kamu harus memanggil Syahnaz dengan sopan!” paksanya.

Terry hanya bisa menghela napas kesal. “Terserah Mama saja, deh! Aku akan memanggilnya Kak Syahnaz biar Mama puas!” kata Terry seraya melanjutkan sarapannya. Ia ingin cepat-cepat menghabiskannya agar bisa segera berangkat ke kampus. Ia tidak mau peduli dengan keberadaan kedua orang itu.

“Syahnaz, kamu kan sudah sekitar satu bulan tinggal bersama Jendra. Apa dia mau melakukan itu denganmu?” tanya Rania dengan nada canggung.

Terry sampai terbatuk-batuk mendengarnya. Ibunya seolah tidak menganggapnya ada sampai berani membahas hal semacam itu di depan anak polos sepertinya. Syahnaz juga menjadi canggung, apalagi di sana ada adik Jendra.

“Ah, Mama! Bisa nggak bahasnya nunggu aku berangkat ke kampus? Jadi nggak selera!” protes Terry. “Aku mau berangkat sekarang saja!”

Terry menyudahi sarapannya. Ia meraih tas punggungnya dan berpamitan kepada ibunya. “Aku berangkat, Ma!” pamitnya.

“Jadi, bagaimana? Kalian sudah melakukannya, kan? Kamu tahulah, maksud Mama hubungan suami istri, kalian benar-benar melakukannya, kan?” tanya Rania dengan nada lirih.

Selepas Terry pergi, Rania lebih berani membawa topik itu. Syahnaz sangat malu, rasanya ia ingin menghilang dari sana. Ia ditanya hubungan semacam itu oleh ibu dari Jendra sendiri.

“Iya, Ma, kami melakukannya,” jawab Syahnaz dengan nada lirih sembari meneruskan sarapannya meskipun sudah tidak begitu berselera.

Terpopuler

Comments

Santi Maria Havernandes

Santi Maria Havernandes

mama rania kepo deh

2024-08-11

0

Truely Jm Manoppo

Truely Jm Manoppo

waduhhh mama Rania 🙉🙉🙉🙉

2023-12-26

0

Sunarti

Sunarti

kedua perempuan itu t@k tau rentan Jendra yg sebenarnya

2023-08-16

2

lihat semua
Episodes
1 Petaka di Hari Pernikahan
2 Tawaran Gila
3 Calon Wanita Tuan Jendra
4 Malam Pertama dengan Tuan Jendra
5 Obat Kesuburan Palsu
6 Sonya Si Wanita Liar
7 Rencana Licik Jendra
8 Keluarga Jendra
9 Elisa, Istri Jendra
10 Malangnya Elisa
11 Gerakkan Tangan Elisa
12 Menjenguk Ibu
13 Penelantaran
14 Bibit Kecemburuan
15 Resign
16 Periksa Kehamilan
17 Istri Pengganti
18 Menghadiri Pesta
19 Pengkhianat
20 Pertemuan Syahnaz dan Aditya
21 Ide Gila Aditya
22 Kemarahan Jendra
23 Salah Paham
24 Dari Ratu Menjadi Babu
25 Perasaan Syahnaz
26 Sakit Meriyang
27 Merindukan Kasih Sayang
28 Kamu Milik Siapa?
29 Anda Puas Saya Lemas
30 Pelayan Khusus Tuan Jendra
31 Kesepakatan
32 Transaksi Akhir
33 Mulai Terkuak
34 Hal Menyakitkan
35 Main Cantik
36 Memilih Rumah
37 Kepulangan Ibu
38 Ingin Membunuh Aditya
39 Mendatangi Blue Ocean
40 Adu Mulut
41 Hadiah dari Jendra
42 Liburan di Jepang
43 Kabar Mengejutkan
44 Sang Istri Sah
45 Kunjungan Liana
46 Sebatas Pelayan
47 Kehangatan Jendra
48 Gelang Mencurigakan
49 Telepon dari Rania
50 Rasa Penasaran Elisa
51 Liburan di Pantai
52 Sesuatu yang Tidak Diharapkan
53 Di Antara Dua Wanita
54 Kehamilan Syahnaz
55 Buku Nikah Syahnaz
56 Pencarian Elisa
57 Perhatian Elisa
58 Pemerasan
59 Kewaspadaan
60 Ingin Sepertimu
61 Liburan
62 Masa Depan yang Samar
63 Skandal yang Terbongkar
64 Permintaan Cerai
65 Keputusan
66 Merasa Terpuruk
67 Kepulangan Rania
68 Menikahi Syahnaz
69 Restu Ibu
70 Malam Pertama Sebagai Pasangan Sah
71 Dari Pembantu Jadi Mantu
72 Pura-Pura Miskin
73 Benih Ayah Mertua
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Petaka di Hari Pernikahan
2
Tawaran Gila
3
Calon Wanita Tuan Jendra
4
Malam Pertama dengan Tuan Jendra
5
Obat Kesuburan Palsu
6
Sonya Si Wanita Liar
7
Rencana Licik Jendra
8
Keluarga Jendra
9
Elisa, Istri Jendra
10
Malangnya Elisa
11
Gerakkan Tangan Elisa
12
Menjenguk Ibu
13
Penelantaran
14
Bibit Kecemburuan
15
Resign
16
Periksa Kehamilan
17
Istri Pengganti
18
Menghadiri Pesta
19
Pengkhianat
20
Pertemuan Syahnaz dan Aditya
21
Ide Gila Aditya
22
Kemarahan Jendra
23
Salah Paham
24
Dari Ratu Menjadi Babu
25
Perasaan Syahnaz
26
Sakit Meriyang
27
Merindukan Kasih Sayang
28
Kamu Milik Siapa?
29
Anda Puas Saya Lemas
30
Pelayan Khusus Tuan Jendra
31
Kesepakatan
32
Transaksi Akhir
33
Mulai Terkuak
34
Hal Menyakitkan
35
Main Cantik
36
Memilih Rumah
37
Kepulangan Ibu
38
Ingin Membunuh Aditya
39
Mendatangi Blue Ocean
40
Adu Mulut
41
Hadiah dari Jendra
42
Liburan di Jepang
43
Kabar Mengejutkan
44
Sang Istri Sah
45
Kunjungan Liana
46
Sebatas Pelayan
47
Kehangatan Jendra
48
Gelang Mencurigakan
49
Telepon dari Rania
50
Rasa Penasaran Elisa
51
Liburan di Pantai
52
Sesuatu yang Tidak Diharapkan
53
Di Antara Dua Wanita
54
Kehamilan Syahnaz
55
Buku Nikah Syahnaz
56
Pencarian Elisa
57
Perhatian Elisa
58
Pemerasan
59
Kewaspadaan
60
Ingin Sepertimu
61
Liburan
62
Masa Depan yang Samar
63
Skandal yang Terbongkar
64
Permintaan Cerai
65
Keputusan
66
Merasa Terpuruk
67
Kepulangan Rania
68
Menikahi Syahnaz
69
Restu Ibu
70
Malam Pertama Sebagai Pasangan Sah
71
Dari Pembantu Jadi Mantu
72
Pura-Pura Miskin
73
Benih Ayah Mertua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!