Jendra dan Regi tengah duduk berdua di bar sembari menikmati minuman yang didiracik oleh bartender. Selain terkenal dengan layanan kamarnya yang esklusif, hotel milik Regi itu juga digemari menjadi tempat tujuan minum-minum karena tempatnya yang nyaman.
“Sepertinya mereka sedang benar-benar membutuhkan uang,” ujar Regi sembari menikmati minumannya.
Jendra menunjukkan senyum seringai. “Aku justru kasihan dengan wanita itu. Dia terlihat polos dan mudah dibodohi. Aku rasa suaminya memang sengaja ingin menjual istrinya sendiri.”
Jendra mungkin seorang pria yang dingin dan terlihat tidak peduli dengan sekitar. Namun, ia sangat pandai membaca karakter orang.
Regi mangguk-mangguk. “Ucapanmu masuk akal juga. Katanya dia baru menikah hari ini, seharusnya mereka menikmati malam pertama. Tapi, dia malah memberikan istrinya kepadamu. Beruntung sekali kamu. Pesonanya pasti sudah berhasil menjeratmu sampai tidak mau menunggu-nunggu. Mau langsung kamu coba malam ini sungguhan?” ledeknya.
Regi sedikit tidak percaya Jendra bisa cepat tertarik dengan wanita itu. Padahal, banyak wanita yang lebih cantik dan seksi yang pernah ia rekomendasikan. Kecantikan Syahnaz memang unik, lain dari pada yang lain.
“Aku hanya ingin wanita memastikan wanita itu berubah pikiran,” kata Jendra.
“Ah, sudahlah! Cepat sana kamu temui wanita itu. Jangan sampai terlalu banyak minum untuk bisa menikmati malam ini,” goda Regi seraya mengerlingkan sebelah matanya.
***
“Mas, aku takut,” rengek Syahnaz.
Ia terus memegangi tangan Aditya seolah tidak mau ditinggalkan. Ruang kamar hotel yang tampak mewah itu justru membuatnya ketakutan. Apalagi ia tahu jika malam ini ia akan bersama dengan seorang lelaki asing bernama Tuan Jendra itu.
Aditya menangkupkan kedua tangan Syahnaz dan menggenggamnya. “Naz, kita sudah sejauh ini. Aku yakin kita bisa melaluinya dengan baik. Kita hanya perlu berpisah selama satu tahun. Uang muka sudah kita pegang, kamu tinggal lanjutkan sampai kita dapatkan sisanya. Kamu mengerti, kan?”
Syahnaz mengangguk dengan malas. “Setelah ini urusi ibu, ya! Berikan dia perawatan yang baik,” pinta Syahnaz.
Aditya mengembangkan senyum. “Kamu tenang saja, ibumu pasti akan sembuh. Setelah ini aku akan langsung ke rumah sakit.”
Aditya mengambil paper bag yang tergeletak di sampingnya. “Pakai ini. Lakukan tugasmu dengan baik.” Ia memberikannya kepada sang istri.
Syahnaz mengambil isi yang ada di dalam paper bag itu. Ia tertegun mengetahui isi di dalamnya sebuah lingerie merah yang sangat terbuka dan menerawang.
“Mas, kamu tidak salah memberikan ini untukku? Oh, Ya Tuhan!” Syahnaz sampai kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka jika suaminya akan memberikan benda itu kepadanya. Lelaki itu seakan sudah menyiapkan semua scenario agar ia menjalankannya.
“Ini akan sangat membantumu untuk menggodanya, Sayang. Kalau kamu bisa cepat hamil, tugasmu akan cepat selesai dan kita bisa bersama lagi,” rayu Aditya.
Jalan pikiran Aditya tidak pernah bisa ditebak. Bahkan Syahnaz merasa malu hanya memegang benda itu saja. Sedangkan suaminya, seakan tanpa beban menyuruhnya untuk memakai pakaian itu di depan lelaki lain.
“Ayo cepat, lepaskan semua pakaianmu dan kenakan itu sebelum Pak Jendra datang!,” pinta Aditnya.
“Ya sudah, aku ganti baju dulu,” kata Syahnaz dengan terpaksa. Ia beranjak menuju toilet membawa pakaian yang diberikan suaminya.
Di depan kaca toilet yang lebar, Syahnaz menatap dirinya sendiri. Masih ada sedikit keraguan di hatinya. Namun, ketika mengingat tentang kondisi ibunya, ia seakan tak punya pilihan lain. Ia tertawa, menertawakan nasibnya sendiri, juga keputusannya.
Ia lepaskan pakaian yang dikenakan hingga tak tersisa apapun. Tubuhnya terlihat indah, sengaja ia rawat menjelang pernikahan demi suaminya. Namun sayang, ia akan mempersembahkannya kepada lelaki lain demi uang.
Ia kenakan pakaian yang Aditya berikan kepadanya. Pakaian itu semakin menambah cantik tampilan tubuhnya. Siapapun yang melihat pasti akan tergoda. Pakaian minim dengan bahan tipis dan menerawang yang sama sekali tidak bisa menyamarkan lekuk tubuh indahnya.
Tampilannya sudah cukup sempurna meskipun tanpa make up tebal. Ia lantas berjalan keluar mengenakan lingerie merah itu untuk ditunjukkan pada suaminya.
Saat melihat ke arah kamar, ia mematung di tempat. Reflek ia menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan. Bukan Aditya yang ada di sana, melainkan Jendra.
Lelaki itu tengah duduk sembari melipat kaki di tepian ranjang. Mata elangnya sangat fokus memandangi tubuh Syahnaz dari atas hingga bawah seakan tengah menelanjangi. Syahnaz terlihat begitu canggung sekaligus malu.
“Kamu cantik sekali, tidak usah ditutupi. Kemarilah!” pinta Jendra. Ia menepuk ranjang di sisinya memberi isyarat agar Syahnaz mau mendekat.
“Mas Aditya dimana?” tanya Syahnaz. Ia berjalan perlahan mendekat ke arah Jendra. Meskipun tubuhnya sedikit gemetar, ia memaksakan diri untuk tetap maju.
“Dia bilang ada urusan mendesak di rumah sakit, makanya dia buru-buru pulang. Apa kamu juga ingin ikut pulang dengannya?” tanya Jendra.
Syahnaz menggeleng.
Jendra mengulurkan tangannya dan disambut malu-malu oleh Syahnaz. Ia menuntun wanita itu untuk duduk di sampingnya.
Terlihat jelas wanita itu begitu malu-malu sampai tidak berani mengangkat wajahnya. Ia juga berusaha menutupi bagian dadanya yang sintal, meskipun percuma karena Jendra tetap bisa melihatnya. Baju yang dikenakan memang benar-benar minim sampai memperlihatkan Sebagian besar paha mulusnya nan putih. Mata Jendra seakan terpaku sampai tak sempat berkedip melihatnya.
Jendra membelai lembut rambut panjang wanita itu seraya menyisipkan helaian rambut itu ke belakang telinga. “Siapa namamu tadi?” tanyanya.
Meskipun nada bicaranya sudah dibuat selembut mungkin, namun Syahnaz masih saja takut kepadanya.
“Nama saya Syahnaz.”
Jendra mengangkat dagu wanita itu hingga tatapan mereka bertemu. Wajah lugunya sungguh membuat Jendra tertarik.
“Kamu tidak perlu berbicara seformal denganku. Pakai saja aku kamu. Dan kamu bisa memanggilku Jendra.”
Tingkah malu-malu wanita itu semakin membuat Jendra penasaran. Bibir mungilnya terlihat manis. Terasa kenyal saat ia menyentuhnya dengan ujung jari.
“Apa kamu takut? Malam ini kita akan melewatkan malam bersama.”
Syahnaz masih tampak gugup. Ia sampai mencengkeram pakaiannya sendiri untuk menutupinya.
“Aku hanya akan memaklumi ketakutanmu malam ini saja. Selanjutnya, kamu harus terbiasa saat aku menyentuhmu.”
Perkataan lelaki itu terdengar bijaksana sekaligus menuntut. Ia seperti seseorang yang posesif terhadap sesuatu yang dianggap menjadi miliknya.
Jendra perlahan mendekatkan wajahnya, membuat Syahnaz yang takut memejamkan mata. Bibir lelaki itu menyentuh bibirnya.
Syahnaz semakin erat mengepalkan tangannya ketika Jendra mulai memagut lembut bibirnya. Ia tak berani menolak. Meski rasanya aneh, ia pasrah lelaki itu mengusai bibirnya.
Tangan Jenda mulai mengelus lengan Syahnaz secara lembut, meloloskan tali pakaian yang dikenakan, lalu memegangi gundukkan dada yang kini telah terekspose. Syahnaz sampai membuka mata karena terkejut. Namun, Jendra tak memberinya kesempatan untuk merasa malu atau melarikan diri.
Lelaki itu menyentuh tubuhnya sesuka hati tanpa melepaskan pagutannya. Setiap perlakuan yang diberikannya begitu bahaya, sampai hampir membuat Syahnaz terlena. Rasa takutnya bahkan perlahan menghilang berganti dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Lelaki itu benar-benar pandai membuatnya merasa nyaman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
αуαηgηуαᴳᴼᴶᴼᴷᴵᴷᴼᵇᵃᵍⁱ2
brhrap Syahnaz bs lpas dr Aditya 😩
2024-02-12
1
Truely Jm Manoppo
Aditya bener suami gak da akhlak
2023-12-26
0
Sukliang
kayaknya mmg si aditya udah rencana tuk jusl shanaz byr utangnys
jgn sampe mama shanaz dak di urus
2023-11-25
2